
Angus yang memang sedang berkunjung ke Basaka, langsung mendatangi Arya untuk memberitahu apa yang telah di katakan oleh Wisanggeni padanya.
Tapi hal tersebut ternyata tidak perlu karena Arya sudah mengetahuinya. Surat yang di kirim pada serikat besar yang di ketuai oleh Lamo sebelumnya, ternyata untuk mengantisipasi hal tersebut.
Sejak surat itu di terima, tidak butuh waktu lama bagi Lamo untuk memerintahkan dan mengirim sekitar tiga ribu pendekar yang menyebar ke penjuru Daratan Timur.
Pendekar-pendekar itu di siagakan di ratusan desa dan puluhan kota sebagai pemantau situasi dan memberikan informasi secara bertahap dari desa satu ke desa lainnya dan kota satu ke kota lainnya, Hingga bermuara di Basaka.
Kerja sama dengan serikat petualang untuk misi khusus pencarian bahan pembuatan Pil sebenarnya di jalankan oleh pendekar-pendekar yang di tugaskan untuk saling menghubungkan informasi yang di dapat dari dan kembali ke Basaka.
Dalam beberapa bulan, Arya sudah bisa dikatakan memiliki akses informasi hampir ke seluruh wilayah berpenduduk yang ada di Daratan Timur.
Lebih daripada itu, Arya juga sudah mengumpulkan daftar nama Seluruh Sekte baik hitam maupun sekter putih dari yang terkecil hingga yang paling besar.
Angus sempat terperangah saat mengetabui hal tersebut. Dia tidak menyangka tugas yang diberikan Arya padanya beberapa bulan yang lalu, ternyata adalah tugas yang sangat penting. Beruntung dia tidak salah memilih orang untuk menyampaikan surat tersebut.
"Arya. Jika sekte-sekte aliran hitam sudah bergerak, bukankah sebaiknya kita harus segera menyelesaikan persiapan?"
"Ya. Tinggal satu lagi yang harus kita lakukan." Jawab Arya. "Jika begitu, Kakek Bai. Beri misi khusus pada Serikat petualang, untuk menjemput Senjata-senjata itu di serikat Oldenbar."
Bai Fan sontak terkejut dengan permintaan Arya itu. "Arya, bukankah lebih baik jika kita meminta Oldenbar yang mengirimnya ke sini? Aku rasa tidak akan terjadi masalah di dalam perjalanan. Lagipula seharusnya itu adalah tugas dan tanggung jawab serikat Oldenbar."
Arya hanya tersenyum. "Itulah rencananya."
"Maksudmu?!"
"Aku berharap memang terjadi sesuatu saat semua benda itu di bawa kemari."
"Senior, maksudmu, kau menggunakan senjata-senjata yang berharga jutaan siling emas itu, hanya untuk sebagai umpan?"
"Ya. Kita tidak akan bisa menarik mangsa dengan umpan yang kecil bukan?"
Mereka tidak menganggukkan kepala ataupun menggeleng. Apa yang dikatakan Arya sangat benar. Hanya saja, nilai yang dipertaruhkan sangat besar. Juga, seandainya senjata-senjata itu sampai jatuh ke pihak yang salah, itu akan menjadi masalah yang jauh lebih besar.
"Arya. Aku tau ambisi kita saat ini cukup besar. Tapi, sebaiknya kita memikirkan cara lain untuk memancing orang-orang ini!" Saran Luna.
Bai Fan dan Bai Hua mengangguk setuju. Bagaimanapun ini akan beresiko sangat merugikan. Namun, Ciel tampaknya tidak sependapat dengan mereka. Beberapa waktu ini, gadis itu berusaha mencoba berfikir dari sudut pandang Arya.
"Sebentar! ... Arya! Jika semua pihak benar-benar tau bahwa ada pengiriman senjata dalam jumlah besar. Berarti seluruh Daratan Timur akan gempar. Lalu, apa yang bisa kita manfaatkan dari situasi itu?"
Mereka sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Ciel. Tapi Arya akhirnya merasa gadis itu sudah mulai mengerti apa yang sedang difikirkannya.
"Kita akan mengejutkan semua orang saat itu terjadi. Bukankah, itu waktu yang sangat cocok untuk mencoba hasil latihan kalian?"
Ketiga gadis itu terkejut. Namun, tak lama senyum mereka terkembang. Lalu serentak mengangguk.
