
Apapun yang baru saja mendarat itu, sontak membuat ratusan pendekar yang tampak berjaga di sana terkejut.
Semua yakin bahwa benda itu datang dengan tenaga dalam yang cukup besar. Hanya saja, mereka tidak mengetahui hal itu, sampai semua dari mereka mendengar suara seorang gadis, mengumpat dari sebalik debu yang berkumpul di area itu.
"Cih, ternyata aku berlebihan ... "
Mata semua orang terbelalak saat debu mulai memudar, dan mendapati gadis yang mereka yakin berasal dari Benua Barat telah berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya, yang terlihat kotor.
Saat semuanya terdiam, Ciel yang sudah menyadari di mana dirinya mendarat, segera mengedarkan pandangannya.
Dia tau bahwa dia berkemungkinan besar sedang berada dalam bahaya. Hanya saja, karena telah melalui banyak pertarungan yang mempertaruhkan nyawa Sebelumnya, dan yakin tiga orang lainnya akan tiba di sana tidak lama lagi, gadis tersebut menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari keadaan di sekitarnya.
Dengan tenang Ciel memperhatikan seluruh pemandangan yang ada di sana. Dan dia sudah mengetahui bahwa Ada ratusan pendekar ranah bumi, yang kini sedang melihat padanya. Bahkan, saat ini Ciel sudah selesai menghitung jumlah mereka, bahkan yang berada di dalam sebuah tenda.
Namun, hal yang menarik perhatiannya adalah adanya sebuah panggung kayu kecil, namun cukup tinggi di tengah lapangan tersebut.
Bukan panggung itu yang menjadi perhatian gadis yang baru saja mendarat dari udara tersebut. Akan tetapi, apa yang ada di atas panggung tersebut.
Di sana, dia melihat seorang pria paruh baya sedang terikat. Tubuhnya di penuhi luka dan bersimbah darah yang terlihat sudah mulai mengering.
Tidak perlu ditebak apa yang telah terjadi pada pria itu. Dengan melihatnya saja, sudah bisa dipastikan bahwa dia baru saja di siksa.
Akan tetapi, Ciel bisa merasakan tenaga dalam dari pria itu masih ada. Pertanda bahwa dirinya masih hidup.
Otak gadis itu berpikir cepat. Tidak butuh waktu lama, dia bisa menyimpulkan bahwa orang itu adalah Tungkeh Aram. Sultan dari negeri dimana tanah tempat dia berada saat ini.
Ini menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Tungkeh Aji anaknya, bukanlah kemungkinan saja. Namun, keterangan pemuda itu mengarah pada sebuah fakta.
Ada sesuatu yang sedang di lindungi Sultan itu, di negerinya ini. Namun, sampai saat ini, Ciel tidak mengetahui tepatnya benda apa yang membuat seorang Sultan yang selama ini di duga bekerja sama dengan pihak asing itu, rela mempertaruhkan rakyat negerinya bahkan nyawanya sendiri.
"Hei, Nona ... Siapa kau?!"
Akhirnya, setelah beberapa saat, seseorang bersuara. Ini sudah jauh dari cukup bagi Ciel untuk bersiap-siap jika dia di haruskan bertarung.
Namun begitu, gadis itu berusaha tenang, untuk mengulur sedikit waktu.
Ciel berbalik ke arah salah satu pendekar yang bertanya. Lalu, di menunjuk dirinya sendiri, dengan wajah di buat-buat, heran.
"Aku, apa kau baru bertanya, siapa aku?"
Pendekar itu mengernyitkan kening. Dilihat dari manapun, gadis yang balik bertanya padanya itu, hanyalah oendekar yang jauh lebih rendah dari dirinya.
Akan tetapi, jika dilihat bagaimana cara kedatangannya. Seharusnya, dengan kekuatan tenaga dalamnya, tubuh gadis itu sudah hancur atau setidaknya patah-patah.
Namun, melihat gadis itu tidak apa-apa. Hal itu membuat pendekar itu sedikit waspada.
"Ya, akau bertanya padamu dan, bagaimana bisa kau muncul dengan cara seperti itu?"
Ciel pura-pura terkejut saat mendengar pertanyaan itu dari pendekar tersebut.
"Oh, itu ... Begini, hmm ... " Dia terlihatbsedang berpikir, mencoba mengingat-ingat bagaimana itu bisa terjadi. Namun, beberapa saat kemudian, dia menjawabnya.
"Aku melompat cukup tinggi, dan mendapati diriku berakhir ditempat ini."
