ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Rahasia Sekte Awan Senja


Seminggu setelah kejadian ledakan energi tubuh Darya, Arya masih berada di Sekte Awan Senja.


Dalam seminggu ini Arya benar-benar mendapat banyak pelajaran. Tempat ini bahkan belum begitu jauh dari pengunungan Obskura. Namun, di sini cukup banyak hal yang terjadi yang kembali mengingatkan Arya tentang perkataan Obskura.


Bahkan para dewa sekalipun belum tentu mengetahui seluruh rahasia di dunia ini.


Dunia yang luas ini benar-benar saling terkait. Beberapa sejarah tercatat dan sebagian besar lainnya terlupakan. Atau, sengaja di lupakan. Arya dan Tarim Saka tidak bisa menyimpulkannya.


Bangunan utama yang hancur oleh kekuatan Darya, ternyata menyimpan sebuah rahasia.


Sebuah pintu yang terlihat sudah sangat tua ditemukan di bawah reruntuhan puing-puing bangunan tersebut.


Tarim Saka yakin Ayahnya sebagai ketua Sekte Awan Senja sebelumnya, juga tidak pernah mengetahui keberadaan pintu tersebut.


Namun hal yang sangat mengejutkan tersimpan di dalam ruangan yang ada di balik pintu itu. Hal itulah yang menahan Arya untuk menunda perjalanannya.


Di sana banyak ditemui catatan-catatan yang ditinggalkan seseorang. Orang tersebut juga diduga sebagai leluhur keluarga Tarim Saka.


Hal pertama yang bisa memperkuat dugaan itu adalah kenyataan bahwa nama orang itu juga diawali dengan nama Tarim.


Kenyataan lainnya adalah orang tersebut tidak berasal dari Daratan Timur Swarna. Tarim Sadif, nama orang tersebut. Berasal dari sebuah negeri yang bernama Arbaran. Sebuah kerajaan tua yang berada di Benua Tengah.


Lebih dari 2000 tahun yang lalu, Tarim Sadif harus membawa keluarganya dalam sebuah perjalanan panjang. Terjadi perang saudara di kerajaan yang bernama Arbaran tersebut. Sadif sendiri sebagai salah seorang pangeran dari kerajaan itu, dipercaya oleh sang Raja untuk menjaga sesuatu yang sangat diinginkan oleh para pemberontak di negerinya.


Satu-satunya hal yang dia ketahui adalah,  benda yang dibawanya itu harus berada sejauh mungkin dari Negerinya. Dan jika memungkinkan, Tarim Sadif diharapkan bisa membawa itu ke ujung Dunia.


Tarim Sadif memutuskan membawa benda itu ke Daratan Timur Swarna. Karena di tanah kelahirannya di Benua Tengah, orang-orang di sana menganggap Daratan Timur Swarna sebagai ujung Dunia.


Tarim Saka duduk termenung di depan sebuah kotak kayu tua yang sudah lapuk termakan usia. Dalam beberapa hari ini terlalu banyak hal yang terjadi. Pria tua tersebut belum bisa menerima kenyataan bahwa Sekte Awan Senja sebenarnya bukanlah sebuah Sekte.


Tidak ada catatan sedikit pun tentang bagaimana Sekte ini bisa berdiri yang bisa ditemukan di catatan-catatan yang di tinggalkan oleh leluhurnya tersebut. Yang jelas, Tarim Sadif sebagai leluhurnya bukanlah orang yang mendirikan Sekte Awan Senja ini.


Di dalam kotak di depannya ini tersimpan benda yang membuat leluhurnya harus meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk melindungi benda yang ada di dalamnya.


" Ketua? Apakah kau akan membukanya? "


Semua sesepuh Sekte Awan Senja sedang berkumpul di sebuah Vila yang selamat dari amukan kekuatan Darya seminggu yang lalu. Di sana, Setiap hari mereka menyelidiki setiap catatan yang ditinggalkan oleh Tarim Sadif dari ruang di bawah reuntuhan vila utama.


" Entahlah Handar, aku ... " Tarim Saka tampak begitu gugup. Setelah banyak hal yang sudah mengejutkannya,  tentu saja sekarang dia menjadi cemas dengan apa yang ada di dalam kotak tersebut " Ini terlalu banyak!  Benar-benar membuatku bingung "


Handar dan sesepuh lainnya juga sangat penasaran dengan isi kotak tersebut. Tapi, mereka juga mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Tarim Saka.


Dengan segala kegugupannya, Akhirnya Tarim Saka membuka kotak itu untuk memastikan semuanya. Saat melihat kedalam kotak, keningnya mengerut keheranan.


Handar dan sesepuh lainnya juga merasa heran dengan ekspresi yang dimunculkan oleh wajah Tarim Saka.


" Apa ini?! ... Gelang? "


Tarim saka barusaja mengeluarkan sebuah benda berbentuk gelang yang memiliki ukiran yang sangat unik.


