ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Legenda Daratan Barat


Setelah Arya mengatakan maksudnya, arena lelang menjadi hening.


Sang pembawa acara mengernyit heran. "Kitab? ... Kapan aku punya kitab untuk di lelang? " Gumamnya.


"Oh mungkin aku salah. Jika kau belu. ingin menjualnya. Jika begitu, Aku akan menaikkan Harga. Sebut saja berapa, dan aku akan membayarnya. " Kata Arya


Orang-orang di dalam balai lelang benar-benar di buat heran dengan pernyataan Arya tersebut. Mereka tidak melihat satu kitab pun di sana, atau belum menyadarinya.


"Tuan Muda, apa maksudmu? Aku kurang mengerti." Tanya sang pembawa acara mencoba memastikan.


"Bukankah di tanganmu sekarang, kau sedang memegang sebuah benda? Dan aku ingin membelinya. Apakah itu sulit untuk di mengerti?"


Sang pembawa acara, melirik pada apa yang kini ada di tangannya sendiri. Saat itu, matanya langsung melebar. Bukan karena tidak mengetahui apa yang dia pegang tapi benda ini memang selalu di pegang selama lelang.


Bukan hanya dirinya saja, hampir seluruh pendekar yang pernah mengikuti lelang di kota Palas ini, setiap tahun melihat benda tersebut. Bahkan mereka sangat mengenal buku itu.


Suara tawa tertahan, mulai terdengar hampir di segala penjuru Bali lelang itu. Tak lama, suara ledakan tawa, langsung menggema di seluruh ruangan yang cukup besar itu.


"Hahahhahahahha!"


"Hahahahhahahahha!"


"Hahahhahaha ... !"


Bahkan pembawa acara dan seluruh Anggita rumah dagang di Balai lelang itu juga ikut tertawa. Mereka benar-benar tidak bisa menahannya.


Hal itu karena, buku yang dipegang oleh sang pembawa acara adalah bahan lelucon tahunan yang akan di lelang setelah barang-barang utama selesai di lelang.


Bahkan, sang pembawa acara pernah berkelakar, barangbsiapa yang mau bersumpah akan membawa buku itu kemana-mana seumur hidupnya, maka tidak hanya akan memberikannya secara cuma-cuma tapi sang oembawa acara akan memberikan pendekar itu uang sepuluh ribu Arta.


Buka yang di bawa pembawa acara memiliki aksara yang benar-benar aneh. Lebih terlihat seperti coretan cakar ayam alih-alih tulisan. Dia sendiri tidak ingat dimana dia menemukan buku itu, karena menurutnya lucu dan bisa menjadi bahan untuk membuat lelucon, maka dia terus-terusan membawanya dan dalam candanya, juga pernah menganggap buku tersebut, sebagai kutukan.


Arya tidak bisa menhan diri dari apa yang dia minati. Sejak pembawa acara itu muncul dan menenteng buku tersebut, Arya langsung mengetahui bahwa itu adalah sebuah kitab.


Karena ini acara lelang, dan secara kebetulan Arya tidak terlalu mengerti bagaimana cara ikut menawar pada lelang itu, dia langsung menawarnya saat dia melihat seseorang menawar benda dengan harga tunggi.


Karena menurutnya kitab itu sangat berharga, Arya mencoba menawar. Bahkan dia rela membayar jauh lebih tinggi dari pada apa yang dia sebutkan itu.


Akan tetapi, saat ini semua orang mentertawakannya, seolah dia orang paling bodoh di dunia. Seketika perasaannya berubah.


Arya menarik nafas panjang.


"Bahurak—"


"Wuuufff... !"


Sebuah Aura kental yang memiliki daya tekan sangat kuat langsung memenuhi ruangan. Seketika beberapa pendekar langsung merasa tercekik seolah sulit untuk bernafas.


Suara seseorang melangkah sangat jelas terdengar. Orang itu berjalan mendekat dan naik ke atas panggung. Di bahunya, dia menyandang pedang yang berukuran cukup besar.


Anggota Rumah dagang langsung pingsan saat orang itu naik ke atas panggung dan menghampiri pembawa acara lelang.


"Aku bertanya. Bukankah, buku ini kau anggap kutukan?"


Jemba si Kebojalang membuat pembawa acara langsung bertekuk lutut di atas panggung. Jelas Aura pembunuh itu, di lepasnya untuk menekan si pembawa acara tersebut.


"I-Iya ... "


Jemba mengangguk. "Lalu kenapa kau mentertwakan orang yang bahkan membayarmu dan menyelamatkan kau dari kutukan itu?"


Oembawa acara tak bjsa menjawab. Dia tudak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Memang, dirinya sudah pernah mendengar sepak terjang Si Kebojalang.


Keduanya, bukan hanya kenal tahun ini saja. Sudah hampir dua puluh tahun mereka berteman dan setiap lelang yang di adakan di Kota Palas, tentu saja itu atas izin pendekar yang kini sedang menunjukkan wajah aslinya itu.