Memang, tidak ada jawaban yang masuk akal jika Ciel menjawabnya dengan hal yang berbeda dari kenyataannya. Bahkan, saat dia berkata jujur seperti saat ini saja, gadis itu sendiripun meragukan jawabannya.
Saat pendekar itu hendak berkata lagi, seseorang yang baru saja keluar dari tenda, berteriak lantang pada semua orang yang ada di sana.
"Hei, kalian ... Kenapa kalian membiarkan orang asing berada di tengah-tengah lapangan ini? Bukankah perintah untuk hal itu sudah jelas?"
Satu suara yang baru saja muncul itu, membuat suasana di sana langsung berubah. Saat itu juga, Ciel bisa merasakan perubahan dari cara semua pendekar itu menatapnya.
Dengan matanya, Ciel bisa melihat dengan perubahan energi yang ada pada beberapa pendekar di dekatnya. Pertanda bahwa para pendekar itulah yang akan terlebih dahulu menyerangnya.
"Yah ... aku rasa, aku tidak akan bisa menunda begitu lama. Tapi, jika kalian memaksa, maka aku akan dengan senang hati menemani kalian bermain."
Jika kata-kata yang mereka dengar itu keluar dari pendekar ranah bumi tingkat lima ke atas, mungkin itu tidak akan terdengar seperti lelucon.
Akan tetapi, begitu kalimat itu keluar dari mulut pendekar Raja tingkat menengah, entah kenapa hal tersebut membuat mereka menjadi kesal.
Hal itu juga diperparah dengan tambahan satu fakta lainnya. Yaitu, pendekar Raja tersebut adalah seorang wanita muda. Sontak, saat ini semua oendekar di sana menjadi marah.
Melupakan bagaimana cara datangnya, salah.satu pendekar ranah bumi tingkat satu langsung menghambur sambil melibaskan pedangnya sambil berteriak, marah.
"Sial, apa kau meremehkan kami ... Aku akan membelah tubuh kecilmu itu ... "
Hampir semua orang yang di sana berpikir bahwa gadis itu akan berusaha menghindari serang langsung tersebut.
Akan tetapi, ternyata tidak. Semua mata melihat dengan jelas, walaupun hanya untuk sekejap saja, sebelum pedang pendekar itu mendarat, sebuah senyuman tersungging di bibir kecil gadis itu.
Ciel, dengan kekuatan matanya, memiliki kelebihan untuk melihat selah. Dalam kecepatan tinggi, mungkin saja pendekar itu bisa melukainya.
Hanya saja, ada satu hal yang tidak diketahui semua orang yang ada di sana. Masih terbilang tidak lazim, namun itu nyata. Di depan gadis cantik ini, level kependekaran mereka sama sekali tidak memberikan dampak apapun padanya.
Hanya satu langkah maju, dan dengan kekuatan prana yang di lepasnya pada ujung jari tangannya, Ciel melihat selah yang menjadi kelemahan pendekar itu, karena lengah tersulut amarah.
Jadi, begitu pendekar itu mendarat di tanah. Bukan pedangnya yang bisa membelah tubuh gadis itu. Karena pedangnya saat ini masih terhunus tinggi ke udara, sementara tangan kecil gadis itu telah bersarang di dadanya.
"Srup ... "
Ciel menarik dua jarinya yang baru saja membuat lobang di rongga kiri dada pendekar itu, dan meledakkan jantungnya.
Gadis itu mengusapkan jarinya yang berlumur sedikit darah pada pakaian pendekar tersebut, sebelum dia berbalik dan berjalan mendekat pada para pendekar yang di yakini berniat menyerangnya tadi.
Sementara, di belakangnya semua mata melihat temannya masih berdiri dengan darah mengalir deras dari pakaiannya hinga ke tanah.
"Aku sudah berkata jujur, tapi kalian memilih tidak percaya. Jadi, ayo kita selesaikan sekarang juga."
"Bruk ... "
Suara tubuh ambruk dari teman mereka, membuat pandangan mereka teralihkan untuk beberapa saat.
Mereka masih sulit memahami kejadian, di mana pendekar ranah bumi gagal memberi satu serangan dan berakhir mati hanya dengan dua jari dari gadis yang hanya seorang pendekar raja tingkat menengah saja.
Namun, hal itu belum cukup untuk mengejutkan mereka. Itu karena, saat mereka kembali menatap gadis itu, entah bagaimana, sekarang di tangan gadis itu, telah memegang busur, dengan empat anak panah, yang sudah siap meluncur saat satu tangan lainnya, melepasnya.
"Yah, aku rasa kalian tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi, bukan? ... Namun sayang sekali, karena ini bukanlah mimpi ... "