"Ya. Aku rasa, kita akan membuat mereka sangat terkejut.!"
"Hei! Apa maksud kalian? Kejutan apa? Dan ... Kapan kalian semua latihan?!"
"kita akan merampok senjata dan menghilangkan keberadaan seluruh senjata itu!" Jawab Arya.
Mata Bai Fan terbelalak. Bagaimana cara merampok senjata dengan jumlah yang sangat besar dan di kawal dengan banyak pendekar serta di awasi oleh banyak pihak. Perkataan Arya saat ini sungguh sangat tidak masuk akal bagi kepala keluarga Bai itu.
"Kalian akan merampok senjata milik kita sendiri?!" Tanya Bai Fan sekali lagi, seolah yang baru saja di katakan Arya itu hanya mimpi.
Mereka semua mengangguk serentak. Bai Fanntak bisa mempercai apa yang di lihat. Kakek Bai Hua itu, melihat keempatnya benar-benar sedang bersungguh-sungguh.
"Berpura-pura lah kita merahasiakan pengiriman ini, namun usahakan semua orang tau. Kita akan segera melihat, sebenarnya ada berapa kubu di Daratan Timur ini."
Saat pembicaraan itu berlangsung, Angus cuma berdiri mematung. Dia merasa seperti sedang berada di habitat yang sangat jauh berbeda.
'Orang-orang ini, sungguh bukan manusia. Jika mereka benar-benar manusia, maka yang lainnya pasti hanya sampah!' Batinnya.
"Tuan Angus, sebaiknya kau kembali ke pusat Oldenbar. Sebelumnya, Berpura-puralah memberi laporan pada Kenneth tentang kerja sama kami dengan serikat petualang. Dan tunggu kakek Darsapati, lalu bergeraklah dengan Sekte Singa Emas jika saatnya tiba!"
"Baiklah. Aku mengerti!"
Setelah itu, Angus pergi meninggalkan Gedung di pusat kota menuju Markas besar Oldenbar di sisi kota Basaka lainnya.
"Arya, kenapa kau menyuruh Angus memberitahu Kenneth?" Tanya Bai Fan.
"Rewanda mendapati anggota Oldenbar bertambah banyak beberapa waktu ini. Aku ingin melihat apa reaksi mereka saat mengetahui hal ini. Aku yakin, mereka akan menyusup ke serikat petualang."
"Tuan Krama?! ... Dimana tuan Krama? Kami tidak melihatnya beberapa waktu ini!"
Saat Arya menyebut nama Iblis langit Rewanda, seketika Bai Hua langsung mengingat Krama. Sudah sedikit lama mereka tidak melihatnya.
"Krama sedang mengawasi seseorang di istana. Aku yakin, orang itu ada hubungannya dengan Nurmageda dan Pendekar dari negeri kalian."
"Siapa?!"
****
Penyebaran berita di kota Basaka memang sangat cepat. Baru dua hari Bai Fan mengatakan pada pengelola serikat itu, untuk membuat misi khusus mengamankan pengiriman barang dari pusat Oldenbar, hari ini, jumlah pendekar dan petualang tingkat tinggi, di kota Basaka meningkat sangat tajam.
Mereka datang kesana dengan satu alasan. Yaitu, mendaftar untuk menjadi pengawal pengiriman tersebut.
Arya sengaja mengulur waktu bagi serikat petualang untuk mengumumkan misi khusus itu. Tidak terlalu lama namun juga tidak terlalu cepat. Cukup untuk membuat banyak pihak melakukan persiapan tapi tidak cukup untuk bersiap secara matang.
Empat hari setelah itu, serikat petualang sudah mengirim setidaknya seribu lima ratus pendekar ke Pusat serikat Oldenbar di Pengunungan singa Emas untuk menjalankan misi tersebut.
Bersamaan dengan itu pula, sesuai dengan perkiraan Arya hampir di seluruh penjuru Daratan Timur terjadi pergerakan pendekar dalam jumlah besar menuju tempat yang sama.
Arya dan yang lainnya terlihat tidak akan melakukan apapun. Sehari setelah serikat mengirim orang-orang tersebut, Arya berkunjung ke istana Basaka.
Namun, sebelumnya dia sudah menemui Wisanggeni. Mantan walikota kota Basaka. Menurut Arya, ada sejarah panjang di keluarga Wisanggeni dengan kota Basaka. Dan Arya sudah memastikannya.