
Angus terlihat salah tingkah di depan Arya. Dia tidak mengetahui bahwa hubungan pemuda itu berkembang sangat cepat dengan Oldenbar. Dia menyaksikan sendiri betapa Edward ingin terus berhubungan dengan pemuda di depannya ini.
Melihat bagaimana para petinggi Oldenbar memperlakukannya, membuat Angus berfikir ulang untuk menyampaikan keinginannya.
Sekarang mereka sedang berada di kereta kuda untuk menuju pusat kota. Angus hanya memperhatikan Arya yang sedang menikmati perjalanan dengan melihat terus keluar jendela kereta itu.
"Tuan Angus, apakah kita akan langsung menuju ke tempatmu, Atau ada tempat lain yang ingin kau tunjukkan padaku?"
Pertanyaan Arya yang tiba-tiba itu, langsung membuat Angus gelagapan.
"Master. Apa maksud anda?"
Arya hanya tersenyum miring dan menoleh pada Angus. "Bukankah kau membutuhkan pertolonganku?"
Mata Angus melebar. Beberapa saat yang lalu, dia telah memutuskan untuk melupakan niatnya. Bahkan saat itu, Angus berharap Arya melupakan saja pembicaraan mereka di depan istana beberapa waktu yang lalu.
Siapa sangka Arya mengingat dan langsung menanyakan hal tersebut. Saat ini Angus belum mempersiapkan jawaban lain jika seandainya pemuda itu kembali mengungkitnya.
"A-aku... Soal... Itu... "
"Sudahlah, Tuan Angus. Tidak perlu panik begitu. Aku sengaja memintamu untuk menemaniku di depan Edward agar kau bisa menceritakan padaku hal itu, dengan lebih leluasa."
Tidak tau apa yang sedang di fikirkan oleh Arya, Angus mencoba memutar otaknya, cepat. Tidak mau gegabah untuk menyampaikannya.
"Apakah Master keberatan jika Kita membicarakan hal itu saat sudah sampai di tempatku saja?"
"Baiklah, tidak masalah!"
Tak lama, mereka sampai di penginapan yang dikelola oleh Angus. Begitu mereka masuk, Angus langsung membawa Arya kesebuah ruangan yang di yakini Arya sebagi ruangan kerja Angus.
Saat sampai di sana, di pintu, Angus melirik kiri dan kanan memastikan tidak banyak ada orang yang melihat mereka masuk keruangan itu kemudian menutup rapat pintu ruangan itu.
Arya hanya memperhatikan itu dengan rasa penasaran. "Tuan Angus, apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan padaku?"
Saat berbalik, Arya mendapati wajah Angus sedikit pucat. Lelaki paruh baya itu sepertinya sedang merahasiakan sesuatu yang dapat mengancam hidupnya.
"Master Arya!"
Tiba-tiba Angus berlutut di depan Arya. Membuat pemuda itu sedikit terkejut.
"Tuan Angus, apa yang kau lakukan. Berdirilah!"
Angus menggeleng. "Master, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu."
"Tuan Angus. Aku tidak bisa berbicara dengan seseorang yang berlutut sepertimu. Jadi berdirilah!"
Angus kembali menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu. Apakah kau bersedia membantuku?"
Arya tampak berfikir sejenak. "Aku akan mempertimbangkannya, jika kau mau berdiri dan menceritakannya, padaku."
Mendengar itu, Angus segera berdiri. "Apakah master bersedia membantu?"
Arya menghela nafas. "Bagaimana caraku membantu sesuatu yang tidak aku ketahui. Jadi, katakan saja bantuan seperti apa yang Tuan Angus inginkan dariku."
"Master, aku telah melihat kehebatanmu saat mengeluarkan racun dari pemimpin Oldenbar. Aku yakin Master juga sudah berhasil memperbaiki Cakra Tuan Edward seperti yang master janjikan padanya."
Arya mengangguk. "Ya. Lalu?"
Angus menelan ludah sebelum Akhirnya menyampaikan apa maksud permintaannya. "Master, maukah kau menyelamatkan satu orang yang terluka sangat parah tanpa memperdulikan siapa dirinya?"
Arya mengernyit heran. "Apakah salah satu anggota keluargamu, terluka?"
"Tidak! Dia bukan anggota keluargaku. Tapi, keberadaannya sebenarnya sangat penting. Hanya saja, Aku tidak bisa memberintahu anda siapa dirinya. Aku bersedia membayar berapapun bahkan dengan nyawaku sendiri jika Master mau mengobatinya!"
Arya menyipitkan matanya untuk melihat kesungguhan kata-kata Angus. Baginya tidak ada bedanya untuk menyembuhkan siapa saja saat ini.
"Baiklah. Dimana dia?"
Angus terhenyak. Dia tidak menyangka Arya akan menyetujui hal tersebut begitu saja. "Benarkah Master, mau membantuku untuk mengobatinya?"
"Yah. Aku rasa tidak akan ada masalah. Bahkan jika orang itu musuh Oldenbar sekalipun. Karena, aku sama sekali tidak ingin ikut campur urusan mereka!"