Kemunculan Jemba, jelas langsung membungkam semua mulut yang tertawa. Hanya satu orang di antara mereka yang bersiap-siap dengan Aura yang akan di lepaskan pendekar tak terkalahkan di Daratan Barat ini.


Hampir semua pendekar yang sezaman dengannya mengetahui bahwa si Kebojalang sudah menarik diri dari dunia kependekaran.


Demi menghormatinya, dua negeri bahkan memberinya tanah dan tak pernah ikut campur dengan urusannya.


Akan tetapi, hari ini si Kebojalang ****** mencabut pedang. Rentangjala tau bahwa sesuatu pasti telah memicunya.


Matanya kembali melirik pada Arya dan seketika itu juga langsung terbelalak. Arya sekali lagi menunjukkan bahwa, bahkan dengan Aura yang sangat kuat yang kini menyelubungi seluruh Aula, pemuda itu sama sekali tidak terlihat terpengaruh.


Bahkan, Rentangjala bisa melihat mata Arya sedang menunjukkan amarah yang sangat besar. Saat dia melihat empat gadis lainnya, terjadi hal yang sama.


Tekanan Aura Pembunuh dari Kebojalang, bahkan tidak mampu melumpuhkan kera yang ada di dekatnya.


"Tuan Muda, apakah buku ini yang kau inginkan?"


Tanya Jemba pada Arya setelah dia mengambil buku yang ada di tangan pembawa acara. Tidak ada basa-basi lagi dalam kata-katanya. Dia hanya ingin memastikan Secepatnya bahwa memang itulah yang di inginkan Arya.


Arya mengangguk. "Ya. Aku menawarnya seratus juta.!"


Kini Jemba yang mengangguk mengerti. Kemudian dia mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan.


"Ada yang berani membayar lebih tinggi?"


Tentu saja tidak ada yang berani menjawab. Bahkan jika berani sekalipun, mereka tidak akan menawarnya. Masalahnya, jangankan untuk bicara, bernafas saja mereka sedang kesusahan.


"Cih. Jika kalian bisa tertawa, hendaklah dulu wajah berkaca. kalian mungkin tidak percaya, tanyakan burung, luasnya Dunia."


Setelah mengatakan itu, Jemba menarik Aura Pembunuhnya. Namun, itu tak langsung membuat suasana menjadi lebih baik.


Pendekar-pendekar muda begitu tercengangnya karena mengetahui betapa kuatnya Jemba. Selama ini, mereka merasa lelaki tua itu, hanya pendekar yang beralih kerja dan membuka usaha di masa tua.


Tidak ada yang mengira, kisah yang mereka dengar tentang Kebojalang, benar adanya. Hari ini, mereka benar-benar melihat puncak gunung. Dan itu terasa sangat tinggi sekali.


"Katakan pada mereka, Tuan Muda yang di sana, memenangkan lelang benda ini."


Setelah mengatakan itu, Jemba memberikan kembali, Kitab itu pada pembawa acara. Untuk segera di selesaikan segala urusannya.


Setelah itu, Jemba berjalan mendekati Arya. Pria tua itu, berhenti di depannya dan berkata.


"Tuan Muda. Jika tuan berkenan, angkatlah tirai dan biarkanlah aku mendekat."


Saat itu, Arya melepas segel yang di buat untuk melindungi empat gadis lainnya.


"Silahkan." Ucap Arya setelahnya.


Semua orang benar-benar dibuat tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Tidak pernah pendekar yang bergelar Kebojalang yang sudah melegenda di Daratan Barat itu, menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.


Namun, saat ini pendekar itu berdiri di sebelah pemuda lemah, yang dengan bodohnya menawar tinggi benda yang sama sekali tak memiliki harga.


Bahkan anak-anak Sultan saja tidak pernah mendapat perlakukan sama sebelumnya. Ini menguatkan kesimoulan mereka bahwa Arya benar-benar bukan Bangsawan biasa.


Namun, begitu lelang tetap di lanjutkan. Para pendekar itu sudah bisa menarik kesimpulan dan memutuskan tidak akan berurusan dengan kelima orang itu.


Bahkan saat salah satu di antara mereka menawar barang, tidak ada yang berani menyainginya. Luna, Ciel dan Bai Hua, menggunakan kesemoatan itu untuk mendapatkan barang-barang yang menarik minat mereka.


Lagipula, Arya sudah mengeluarkan seratus juta Arta untuk membeli benda yang di anggap tak berharga oleh Rumah dagang ini sebelumnya. Dan disinilah mereka merasa untuk membalasnya.


Akan tetapi, beberapa pasang mata masih tetap mengawasi mereka. Dia antara mereka, ada dua orang yang tampak berbisik.


"Tuan, pasukan sudah mendekat. Apa yang harus kita lakukan?"


"Tahan, kita serang saat Fajar, maka kita tidak menyalahi hukum dan aturan."