ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Alam Sadar


Istana Jampa mendapat berita kemenangan pasukan pembela negerinya empat hari berselang perang.


Kabar itu langsung di sampaikan oleh salah satu prajurit yang ikut berperang bersama Umbara.


Sebuah kabar bahagia lainnya adalah, prajurit itu menceritakan tentang sumpah anaknya itu yang kemudian benar-benar bisa dia tepati.


Akan tetapi, kabar bahagia itu di ikuti dengan kabar yang membuat Jakasona langsung memacu kudanya ke benteng Nippokure tempat terjadinya perang tersebut.


Terakhir kali prajurit itu melihat, Umbara tengah terbaring kehabisan darah, dengan pedang Daisuke masih di genggamannya.


Jakasona, berkuda selama dua hari tiga malam, agar bisa cepat sampai dan melihat langsung ke adaan putranya itu.


Dan di sinilah dia sekarang. Di depan gerbang benteng Nippokure, dia atas kuda, dengan mulut ternganga dan tatapan yang nanar.


Meski sudah tua, dan sedikit jauh di ujung sana, Di depan matanya, Jakasona melihat Umbara sedang berbincang dan terlihat sehat-sehat saja.


Lama Sultan yang sudah Renta itu duduk mematung di atas kudanya. Bahkan, dia tidak menyadari Umbara dan beberapa orang sudah berlari mendekat padanya.


"Tabik, Ayahanda ... "


"Tabik, Kakanda ... "


Tersadar, Jakasona tak menjawab sapa kedua orang itu. Dia langsung melompat ke arah Umbara dan melihat untuk memastikan keadaan anaknya itu yang terlihat, benar-benar baik-baik saja.


"Ananda Umbara, Kau tidak apa-apa?"


Semua orang yang melihatnya, merasa heran saat Suktan itu menarik pakaian Umbara dan memeriksa perutnya.


Alih-alih luka tusukan sebuah pedang, bahkan sebuah goresan pun tidak terlihat di sana.


Sang Sultan Jampa langsung berbalik badan dan menoleh pada prajurit yang mengabarkan bahwa anaknya Umbara tengah sekarat setelah perang, dengan tatapan sangat tajam.


"Kau ... Apa yang ... Kau ... "


Sang prajurit yang tak kalah terperangahnya, menelan ludah saat jakasona menatap seolah ingin memakannya.


"Ta-tabik, S-Sultan ... A-aku me-membawa berita benar ... Ta-tapi ini ... Su-sungguh ... tidak wajar."


"Aku tak melihat bahkan sedikit goresan pun di perut putraku, bagaimana beritamu benar?"


Mendengar itu, Umbara tersenyum. Dia dan semua orang di sana, langsung mengerti apa yang membuat ayahnya begitu marah.


"Ayahanda ... Apa yang di sampaikannya memang benar ... Seharusnya di sini memang terdapat luka, dimana sebuah pedang pernah bersarang."


Jakasona berbalik dan melihat Umbara menunjuk perutnya. Namun, keningnya masih berkerut tidak percaya.


Akan tetapi, sebuah suara langsung menyadarkannya.


"Kakanda, meski kau keras kepala, tapi sungguh penyayang luar biasa. Di sana memang terdapat luka, tapi telah hilang dan tak bersisa."


Saat Jakasona berpaling, barulah dia menyadari siapa yang berbicara. Matanya langsung melebar dan mulutnya ternganga.


Namun, kejadian berikutnya adalah Satu hal lagi yang membuat semua orang merasa heran.


"Kau ... Salendra ... Adikku!"


Sultan Jampa itu langsung melompat dan memeluknya erat. Bahkan, Umbara putra yang di cemaskannya, tidak mendapatkan pelukan seperti itu.


Mata Salendra langsung melebar. Inilah yang membuat nya tidak nyaman bila berada di dekat kakaknya.


"Salendra ... Adinda ... Kenapa tak pulang ke istana. Jika engkau tetap di sana, tentulah engkau memegang tahta."


Umbara langsung kehilangan kata-kata. Ini lebih dari apa yang dia kira. Jakasona ayahnya, benar-benar menyayangi pamannya Salendra.


Semua orang menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Salendra.


Mereka semua sudah melihat kekuatan Salendra. Tidak di ragukan lagi bahwa yang kini di peluk Sultan itu adalah Seorang pendekar terkuat negeri Jampa.


"Eeeehm ... Kakanda ... Aku sudah tua dan kau seorang Sultan... "


"Apa yang kau katakan, kau tetap adik kecilku ... "


Salendra menelan ludah. Jelas saat ini kakaknya itu bertubuh jauh lebih kecil darinya. Berdiri saja, Jakasona hanya setinggi bahunya.


