ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Seratus Tiga Belas


Anak-anak panah Ciel langsung mengunci Target yang sedang berlari menjauh dari mereka.


Setelah itu, Ciel berbalik dan mengedarkan padangan, lalu kembali berkata.


"Seratus lainnya, saat ini sudah mengepung kita."


Saat itu juga, Arya dan yang lainnya langsung bersiaga.


Meski Bola-bola api itu memiliki konsentrasi tenaga dalam cukup besar, sepertinya itu hanya untuk sebuah pengalihan saja.


Buktinya, Ciel tidak melepas anak panah kearah dari mana datangnya serangan, namun ke arah lainnya.


Beberapa saat kemudian, Arya dan yang lainnya bisa langsung merasakan pendekar-pendekar dengan kekuatan cukup besar mendatangi mereka.


Namun, apa yang mereka lihat setelah semua pendekar itu mendekat, berhasil mengejutkan semua orang di sana, terutama Bai Hua.


"Kultivator ... !"


Yang lainnya langsung mengerti. Sebagai pendekar ilmu beladiri, seluruh dunia sudah tau perbedaan kekuatan serta jurus pendekar-pendekar dari Benua Timur.


Mereka jauh lebih maju serta memiliki ragam jurus bertarung dengan tingkat kesempurnaan jauh melebihi pendekar-pendekar yang ada di benua atau daratan manapun di dunia.


Melihat ada seratus Kultivator di daratan yang sangat jauh dari negeri asal mereka, tentu saja itu membuat Arya dan yang lainnya bertanya-tanya.


Apalagi, saat ini semuanya sedang mengepung Arya dan yang lainnya, seolah sudah tau akan kedatangan mereka dari arah mana.


"Arya, Sepertinya mereka memang sudah menunggu kedatangan kita."


Arya hanya bisa mengangguk menganggapi kata-kata Luna. Meski ininsangat tudak wajar, namun tidaknada waktu untuk memikirkannya.


Mereka semua dapat merasakan bahwa seluruh kultivator ini, sekarang benar-benar berniat buruk. Itu terasa sangat jelas karena mereka semua melepaskan aura pembunuh untuk mengintimidasi Arya dan yang lainnya.


"Ciel, Bai Hua ... Mundur, dan jaga Citra Ayu di sini ... !"


Bai Hua dan Ciel tertegun saat mendengar perintah Arya. Berbeda dengan terakhir kalinya, pemuda itu meminta mereka mengadapi tiga ratus pendekar suci tanpa bantuannya.


Namun begitu, keduanya hanya bisa menuruti permintaan Arya. Selain hatus menerima semua lawan saat ini adalah pendekar dengan level yang berbeda, Arya tidak mungkin meminta sesuatu yang tidak ada alasannya. Keduanya sangat mengerti hal itu.


Akan tetapi, salah satu dari kultivator, sedikit bereaksi saat Mendengar nama keluarga Bai di sebut.


Dia yang berdiri di atas salah satu ranting kayu yang terlihat sangat rapuh, melompat turun, dan berdiri tidak jauh dari Arya dan Luna.


Kultivator yang terlihat sudah cukup tua itu. Menaruh satu tangan di belakang, dan mengusap-usap janggut panjangnya,  seolah tampak mempertimbangkan sesua.


Tak lama, dia bertanya dengan wajah sedikit penasaran. "Bai Hua? ... Apa gadis itu, berasal dari keluarga Bai yang ada di kekaisaran Yang?"


Merasa pria tua itu menatapnya dengan senyuman meremehkan, Bai Hua langsung bersuara. "Senior, setidaknya, perkenalkan siapa dirimu terlebih dahulu, sebelum bertanya tentang orang lain."


"Hahahahahhaha ... "


Pendekar tua itu langsung tertawa terbahak saat mendengar kata-kata Bai Hua. Kepalanya menggeleng, setelah tawanya sedikit reda.


"Berarti benar ... Kekaisaran Yang, masih menjaga Tata Krama mereka. Tapi, itu sudah cukup bagiku. Karena secara tidak langsung, kau sudah mejawab pertanyaanku."


Saat itu Bai Hua juga langsung mengangguk. "Terimakasih, kau juga sudah menjawab pertanyaanku."


Luna langsung melirik Bai Hua yang langsung mendapat anggukan dari gadis itu. Tak lama, Luna berbicara.


"Sepertinya, Kalian tidak mengenal kami. Jadi, katakan kenapa kalian berniat menyerang kami?"


