ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Perkumpulan Orang Bodoh


Sementara saat Arya, Ciel dan Bai Hua mencoba membebaskan Tawanan beberapa waktu yang lalu, di saat bersamaan sesuatu telah terjadi dalam rombongan Bai Fan dan Luna.


"Saudara Tungka! Saudari Gayatri! Apa yang kalian lakukan?!"


Lamo terkejut saat tiba-tiba kedua ketua sekte tersebut menyerang dirinya dan juga Salu secara tiba-tiba.


Beruntung Bai Fan dan Luna berhasil menangkis dan menyelamatkan mereka.


Akan tetapi, beberapa tetua sekte Lembah Hantu dan Telaga Keramat terluka karena serangan yang dilancarkan oleh bawahan Tungka dan Gayatri itu.


Tak menjawab pertanyaan Lamo, Gayatri menatap Luna yang hampir saja melukainya, jika beberapa saat yang lalu, dia tidak segera menghindar dan mundur menjauh.


"Ck!" Gayatri berdecah tidak puas. "Orang asing ini memang sulit untuk dikelabui"


Mereka barusaja tiba di lereng bukit tengkorak saat tiba-tiba keduanya melakukan serangan itu.


Sementara Bai Fan dan Luna sudah mewaspadai apa yang akan terjadi. Untunglah keduanya bisa menebak dengan tepat siapa pengkhianat yang dimaksud Arya di antara mereka.


"Tidak usah bertanya lagi lamo!"


Teriak Salu saat dirinya langsung menyerang Tungka yang tadi ingin melukainya. Namun, Tungka juga sudah mewaspadainya. Ketua Sekte Rawa Angker itu, berhasil menangkisnya.


Saat ingin memberi serangan balasan, Bai Fan bergerak sangat cepat hingga berhasil memukul mundur Tungka beberapa meter kebelakang.


Di saat bersamaan, Lamo hanya terdiam saat Luna kembali menangkis serangan Gayatri. Godam Luna hampir saja mengenai satu-satunya ketua Sekte wanita di antara ketua lainnya itu, jika dia tidak segera melompat mundur.


"Ketua Lamo! Sadarkan dirimu! kalian sudah dikhianati!" Tegas Luna sedikit kesal.


"Hahahaha!" Tungka tertawa melihat Lamo yang masih sulit menerima kenyataan itu. "Lamo ... Lamo! Kau memang bodoh seperti biasanya!"


Mendengar Tungka menertawakannya, Lamo menjadi berang. Dia memang tidak pernah menyukai Tungka sebelumnya.


"Tungka! Dari dulu kita memang tidak pernah punya hubungan baik. Tapi, masalah ini berbeda. Tanah kita akan dirampas oleh orang-orang asing itu!"


"Cih! Bagaimana dengan orang asing yang melindungi kalian berdua?" Tungka melihat Bai Fan dan Luna dengan tatapan meremehkan. "Siapa yang menjamin mereka tidak berniat melakukan hal yang sama?"


Mata Salu dan Lamo sempat melebar sebentar saat mencerna apa yang disampaikan Tungka itu. Keduanya terdiam Sesaat sebelum akhirnya Salu angkat bicara.


"Setidaknya, sekarang aku berhutang nyawa pada mereka dari pengkhianat seperti kalian!"


Ucapan Salu mendapat Anggukan dari Lamo. "Kalian sangat bodoh. Dan kalian akan mati karena kebodohan kalian tersebut!"


Baik Lamo dan Salu berfikir cepat. Mereka mungkin akan berimbang jika melawan Tungka dan Gayatri. Tapi, dengan kehadiran Bai Fan dan Luna, posisi mereka diuntungkan.


Keduanya langsung menghambur dan menyerang Tungka juga Gayatri. Pertarungan dua melawan dua dari keempat ketua sekte itu tidak terelakkan lagi. Mereka langsung bertukar jurus dan serangan.


Melihat ketua-ketua Sekte itu saling ingin membunuh, kesempatan itu digunakan oleh anggota Lamo untuk bergerak mendekat.


