
Kosha bukanlah kitab yang mengandung teknik pedang Bahuraksa yang bisa di pelajari hanya karena seseorang memilikinya dan ingin menguasai ilmunya.
Meski bisa berkomunikasi dengan jiwa pedang itu, tapi Kosha sebagai jiwa bahuraksa sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana cara kerja antara kitabnya dan Bahuraksa.
Saat ini, Arya hanya bisa membuka satu gerbang di antara dua belas gerbang yang seharusnya ada di dalam kitab tersebut.
Hal itu dikarenakan hanya memang itu saja jurus yang muncul di halaman-halaman pertama Kosha, selain hal-hal lain yang mendukungnya.
Sejak terbangun dua hari setelah kejadian di reruntuhan Kuno, Arya sudah menghabiskan waktu empat hari untuk melatih cara memaksimalkan jurus partama itu.
Gerbang Cakra adalah jurus yang memungkinkan Arya mengakses semua titik cakranya dan mengendalikan energi miliknya atau sumber energi lainnya dengan maksimal.
Namun masalahnya, saat dia menggunakan terlalu banyak energi, Arya merasakan rasa sakit yang luar biasa.
Baru saja, Arya hampir kehilangan kendali atas energinya sendiri. Hal tersebut tentu saja sangat berbahaya bagi dirinya ataupun orang-orang yang berada di sekitarnya.
Arya menyadari tubuhnya masih sangat lemah untuk menahan semua energinya.
Untuk itulah Arya selalu berlatih jauh dari mereka. Saat ini saja, setidaknya Arya berada sekitar lima puluh kilometer dari Ngarai dimana pemukiman pendekar Sekte Singa Emas berada.
Saat selesai melatih fisiknya, kini Arya membuka kitab Al-khimiya dari milik keluarha Tatim dari kerajaan Arbaran. Ada sesuatu yang ingin dia pastikan di sana.
Jika benar, apa yang dikatakan oleh Arangga bahwa tubuh manusia sudah jauh berubah, maka dia harus mengetahui perbedaan seluruhnya. Agar mengetahuinaoa yang membuat tubuhnya itu, berbeda.
Arya membandingkan antara catatan yang ditinggalkan oleh Obskura tentang teknik penguatan tubuh benua timur, benua barat bahkan wilayah-wilayah lainnya dengan kitab Al-khimiya yang kini ada di tangannya.
Menurut Arya, isi kitab tersebut benar-benar berbeda dengan yang lainnya.
Sepertinya, dua ribu tahun yang lalu, pembuat kitab ini menemukan hal yang sama dengan apa yang difikirkan oleh Arangga.
Namun sedikit jauh di depan Arangga, orang tersebut sepertinya sudah mulai menemukan teknik penyusun ulang jaringan tubuh manusia.
Disana, terlihat jelas banyak gambar jenis jaringan tubuh manusia yang unik atau bisa dikatakan sudah berevolusi hingga memiliki kekuatan yang tidak dimiliki tubuh lainnya.
Namun, di sana tidak ada tubuh yang memiliki jaringan yang sama dengan milik Arya. Hal tersebut membuatnya mendapatkan beberapa ide untuk dilalukan dimasa depan.
Waktu berlalu selama dua minggu. Dan seminggu yang lalu, Bai Fan memutuskan untuk lebih dahulu ke kota Basaka guna menemui Darmuraji dan melaporkan keadaanya.
Karena telah dibahas banyak hal dan rencana bersama, Bai Hua yang tinggal akan di jadikan alasan oleh Bai Fan pada Darmuraji kenapa Bahuraksa belum bisa dia bawa untuk ditunjukkan pada orang yang kini menjadi Penguasa kota Basaka itu.
Pertama, itu terlalu beresiko. Mereka mencurigai bahwa Serikat Oldenbar sudah menaruh kaki tangannya di dalam kerajaan.
Kedua, mungkin saja saat ini tidak hanya Oldenbar yang membahayakan dan patut dicurigai.
Keberadaan Bahuraksa pasti akan menarik perhatian Oldenbar dan pihak-pihak lainnya. di Kota Basaka, bukan tudak mungkin untuk menemukan orang lain yang memiliki pengetahuan tentang senjata yang pernah mengalahkan sembilan senjata pusaka dunia itu.
Sementara itu, Arya punya rencana lain yang ingin dia lakukan. Pemuda itu, ingin mengambil alih kembali Tanah leluhurnya dan menempatkan kembali Sekte Singa Emas di sana.
"Tuan Muda. Kapan kita akan memulai rencana, ini?"
Darsapati mengubah caranya memanggil Arya. Menurutnya sudah jelas sekarang bahwa di depannya ini adalah pewaris mutlak Sekte Singa Emas.
Saat pertama bertemu, ketua Sekte itu berani memanggil Arya dengan sebutan nama, karena dia memandang Arya masih sangat lemah.
Darsapati dan Kaungsaji berniat mencari cara agar bisa membuat Arya menjadi kuat dan akhirnya menyerahkan seluruh Sekte kepadanya.
Akan tetapi, saat keduanya melihat bagaimana kekuatan Arya yang sebenarnya. Saat ini saja, Mereka masih gugup jika berbicara langsung dengan pemuda yang memiliki darah yang sama dengan darah yang mengalir di tubuh manusia terkuat yang pernah ada, Arangga.
