ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Gerbang Kematian


Senjata pelontar yang di bawa pasukan Nippokure tidak sebesar yang ada di daratan timur. Tapi tetap saja untuk pertempuran jarak jauh, itu akan sangat menguntungkan mereka.


Rangkupala sedikit menelan ludah. Karena dia tidak pernah berhadapan dengan senjata seperti ini Sebelumnya.


"Jemba, musuh telah merakitnya. Apa kita tetap akan bertempur dengan apa yang disarankan Nona Luna?"


Rangkupala menarik nafas dalam dan melepasnya. Memang, dalam hal ini Luna tidak mengetahui bahwa musuh membawa senjata yang mampu melepas energi dengan tekanan besar dan bisa membuat daya ledak kuat.


Satu tembakan senjata itu, diperkirakan bisa langsung membunuh pendekar suci dan mencederai yang berada di area ledakan dengan luka parah.


Tentu saja Salendra kembali meragukan saran dari Luna. Karena bertempur di lapangan terbuka, akan sangat merugikan mereka.


Akan tetapi, jika mereka masuk ke benteng, dan musuh langsung bisa menembusnya, maka itu akan sangat merugikan sekali.


Waktu yang mereka bisa berikan pada Arya dan yang lainnya, akan sangat singkat. Tidak cukup sampai di sana saja, kemungkinan apapun yang sedang dilakukan Arya di dalam, akan beresiko gagal jika ada yang mengganggunya.


"Salendra, kita lakukan seperti yang Tuan Muda katakan."


Salendra memundurkan kepalanya, heran. "Maksudmu?"


Tidak menjawab temannya itu, Rangkupala menoleh pada Karpatandanu yang sejak tadi hanya diam saja.


"Sultan negeri Pasir Putih. Bagaimana menurutmu?"


Di sini, Karpatandanu merasa tidak enak hati memberi saran. Segala pertimbangan dalam pertempuran ini, jelas karena Rangkupala dan yang lainnya memikirkan berdasarkan apa yang terbaik untuk masa pengobatan putrinya.


Jika mengikut keinginannya, Karpatandanu ingin bertempur di luar dan mengulur waktu selama mungkin. Akan tetapi, tentu itu tidak mungkin dia katakan, karena akan ada banyak nyawa melayang.


"Tuan Rangkupala. Aku tidak bksa memberi saran yang membuat penilaianmu menjadi timpang. Dalam hal ini, silahkan putuskan. Aku akan mengikuti kalian."


Salendra ingin protes, tapi dia langsung menyadari bahwa saat ini Karpatandanu tentu cenderung berfikir untuk keselamatan putrinya. Seketika itu juga dia mengangguk mengerti.


"Bijak sungguh Pasir Putih memiliki Sultan. Tapi, teruslah memberi Saran. Yang di dalam, janganlah jadikan beban."


Rangkupala juga mengangguk memahami apa yang dikatakan Salendra pada Karpatandanu itu.


"Benar apa yang dikatakan Salendra, sekarang, Citra Ayu tidak hanya Putri mu. Kita sedang membela Daratan ini, dan dia lahir di daratan ini. Dia juga berjuang untuk daratan ini. Dia Putri kita semua dan mereka ... "


Saat itu Salendra menunjuk pada pendekar-pendekar yang akan berjuang bersama ketiganya.


"Mereka juga melakukan hal yang sama. Jadi, katakan apa yang kau pikirkan wahai Sultan."


"Baiklah, aku mengerti dan terimakasih."


Meski Salendra dan Rangkupala sangat kuat, namun Sebagai Sultan, Karpatandanu tentu lebih banyak pengalaman dari dua yang lainnya dalam pertempuran yang melibatkan keselamatan banyak orang.


"Maaf untuk mengatakan ini, akan tetapi kita tidak bisa meremehkan musuh. Tentu kita tidak ingin satu nyawa pun menjadi korban seperti yang Tuan Muda inginkan. Tapi cobalah lihat di depan ... "


Mereka bertiga melihat kedatangan komandan Nippokure Daisuke dan pasukannya.


"Tidak ada pertempuran yang tak memakan korban."


Jelas saat itu Karpatandanu mengisyaratkan apa yang dikatakan Arya saat itu, menjadi sangat mustahil. Bertahan tidak akan mungkin di lakukan apa lagi yang mereka hadapi saat ini, sebuah pasukan yang memang dilatih untuk berperang.


"Baiklah kami mengerti, jika begitu kita akan maju paling di depan."


Saat itu juga, sebuah ide terlintas di kepala Salendra. "Sebentar, sepertinya aku mengerti maksud Nona Luna dan Tuan Muda."


Rangkupala dan Karpatandanu mengernyit heran.


"Salendra, kita semua juga sudah mengerti. Kenapa kau baru memahaminya sekarang?"


Salendra menggeleng cepat sambil tersenyum bangga. "Tidak, kalian pasti tidak memahami seperti bagaimana aku memahaminya sekarang."


