
" Hahahhahaha! "
" Hahahahha! "
Tawa kedua gadis itu meledak ke udara. Mereka tidak menyangka bahwa semua yang terjadi melebihi apa yang mereka harapkan.
" Kenapa kau membodohi pemuda ini? Hahahhaha! "
" Dan kenapa kau memakai jurus elang? Hahahha! "
Kedua gadis itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perut mereka yang mulai terasa sedikit kram. Siapa yang menduga bahwa nama Gagak Merah yang membuatnya terkenal, akhirnya nama itu pula yang menjadi penyebab kematiannya.
Suara tawa keduanya punya efek yang cukup mengerikan bagi musuh mereka. Sepertinya mereka benar-benar sudah salah memilih lawan. Saat ini Mereka merasa bukan sedang melawan manusia.
Saat semuanya mulai berpikir bahwa mereka telah kalah, Hattala langsung buka suara " Barnes! Sepertinya kau memang besar bicara. Bagaimana orangtua renta itu bisa kau katakan sebagai pendekar? Aku rasa kalian hanya menipu pamanku! " tuduhnya
Barnes sebagai ketua serikat itu tidak bisa percaya apa yang baru saja pemuda yang bernama Hattala ini katakan padanya. " Seberapa bodoh Kau sebenarnya?! Kau benar-benar tidak bisa merasakan kekuatan Gagak Merah? "
" Hahahaha! " Hattala menatapnya tajam " Aku tidak tau pendekar di negaramu selemah apa, hingga kau menyangka tua bangka itu pendekar yang cukup kuat. Tapi di Daratan ini, seorang pendekar tidak mungkin bisa dikalahkan oleh orang yang tidak punya tenaga dalam seperti orang itu. Jelas kau hanya tertipu dengan sebuah nama. Gagak Merah? hah?!"
Barnes seperti kehabisan kata-kata. Dia melihat ke semua pendekar yang ada di belakangnya " Kalian! Katakan pada pemuda bodoh ini apa yang sebenarnya terjadi! " Barnes histeris.
" Sudahlah Barnes! Jangan Berpura-pura lagi. Setelah ini selesai, aku akan membuat perhitungan denganmu! " Ancam Hattala.
" Persetan denganmu! Aku tidak bisa mempercayai bahwa orang seperti Nurmageda mau mempercayakan kota ini pada orang bodoh seperti dirimu! "
Keduanya terus beradu mulut. Hingga melupakan bahwa mereka sekarang sedang berada dalam keadaan yang sangat bahaya. Tentu saja Barnes menyadarinya, tapi Hattala punya pemikiran yang jauh berbeda darinya.
" Sebaiknya kalian bertarung saja. Yang menang mungkin akan kami lepaskan! " Teriak Ciel pada mereka.
" Tidak! Aku tetap akan menghancurkan kakimu walaupun kau yang menang! " Luna berteriak pada Hattala.
Arya memperhatikan keduanya dengan heran. " kenapa kalian sepertinya sangat senang? " Arya menatap mereka curiga " apakah kalian sebanarnya sudah mengetahui mereka benar-benar lemah? "
Mendengar pertanyaan Arya itu, keduanya berpandangan dan tak lama keduanya kembali tertawa.
Hattala sudah kehilangan kesabarannya. Dia menoleh kebelakang melihat prajurit kota yang berjumlah ratusan itu. " Kalian semua jangan takut! Entah trik apa yang mereka gunakan, Aku sudah curiga bahwa Gagak Merah dan Barnes ini penipu. Jadi, jangan terpengaruh dengan kejadian itu. Bersiaplah! "
Prajurit yang tadi sempat ragu itu, mendapatkan sedikit rasa kepercayaan diri mereka kembali. Tidak mungkin memang, seorang pemuda yang tidak memiliki tenaga dalam bisa mengalahkan pendekar tingkat tinggi dengan sangat mudah. Mereka memutuskan berbalik percaya pada Hattala.
" Terserah jika kau masih ingin meneruskan ini. Aku sudah selesai disini. " Setelah mengatakan itu, Barnes langsung berbalik dan hendak pergi.
" Sayangnya, aku tidak akan membiarkan siapapun pergi. Kalian sudah berniat menyerang sekteku. Aku tidak bisa melanjutkan perjalananku dengan tenang, jika kalian masih ada di Daratan ini! "
Setelah mendengar kata-kata Arya itu, Barnes menghentikan langkahnya. " Sial! " lalu berbalik menatap Arya " Aku sudah mencoba untuk mundur tapi kau sepertinya memang menginginkan pertempuran. Bagaimanapun, kalian hanya bertiga. Lihatlah jumlah kami. Aku akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri! "
" Aku tak pernah bilang bahwa kami hanya bertiga. Kalian belum menghitung yang sekarang ada di belakang kalian!. "
Semuanya sempat terkejut mendengar perkataan Arya itu, mereka langsung waspada dan menoleh kebelakang.
