ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Teknik Rahasia, Sekte Lubuk Bebuai


Arya sudah menduga ini sebelumnya, namun dia tidak menyangka akan seburuk itu.


Berbeda dengan Rangkupala yang sudah sangat kuat, tubuh Citra Ayu tidak sekuat itu.


Alih-alih menyerap, saat ini, tubuhnya mungkin tidak bisa menahan energi yang tiba-tiba sudah ada di lambungnya tersebut.


"Hmm ... Ini, sedikit. Berbahaya!" Gumam Arya tenang, sambil melangkah.


Tentu saja dia tidak punya cukup titik cakra yang sudah terbuka, untuk menampung energi tersebut.


Saat Arya memasuki ruangan tersebut, Arya melihat tubuh Citra Ayu sudah memerah.


"Ciel, bagaimana dengan susunan Titik-titik cakranya. Apakah dia mampu menahan jika aku membuka paksa beberapa?"


Keuntungan adanya Ciel di sana adalah, dengan kekuatan matanya, adik Luna itu bisa mengetahui jumlah titik-titik cakra orang lain dengan sangat jelas.


"Arya, aku rasa masalahnya bukan pada titik cakranya saja. Pusat pengumpul energi gadis ini juga sangat kecil. Aku heran kenapa dia bisa mencapai level pendekar suci dengan pusat energi sekecil ini."


Mendengar kata-kata Ciel itu, Luna dan Bai Hua sedikit cemas. Namun, tiba-tiba Rangkupala bersuara dari luar.


"Tuan Muda. Bisakah kita bicara sebentar saja?"


"Matra ... !"


"Omi ... Obi!"


Sebelum keluar, Arya melepas Berkah Air dan menyelimuti Tubuh Citra Ayu. Karena Saat itu, kesadaran gadis itu sudah mulai menghilang.


"Tuan Rangku, apakah kau mengetahui sesuatu?"


Rangkupala berfikir sedikit lama, seolah apa yang akan dia katakan itu, adalah rahasia besar. Namun, beberapa saat kemudian, dia mulai berkata.


"Ini sebenarnya Rahasia Sekte Lubuk Bebuai. Ada alasan kenapa wanita-wanita dari sekte itu, menjadi begitu kuat dan bisa mengendalikan elemen tanah dengan sangat hebat. Hanya saja aku rasa aku tak pantas memberi tau orang lain tentang rahasia ini. Ini melanggar janjiku, pada Lindu Ara."


Arya memahami bahwa memang ada yang aneh dengan tubuh Citra Ayu. Itu kenapa dia melihat tubuh itu begitu lekat.


Arya sangat tertarik dengan keunikan dan ilmu pengetahuan tentang tubuh dan kekuatan yang di bawanya.


Arya bukan tanpa alasan saat mengobati luka dan memperbaiki cakra-cakra Edward, pemimpin serikat Oldenbar saat itu.


Selain untuk mendapat kepercayaan untuk memudahkan rencana mereka, lebih daripada itu, Arya bisa mempelajari cara kerja cakra Edward yang bisa menyerap dan mengubah tenaga dalam orang lain menjadi sumber kekuatannya.


"Tuan Rangku, bukankah Citra Ayu adalah murid Lindu Ara. Saat ini, sepertinya dia dalam bahaya. Ini salahku, karena tidak mengira gadis itu memiliki pusat Cakra yang begitu kecil padahal dia pendekar suci. Aku tidak memikirkan sampai ke sana."


Bai Hua yang merasa bersalah, ikut keluar untuk mendengar. Saat itu dia merasa Rangkupala tidak seharusnya ragu untuk mengatakan rahasia itu. Karena, itu demi keselamatan Citra Ayu.


"Baiklah, karena Tuan Muda berwawasan, aku rasa Tuan Muda bisa dengan cepat mengerti penjelasanku. Sekte Lubuk Bebuai sang Penguasa Tanah ... "


Mulailah Rangkupala menjelaskan kenapa Citra Ayu memiliki Pusat pengumpul energi yang kecil, namun bisa mencapai level pendekar suci.


Semua itu karena, seluruh pendekar Wanita Lubuk Bebuai, memiliki dua pusat energi yang diketahui juga sebagai pusat elemen dasar seseorang dan salah satu pusat energi itu pasti mengandung elemen tanah.


Namun, dengan teknik tertentu pusat energinya yang lainnya, di buat agar bisa menyerap dan mengirim energi pada pusat yang yang mengandung elemen tanah.


Itu membuat pendekar-pendekar Lubuk Bebuai seolah memiliki kekuatan dalam pengendalian tanah, jauh di atas pendekar lainnya.


Citra Ayu contohnya, pasti terlahir dengan dua energi elemen dasar. Namun sejak kecil, pasti sudah di berikan teknik itu.


Dalam hal ini, Rangkupala mengetahui bahwa istri dari Karpatandanu berasal dari Sekte itu. Jadi, sudah pasti dialah yang menanamkan teknik tersebut pada Citra Ayu, sejak gadis itu kecil.


Selebihnya, Rangkupala tidak terlalu mengerti cara kerja teknik tersebut. Namun, dia mengetahui bahwa saat menggunakan elemen tanah, seolah tenaga dalam pendekar-pendekar dari Sekte Lubuk Bebuai itu, tidak ada habisnya.


Sekte Lubuk Bebuai, bukan terkenal dengan teknik menyerangnya. Tapi, Sekte itu benar-benar ahli dalam bertahan. Hingga saat musuh melemah, mereka akan menggunakan kesempatan itu untuk menghabisinya.


Masalah level pendekar suci, sejak ditemukannya banyak jenis Pil yang mampu menaikkan kekuatan otot dan tulang, itu hanya masalah sumber daya.