"Tuan Salendra, silahkan jelaskan."


"Baiklah, dengar. Aku punya gagasan ... !"


Di dalam benteng, Rewanda sudah memanaskan Bayam Tiga Jari dan hal itu sudah dia lakukan beberapa kali dalam dua hari ini. Hasilnya, memang seperti apa yang di perkirakan Krama.


Benda itu tidak lagi berbentuk helaian daun tapi kini sudah berubah menjadi kepingan-kepingan logam kecil.


Dalam sekali proses, saat setelah mencapai suhu sempurna, Arya langsung mendinginkannya dengan berkah air dan Krama langsung memukulnya sekali.


Setiap proses itu Krama hanya bisa menghancurkan sekali saja karena setelah itu, kepingan tersebut akan menjadi sedikit liat meski sangat keras.


"Aku rasa ini akan memakan waktu setidaknya dua hari lagi."


Arya mengatakan itu setelah Rewanda kembali mulai memanaskannya. Satu lembar, akan lebih mudah. Tapi tidak jika sudah menjadi kepingan-kepingan kecil.


Setiap mengulang prosesnya, hal itu semakin sulit bagi kedua Iblis langit itu. Arya sangat penasaran, siapa yang menemukan teknik obat dalam bentuk serbuk ini.


Karena catatan Obskura benar-benar terbatas dalam informasi tentang itu. Sementara, di kitab Al-khimiya dan ingatan Berkah air, tidak ada informasi menyangkut daun ini.


Beruntung, di kita Al-khimiya yang dia Pegang, ada pengobatan lainnya. Dan itu memberinya gagasan Baru dalam memanfaatkan apa yang dia dapat dari Kerang Darah Batu.


Benda itu tidak hanya berguna bagi Citra Ayu saja. Akan tetapi dengan kombinasi ilmu pengetahuannya, Arya bisa memanfaatkan benda itu jauh melebihi apa yang tercatat di sana.


Sementara itu Arya kini berdiri di dalam ruangan, dimana empat gadis kini terbaring. Di sana, berkah Air terlihat menyelimuti seluruh tubuh mereka di udara.


Ada sebuah proses yang terjadi di sana. Arya sedang berusaha memurnikan darah mereka dan mengeluarkan beberapa kandungan di setiap tetes darah keempatnya dan menggantinya dengan sesuatu yang terkandung di darah Kerang Darah Batu.


Arya sedang berusaha melakukan sesuatu yang di anggap mustahil sebelumnya oleh siapa saja.


Arya sedang dalam proses menjadikan tubuh keempatnya memiliki kekuatan yang hampir sama dengan kekuatan yang ada pada tubuh dewa.


Keturunan Arangga itu, sedang melakukan hal yang menentang kodrat manusia. Tidak hanya menghentikan penuaan pada mereka, jika benar-benar berhasil, Arya juga akan membuat keempatnya, memiliki kekuatan regenerasi seperti apa yang bisa dilakukan oleh Kerang Darah Batu.


Tentu saja proses ini memiliki resiko kegagalan yang tinggi dan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Perlu beberapa hal lagi yang harus dilakukan Arya pada mereka, sebelum hal yang tak mungkin itu, menjadi mungkin.


"Setidaknya, aku telah memulainya. Untuk saat ini, aku rasa ini sudah jauh lebih baik."


Saat itu, Arya mengeluarkan Darah Siluman Kerang, dan memasukkannya pada berkah Air.


"Semoga ini bekerja sesuai dengan apa yang aku perkirakan ... "


****


Hello, Moonmarvel di sini.


Maaf, aku harus menyampaikan ini.


Untuk beberapa waktu ke depan, Arya Mahesa Akan Update secara Acak. Tidak tiga bab sehari dan berkemungkinan tidak akan update sama sekali. Untuk itu, aku akan menjelaskannya di sini.


Hal ini, bukan karena aku tidak bisa untuk terus Update seperti biasa. Akan tetapi, ini karena aku merasa kecewa dengan apa yang PF ini lakukan pada naskah Arya Mahesa ini.


Seperti yang kalian ketahui aku selalu berusaha untuk update tiga bab dalam sehari. hal itu aku lakukan agar Naskah ini bisa selalu berada di banner CrazyUp di PF ini.


Aku tidak bisa promosi ke FB atau sosial media lainnya. Hanya promo di banner itu yang bisa aku harapkan.


Akan tetapi, hari ini Arya Mahesa tidak ada lagi di sana dan aku tidak mendapat pemberitahuan apapun tentang itu dari PF.


Aku merasa kerja kerasku sangat tidak dihargai. Sementara aku tidak pernah dipromosikan sama sekali di banner apapun selain itu, dimana PF ini menjanjikan bahwa author yang rajin update akan dipromosikan.