Angus terdiam seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Hal yang membuatnya ragu adalah kedekatan Arya dengan Oldenbar. Tapi, kata-kata pemuda ini, baru saja membuatnya sedikit kebingungan
"Oh iya. Iya... Sebaiknya begitu." Jawab Angus dengan sedikit rasa ragu yang masih tersisa padanya.
"Bawa aku padanya. Aku ingin melihat keadaannya!"
"Baiklah, ikuti aku!"
Angus menghampiri sebuah kabinet yang ada di sudut ruangan itu, dan segera menariknya. Ternyata, di belakang kabinet tersebut ada sebuah pintu rahasia.
Saat Angus membuka pintu tersebut, sebuah tangga menurun terlihat dari sana. Arya mengikuti Angus di belakang saat menuruni anak-anak tangga itu.
Di bawah, Arya melihat ada beberapa ruangan dengan pintu tertutup. Angus berhenti di salah satu ruangan.
"Maaf Master. Aku rasa, ini akan membuatmu sedikit tidak nyaman!"
Arya hanya mengangguk.
Setelah itu, Angus membuka pintu di sana dan mempersilahkan Arya masuk.
Saat pintu itu baru saja terbuka, segera bau amis darah bercampur dengan nanah menyeruak dari ruangan tersebut.
Arya segera mengetahui bahwa bau menyengat itu datang dari sesosok tubuh kecil yang terbaring di sebuah tempat tidur di sana.
Angus langsung menutup hidungnya karena merasa mual dan sangat tidak tahan dengan bau tersebut. Namun, tanpa dia duga, Arya langsung mendekat pada sosok itu dan membuka kain yang menutupi tubuh seorang gadis kecil yang tengah tak sadarkan diri itu.
Saat itu, mata Arya langsung melebar. Dia belum pernah melihat seseorang terluka seperti ini atau separah ini sebelumnya.
Apalagi luka-luka tersebut sudah terlihat membusuk. Jelas bahwa gadis ini sudah menderita cukup lama dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.
"Tuan Angus. Keluarlah dari ruangan ini, Sekarang!"
Angus sempat terkejut dengan perintah Arya yang tiba-tiba itu. Namun, dia mengerti dan segera mengangguk. "Baiklah. Jika begitu, Aku akan menunggu di luar." dia segera mundur keluar dan menutup pintu ruangan tersebut.
"Apakah aku bisa menyelamatkannya?!"
Arya bergumam saat sekali lagi menatap tubuh yang memiliki luka membusuk hampir di sekujur tubuhnya itu.
"KOSHA...!"
"Jurus pertama ... Gerbang Cakra!"
Seketika seluruh titik-titik Cakra Arya menyala. Energi yang sangat besar langsung mengalir kesana membentuk garis-garis penghubung antara titik-titik cakranya.
"MATRA...!"
"Omi Obi...!"
Kali ini air tidak muncul dari bawah. Melainkan dari gelang yang di pakai Arya dan langsung membungkus tubuh gadis itu.
Sama saat mencoba menyembuhkan Bai Hua, Berkah Air membungkus dan mengangkat tubuh gadis itu ke udara.
Jika di lihat dengan seksama, Berkah Air sedang membersihkan nanah dan darah kotor di seluruh tubuh gadis itu. Sebelum akhirnya masuk melalui seluru pori-pori tubuhnya.
Arya terpaksa membuka gerbang cakranya agar berkah Air cukup mendapatkan energi untuk memperbaiki kerusakan yang ada di tubuh kecil itu, tanpa membuatnya kehilangan kesadarannya.
Ini juga karena beberapa waktu yang lalu, Arya sudah menggunakan kekuatannya untuk memperbaiki titik cakra Edward.
Saat ini, Arya tau bahwa hal tersebut tidaklah cukup untuk mengobati gadis itu. Ini Arya lakukan Hanya untuk menghentikan kerusakan pada setiap organ tubuhnya. Butuh dari ini untuk membuat tubuh yang telah rusak ini kembali utuh.
Setelah beberapa waktu. Seluruh titik Cakra Arya yang tadi menyala, kini mulai meredup dan akhirnya berhenti menyala.
Arya membiarkan Berkah air tetap berada di dalam tubuh gadis kecil itu agar bisa terus memberikan energi padanya dan menghentikan pembusukan pada luka-lukanya.
Arya segera keluar dan mendapati Angus sedang menunggu dengan wajah cemas.
"Tuan Angus. Gadis ini, bukan gadis sembarangan. Katakan padaku. Siapa dia sebenarnya?!"
Melihat bagaimana cara Arya menatapnya. Saat ini, dia menyadari bahwa tidak mungkin lagi menyembunyikan identitas gadis itu dari pemuda ini.
"Dia ... Adalah... Putri dari Raja Aditya, Putra Mahkota kerjaan Swarna ini. Gadis itu adalah cucu Maharaja kerajaan Swarna... Putri Jasmine!" Jawab Angus, terbata.