Membayangkan saat Arya mengatakan bahwa dia masih sangat jauh lebih lemah dari moyangnya itu, Keduanya kini sangat yakin betapa hebatnya leluhur mereka yang merupakan pembunuh para dewa itu, saat masih hidup.
"Kakek Darsa dan Kakek Kaung. Jika kita memang berasal dari keluarga leluhur yang sama, bukankah itu berarti kalian adalah keluargaku juga. Kalau kalian masih memanggilku seperti itu. Maka, sebaiknya Sekte Singa Emas ini kita bubarkan saja!"
Tanggapan Arya tersebut membuat keduanya kelimpungan. Mereka lupa menjelaskan bahwa Arya punya silsilah berbeda.
Hanya Natungga-lah yang benar-benar tau bagaimana sebenarnya garis keturunan Arya yang menghubungkannya dengan Arangga.
"Begini, sebenarnya kita memiliki sedikit perbedaan di beberapa titik. Kami bukanlah keturunan langsung dari—"
Saat Kaungsaji ingin menjelaskan itu, Arya langsung memotongnya.
Keduanya saling berpandangan, bingung. Meski menganggap Arya keluarga, tetap saja sebagai calon pemimpin Sekte Singa Emas, memanggilnya dengan sebutan nama akan terasa sangat tidak beradab.
"Tidak mungkin bagi kami memanggil pemimpin—"
Kali ini kata-kata Darsapati yang terpotong oleh Arya.
"Kakek Darsa. Begini, aku tidak berniat menjadi pemimpin Sekte ini. Karena aku akan tetap melakukan perjalananku setelah aku memastikan Sekte ini mendapatkan kembali apa yang menjadi hak-nya. Lagipula, aku sudah memiliki sekteku sendiri."
"Apa?!"
"Apa?!"
Keduanya terkejut dan meneriakan pertanyaan yang sama persis di saat bersamaan.
"Kau, punya Sekte... sendiri?"
"Ya! Sebenarnya, aku memiliki keluarga lainnya. Setidaknya, sekarang kami sudah menjadi keluarga. Nama sekte Itu adalah Sekte Delapan Mata Angin."
Keduanya kini saling berhadapan kembali. Di wajah mereka tersirat tampang saling menanyakan. Namun, keduanya menggeleng dinwaktu bersamaan pula.
"Aku tidak pernah mendengar nama sekte itu sebelumnya, apakah itu juga Sebuah Sekte Besar?"
Keduanya melupakan kemungkinan bahwa Arya sudah bergabung dengan sebuah sekte sebelumnya.
Kini semua itu mungkin saja, dengan kekuatan seperti itu, agak mustahil rasanya Arya tumbuh tanpa bimbingan seseorang.
Bagi seorang pendekar, sekte tempat di mana dia tumbuh dan berkembang, adalah identitas dirinya. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan begitu saja, kecuali dia memutuskan untuk kekuar atau, sekte itu sendiri yang mengeluarkannya.
Mendengar Arya mengatakan bahwa Sekte itu adalah keluarganya. Kecil kemungkinan bagi Arya untuk meninggalkan sekte tersebut dan masuk ke Sekte Singa Emas. Karena, dari awal sekte Singa Emas belum memberikan apapun padanya.
"Sekte itu adalah sekte yang sangat kecil dan masih dalam tahap berkembang. Tentu saja kalian belum pernah mendengarnya. Tapi, saat adikku sudah mengambil alih. Saat itu tiba, jika Sekte Singa Emas ini dan seluruh sekte di Daratan Timur bergabung untuk melawan, kalian tetap tidak akan mampu mengalahkan mereka."
Mendengar kata-kata Arya, Keduanya menelan ludah.
"Adik? Kau memiliki adik?"
"Apa dia sangat kuat?!"
Arya mengangguk yakin. "Ya! Dia bisa menghancurkan Daratan ini dengan salah satu jurus terkuatnya."
Saat keduanya masih dalam keadaan terdiam karena terkejut dengan apa yang baru saja Arya katakan, pembicaraan mereka itu di sela oleh Ciel dan dua gadis yang baru saja datang kesana.
"Arya! Apakah kita akan berangkat sekarang?"
"Ya! Kita akan berangkat sekarang!"
Darsapati yang terlebih dahulu dapat mengendalikan dirinya, mengernyit heran dengan pertanyaan Ciel dan Jawaban Arya.
"Berangkat?"
Dia berbalik dan menatap ketiga gadis itu yang sepertinya sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan.
"Kalian, akan pergi kemana?"
Darsapati menoleh pada Arya dan ketiganya bergantian beberapa kali, berharap salah satu dari mereka segera menjawab rasa penasarannya.
"Kami akan mendatangi gunung dimana para bedebah, Oldenbar itu tidak seharusnya berada." jawab Bai Hua.
"Apa?!"
"Apa?!"
Mereka kembali berteriak dan menanyakan pertanyaan yang sama persis untuk kedua kalinya.
"Ya! Kami akan menghancurkan Oldenbar, dan membawa kalian kembali, Kesana!"