
Sesuai dengan rencana yang dianjurkan oleh Bai Fan malam sebelumnya, Sekte Lembah Hantu akan mengadakan pertemuan dengan tiga sekte lainnya.
Bersamaan dengan diutusnya beberapa anggota untuk memberitahu para petinggi sekte itu, dikirim pula beberapa orang untuk menyelidiki kekuatan dan perkembangan Serikat Oldenbar dan Sekte Bukit tengkorak.
Tiga hari berlalu. Selama waktu itu, Arya memanfaatkannya untuk melatih beberapa jurus dasar dari Kitab Pernafasan Beruang Tanah. Selain itu, Arya juga sudah menyembuhkan hampir seluruh titik cakra milik Bai Hua.
Bai Fan dan yang lainnya tetap sulit untuk mempercayai bahwa Arya tidak pernah keluar dari Daratan Timur kerajaan Swarna, sebelumnya.
Karena menurut Bai Fan, meski teknik penyembuhan yang Arya gunakan sangat mirip dengan Teknik penyembuhan Tabib-Tabib di negaranya, Namun dia sendiri belum pernah melihat Tabib dengan kultivasi hebat di negaranya itu melakukan teknik penyembuhan setinggi yang bisa Arya lalukan.
Hal lainnya adalah, saat Arya mengajarkan Luna dan Ciel bahasa Kitab kekuarganya. Itu sangat aneh bagi mereka. Bagaimana orang lain bisa mengajarkan bahasa Kitab keluarga mereka sendiri.
Bai Fan mencurigai bahwa Arya memiliki umur yang tidak seperti yang terlihat. Kesimpulan Bai Fan bukan tanpa alasan, di negaranya dengan teknik kutivasi, seorang kultivator bisa menekan penuaan mereka. Bai Fan sendiri jugabseorang kultivator yang mendalami teknik tersebut.
Namun, melihat pengetahuan Arya tentang banyak hal, itu melemahkan dugaannya. Karena jika memang begitu, Arya bisa saja sudah berumur lebih dari dua ribu tahun. Bagi kultivator terhebat sekalipun, Kemungkinan itu sangat kecil dan hampir mustahil.
Lima hari berlalu. Arya kembali setelah menghilang selama satu hari. Saat hendak pergi, Arya hanya mengatakan pada Bai Fan dan yang lainnya bahwa ada satu hal yang ingin dia pastikan.
Pagi menjelang siang hari itu, telah datang Sekte pertama. Disusul oleh dua sekte lainnya beberapa jam setelahnya.
Untuk menghindari salah faham, Lamo meminta Arya dan yang lainnya untuk menunggu di tenda mereka sementara Lamo menjelaskan situasi dan keberadaan mereka pada ketua-ketua sekte lainnya.
Sama seperti mereka sebelumnya, Sekte-sekte yang lain juga tidak akan bisa menerima kehadiran orang asing begitu saja. Apalagi mereka sudah menyadari bahwa orang-orang asing lainnya, adalah pemicu semua ini.
Saat malam hari, barulah Arya dan yang lainnya diundang untuk bergabung bersama Lamo dan tiga ketua Sekte untuk membahas rencana mereka.
Saat membahas, ketua-ketua sekte dan para petinggi sekte lainnya, sangat mengagumi bagaimana cara Bai Fan menjelaskan strategi yang akan mereka jalani. Begitu pula saat Luna dan Ciel memberitahu gambaran cara kerja dan kekuatan Serikat Oldenbar.
Ditambah dengan Informasi yang didapat oleh anggota sekte Lembah Hantu yang diutus untuk memata-matai Bukit Tengkorak, akhirnya mereka sudah punya gambaran jelas tentang apa yang harus mereka lakukan.
Namun malam itu, terjadi kejadian yang sedikit tidak menyenangkan. Saat Arya memperkenalkan dirinya, bahwa dia dari Sekte Awan Senja yang telah berganti nama menjadi Delapan Mata Angin, hampir semua orang disana menertawakannya.
Hal tersebut hampir memicu pertengkaran. Ciel dan Bai Hua yang tersulut emosi, hampir saja menyerang beberapa orang yang terdengar merendahkan Arya dan Sektenya. Beruntung Luna dan Bai Fan cepat menghentikan mereka.
Saat itu terjadi, Arya lebih memilih keluar dan pergi dari tenda pertemuan itu. Karena ada hal yang sangat mengganggunya.
Melihat Arya yang pergi begitu saja, Bai Fan mencoba mengingatkan pada semua orang yang ada di sana.
"Ketua Lamo dan kalian semua. Kami membantu kalian karena Tuan Arya yang menginginkannya. Jika kalian tidak bisa menghargainya, maka kami tidak akan berbuat lebih dari ini" ucap Bai Fan sedikit mengancam.
Ketua Sekte Lembah Hantu, Lamo, menyadari kesalahan mereka. "Ketua Bai. Maafkan kami, hanya saja, selama ini kami sangat mengetahui bagaimana Sekte Awan Senja."
"Seperti kata Ketua Lamo, mengubah nama tidak akan membuat sebuah Sekte menjadi kuat, bukan? Hahahaha!" Tambah seseorang yang mengaku bernama Salu, Ketua Sekte Telaga Keramat.
Kata-kata itu memicu tawa mereka sekali lagi. Bai Fan tampak sudah sedikit kesal. Jika saja Arya tidak berkeras untuk menolong mereka, maka Bai Fan akan dengan senang hati merobek mulut Salu yang tidak tau diri itu.
Berbeda dengan Bai Fan dan Luna yang bisa menahan amarah mereka, Ciel dan Bai Hua memilih untuk pergi dari pertemuan itu.
