
Kereta-kereta kuda itu melaju kencang di jalan antara Pegunungan Singa Emas dan Kota Basaka. Hal itu karena jalanan yang menghubungkan kota terbesar dan bekas pusat Sekte Singa Emas itu sudah dilakukan pengerasan.
Di jalan mereka mereka sempat melewati beberapa desa-desa yang cukup ramai. Berbeda sekali dengan jalanan yang biasa di lalui Arya sebelumnya.
Melihat bagaimana Arya selalu menatap keluar, halnitu menggelitik rasa ingin tau Rantoba.
"Tuan Muda, apakah anda belum pernah melihat jalan seperti ini sebelumnya?"
Arya dan ketiga gadis ketiga gadis yang bersamanya itu, menaiki kereta yang sama dengan Rantoba.
Dibelakang, mereka sudah mengetahui bahwa Edward juga mengikuti. Semua sudah tau apa yang akan dilakukan Edward pada Drey saat sampai di Basaka nanti.
"Ya. Aku baru pertama kali melihatnya." Jawab Arya jujur.
Akan tetapi jawaban Arya itu, menurut Rantoba tidak selaras dengan cara berpakaiannya. Menurutnya Arya sudah pasti pernah keluar dari kerajaan Swarna sebelumnya.
Sekarang saja, Rantoba meyakini bahwa Arya sebenarnya bukan dari daratan ini. Jika bukan dari kota Barus atau kota-kota besar di Daratan utara, setidaknya Arya berasal dari Kota Malka. Daratan Barat kerajaan Swarna.
"Huh, kau pasti bercanda. Kata-katamu Itu sama sekali tidak sesuai dengan cara berpakaianmu!"
Arya berbalik dan menoleh pada Rantoba. Sepersekian detik, ada desiran ketakutan yang dirasakan Rantoba saat Arya menatapnya.
"Aku tidak perduli dengan jalannya, yang aku perdulikan adalah, Berapa banyak orang yang kalian pekerjakan untuk membuat jalan seperti ini."
"Soal itu, aku tidak tau. Aku rasa cukup banyak. Namun dengan begitu, penduduk biasa bisa mendapat pekerjaan dan mendapatkan pendapatan selain bertani."
Arya mengangguk. "Baguslah jika begitu. Apakah kalian membayar mereka cukup layak?"
Rantoba tidak suka dengan bagaimana cara Adya bertanya. "Tuan Muda. Aku tidak tau siapa dirimu. Jujur saja, sebenarnya aku juga tidak perduli. Tapi, dari cara bicaramu, seolah kau bukan rakyat kerajaan Swarna ini."
Arya menggeleng, "Bagaimana seharusnya rakyat Swarna bertanya? Atau, sebenarnya kalian memang tidak memperbolehkan seorang rakyat bertanya?"
"Hahahaha! Lucu sekali. Bagaimana seseorang yang bekerja sama dengan Oldenbar tidak mengetahui hal ini. Seluruh jalan di Daratan Timur ini, di bangun oleh kerajaan dengan bekerja sama denga Oldenbar. Jika, kau ingin tau, mengapa tidak kau tanyakan saja pada Edward, apakah dia membayar seluruh pekerja dengan layak."
Arya menanggapi hal tersebut dengan tersenyum miring."Jadi, kerajaan membutuhkan Oldenbar untuk membangun tanahnya sendiri. Itu maksudmu?"
"Ehemm ... Soal itu, aku... "
Pertanyaan Arya itu tidak mampu di jawab oleh Rantoba. Tugasnya memang tidak mencakup hal ini. Namun, kata-kata Arya membuatnya banyak berfikir.
"Tuan Rantoba. Kau bukan dari Daratan ini, jadi kau tentu saja tidak perduli dengan orang-orang di sini, bukan? Dan aku rasa, Raja kalian juga begitu!"
Mendengar itu, mata Rantoba langsung menajam. "Nona, jaga ucapanmu. Aku memberi kalian muka sejauh ini bukan untuk membiarkan kalian bicara sesuka hati. Penghinaan terhadap Raja adalah sebuah kejahatan berat." Ingat Rantoba pada Luna.
"Aku tidak menghina. Tapi kalian, pihak kerajaan telah membuat kami dan Tuan Muda bekerja untuk sesuatu yang tidak seharusnya kami lakukan!"
"Maksudmu?!"