Salendra menatap Umbara dengan wajah penuh terimakasih dan berbalik menatap Rangkupala yang sejak tadi, menahan tawanya dengan wajah kesal.


"Ya, Ya ... Baiklah ... Aku mengerti."


Salendra benar-benar baru bisa bernafas lega, setelah Jakasona melepasnya.


Sekarang, mereka berjalan ke tempat dimana mereka biasa berbincang membahas semuanya.


"Sultan Jampa, ada banyak hal yang harus kita bahas. Tapi, ada satu hal yang ingin aku tekankan di sini. Meski bisa dikatakan bahwa negerimu telah bebas, tapi kau harus berterimakasih pada orang yang tepat."


Tak menyadari sebelumnya, kini Jakasona kembali terperangah. Dia baru menyadari bahwa selama ini, ada satu orang yang bahkan memiliki kedudukan dan status diatasnya.


Orang itu tentu saja Pangeran ke tiga Kerajaan Swarna, Rangkupala.


Jakasona langsung kembali berdiri dan segera sedikit membungkukkan badannya.


"Tabik, Tuan Rangkupala ... Maaf, aku tidak menyadari keberadaannmu ... Aku ... "


Rangkupala langsung menggeleng dan mengankat tangannya untuk menghentikan basa-basi Jakasona.


"Tidak, bukan aku ... Bahkan bisa dikatakan, kami di sini, tak berbuat banyak."


"Tuan Rangku ... Apa maksud Tuanku?"


"Jakasona, seperti berita yang kau dengar ... Umbara memang hampir mati kehilangan darah, begitu juga ribuan pendekar lainnya."


"Jadi—"


Rangkupala mengangkat tangan memotong Jakasona dan kembali melanjutkan penjelasannya.


Rangkupala menunjuk sebuah bangunan di mana Arya dan empat gadis lainnya berada.


"Di sana, sedang terkapar seorang pemuda. Dan dialah yang memulai ini semua. Bentang ini, Perang ini, dia yang memenangkannya. Semua luka Umbara dan yang lainnya itu, dia yang menanggungnya."


Jakasona yang belum sepenuhnya faham, mengedarkan pandangannya. Saat itu juga, dia melihat semua orang mengagguk termasuk Salendra dan Umbara.


"Tuan Arya ... Itu namanya. Pada dialah hutang Negeri Jampa."


Jakasona menoleh dan menatap gedung itu. Meski saat itu hari sangat terang, Namun dia bisa melihat di selah-selah bangunan itu, sedang terpancar sebuah cahaya.


"Cahaya ... Bukan, energi Apa itu?"


Rangkupala menghela nafas panjang dan melepasnya. Dia menggeleng sebelum akhirnya berbicara.


"Kami tidak tau, yang jelas, itu pasti salah satu kekuatannya. Yang kami tau, sebelumnya itu berwarna biru dan sehari yang lalu, warnanya telah berubah."


Saat ini, mereka semua melihat cahaya berwarna kuning keemasan menyelimuti bangunan tersebut.


Tidak hanya terlihat menakjubkan, namun semua orang di sana bisa merasakan energi yang sangat besar sedang berputar-putar di sana.


Luna, Ciel, Bai Hua, Citra Ayu dan dua iblis langit, kini sedang berdiri di sebuah tebing.


Di depan mereka terhampar lembah penuh dengan sungai lahar yang mengalir ke segala arah sepanjang mata mereka memandang.


Tidak ada yang mengetahui bagaimana mereka bisa berada di tempat itu. Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja membuka mata dan mendapati diri mereka melayang di ruang gelap dan hampa.


Di depan mereka muncul gerbang besar bercahaya. Dan saat gerbang terbuka, di sinilah kini mereka berada.


Masih dengan segala perasaan asing dan keterkejutan mereka, tiba-tiba saja mereka melihat siluet besar di sebalik awan hitam di atas sana.


Mata mereka semua langsung terbelalak saat melihat sebuah kepala dari makhluk yang langsung membuat Rewanda dan Krama berlutut tertunduk.


Mata yang sangat besar dari makhluk itu benar-benar membuat mereka semua ketakutan.


"Aku Zolka ... Putra Tza-mamna ... !"


Mereka semua benar-benar mematung. Saat mendengar suara yang menggelegar dari mahkluk yang luar biasa besarnya itu.


"Kalian sedang berada di alam kesadaran sang penguasa Matra ... Arya Mahesa."