ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Rakit Kayu Kelapa


Sampai saat ini, sudah dua hari Harupanrama dan Karpatandanu berada di Malka, akan tetapi keduanya tidak kunjung di temui oleh Adiaksa.


Padahal, mereka sudah jauh-jauh hari mengirim lesan prihal kedatangan mereka. Namun, saat ini hanya Banjanang saja yang bisa mereka temui.


Hal itu merupakan sebuah penegasan bahwa keduanya benar-benar tidak di hargai oleh Raja Malka itu. Padahal, setiap tahun, mereka membayar pajak demi kemakmuran orang-orang istana ini.


"Tuan Banjanang, kami datang membawa harap. Itu kenapa kami menghadap."


Banjanang hanya tersenyum menanggapi kata-kata Harupanrama itu. Dan beberapa saat kemudian barulah dia menjawab.


"Raja Adiaksa sedang bertapa. Kalian datang hanya mengganggunya saja. Kalian bisa di sini hingga dia selesai dan kami akan menjamu kalian selama itu. Akan tetapi, jika kalian pulang, kamipun tidak akan melarang."


Jawaban Banjanang benar-benar membuat keduanya geram. Saat inj, mata Harupanrama mengusyaratkan seolah akan menelan pria tua dengan wajah yang licik itu, hidup-hidup.


Namun, Karpatandanu lebih sedikit tenang. Baginya, kedatang mereka kesini hanyalah pengalihan saja. Seperti rencana yang sudah dipersiapkan, keduanya ada maksud lain ke istana Malka.


"Baiklah, jika engkau berkata demikian, maka tidak ada alasan lagi kami disini. Jika memang engkau berkenan, kami bersegera untuk pulang."


Banjanang mengangguk dan mengangkat tangan mempersilahkan. "Pintu keluar ada di sana."


"Hei Banjanang. Raja bukan Sultanpun bukan. Harupanrama tak pernah mendaulatmu. Hendaklah sedikit engkau berkaca, bertahta seolah Raja."


Saat itu, Banjanang memang sudah keterlaluan. Guru Adiaksa itu bahkan berani duduk di singgasa Raja Malka, padahal saat ini, depannya ada dua Sultan yang mendaulat Adiaksa.


"Kalian berdua memang tidak berbeda dengan yang lainnya. ... Bangku ini, tak berharga. Kau bisa duduk di sini jika kau mau. Tapi, saat pergi tinggalkan kepalamu."


"Banjanang Guru Raja, engkau memang bukan lanutan. Jika bukan karena darah, Adiaksa memang tak menjadi Raja."


Saat itu, Mata Banjanang melebar. Namun, Karpatandanu yang mangatakan hal tersebut sudah berbalik dan langsung berjalan.


Harupanrama sedikit terhibur saat Karpatandanu mengatakan hal tersebut. Lagipula, jika Banjanang akan mengadukan itu pada Raja Adiaksa sekalipun, keduanya memang sudah tidak peduli lagi.


Keduanya sudah dapat kabar masalah benteng Nippokure. Melihat dari reaksi Banjanang saat bertemu keduanya, Karpatandanu dan Harupanrama yakin, Malka belum mengetahui hal tersebut.


"Karpatandanu, engkau sungguh hebat. Aku tidak berfikir sampai ke sana."


"Hatupanrama, Aku sudah lihat siapa yang Raja. Tentu kau juga. Banjanang bahkan Adiaksa, aku ingin keduanya binasa."


Saat itu, keduanya berjalan meninggalkan istana. Sekarang, mereka akan pergi kemana tujuan mereka sebenarnya.


"Tungkeh Aram penyimpan dendam, jangan lah pula kau buat geram."


Karoatandanu mengingatkan pada Harupanrama sekali lagi. Karena Salah satu Sultan yang akan mereka temui kali ini, memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan dirinya.


Keduanya akan mencari tau apa yang terjadi di Negeri Bukit Batu. Tempat di mana Sultan Tungkeh Aram bertahta.


***


"Arya Kita sudah hampir satu malam berada di sini. Aku rasa, kita tidak bisa terus menunggu."


Meski sudah melihat sendiri kekuatan keduanya, Salendra sempat menahan Arya. Pasalnya, pemuda itu hanya mengingat beberapa batang kelapa dan langsung berangkat ketengah lautan.


Mendengar Cerita Nan Tuo, semua orang bisa menyimpulkan bahwa jika Kerang Batu Darah memang benar-benar ada, maka ukuran Siluman itu setidaknya sebesar desa di mana dia berpijak saat ini.