Di luar, mereka melihat Arya berjalan memasuki hutan. Tanpa pikir panjang, mereka langsung mengejarnya.
"Arya! Kenapa kau masih ingin membantu orang-orang itu? Aku lebih ingin melihat mereka hancur" Ucap Ciel setelah berhasil menyusul Arya.
Bai Hua mengangguk menyetujui kata-kata Ciel. "Senior, sebaiknya kita tinggalkan saja orang-orang tak tau diri itu" Tambahnya.
Arya menoleh pada Bai Hua dan Ciel yang kini berjalan sejajar di kiri dan kanannya. "Beberapa waktu ini, aku mulai memahami, kenapa orang-orang asing termasuk kalian, meremehkan kami. Orang-orang Daratan Timur ini"
Keduanya sontak melihat pada Arya. Tentu saja keduanya tidak terima saat Arya mengatakan itu pada mereka.
"Jika kami meremehkanmu, tidak mungkin aku dan kakakku, memilih untuk ikut denganmu" Tambah Ciel.
"Ya. Aku dan Kakekku, sangat menghormati, Senior!"
Arya hanya tersenyum saat keduanya mengatakan protes mereka. "Aku tidak menyalahkan, kalian!" Sambil berjalan, Arya menautkan tangannya kebelakang. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sudah memahaminya. Ini semua memang karena cara kami berfikir sudah jauh tertinggal dari kalian. Bahkan mungkin kami juga sudah tertinggal dari penduduk dua Daratan lainnya di Kerajaan Swarna ini"
Keduanya tidak bisa melakukan protes apapun lagi. Karena menurut mereka, apa yang dikatakan Arya adalah kebenarannya. Daratan Timur Kerjaan Swarna, terlalu jauh dari yang lainnya. Sehingga sepertinya, penduduk maupun pendekar-pendekarnya tidak mengetahui perkembangan dunia Luar.
Arya menyadari itu setelah teringat bagaimana Kundari, roh pendekar dari Daratan Barat yang pernah mencoba mengambil alih tubuh Darya, juga meremehkan Penduduk Daratan Timur. Di tambah lagi dengan Dwight, sang pemburu yang juga berkali-kali mengatakan bahwa mereka bodoh.
Awalnya, itu hanya membuat Arya kesal. Tapi, setelah beberapa waktu dan hingga kejadian hari ini, Arya semakin mengerti.
Bahkan dirinya yang mendapat informasi dari Obskura sekalipun tidak terlalu mengetahui perkembangan dunia luar. terlebih hal-hal dasar. karena, Obskura hanya tertarik dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari manusia.
Arya sudah mengerti bahwa, Daratan yang sebelumnya tidak pernah mendapat perhatian pemerintah kerajaan Swarna ini, belum siap untuk menghadapi perubahan. Sehingga, mereka sangat mudah sekali terperdaya oleh orang asing. Bahkan, mereka tidak sadar bahwa orang-orang itu sedang berusaha menguasai apa yang seharusnya menjadi hak mereka.
Arya mulai sedikit membenci kerajaan Swarna. Karena sampai sekarang masih tidak terlalu perduli dengan rakyatnya sendiri. Jangankan Maharaja yang berada Kota Barus di Daratan Utara. Raja Di kota Basaka saja hanya perduli dengan Senjata Pusaka yang ada di Daratan ini, tanpa peduli dengan kesengsaraan rakyatnya.
Ki Jabara, dengan lantang mengatakannya pada prajurit di lembah yang ada di desa Paganti. Kerajaan tidak pernah membantu mereka, sedangkan kerajaan menuntut pajak dari mereka.
Lama mereka terdiam, sebelum akhirnya Arya tiba-tiba menghentikan langkahnya, "Ciel, kau juga sudah merasakannya, Bukan?"
Keduanya juga ikut berhenti. Tapi, Ciel menjadi sedikit terkejut karena Arya bertanya tentang sesuatu.
"Apa maksud... " Kata-kata Ciel tergantung. Karena setelahnya, dia langsung mengerti apa yang dimaksud Arya. "Ya, aku melihatnya"
Bai Hua yang menjadi sedikit bingung karena peralihan topik pembicaraan yang tiba-tiba itu, ingin mempertanyakan maksud keduanya. Tapi dia harus mengurungkan niatnya, karena tiba-tiba Arya kembali bersuara.
"Keluarlah!"
Ciel langsung mendekat pada Bai Hua yang masih tampak kebingungan. "Bai Hua, persiapkan dirimu. Kita kedatangan tamu tak diundang!"
****
Hello. MoonMarvel di sini,
Tidak terasa, Arya Mahesa sudah sampai di chapter 100.
Terimakasih aku ucapkan, buat kalian yang sudah mengikuti kisahnya.
Di Chapter 100 ini, aku sengaja sedikit memberi bocoran. ini baru hampir separuh perjalan Arya pada Arch pertama cerita ini. dan ini benar-benar baru permulaan.
Aku mengingatkan tentang apa yang pernah di katakan Darya pada Tarim Saka kakeknya, saat Arya meninggalkan Sekte Delapan Mata Angin.
"Tempat ini terlalu kecil untuk seseorang yang akan menguasai Tiga Dunia"
Terus ikuti ceritanya Ya.
Oh Iya! Aku juga berterimakasih pada kalian yang terus memberikan dukungan lewat Hadiah tips, Like, Vote dan Rate. apalagi ditambah dengan Komentar dukungan dan saran. itu sangat membantuku untuk terus bersemangat agar terus menulis cerita ini.
Nantikan Update Berikutnya Ya!
M.M