
" Sial! Orang-orang ini sangat bodoh sekali!" Pria berbadan kekar menggerutu " cepatlah! Lemparkan senjataku ke sini "
Arya yang tidak begitu mengerti tentang jenis-jenis senjata, melemparkan sebuah pedang pada pria berbadan kekar itu.
" Apa ini?! " pria berbadan Kekar itu kesal karena tidak menerima senjata yang cocok dengan keadaannya. Dia berbalik dan kembali berteriak " Bodoh! Kau ingin aku bertarung dengan beruang-beruang itu? "
" Berikan ini padanya " pria paruh baya yang di samping Arya menunjuk sebuah tombak pendek di antara beberapa senjata. " Pria itu lalu pergi mengejar pemburu lainnya.
Tugas pengangkut selain sebagai pembawa barang-barang adalah memberikan senjata yang sesuai dengan keadaan saat berburu.
" Apa lagi yang kau tunggu?! " Teriak pria itu sambil terus menunduk. Bersembunyi di sebalik semak.
Tidak jauh dari sana. Sekita empat ekor beruang berumur 400 tahun sedang mengamuk. Salah satu dari siluman itu kini terluka saat salah satu dari pemburu itu berhasil memanah salah satu kakinya.
Arya melempar tombak yang kini ada di tangannya pada pria kekar tersebut. Karena sedikit kesal, Arya melemparnya sedikit kuat.
" BRUP! "
Tombak itu menanjap beberapa inci dari pria berbadan kekar itu. Membuat pria itu sedikit terkejut " Bajingan! Kau ingin membunuhku?! " teriaknya kesal.
Perhatian pria itu teralihkan saat salah seorang temannya berteriak padanya " Cepat lemparkan tombakmu. Pisahkan mereka! "
Pria kekar menunda kemarahannya dan kembali ke rencananya untuk menombak Siluman yang sudah terluka itu.
" Hmmpp! ... Hmmmp! ... "
Pria itu ternyata tidak bisa mencabut tongkat tersebut. " Apa yang terjadi? "
Dia ingin memeriksa apakah mata tombak itu terjepit sesuatu. Namun sebuah teriakan lagi kembali mengalihkan perhatiannya.
" Apa yang kau lakukan?! Mereka mengarah padamu! "
" Cepat lari dari sana! "
Pria kekar lupa bahwa tadi dia sedang bersembunyi. Saat ingin mencabut tombak itu, secara tidak sadar dia berdiri, sehingga kawanan beruang itu kini bisa melihatnya dengan jelas.
" Sialan! "
Pria kekar itu langsung berbalik dan berlari menjauh dari kejaran Siluman-siluman itu. Arya mengikuti langkahnya.
" Setelah ini berakhir, aku akan mematahkan leher bocah itu " gerutu pria kekar itu kesal.
Meski berhasil selamat dari kejaran Siluman beruang, pria itu tetap tidak merasa puas. Dia sangat kesal karena telah memilih orang yang sangat bodoh sebagai pengangkut.
Tidak hanya hampir membunuhnya, sekarang buruan mereka sudah lepas. Akan sulit untuk memburu kawanan Siluman beruang itu jika sudah bergabung dengan yang lainnya.
Mereka kini berkumpul kembali. Memilih untuk beristirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan perburuan mereka.
Para pemburu itu duduk berkumpul membicarakan strategi. Sementara para pengangkut juga berkumpul menunggu tidak jauh dari sana.
" Saat perburuan ini selesai. Aku akan mematahkan leher orang bodoh itu! " pria kekar masih kesal.
" Dwight! Pelankan suaramu. Dia bisa mendengarmu! " ingat seorang temannya.
" Ah persetan! Orang-orang di Daratan ini memang bodoh. Tapi aku tidak menyangka kalau aku membawa yang terbodoh! " jawab Dwight semakin meninggikan suaranya.
Semua pengangkut bisa mendengar dengan jelas kata-kata Dwight itu. Namun mereka tidak bisa berkata apa-apa.
Meski berbahaya, pekerjaan ini memiliki bayaran yang cukup lumayan bagi mereka. Tapi, perkataan dari mulut orang-orang asing itu kadang sangat keterlaluan.
" Anak muda! Jangan terlalu di pikirkan. Biasakan dirimu. Mereka memang orang-orang seperti itu. "
Pria paruh baya itu berusaha menenangkan Arya yang masih diam. Pria tua itu mengerti bahwa perkataan orang asing yang bernama Dwight itu telah menyakiti anak muda disampingnya itu.
Tidak terlalu memikirkan perkataan dari pria paruh baya itu, Arya balik bertanya" Paman. Kenapa kalian memilih bekerja dengan mereka? "
Pria itu menunduk lemah " Sama sepertimu. Kami butuh benda yang mereka sebut uang untuk bertahan hidup "
Arya tidak begitu mengerti, kembali bertanya " kenapa kalian tidak bertani atau beternak saja? "
Arya hanya mengangguk meski masih tidak begitu paham apa yang terjadi di daerah ini. Ini tidak seperti yang di ceritakan Tarim Saka sebelumnya.