"Ciel, itu kenapa aku membawamu bukan Luna. Karena sekali lagi, aku membutuhkan kekuatan matamu untuk mencarinya."


Ciel langsung mengangguk mengerti. Lagipula, dia memang berniat untuk ikut bahkan jika Arya tidak mengajaknya.


"Tidak, belum saatnya. Karena, Aku tidak tau sekuat apa leluhurku saat menghadapi Siluman ini. Bisa saja saat itu dia jauh lebih kuat dari kita berdua."


Seperti biasanya. Arya hanya perlu sekali belajar, maka dia akan berkembang dan perkembangannya akan benar-benar menakjubkan.


Di antara mereka, Arya lah yang paling muda. Ciel dan Bai Hua berada di usia empat tahun lebih tua darinya. Sedangkan Luna, dua tahun di atas keduanya.


Akan tetapi, sering kali mereka merasa Arya lah yang paling dewasa. Karena, ada saatnya Arya benar-benar bijaksana.


"Arya, bagaimana caramu menggerakkan Rakit ini? Kau bahkan tidak memiliki elemen angin."


Arya menggeleng. "Bukan kah kau tau elemen apa yang selalu menyelimutiku?"


"Yah, sudah ku duga."


Saat itu, waktu terus berlalu. Namun, tidak ada tanda apapun di sana. Arya sudah membuat rakit itu berpindah-pindah tempat sepanjang malam, namun tetap tidak menemukan apapun.


"Arya, di seberang ada ada sebuah pulau. Bagaimana jika kita kesana? Bisa saja Siluman itu berada di sebalik pulau tersebut."


"Ya aku rasa kau benar. Dengan ukurannya, mungkin saja dia memerlukan perairan yang lebih dalam."


Arya langsung mengarahkan rakit yang mereka naiki, ke arah pulau tersebut. Namun, baru saja dia melakukan itu beberapa saat, Arya langsung merasakan sinyal bahaya dari dasar laut, yang sedang mengarah pada mereka.


"Ciel, mendekat padaku ... "


"Ada apa?! ... "


Ciel memang memiliki kekuatan mata yang luar biasa. Namun, dia tidak bisa merasakan bahaya.


Namun tidak bagi Arya. Nalurinya sudah terasah dengan cara yang sangat luar biasa. Arya bisa merasakan bahaya kapan saja, bahkan jika dia sedang tertidur sekalipun.


"Di Bawah ... ?!"


Mendengar Arya berteriak, Ciel langsung reflek menunduk dan memaksa matanya bekerja. Saat itu juga dia bisa melihat gelombang energi besar, benar-benar sedang meluncur dengan kecepatan tinggi pada mereka.


Tau bahwa Ciel tidak sempat bereaksi, Aryalah yang melompat pada gadis tersebut. Dia memeluk Ciel, dan langsung melompat sekuat tenaganya, sebelum akhirnya energi yang tadi sempat di lihat oleh Ciel itu, menghantam rakit mereka.


"BOOOOOOOOOOOMMMMM ... "


Menyaksikan itu, mata Ciel benar-benar melebar. Dia belum pernah melihat makhluk sebesar ini sebelumnya.


Jika Arya terlambat melompat sedikit saja, sudah bisa di pastikan sekarang mereka berdua sudah berada di dalam mulut makhluk tersebut.


Sedetik yang lalu, Ciel merasa akan benar-benar tertelan hidup-hidup. Itu karena jarak mereka berdua dengan ujung mulut mahkluk itu hanya sekitar satu meter saja. Saat itu, mulut yang memiliki ukuran yang sangat luar biasa besarnya itu baru saja tertutup di udara.


Tidak sempat merasa lega. Karena saat ini mereka juga akan turun menyusul makhluk besar itu ke dalam air.


Satu hal yang ada di dalam pikiran Ciel saat ini adalah, meski dia cukup kuat dan memiliki kemampuan mata yang sangat hebat, akan tetapi dia bisa berenang sama sekali.


"ARYAAAAA ... !!"


Ciel benar-benar di buat ketakutan, dan berteriak sekuat tenaga. Ketakutan itu, membuat tubuhnya menegang dan langsung memeluk Arya dengan sangat kuat pula.


Sadar Ciel begitu takutnya, Arya mencoba mengingatkan. "Ciel ... Tarik Nafasmu dalam ... "


Ciel tidak bereaksi apapun saat itu, Sebelum pada detik berikutnya mereka sudah ikut menyebur dan menyusul makhluk yang sangat besar itu, kembali kedalam lautan.