
"Pedang ... Halilintar ... "
Beberapa saat yang lalu, Arya dan Bai Hua langsung melesat secepat kilat. Gadis itu langsung menyerang dengan teknik pedang yang baru diciptakannya.
Dengan energi elemen petir yang dia simpan di pedangnya, Bai Hua bisa melepas petir dengan kekuatan yang sangat kuat yang mampu langsung membunuh pendekar suci tingkay lertama dan kedua yang di sambarnya.
Bai Hua yang memang sudah terbakar amarah. Mungkin tidak bisa dikatakan lagi menggunakan ilmu meringankan tubuh asli keluarga Bai.
Karena saat ini, gadis itu menggunakan pernafasan yang sama dengan teknik pernafasan yang digunakan Arya. Bahkan, saat keduanya bergerak, Arya bisa merasakan Bai Hua melesat lebih cepat dari dirinya.
Saat meninggalkan Arya di belakang, Kecepatan gadis itu benar-benar sudah tidak normal.
Itu bukan lagi seribu bintang tapi sepuluh ribu bintang atau, lebih. Karena kecepatan Bai Hua saat ini, setidaknya sepuluh kali lipat kecepatan yang bisa dilakukan Bai Fan kakeknya, dengan seluruh tenaga dalamnya.
Apalagi saat ini, gadis itu bahkan belum membuka segel prananya.
"Boom! ... "
"Boom! ... "
Serangan pertama Bai Hua itu, langsung menghanguskan dua orang prajurit Nippokure yang ada di lapangan.
Hal itu tentu saja mengejutkan semua orang yang ada di sana. Berfikir keduanya terkena sambaran petir di siang bolong, hampir semua kepala di sana langsung menengadah melihat ke atas langit. Anehnya, langit sangat terang dan nyaris tak berawan.
Saat itu, Bai Hua sudah tak lagi ada di sana. Sekarang, Gadis itu langsung menuju targetnya sendiri.
"Aku akan menjadikan kalian daging cincang ... " Batinnya
Ciel yang melihatnya langsung tersenyum dan bergumam. "Huh, ... Dasar, gadis gila. "
Saat mengatakan itu, Ciel juga sudah berlari meninggalkan Luna dan Citra Ayu. Saat begitu sampai di depan mulut terowongan di bawah tembok batu, Ciel membuka lingkar ruang dan menarik busur panahnya.
Dari lingkar ruang, Ciel juga mengeluarkan empat anak panah. Tanpa berbalik untuk melihat kedua kalinya, Karena hanya Cukup sekali saja baginya untuk mengunci target dan empat anak panah langsung di lepas.
Tembakan Ciel itu, langsung menembus jantung penjaga di atas tembok yang mengelilingi benteng itu.
Saat itu terjadi, mata Ciel yang sudah berganti-ganti warna itu sudah mengunci semua target-targetnya. Bahkan, yang ada di sebalik dinding sekalipun.
Dari melesatnya Arya dan Bai Hua, kejadian itu hanya memakan waktu tidak sampai lima detik saja.
Semua akan mudah, jika di lapangan hanya ada prajurit Nippokure saja. Tapi, dengan adanya lebih tiga ribu pemuda, serangan itu tidak bisa dilakukan dengan begitu membabi buta.
Arya mungkin bisa saja. Tapi itu akan sedikit memakan waktu. Karena, saat ini layaknya Ciel, dia juga punya targetnya sendiri. Akan sedikit sulit jika para petinggi itu bersiap atau bahkan melarikan diri.
Setidaknya, saat ini dengan kemampuannya, Arya bermaksud untuk menarik perhatian para prajurit itu untuk mempermudah dua yang lainnya.
"Matra ... "
"Omi ... Obi."
"Boom ... "
Meledaknya lima orang secara tiba-tiba membuat semua orang di sana terperanjat. Baru saja dua petir menyambar dua orang dan sekarang lima tubuh lagi meledak.
Para pemuda desa yang tengah berlatih itu, reflek terduduk. Itu karena Mereka belum memiliki mental yang sama dengan para prajurit Nippokure itu.
Melihat itu, Luna menoleh kebelakang dan tersenyum melihat Citra Ayu. "Citra Ayu ... Sekarang giliran kita."
Gadis itupun mengangguk "Ya, mari kita lakukan."
"Ada apa ini?"
Para prajurit itu langsung kebingungan. Mereka sama sekali tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Saat itu, semua terasa janggal, sampai seseorang berseru.
"Lihat, di sana. ... "
Di tepi lapangan, Mereka melihat seorang pemuda berdiri dengan keadaan tubuh biru menyala. Mata pemuda itu bahkan menyala lebih terang.