Tarim Saka mengatakan bahwa daerah di sini sudah maju sehingga kehidupan sudah jauh lebih baik. Melihat orang-orang ini, Arya merasa kehidupan di Sekte yang kini bernama Delapan Mata Angin dan desa sekitarnya, jauh lebih baik daripada di sini.
Saat mereka masih berbincang suara dari Dwight menghentikannya.
" Hei, Kalian! Kemasi semua barang. Kita akan kembali berburu. Cepat! "
Para pengangkut langsung bersiap dan melihat kelengkapan mereka. Setelah merasa semua beres, mereka mulai melangkah.
" Hei bodoh! Kenapa kau masih duduk di sana? "
Para pengangkut baru menyadari ternyata Arya masih duduk tak bergerak. Namun, tidak lama dia berdiri dan mulai berjalan.
Arya benar-benar tidak terima dengan keadaan ini. Bagaimana bisa orang-orang asing ini merendahkan mereka sampai sejauh ini.
Arya memilih untuk tetap mengikuti mereka karena menurutnya, ini saat yang tepat untuk mulai mempelajari bagaimana dunia bekerja.
Tidak seperti sebelumnya, perburuan mereka yang kedua malam itu berjalan lumayan lancar. Meski ada dari salah satu pengangkut yang terluka di kaki, para pemburu baru saja berhasil menangkap Siluman Babi.
Para pemburu tampak merayakannya. Target mereka sebenarnya adalah Benggala karena harganya yang sangat mahal. Tapi, Siluman yang berhasil mereka tangkap kali ini lumayan besar. Setidaknya sudah berumur tidak kurang dari 600 tahun.
Karena berjalan sudah terlalu jauh ke dalam hutan. Pulang saat ini tidak bisa menjadi pilihan. Akhirnya, mereka memutuskan memilih sebuah lembah kecil untuk beristirahat menghabiskan sisa malam sebelum pulang saat hari sudah terang.
Salah satu tugas pengangkut lainnya juga menangani hasil buruan. Dari menguliti, memisahkan daging dan tulang, hingga mengambil batu energi dari Siluman itu.
Siluman yang sudah berumur di atas 300 tahun memiliki nilai yang tinggi hampir di semua bagian anggota tubuhnya. Daging, kulit, tulang, taring, tanduk dan yang paling mahal tentu saja batu energinya.
" Grrrrrrrr "
" Grrrrrrrr "
" Grrrrrrrr "
Kegembiraan mereka terhenti saat mendengar banyak suara geraman di sekeling area tempat mereka beristirahat. Tiba-tiba suasana di sana menjadi mencekam.
Dwight segera memeriksa, sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri. seekor Siluman beruang muncul dan tak lama berselang muncul beberapa ekor lainnya. Setidaknya ada enam ekor siluman beruang kini sedang mendekat pada mereka.
" Sial! " Umpat Dwight.
Melawan satu Siluman beruang yang memiliki umur di atas 500 tahun mungkin masih masuk akal. Tapi jika itu enam ekor, maka itu adalah hal mustahil.
Sebagai pemimpin perburuan ini, Dwight sadar bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri. Tapi, meninggalkan hasil buruan mereka juga bukan sebuah pilihan.
" Kalian! Angkat semua hasil buruan itu. Kami yang akan membawa senjata. Kita akan kabur dari sini. Segera! "
" Tapi ... Bagaimana dengan teman kami, Tuan?! " tanya salah seorang pengangkut.
Sebelumnya, mereka berpikir untuk mengangkat temannya yang terluka untuk ikut kabur dari sana.
" Ah! ... Itu lebih berharga daripada temanmu " Dwight menunjuk hasil buruannya.
Setelah mengatakan itu, Dwight bersama pemburu lainnya langsung mengemas senjata mereka. Sementara para pengangkut tampak masih ragu dalam mengambil keputusan.
" Kalian ingin aku membunuhnya terlebih dahulu? "
Dwight tiba-tiba sudah berdiri di dekat pengangkut yang sedang terluka itu dengan memegang pedang yang terhunus.
Melihat ancaman Dwight itu, Tidak ada pilihan bagi para mereka selain mengikuti perintahnya. Mereka menatap temannya dengan rasa bersalah lalu mengikuti para pemburu itu dari belakang. Berharap sebuah keajaiban bisa menyelamatkan teman mereka itu.
" Anak muda. Kenapa kau tidak mengikuti mereka? Jika kau masih di sini, kau akan mati bersamaku "
Pria tua yang terluka itu cemas saat menyadari Arya masih duduk di sampingnya ketika yang lainnya telah pergi. Luka di kakinya akan menyulitkannya untuk berdiri apalagi berlari.
" Kita akan hidup dan mereka semua akan mati! " Jawab Arya dengan ekspresi wajah yang belum pernah dia gunakan sebelumnya.