Benda berwarna hitam itu memiliki beberapa lobang di sekelilingnya.


" Sepertinya masih ada sesuatu di dalam sana "


Handar yang duduk didepan Tarim Saka begitu penasaran, ia sedikit memanjangkan lehernya agar bisa mengintip ke dalam kotak itu.


Tarim Saka menaruh benda yang berbentuk gelang itu di meja lalu mengeluarkan benda lainnya dari sana.


" Sepertinya ini sebuah Kitab "


Semua yang berada di sana memiliki pikiran yang sama. Kitab tersebut akan menjelaskan benda yang berbentuk gelang itu. Namun, saat Tarim Saka membuka halaman pertama Kitab tersebut. Kembali dia harus dihadapkan dengan sebuah keanehan lagi. Huruf-huruf di Kitab tersebut, Sama sekali tidak dia mengerti.


Tarim Saka memutar kitab tersebut " Handar!  Kau bisa membaca ini? "


Handar yang melihat sebentar langsung menggeleng " Tidak, Aku sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di sini! "


Ki Jurung yang berada di samping Handar juga memperhatikan halaman Kitab itu. "Mungkin ini bahasa Asli leluhur anda "


" Tok! Tok! Tok! "


Tarim Saka melirik pada pintu yang di ketuk dari luar. " Masuklah! "


Setelah mendapatkan izin, pintu terbuka. Ki Sugal terlihat di sebalik pintu itu.


" Maaf, Ketua "


" Hmm  ... Ada apa? "


" Tuan Arya menemukan sebuah pintu rahasia lagi! "


" Apa katamu?! "


Baru saja misteri di depannya membuat kepala Tarim Saka tambah pusing, sekarang sudah ada lagi kejutan yang tidak dia duga. Pria tua itu benar-benar belum siap atau bahkan memang tidak siap dengan semua ini.


Tarim Saka memasukkan kembali dua benda tersebut ke dalam kotak. Ketua Sekte itu membawa kotak tersebut bersamanya. Mereka meninggalkan Vila untuk melihat pintu yang barusaja ditemukan oleh Arya itu.


Seperti dugaan Arya dari beberapa catatan yang dibacanya. Bahwa di sana tidak hanya ada ruangan itu. Dengan mengikuti petunjuk yang sudah di bacanya. Sekarang Arya berdiri di depan sebuah tembok yang memiliki gambar sebuah simbol berbentuk lingkaran. Tepat di tengahnya ada sebuah lobang dengan delapan ukiran anak panah yang menunjuk ke Delapan Arah di sisinya.


" Di mana pintunya? "


Tarim Saka yang baru saja tiba melihat Arya yang sedang berdiri membelakanginya langsung bertanya.


" Tepat di depan kita ini. Dan sepertinya, Apa yang ada di balik tembok inilah yang sebenarnya yang ingin di lindungi oleh orang itu " jawab Arya.


Mereka yang barusaja tiba langsung menatap tembok bergambar tersebut.


" Bukankah tulisan itu terlihat sama dengan yang ada di kitab itu?. "


Handar yang pertama kali menyadari di atas gambar tersebut terukir beberapa baris huruf yang terlihat sama persis dengan yang ada di Kitab yang di bawa Tarim Saka.


Arya langsung menoleh pada Handar lalu pada Tarim Saka. " Kitab? "


" Ya, itu terlihat sama persis dengan tulisan yang ada di dalam kitab ini " Tarim Saka langsung membuka kotak itu dan menunjukkannya pada Arya.


" Lihat saja, aku sama sekali tidak bisa membacanya. "


Arya segera meraih dan membuka kitab tersebut. Baru sebentar,  Arya langsung menggeleng. Arya kemudian membuka halaman demi halaman dan terus menggelengkan kepalanya.


Melihat Arya yang seperti itu, semua orang menyimpulkan bahwa Arya juga tidak bisa memahami isi kitab tersebut.


" Ya, Ketua saja tidak bisa membacanya. Apalagi orang luar " tiba-tiba Handar secara tidak sadar mengeluarkan apa yang ada dikepalanya.


Arya langsung menatapnya sedikit tajam " Aku bisa membacanya. Namun, Kitab ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pintu itu "


Mata Handar melebar, begitu juga Tarim Saka dan yang lainnya.


" Tuan Arya, bisa membacanya? " Ki jurung yang berdiri di sebelah Handar langsung bertanya.


" Ya! Aku juga tau apa yang tertulis di atas gambar tersebut, cuma aku tidak begitu memahami maksudnya. Itu saja "


"


" Apa yang tertulis di sana?! "


" Apa katanya?! "


Hampir semua sesepuh itu memuntahkan pertanyaan yang nyaris sama dalam waktu bersamaan.


Arya kembali berbalik menatap dinding itu. Dan mulai membaca.


" Hanya pemilik kunci dan berkah yang pantas memiliki semuanya! "