ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tanah Leluhur


"Aku setuju dengan hal itu dan aku juga merasa ada yang aneh dengan daratan ini"


Itulah jawaban Bai Fan saat mereka berlima akhirnya kesempatan untuk berbicara.


Arya dan dan yang lainnya diberi tempat tinggal di sebuah bangunan yang masih berada di wilayah istana Basaka. Bukan seperti paviliun layaknya yang di berikan Edward di pusat Oldenbar, bangunan ini lebih mirip istana kecil yang diperuntukkan untuk tamu-tamu istimewa kerajaan.


Saat ini mereka sedang membahas perkembangan rencana yang sudah mereka bahas di ngarai tempat Sekte Singa Emas kini berada.


Namun, perkembangannya jauh dari apa yang Bai Fan bisa bayangkan. Arya mengatakan bahwa dia berniat menghancurkan Oldenbar di seluruh Daratan ini.


Bai Fan menyetujuinya, dan mereka pun membahas rencana yang akan mereka lakukan lebih jauh tanpa harus takut siapun mendengar mereka. Karena, Arya sudah membangun sebuah segel kasat mata yang tidak memungkinkan siapa saja mendengar apa yang mereka bicarakan. Terlebih lagi, di luar ada dua iblis langit yang berjaga.


Edward sendiri sudah langsung menghilang saat Arya dan Darmuraji memilih untuk melanjutkan pembicaraan mereka di ruang tertutup.


Karena tidak di undang untuk ikut bicara, Edward lebih memilih untuk menyelesaikan urusannya di Basaka ini. Mencari Drey dan memberinya pelajaran nyata.


Darmuraji sendiri sangat bersukur bisa menyelamatkan wajahnya dengan menganggap bahwa Gelar Arya bisa dimaklumi untuk sikapnya. Namun, saat Arya mengatakan bahwa dia memang memiliki niat untuk berhubungan baik dengan pihak kerajaan, disitulah Darmuaraji melihat gerlar Master Alchemist memang sangat sesuai disematkan pada pemuda tersebut.


Arya menunjukkan beberpa pil yang sudah dibuatnya bersama Bai Hua pada raja Daratan Timur itu. Hal tersebut membuat Darmuraji terkejut.


Dengan pengetahuan yang di milikinya, Darmuraji tau bahwa Pil yang di bawa Arya adalah Pil tingkat tinggi. Bahkan di kota Barus sekalipun tidak akan bisa menemukan Pil dengan efetifitas seperti yang Arya bawa.


Darmuraji langsung menawarkan diri sebagai pembeli tunggal, apalagi saat itu Arya mengatakan bahwa dirinya sama sekali belum menawarkan hal tersebut pada Oldrnbar.


Terkait dengan bagaimana cucu Bai Fan ada bersamanya, Arya mengatakan bahwa Bai Hua dalam masa pengobatan. Karena sudah mengalami cedera yang cukup parah sebelumnya.


Arya sama sekali tidak berbohong tentang apapun dan pada siapapun. Bahkan sampai saat ini, Arya sepertinya juga tidak merasa berbohong dengan Edward. Hanya saja Arya tidak mengatakan semua hal pada mereka.


Darmuraji sendiri tidak terlalu memperdulikan Bai Fan dan cucunya. Lagipula, Bai Fan juga sepertinya tidak mempermasalhakan hal tersebut. Di kepalanya saat ini adalah bagaimana bisa memiliki seluruh Pil yang sanggup di produksi Arya.


Namun, sesuai dugaannya. Arya tidak akan menyetujuinya dengan mudah.


Arya memberikan syarat yang cukup mengejutkan Darmuraji, bukan karena kesulitan yang akan di hadapinya. Tapi, syarat yang di berikan Arya itu cukup, Aneh.


Arya meminta pada Darmuraji agar dia diperbolehkan untuk membeli sebuah gedung di pusat Kota. Sebagai tempat pribadinya. Dan hanya Darmuraji saja yang diperbolehkan untuk melihat langsung bagaimana Arya meramu pil-pil tersebut.


Hal lainnya adalah, Arya meminta akses untuk bekerja sama dengan serikat petualang untuk memberi misi khusus untuk menemukan bahan-bahan untuk Pil yang akan di buatnya.


Tanpa fikir panjang Darmuraji menyanggupi dan berjanji akan memerintahkan Rantoba sebagai orang kepercayaannya untuk mengurus semuanya.


Arya kembali jujur saat Darmuraji bertanya dari mana sebenarnya dia berasal. Arya menjawab bahwa dia di besarkan oleh seorang guru di ujung Daratan Timur, dan gurunya itu sudah berkeliling dunia sebelumnya. Itu kenapa Arya bisa memiliki pakaian yang dimilikinya.


Hal tersebut menurut Darmuraji masuk akal. Mengingat Arya masih sangat muda, mustahil baginya untuk bepergian dengan sambil belajar sebuah ilmu yang memiliki tingkat kerumitan tertinggi di dunia ini dan menguasainya dengan baik.