Semua orang sempat mematung beberapa saat, sebelum salah seorang dari prajurit itu berteriak keras.
"Penyihirrr ... Itu pasti penyihir!"
"Hah?! ... Penyihirrr?"
Kepanikan mulai terjadi. Para prajurit itu tampak akan berlari. Bahkan beberapa pemuda sudah pingsan dan yang lainnya mencicit menjauh.
"DIAAMMM ... !! Bodoh!"
Langkah merekapun terhenti dan berbalik lalu menoleh pada siapa yang berteriak.
"Tidak ada penyihir di dunia ini. Itu hanya salah satu trik. Kita adalah pasukan Armada Laut terkuat di dunia. Konyol sekali jika lari hanya karena sebuah trik kotor dari seorang penyusup."
Ada tiga puluh prajurit yang berdiri, di antara ribuan pemuda, yang sudah terduduk ditengah lapangan itu. saat ini mereka tidak bergeming saat melihat Arya.
Meski awalnya itu sangat mengejutkan mereka, tapi penampilan Arya itu tidak membuat mereka terlalu takut. Pasalnya, mereka mengira apa yang dilakukan Arya hanyalah sebuah trik.
Arya hanya berdiri menatap mereka semua. Berharap mereka terpancing dan memisahkan diri dari para pemuda yang ada di sana. Namun, sepertinya itu tidak bekerja.
Arya hanya menggeleng dan segera berbalik meninggalkan mereka.
"Hei, mau kemana kau ... "
Mengira Arya takut, dia langsung berlari dan mencabut pedang panjang di pinggangnya, berniat untuk langsung memenggal kepala pemuda itu.
"Ting ... !"
Prajurit itu terkejut saat pedangnya terhenti bahkan sebelum menyentuh Arya.
"Citra Ayu, aku serahkan lapangan ini pada kalian ... "
Dengan tangannya, Citra Ayu menangkap pedang prajurit tersebut. Hal itu, tentu saja mengejutkan. Masalahnya, Bukan hanya itu saja. Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan satu orang lagi ini.
"Baiklah, serahkan pada kami."
Anehnya, semua orang terdiam saat Arya mengatakan hal itu. Mereka terus memperhatikan kemana Arya melangkah.
Semakin jauh, semakin mengerti mereka kemana pemuda itu berjalan. Jelas tujuannya adalah bangunan di mana para petinggi dan pemimpin mereka kini berada.
"Senpai ... !"
Beberapa orang bergerak berniat untuk kembali menyerang Arya, namun detik berikutnya.
"BOOOOOMMM ... "
Sebuah godam menghantam tanah yang menimbulkan guncangan pada tempat dimana mereka berdiri.
Luna, sudah di sana menghadang mereka. Di tangannya, kini dia memegang sebuah godam besar dengan api menyala.
Godam itulah yang baru saja mementalkan tujuh orang prajurit bahkan tanpa perlu mengenai mereka.
"Senjata ... Pusaka langit?" Seru seseorang, terbata.
"Lawan kalian adalah kami ... " Ucap Luna meremehkan.
Seseorang yang berdiri lebih dekat dengan Luna, melebarkan matanya. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas. Karena berwarna merah, dia bisa langsung mengetahui bahwa itu adalah titik-titik Cakra.
"I-itu ... bu-bukan ... trik ... Cakranya benar-benar menyalaaaa ... !"
Saat menyadari bahwa penyusup yang mereka lawan bukan menggunakan trik, prajurit tadi menelan ludah. Saat dia ingin menarik pedangnya kembali, namun tidak bisa.
Dia lupa bahwa pedangnya sedang berada di genggaman seorang wanita. Matanya melebar saat melihat Citra Ayu menyeringai padanya.
"Apa kau fikir, Kau pantas berhadapan dengan sang Raja? ... Huh?!"
"Ting ... "
Apa yang baru saja dilakukannya, benar-benar membuat mata prajurit itu terbelalak. Citra Ayu baru saja meremas dan menghancurkan pedang prajurit yang ditangkapnya itu.
"Sekarang, Matilah ... "
"Booom ... "
Tamparan Citra Ayu membuat tengkorak prajurit Nippokure itu meledak dan sekaligus membuat otaknya berhamburan kemana-mana.
"Boooom ... "
"Citra Ayu, Sekarang ... "
Setelah menghancurkan prajurit di dekatnya, Luna berseru memberi tanda. Itu karena saat ini, Dia melihat Ciel sudah menghabisi para penjaga di atas tembok.