Oke, aku bisa terima karena mungkin karya ini tidak sebagus karya-karya fantasi yang lainnya.


Tapi, di hilangkan dari banner CrazyUp tanpa pemberitahuan dimana kesalahanku, itu benar-benar membuat semangat menulisku menguap begitu saja di PF ini. Karena berada di banner itu, aku harus mengorbankan 6 jam waktu dalam sehari dan itu juga tidak hanya asal ketik saja.


Arya Mahesa memiliki plot rumit dan semua cerita yang ada di dalamnya, aku buat setelah melakukan beberapa riset. Meski fantasi, Arya Mahesa memiliki nilai Ilmiah dalam beberpa plotnya.


Aku tidak iri dengan karya-karya lain yang dipromosikan apalagi karya itu memang bagus. Menurutku, itu sangat sah dan wajar-wajar saja.


Namun, melihat karya yang jelas-jelas plagiat yang dipromosikan secara gila-gilaan bahkan bisa masuk ke dalam banner "SANGAT DI REKOMENDASIKAN" di sini, itu membuatku tak bisa berkata-kata. Wow sekali rasanya.


Terus ada lagi karya yang tidak memiliki peforma baik dan update tidak teratur dan memiliki penulisan yang "maaf" sangat buruk, bisa dipromosikan dan mendapat emblem sebagai "RISING STAR". Ini sangat menyedihkan sekali.


Kalian bisa cek sendiri tanpa aku harus menyebut judul-judul novelnya. Bahkan sekarangpun, kalian bisa membuktikan sendiri.


Melihat itu, Aku jadi sadar dan berfikir, apa karyaku ini di anggap sampah oleh platform ini?


Untuk hal itu, aku sudah mencoba mengajukan pembatalan kontrak pada platform untuk naskah ini.


Sekarang, aku mempertimbangkan akan mere-make ulang Naskah ini atau membuat cerita yang sepenuhnya baru dan pindah ke PF lain yang mungkin lebih menghargai kerja keras seseorang.


Karena itu Untuk kalian yang setia mengikuti cerita ini dari awal, aku benar-benar minta maaf. Jujur saja, aku bertahan karena Kalian selalu memberiku semangat.


Tapi, aku tentu tidak bisa terus-terusan seperti ini. 280 bab lebih dalam tiga bulan, aku rasa cukup untuk membuktikan sebuah konsistensi.


Sebagai penulis yang masih amatir, aku juga ingin maju dan berkembang dan aku tidak melihat platform ini bisa mewujudkan impianku.


Turun dan menghilangnya Arya Mahesa dari Banner CrazyUp, sudah menjelaskan dengan tegas bahwa, aku dan karyaku tidak ada tempat di platform ini.


Jujur, memang sudah ada salah satu editor platform ini menjanjikan naskah ini akan dipromosikan pada minggu ke empat bulan ini.



Akan tetapi, aku merasa ini bukanlah tentang promosi atau tidaknya naskah ini lagi. Lagipula, itu hanya janji yang juga pernah dikatakannya dan tidak pernah terjadi.


Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi, jika memang kontrak tidak bisa dibatalkan, mungkin aku akan terus update tapi tidak seperti biasanya lagi.


Atau, jika memang dari NT memberikan kembali apa yang seharusnya mereka janjikan karena aku benar-benar update 3 bab sehari dan kembali ke banner itu.


Bahkan saat sakit pun atau puasa yang membuat lemaspun aku tetap usahakan update 3 bab padahal aku juga tetap harus bekerja. tapi tiba-tiba NT mencabut hakku berada dibanner itu, tanpa pemberitahuan sama sekali.


Platform ini, benar-benar tau cara menghancurkan mimpi seseorang.


Mungkin dari kalian akan ada yang kesal dan marah. Untuk itu, sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Jika kalian tidak bisa memahami perasaanku, itu juga hak kalian. Aku tetap meminta maaf.


Aku juga tidak tau bab yang berisi hal seperti ini akan lulus review atau tidak. Karena kalau aku bikin bab khusus, sudah pasti tidak akan lolos dan kalian tidak akan tau sebabnya karena apa.


Jadi, kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan. Sebagai penulis Arya Mahesa, aku tentu saja berharap ingin menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Sedih rasanya karena sejak awal aku merencanakan cerita yang panjang dalam pertualangan Arya. Bahkan, sekarang baru satu Arch saja yang selesai. :(


Baiklah, aku juga sudah memberikan penjelasannya. Aku harap kalian bisa memahaminya.


Ini bukan salam perpisahan. Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan. Jadi, semoga ada keajaiban. Dan aku bisa kembali bisa melanjutkan.


Dan Sekali lagi. karena kalian sudah menyediakan waktu Untuk mengikuti perjalanan Arya sampai di sini, aku ucapkan.


MAAF DAN TERIMAKASIH.


"KOSHA ... !"


"JURUS KEDUA BELAS ... GERBANG KEMATIAN!"


M.M