"Ya. Kami harus menghancurkan sebuah cabang Oldenbar dalam perjalanan kami ke Basaka."
Mata Rantoba melebar. "Kalian menghancurkan cabang Oldenbar? Tidak mungkin!"
Rantoba seperti kehabisan kata-kata. Apa yang dikatakan orang-orang yang ada di depannya saat ini, tidak sepenihnya salah. Namun, menghancurkan cabang serikat Oldenbar buka cerita yang dapat dipercayai begitu saja. Rantoba mengetahui bagaimana kekuatan Oldenbar, meski itu hanya sebuah cabang.
"Kalian menghancurkan serikat Oldenbar dan berakhir bekerja sama dengan mereka? Bagaimana caraku mempercayai kata-kata kalian itu?"
"Hahahahaha! Seperti dugaan kami." Luna berbalik menertawakan Rantoba. "Kalian benar-benar tidak tau cara kerja serikat Oldenbar."
Kulit wajah Rantoba memerah. Hati kecilnya tidak terima dipermalukan seperti ini. Saat dia ingin mengatakan sesuatu. Tiba-tiba Arya bersuara.
"Sudahlah Tuan Rantoba. Sejak Awal kami memang ingin ke Basaka. Namun, ternyata perjalanan kami tidak selancar yang kami harapkan!"
Peralihan topik itu lagi-lagi menggelitik rasa penasaran Rantoba. "Jadi, kalian sebenarnya berniat ke Basaka? Apa urusan kalian ke sana?"
"Aku ingin berbicara dengan siapun yang bertanggung jawab di sana!"
Rantoba mengernyit. "Tanggung jawab? Maksudmu, Raja Darmuraji?"
Arya mengangguk dan alsnya sedikit terangkat. "Jadi, itu namanya?"
Rantoba baru menyadari bahwa Arya sama sekali tidak mengetahui siapa Raja di Basaka sekarang. Bahkan dari cara Arya berbicara, seolah pemuda itu tidak peduli dengan kedudukan Darmuraji.
"Tuan Rantoba. Mungkin kau secara tidak sengaja telah melewatkan sesuatu." Bai Hua yang sejak tadi hanya diam, kini ikut berbicara.
Sejak pertama kali melihatnya di istana Oldenbar, ada sedikit yang mengganggu fikiran Bai Hua saat melihat gerak gerik Rantoba.
Pendekar itu memang sempat terkejut saat ketika mereka memasuki istana Oldenbar. Tapi, saat Rantoba menatapnya untuk pertama kali, Bai Hua mendapati mata pendekar itu sedikit lebih besar.
"Tuan Rantoba, Sepertinya kau mengenal teman kami. Apakah aku benar?" tanya Luna.
"Hah? Apa maksudmu, Nona?"
"Bukankah seharusnya, kau sudah bertemu kakekku, di Basaka?"
Mata Rantoba melebar. Dia sudah menduga ini sebelumnya. Namun, melihat kepercayaan diri dan suasana yang menjadi tidak lagi dibawah kendalinya, membuat dia melupakannya.
"Kau?! Gadis itu!" Tidak bertanya, tapi Rantoba sudah bisa langsung mengetahui. "Kau cucu Tetua Bai!"
Bai Hua mengangguk. "Tidakkah kakekku mengatakan pada kalian, bahwa sesuatu telah membuatku tidak bisa datang bersamanya ke Basaka?"
Bai Hua tidak pernah bertemu dengan Rantoba sebelumnya. Namun, entah bagaimana dia yakin bahwa sebenarnya Rantoba mengenalnya. Tidak mungkin seseorang yang memiliki kedudukan seperti Rantoba, tidak mengetahui kedatangan Dia dan Bai Fan ke Daratan ini.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?!" Seru Rantoba.
"Jadi, menurutmu aku harus mengatakan di depan Edward bahwa aku adalah cucu dari seseorang yang kalian utus untuk mencari benda pusaka yang lebih kuat daripada sembilan senjata pusaka dunia?"
Pertanyaan Bai Hua itu sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Malah, Rantoba langsung melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa tidak ada yang mendengar kata-kata Bai Hua itu. Namun, dia baru mengingat bahwa sekarang mereka sedang berada di atas kereta.
"Baiklah, sekarang aku mengerti arah pembicaraan ini. Sebaiknya kita melanjutkannya ketika sudah bertemu dengan Raja, saat sudah berada di Basaka nanti." Putus Rantoba.