Dan seperti yang Darmuraji ketahui, setiap Alchemist memang memiliki rahasia mereka masing-masing. Hal tersebut sudah dimaklumi oleh setiap orang dipenjuru dunia manapun.


Memiliki seorang Master Alchemist di negaranya adalah berkah. tentu saja itu karena hal tersebut akan membuat negara itu akan berkembang dengan sangat cepat. Baik dalam ilmu pengobatan maupun perkembangan level kekuatan pendekar untuk meningkatkan kekuatan militer kerajaan tersebut. Itulah kenapa Seorang Master Alchemist memiliki tempat tersendiri untuk di seluruh kerajaan dunia untuk di hormati.


Sekarang, Darmuraji hanya harus memikirkan cara bagaimana supaya Arya setuju untuk selalu berhubungan dengannya. Melihat Arya masih sangat muda, Darmuraji benar-benar melihat masa depan yang jauh lebih cerah kedepannya.


Raja Daratan Timur tersebut seperti memiliki rencana baru yang sangat besar yang sudah tergambar di kepalanya.


"Master, kenapa anda memesan begitu banyak senjata sihir.pada Oldenbar? Untuk apa senjata-senjata tersebut?"


Pertanyaan yang sangat hati-hati di lontarkan Damuraji pada Arya itu, lagi-lagi mendapat jawaban yang tidak diduganya.


Saat itu mata Darmuraji terbelalak. Baginya, seorang Alchemist memang memiliki cara berfikir yang sulit di nalar oleh orang biasa.


Selesai dengan pembicaraan singkat yang dalam beberapa waktu akan mengubah arus perkembangan kota Basaka itu, Darmuraji mempersilahkan Arya untuk beristirahat di tempat yang sudah di sediakan.


Dan di bangunan inilah sekarang Arya dan yang lainnya sedang melanjutkan rencana mereka untuk Daratan timur ini kedepannya.


"Arya, apakah kau tau bahwa gelar seorang Master Alchemist begitu di hormati di manapun sebelumnya?"


Selesai membahas apa yang harus mereka lakukan kedepan, Luna mempertanyakan hal yang sejak tadi siang mengganjal di kepalanya.


Arya menggeleng. "Bahkan aku tidak tau bahwa Master Alchemist adalah sebuah gelar."


Mata mereka melebar mendengar jawaban Arya.


"Sebentar!" Ciel menunjukkan telapak tangannya pada Arya. "Kau benar-benar tidak mau membungkuk pada siapapun?"


Arya mengangguk. "Ya. Setidaknya, untuk Darmuraji aku tidak memiliki alasan untuk membungkukkan tubuhku untuk menghormatinya."


Mereka terdiam. Mereka sudah bersama dengan waktu yang cukup lama. Namun, sampai saat ini, mereka masih belum benar-benar mengerti bagaimana cara otak Arya bekerja.


Dalam hal ini saja contohnya. Tidak ada yang cukup gila untuk tetap berdiri di saat orang lain sedang memberikan hormat pada seorang Raja. Dan Arya melakukannya tanpa memperdulikan kejadian mengerikan apa yang bisa terjadi kedepannya.


"Aku akan berfikir seribu kali untuk mengenalkanmu, pada Kaisar di negaraku." Gumam Bai Fan.


Hal tersebut langsung mendapat anggukan dari ketiganya. Menurut mereka mempertemukan Arya dengan seorang penguasa sama saja dengan menarik tuas masalah.


Mereka tidak tau dengan kegilaan Arya. Tapi, di jadikan target khusus dan di buru oleh sebuah negara, bukanlah kehidupan yang ingin di hadapi semua orang.


"Sayang sekali. Padahal aku sangat ingin berkujung ke negara kalian."


"Senior, Kaisar berbeda jauh dengan seorang raja dalam segi apapun."


"Begitukah? Mungkin suatu hari jika ada kesempatan, aku ingin melihat, bagaimana seorang Kaisar itu."


Keempatnya menggeleng. Mereka tidak percaya bagaimana cara Arya menanggapi kata-kata mereka.


"Arya, untuk apa kau ingin memiliki tempat di pusat kota? Apakah kau ingin berdagang?" Ciel baru mengingat bahwa Arya secara khusus membuat Syarat dengan Darmuraji untuk memiliki tempat di pusat kota.


Arya mengangguk. "Ya. Itu untuk kalian bertiga."


"Hah?!"


"Kita akan membuka restoran, dan toko persenjataan Smith di pusat Kota."


"Restoran?!"


"Toko senjata?!"


Arya baru saja mengatakan, Satu lagi rencananya yang di luar nalar mereka.


Menyelamatkan Daratan Timur ini, tidak bisa dilakukan hanya dengan kekuatan. Setiap penduduk harus mendapat jaminan keselamatan dan kesempatan hidup yang lebih baik di masa depan. Untuk itu, Arya sadar dia harus memikirkan semuanya drngan matang.


"Aku tidak akan meninggalkan daratan leluhurku ini, tanpa membuat penduduknya siap untuk menghadapi situasi apapun di masa depan!"