Beberapa orang dari Sekte Lembah Hantu tiba-tiba ikut menyerang. Akan tetapi, keduanya dikejutkan dengan kejadian berikutnya. Belasan anggota Sekte Lembah Hantu yang bertopeng merah tersebut, ternyata menyerang Lamo dan Salu.


Meski tidak parah, Keduanya mendapatkan luka-luka sabetan pedang karena serangan yang tidak mereka duga. Lamo langsung menoleh pada anggotanya yang ternyata juga berkhianat itu.


"Kalian... "


"Ting!"


"Ting!"


"Wuussshhh"


Lagi-lagi Bai Fan dan Luna berhasil menyelamatkan Lamo dan Salu saat keduanya lengah karena mendapatkan luka kecil yang disebabkan topeng merah.


Hampir saja itu berhasil dimanfaatlan baik oleh Tungka dan Gayatri untuk menyerang dan memberikan mereka luka yang lebuh fatal.


Luna dan Bai Fan tidak lagi menahan kekuatan mereka. Kali ini, Tungka ketua Sekte Rawa Angker mendapat pukulan Bai Fan tepat di dadanya.


Bai Fan memang memiliki level kependekaran yang lebih tinggi dari pada semua ketua Sekte menengah itu. Sehingga untuk menyerang Tungka, bukan hal sulit baginya.


Akan tetapi, Gayatri lagi-lagi bisa menghindari godam Luna. Level Kekuatan keduanya terlihat berimbang. Akan tetapi, Gayatri sepertinya memiliki pengalaman bertarung lebih banyak daripada Luna.


"Nona Luna. Apakah menurutmu, mereka masih pantas kita kasihani?" Bai Fan mulai meragukan keputusan mereka untuk tidak langsung membunuh saat keduanya lengah.


"Yaaah! sebaiknya kita menyelesaikannya saja sekarang. Sepertinya mereka memang sudah jauh tersesat!"


Gayatri mencibir orang-orang di depannya. "Aku tau apa yang kalian pikirkan. Kalian merasa menang jumlah, bukan?"


"Kalianlah yang bodoh jika kalian menganggap kami tidak memiliki persiapan untuk ini!"


Setelah mengatakan itu, Lamo dan Salu terkejut saat melihat kemunculan anggota-anggota Sekte Rawa Angker dan Sekte Bunga Rampai yang diketuai oleh Gayatri dari dalam hutan.


Tidak hanya sampai disitu, dari bukit tengkorak juga sudah muncul seluruh anggota Sekte tersebut. Subu, Sahabat ketua Sekte Lembah Hantu, Lamo, tampak memimpin langsung berjalan cepat di depan anggotanya.


Bai Fan tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Dia tidak menyangka ketua-ketua sekte itu sangat bebal hingga tidak mengerti bahwa mereka sedang diperalat oleh Serikat Oldenbar.


"Di sini! Kalian semua terlihat sangat bodoh! Ini lah yang diinginkan oleh Serikat Oldenbar. Mereka ingin kalian saling menghancurkan!"


"Ya! Kalian akan kehilangan segalanya!" Tambah Luna tak kalah kesalnya.


"Tuan Bai!" Gayatri melihat pada Bai Fan. "Kau dari Negara besar. Kau tentu tau cara kerjanya. Oldenbar butuh sumber daya, sedangkan kami butuh pil dan senjata mereka. Bukankah ini kerja sama yang saling menguntungkan?" Gayatri menyunggingkan senyum bangga saat mengatakan itu.


"Haish! ... Kalian sudah dibutakan oleh Serikat Oldenbar. Bahkan Negaraku saja, tidak mampu bertahan. Apalagi kalian yang hanya sekte-sekte kecil ini!" Ingat Luna.


"Belum terlambat untuk kalian berubah fikiran. Lupakan saja apapun perjanjian kalian dengan Oldenbar—"


"Hahaha!"


Suara tawa memotong kata-kata Lamo. Saat semua mata menoleh pada suara itu, mereka langsung mengenal Sesepuh yang baru saja tiba. Subu, ketua Sekte Bukit Tengkorak.