Dua ekor Anjing dan Kera sudah berdiri belasan meter dari pasukan. Melihat dua binatang kecil itu, membuat semua anggota pasukan Hattala dan Barnes jengkel. Mereka merasa Arya sudah mempermainkan mereka.
Luna dan Ciel pun sempat penasaran saat Arya mengatakan itu. Apalagi mereka tidak bisa melihat siapa yang berada di belakang pasukan Hattala dan Barnes itu. " Kau meminta pendekar dari kelompok pemberontak menolong kita? " Ciel langsung bertanya.
" Hahahahha! "
" Hahahahha! "
Luna dan Ciel kembali tertawa.
" Arya! Kau tidak hanya lebih kuat dari kami, tapi selera humor mu jauh lebih hebat dari aku dan Ciel! " Luna tidak habis pikir, ternyata Arya sudah mempersiapkan lelucon yang tak mungkin satu orang pun di dunia ini bisa memikirkannya bahkan berani melakun itu selain dirinya.
" Kau benar-benar menakutkan! " kata Ciel menambahkan.
Keduanya terus tertawa. Seolah mereka sedang berada di sebuah tempat hiburan dan saling bercanda.
" Humor? " Arya memang tidak bisa memahami keduanya. Bagi Arya, keduanya sama sekali tidak takut. Sama seperti dirinya. Bahkan lebih jauh lagi, keduanya sangat menikmati keadaan ini.
" Ya! Kau sangat luar biasa! " Luna masih tertawa saat Arya menjawabnya seolah itu belum cukup lucu baginya.
Ciel hanya menganggu-angguk menyetujui perkataan Luna. Dia sendiri sudah tidak sanggup bersuara. Perutnya benar-benar Kram karena ketawa.
Hattala dan Barnes benar-benar kesal. Seumur hidup mereka, belum pernah seorangpun meremehkannya seperti ini. Tidak hanya mereka, semua pasukan itu sudah merasa terhina. Sekarang, mereka semua benar-benar berniat menghancurkan ketiganya.
" Sial! Aku akan membunuh kalian semua! " Teriak Barnes dengan amarah sudah di puncak kepalanya.
" Akan kukirim kalian keneraka saat ini juga! " teriak Hattala tak kalah kuatnya.
Sehabis teriakan Hattala itu, semua langsung hening. tentu saja Hattala merasa Hal itu terasa sedikit ganjil. Hattala menatap dua wanita tadi yang tertawa kini terlihat sangat pucat saat menatapnya.
Hattala merasa bahwa teriakannya tadi sudah menghancurkan mental keduanya. Hattala menggelengkan kepalanya " Heh! Sudah terlambat bagi kalian! "
Barnes memperhatikan dengan seksama. Tidak mungkin kedua orang itu terdiam hanya karena teriakan dari dirinya dan Hattala.
Barnes melihat Ciel mulai mengangkat tangan dan menunjuk ketakutan ke arah mereka dengan wajah pucat. Dia juga melihat Luna tak jauh berbeda.
" Sejak kapan makhluk itu ada disana? " Ciel berkata sangat gugup.
" Dan satu lagi itu ... " Luna tak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Arya menggelengkan kepalanya saat melihat reaksi keduanya. " Itu kenapa tadi aku sarankan, agar kalian berdua sebaiknya di dalam saja " ucapnya pasrah.
" Heh! Kalian masih ingin bercanda?! " Hattala geram, merasa kedua gadis itu sedang bersandiwara seolah-olah di belakang mereka ada makhluk yang berbahaya.
Barnes yang berdiri di sebelah Hattala melirik sebentar kebelakang dan kembali menghadap kedepan " Huh! Itu hanya dua ekor siluman Srigala dan Kera. Lalu apa. Hah?! "
Sesaat setelah mengatakan itu, matanya langsung mengernyit. Barnes sadar bahwa kedua gadis itu tidak sedang bercanda seperti yang di katakan Hattala.
Penasaran. Barnes kembali menoleh perlahan kebelakang berharap yang dilihatnya tadi hanya hayalannya saja. Malangnya, itu memang apa yang dia lihat sebelumnya. Matanya melebar seketika.
" Oh, Sial! "
Rewanda dan Krama dengan Wujud Iblis mereka, sudah berdiri tepat di belakang pasukan itu.