ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Adab dan Penilaian


Salah satu Adab kependekaran yang membuat para pendekar-pendekar Daratan Barat begitu di segani adalah berani mengaku salah dan meminta maaf.


Itulah hal yang pertama kali di lakukan Karpatandanu pada Harupanrama saat pertama kali keduanya bertemu.


Sultan dari negeri Pasir Putih itu mengakui bahwa tuduhannya pada kedua putra Harupanrama ternyata sebuah kesalahan. Bahkan, dengan gagahnya Suktan itu hendak berlutut.


Tentu saat Adab di pegang yang lain akan senang. Harupanrama tidak membiarkan lutut seorang sultan menyentuh tanah. Bagaimanapun, Karpatandanu seorang ayah. Sultan negeri Ambang dapat mengerti.


Arya sedikit terpana melihat keduanya. Menurutnya hal tersebut sangat hebat. Bagaimanapun, sebelumnya salah satu dari mereka berniat membunuh yang lainnya. Tapi, dengan meminta maaf semua selesai.


Arya berfikir keduanya akan bertarung. Jadi, dia akan melihat kehebatan dua Sultan tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Meski sedikit kecewa, tapi akhirnya dia senang. Karena ada pelajaran baru yang dia dapat pada keduanya.


"Dimana bumi di pijak di situ langit di junjung. Kami bukan tuan Rumah tapi hanya pengunjung. Tuanku, terimalah sembah."


Saat itu, keduanya hendak berlutut dibdeoan Rangkupala, namun pria itu langsung melarangnya.


"Ini Palas bukan Barus. Tersebut dengan kota pendekar. Jika kalian hendak berlutut. Sembah kalian tak ada yang dengar."


Rangkupala mengatakan pada keduanya bahwa dia hanya orang biasa di kota ini. Keduanya tidak perlu berlutut padanya.


Keduanya mengangguk mengerti. Dan saat itu, dimulailah maksud pertemuan mereka.


Di dalam surat, kedua Sultan itu sudah mengerti kejadian sebagian besarnya. Sekarang mereka ingin mendengar detilnya seperti apa.


Di sana, Rentangjala yang menjelaskan. Karena faktanya untuk bersilat lidah, Rangkupala tidak seahli Patih negeri ambang itu. Apalagi Arya.


Setelah mendengar penjelasan dari Rentangjala itu, akhirnya keduanya sudah paham situasinya.


Namun, setelah itu Arya menjadi heran. Menurutnya, Rentangjala dan Rangkupala telah salah mengerti maksudnya.


Saat dia menjelaskan, empat orang yang bersamanya itu langsung terkejut.


"Aku tidak pernah bilang Daratan Timur akan menyerang Barus. Aku hanya bilang, jika Barus tidak mengikuti kata-kataku, maka aku akan menghancurkan kerajaan ini."


Rentangjala menelan ludah. "Dia tidak menyangka bahwa Arya akan mengatakan itu, apalagi di depan dua Sultan ini."


"Tuan Muda. Kami tau bahwa kalian dari Daratan Timur tidak puas dengan kebijakan Barus. Tapi, apa yang Tuan muda katakan, itu sangat berlebihan."


Rangkupala benar-benar merasa Arya sudah berlebihan. Meski dia sudah melihat kehebatan tiga wanita diluar sana, tapi seratus yang seperti mereka tidak akan mampu menghancurkan Barus. Alih-alih kerajaan Swarna.


Jadi kata-kata Arya ini terdengar bahwa Daratan Timur sudah menjadi besar kepala dan meremehkan dua Daratan Lainnya.


"Tuan Muda. Kami berniat membantu jika memang perang terjadi. Tapi, jika tuan Muda bersikap seperti ini. Maka kami tidak akan bisa berbuat apa-apa." Tambah Rentangjala.


Sementara itu, Harupanrama dan Karpatandanu sudah mulai tersulut emosi. Mereka kesini bukan untuk mendengar omong kosong seorang pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam yang bahkan belum berusia genap dua puluh tahun.


"Tuanku, Rangkupala, aku pendekar terikat sumpah. Harupanrama ingin bicara jangan Tuanku menghalanginya."


Harupanrama sudah marah. Dia meminta izin pada Rangkupala untuk bicara. Semua orang tau bahwa pendekar-pendekar dari negeri ambang memiliki sumpah pada hukum, yang kuatlah yang benar.


Dalam situasi ini, menurut Rangkupala, Arya telah menyingunggnya. Tidak ada cara lain selain Arya membuktikan kekuatannya.


Masalahnya, menurut Rangkupala dan Rentangjala kekuatan Arya ada pada kata-katanya. Hal yang tidak berlaku untuk sumpah Harupanrama.


"Disini kita semua sama. Jika tuan ingin bicara silahkan. Tidak perlu izin pada Tuan Rangkupala." Ucap Arya tiba-tiba.