Luna menganggukkan kepalanya, namun terus berbicara. "Aku rasa itu masuk akal, namu apa kalian harus membunuh siapa saja hanya demi menjalankan misi?"


"Aku rasa begitu ... Aku tidak melihat keuntungan apapun jika aku membiarkan kalian hidup."


Luna hanyanbisa tersenyum miring saat mendengarnya. "Tuan pendekar, siapa yang memerintahkanmu?"


"Hahahahahaha ... Nona, pertanyaanmu sedikit tidak masuk akal. Kau seperti dalam posisi yang sedang mengintrogasiku. Lagipula, apa gunanya kau tau, karena setelah ini kalian semua akan mati."


Melihat reaksi Bai Hua, Luna menyadari bahwa pendekar-pendekar ini tidak berasal dari Kekaisaran Yang. Ini menandakan bahwa ada pihak lain yang sengaja meminta mereka menjalankan misi ini.


Masalahnya, dengan kecepatan mereka tadi, menurut Citra Ayu setidaknya jarak antara tempat mereka saat ini ke negeri Bukit Batu, masih setengah hari lagi.


Jika para pendekar ini berjaga dengan jarak sejauh ini, bisa di pastikan bahwa jumlah mereka saat ini, masih sedikit daripada jumlah sesungguhnya.


Tapi, yang kini mengisi kepala Luna adalah pertanyaan siapa yang memerintahkan mereka dan apa yang sedang mereka jaga.


"Tuan pendekar, jika begitu tidak ada gunanya bicara denganmu. Karena, aku rasa kau dan orang-orang ini hanya pendekar-pendekar bodoh yang tidak tau apa yang kalian kerjakan."


Nada Luna begitu meremehkannya, hal tersebut membuat pendekar tua itu langsung tersinggung.


"Gadis muda, jaga bicaramu. Aku berniat menghabisi tanpa harus menyiksa kalian,. Tapi, aku berubah pikiran, sepertinya aku melihat ada sedikit keuntungan jika aku membiarkan kalian hidup sebentar ... "


Saat pendekar tua itu berkata sedikit mengancam, Luna membalas dengan kalimat yang membuat pria itu terperangah.


"Sepertinya, kau pria tua yang mesum. Tapi, untuk melakukan apa yang baru saja kau katakan, setidaknya kau harus bertanya pada pemuda yang sekarang berada di dekatmu itu."


Meski ada seratus pendekar ranah bumi di sana, Tidak ada yang menyadari bahwa selama mereka berdua berbicara, Arya berjalan mendekat pada pendekar tua itu, seolah tidak terjadi apapun.


Mungkin saja, hal itu terjadi karena dia terlalu meremehkan kekuatan Arya, yang tidak terlihat memiliki tenaga dalam sama sekali itu.


Atau tidak ada yang menyadari betapa cepatnya perpindahan tubuh Arya hingga tidak menimbulkan reaksi udara apapun, sebelum angin berhembus menerpa wajahnya, setelah pemuda itu berdiri satu langkah di dekat pendekar tua itu, beberapa saat yang lalu.


"Kau ... Kenapa kau bisa ada di ... "


Pendekar tua Itu tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena saat itu tiba-tiba kekuatannya seolah sedang terkuras.


Bukan, beberapa saat yang lalu dia memiliki keyakinan hidup yang sangat tinggi, sebelum sepasangan mata yang kini menatapnya itu, seperti sedang menarik paksa jiwanya untuk keluar dari raganya, begitu saja.


"Sebelum jiwamu menghilang, katakan ... Siapa yang menyuruhmu?"


Pendekar Ranah Bumi tingkat empat itu, berusaha keras membuka mulutnya untuk mencoba berbicara. Bahkan, bersuara saja, saat ini terasa sangat sulit baginya.


"A-a ... A-a ... A-adi ... A-adiak ... Sa ... "


Begitu pendekar tersebut menjawab pertanyaannya, Arya mengubah matanya menjadi Normal kembali.


"Bruuuk ... "


Pendekar tua itu langsung jatuh berlutut dengan satu tangan di tanah menyanggah tubuhnya, sementara dari mulutnya darah segar mengalir keluar.


Beberapa saat kemudian, Arya berseru.


"Ciel ... Sudah semuanya?!"


Ciel mengangguk "Ya, seratus tiga belas, termasuk yang di depanmu itu ... "


Baru saja Ciel menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah menghilang dari tempatnya.