Memang, bakat juga sangat menentukan, tapi Setiap yang memiliki sumber daya melimpah, dan memiliki sedikit bakat saja, pasti bisa mencapainya.


Untuk kasus ini, Citra Ayu adalah Putri Sultan Pasir Putih. Karpatandanu pasti tidak segan-segan untuk memberikan sumber daya pada Putri semata wayangnya itu.


"Baiklah, sekarang aku mengerti."


Di sinilah kelebihan Arya, pemuda itu benar-benar suka membaca dan menganalisa sesuatu. Segala sesuatu yang dia anggap penting dan bermanfaat, akan cepat di cernanya.


Saat Rangkupala menjelaskan tadi, seolah di depan Arya muncul bayangan simulasi bagaimana teknik itu bekerja. Begitulah selama ini cara kerja otak Arya. Pemuda itu, menggambarkan segala sesuatu tentang ilmu lengetahuannya dengan sangat jelas saat membayangkannya.


Menurut Arya, Itu sangat masuk akal, karena Teknik itu membuat pusat energi yang satunya, terus menerus mengirim energi yang di serapnya pada yang lainnya.


Akan tetapi, kekurangan teknik itu adalah, saat pusat energi penerima tiba-tiba mendapatkan pasokan tenaga dalam yang besar langsung dari dalam tubuh.


Sedangkan pusat energi yang lainnya, tidak bisa berhenti dan terus mengirimkan energinya yang sudah diserapnya.


Hal ini tidak akan jadi masalah, jika teknik itu bisa membuat keduanya bisa menerima energi dari dalam.


Tapi karena teknik itu hanya di buat sebagai pengirim dan tidak bisa menerima, secara tidak langsung, saat ini teknik itu membuat beberapa bagian dari jaringan penghubung titik-titik cakra di tubuh Citra Ayu, tidak bekerja sebagai mana mestinya.


Itulah, yang membuat tubuh Citra Ayu bereaksi seperti itu. Sekarang, tenaga yang besar yang di terima langsung dari dalam gadis tersebut, mengacaukan teknik dan juga sebagian jaringan penghubung titik-titik cakranya.


"Senior, jika kau sudah mengerti, apakah Citra Ayu bisa kau selamatkan?. Aku lihat, dia sangat menderita. Sepertinya dia dalam kondisi yang berbahaya."


Bai Hua benar-benar cemas. Bagaimana bisa niatnya yang hanya ingin membantu keduanya mendapatkan tenaga dalam lebih cepat dan lebih banyak, bisa membuat Citra Ayu menjadi seperti itu.


Rangkupala jelas mendapatkan manfaat dari niat Bai Hua. Akan tetapi, tidak bagi Citra Ayu. Saat ini, di dalam berkah Air Arya saja, Putri Karpatandanu itu sudah tak sadarkan diri.


"Dia pasti sangat menderita. Jika tidak membuka dan melepaskan teknik itu secepatnya, ada kemungkinan gadis itu, akan lumpuh dan tidak bisa menggunakan tenaga dalam lagi."


Mendengar penjelasan Arya, mata Rangkupala dan Bai Hua melebar.


"Tuan Muda, apakah kau bisa melepas Tekniknya? Maksudku, ... "


Tentu saja itu sangat sulit, karena hanya orang-orang dari sekte Lubuk Bebuai saja yang bisa memasangnya. Namun, menurut apa yang pernah Rangkupala dengar dari Lindu Ara, hanya ketua sekte yang bisa membukanya.


"Aku tidak tau jika tidak mencobanya. Aku tidak mengenal dan tidak pernah membaca teknik ini sebelumnya, jika aku salah sedikit saja, maka Citra Ayu bisa kehilangan nyawanya." Jelas Arya.


Bai Hua sampai menutup mulutnya, saking terkejutnya. Saat ini, Gadis itu benar-benar merasa bersalah. Dia sudah banyak membunuh, tapi tidak sekalipun dia lakukan tanpa sengaja.


Sekarang, jelas dia tidak berniat seperti itu, alih-alih menambah tenaga, dia malah menyebabkan sebaliknya. Bai Hua tidak ingin Citra Ayu kehilangan nyawa.


Namun begitu, Arya langsung masuk ke dalam ruangan. Saat di dalam, dia sekali lagi melihat kondisi Citra Ayu. Tampak berfikir sejenak, Arya seperti mempertimbangkan sesuatu. Lalu ...


"Ciel, aku butuh bantuanmu ... Gunakan seluruh kekuatan matamu, untuk melihat satu lagi pusat energi gadis ini."


"Hah?! ... Satu lagi?"


Tidak menjawab keterkejutan Ciel itu, Arya kembali berkata. "Lihat juga seluruh jaringan saraf dan jalur penghubung titik-titik cakranya."


Ciel langsung menggeleng. "Arya, aku tidak bisa. Itu sangat berbahaya."


Ciel pernah memaksa kekuatan matanya untuk melihat Saraf manusia. Namun, itu sangat sulit dilakukan, meski pernah berhasil, itu tidak lama.


"Kau bisa, aku tau matamu tidak sesederhana itu."


Setelah itu, Arya melihat Bai Hua, "Bai Hua sebaiknya kau dan Tuan Rangkupala menjauh dari rumah ini. Segera"


Bai Hua mengangguk dan menarik Rangkupala keluar dan segera menjauh.


"Arya, apa maksud—"


Saat Ciel meminta penjelasan, Namun saat itu, Arya langsung berseru.


"Bahuraksa ... Bangunlah!


Pedang itu, langsung keluar dari lingkar ruang Arya. Dengan kondisi sudah menyala dan melayang di udara.


"Kosha ... !"


"Jurus Pertama ... Gerbang Cakra!"


Saat itu juga, tubuh ketiganya langsung, Menyala.