"Lamo, aku sudah mengajakmu beberapa kali. Namun, sepertinya kau tidak mengerti juga. Era sudah berubah. Sekarang dengan sebuah Pil, kau bisa menjadi sangat kuat!"


"Aku lebih memilih tetap menjadi lemah, daripada menjadi anjing penjilat orang asing sepertimu!"


Celotehan Salu tersebut, sontak membuat Bai Fan dan Luna tersenyum menahan tawa. Mereka tidak menyangka, Salu akan menjadi sangat bijak dalam hal seperti ini.


Sebelumnya, Bai Fan dan Luna sudah sedikit merasa kesal padanya. Kini, mereka menyadari. Salu masih memegang teguh nilai-nilai luhur kependekaran. Hal langka yang bisa ditemui dari seorang pendekar yang mendambakan kekuatan seperti saat saat ini.


Subu yang melihat Bai Fan dan Luna menahan tawa, langsung menyerangnya.


"Buk!"


"Buk!"


"Buk!"


"Buk!"


"Arrghh!"


Setelah mendaratkan pukulan dan berhasil membuat Subu mundur beberapa langkah kebelakang, Bai Fan menggelengkan kepalanya.


"Di negaraku, orang seperti kalian bertiga, bahkan tidak pantas menjadi tukang bersih-bersih di sebuah sekte." Kakek Bai Hua itu menghirup nafas panjang lalu melepaskannya. Setelah itu, dia menatap ketigannya dengan senyum meremehkan.


"Malang sekali nasib anggota-anggota sekte memiliki kalian sebagi ketua mereka!" Ejek Bai Fan pada ketiganya.


"Tua Bangka Bai. Lancang sekali mulutmu!" Tungka langsung kesal mendengar ejekan itu.


"Hahaha! Kalian sepertinya sangat meremehkan kami" Gayatri tertawa. "Aku akan berterus terang saja. Cucumu dan adiknya..., " Ketua Sekte Bunga Rampai itu menatap Luna " telah di tawan oleh Oldenbar—"


Kata-kata itu terpotong saat Bai Fan mengangkat tangannya agar ketua sekte wanita itu berhenti berbicara. "Kalianlah yang meremehkan kami. Bukan! Kalian meremehkan seseorang yang sama sekali tidak boleh kalian remehkan!"


"Apa maksudmu?!"


Luna menyunggingkan senyum. "Apa yang bisa dilakukan oleh sekawanan Bebek bodoh, saat membawa singa masuk ke kandangnya sendiri?"


Semua orang di sana tampak kebingungan dengan ucapan Luna.


"Kalian fikir kami tidak mengetahuinya?" Bai Fan juga ikut tersenyum. "Seharusnya, kalian sudah menyadari saat kami bisa langsung menangkis serangan pertama kalian pada mereka"


Lamo dan Salu mengernyit heran. Namun, sesaat kemudian mereka mengerti apa yang di maksud Bai Fan dan Luna.


"Jadi kalian—"


"Ya! Kami sudah tau rencana kalian. Dan kami sudah siap menghadapi kalian semua!"


"Cih! Tua bangka ini terlalu banyak bicara. " Subu, kembali maju dengan pongahnya" Jumlah kami lebih dari empat ribu orang. Sedangkan kalian?"


Subu melihat hanya ada sekitar seribu lebih anggota sekte Lembah Hantu. sedangkan Salu sebagai ketua, hanya didampingi puluhan tetua Sekte Telaga Keramat. Ketua Sekte Bukit Tengkorak itu merasa akan memenangi pertempuran ini dengan mudah.


"Ha ha ha ha!" Bai Fan mentertawakan Subu seolah apa yang dikatakan ketua Sekte Bukit tengkorak itu adalah sebuah lelucon yang lucu.


"Di sini letak perbedaan kalian dan kami. Di mana, orang bodoh seperti Kalian masih berfikir bahwa jumlah bisa menentukan sebuah kemenangan"


"Tuan Rewanda! Tuan Krama!"


Teriak Luna lantang, memanggil dua Iblis langit yang sejak tadi mengawasi mereka.