Mulut Rentangjala dan Rangkupala langsung terbuka dan mata mereka melebar. Apa yang di ucapkan Arya itu semakin memperburuk keadaan.


Tidak hanya Harupanrama, kini Karpatandanu tak kalah berangnya. Keduanya bersiap-siap untuk menenangkan kedua Sultan sebelum akhirnya Arya kembali bicara.


"Melihat keadaanya, Kalian di Daratan Barat ini, pasti akan berperang juga. Aku hanya ingin memastikan, apakah kalian bisa mengatasinya atau kalian membutuhkan bantuanku."


Karpatandanu menggebrak meja dan langsung menunjuk Arya. Saat itu matanya sudah memerah.


"Dari jauh kami datang. Hendak mendengar kabar perang. Sombong benar kau berkata, keluarlah sebentar mengukur bayang."


Rentangjala dan Rangkupala tak menyangka Arya merusak pertemuan ini begitu saja. Beberapa hari yang lalu, keduanya merasa Arya anak muda yang sangat bijaksana. Tapi, hari ini benar-benar berbeda.


Dua Sultan ini, bukan pendekar sembarangan. Keduanya juga mampu mengalahkan ratusan pendekar suci seperti apa yang dilakukan tiga pendekar wanita yang menjadi pengawal Arya.


Kata-kata Karpatandanu tadi jelas tantangan terbuka pada Arya. Salah sekali lagi Arya bicara, bisa saj beberapa waktu ke depan tubuhnya tidak lagi bernyawa.


Rangkupala segera berdiri hendak menenangkan. Namun, saat itu juga tiba-tiba Arya berdiri. Dan menatap Karparandanu dan Harupanrama dengan tatapan yang begitu meremehkan.


"Aku bukan pendekar. Tapi aku tau kalian mencoba menantangku. Aku berniat memberi kalian peringatan untuk kebaikan kalian. Tapi, sepertinya kalian tidak akan mengerti jika tidak di beritahu dengan cara yang benar."


Saat itu, Rangkupala ikut berdiri. "Tuan muda, Hentikan kata-kata mu. Atau ... "


Kata-kata menggantung, karena saat itu Arya menoleh padanya.


"Atau apa? ... Apakah dengan kekuatan kalian yang seperti ini, kalian pikir bisa memenangkan pertempuran ini?"


Arya balik bertanya. Namun, saat Rangkupala ingin kembali melanjutkan kata-kata nya. Arya kembali berkata.


"Sejak awal, Kerajaan Swarna ini memang tak seharusnya ada. Sekarang, setelah sekian lama, kalian hanya duduk dan disibukkan dengan negeri kalian masing-masing, tanpa memikirkan saudara kalian di Daratan lainnya."


Saat Arya mengatakan itu, Harupanrama mencabut pedangnya dan langsung mengacungkannya pada Arya.


"Jadi, kau ingin melihat seberapa hebat kami, dengan cara bersembunyi di bawah ketiak tiga wanita? Huh! ... Sungguh lelaki, hina.!"


Berkedip sedikitpun tidak. Saat itu Arya hanya melihat keempatnya sedang menatapnya dengan tatapan amarah.


Arya mengangkat tangannya dan memegang pedang Harupanrama. Dengan dua jarinya.


"Aku tidak tau dengan kalian, SejakĀ  pertama kali aku bertarung. Belum pernah ada yang hidup setelah orang itu mengacungkan pedangnya padaku, dengan niat membunuh."


Beberapa saat kemudian, waktu seolah terhenti. Keempatnya sekilas sempat melihat Arya tersenyum. Tidak, mereka melihat pemuda itu menyeringai.


"Ting! ... "


Pedang Harupanrama patah. Hanya dengan dua jari Arya. Tidak sempat bereaksi apapun, Saat itu juga mereka merasa tiba-tiba waktu berjalan sangat lambat. Karena saat itu, mereka melihat Arya bergerak sangat cepat dan sudah menghilang di depan mereka.


Beberapa saat yang lalu, Di luar, para pendekar yang ada di kota itu, merasa suasana kota menjadi sedikit asing. Mereka seolah merasakan ada Aura yang aneh sedang menyelubungi kota.


Beberapa orang pendekar, keluar dan turun kejalan untuk memastikannya. Sebelum akhirnya mereka mendengar empat ledakan yang sangat keras.


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Booom ... !"


"Booom ... !"


Semua orang terkejut saat melihat dinding bangunan penginapan Kebojalang hancur, di ikuti empat tubuh orang terpental keluar.


Saat keempatnya mendarat di tanah, mata semua orang yang melihatnya terbelalak.


Rangkupala, Karpatandanu, Harupanrama serta Rentangjala, tergeletak di tanah, tak sadarkan diri.