ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Serangan Terakhir


Keadaan benar-benar berubah. Beberapa pendekar mahir lawan mereka ternyata melakukan hal yang sama seperti yang Andaru lakukan.


Ada enam orang yang melakukan itu. sepertinya sejak tadi mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri.


Tapi dengan peningkatan kekuatan yang sangat drastis itu, Andaru mulai berubah pikiran. Menghabisi Sekar karena telah mencoba membunuhnya, kini menjadi tujuannya.


Ki Jabara tidak tinggal diam. Dia juga bisa merasakan hal yang sama. Sebagai yang terkuat di sana, Ki Jabara merasa bahwa sekarang sudah berubah menjadi pertarungannya.


" Pedang Pembalik Ombak! "


" Ting! "


Serangan Ki Jabara berhasil ditangkis oleh Andaru. Ternyata apapun yang telan oleh Andaru itu, tidak hanya menambah kekuatannya saja tapi juga kecepatannya.


" Kakak! "


Luna langsung bereaksi saat Ciel berteriak. Benar saja, pendekar mahir yang tadi terasa mudah dikalahkan, sekarang berubah menjadi lebih menyulitkan. Meski berhasil menghindar, Serangan mereka yang bertubi-tubi itu berhasil kembali menyudutkan Luna.


" Heheh! Jika aku bisa mengalahkanmu di sini. Nama Si Pembelah Batu yang kau bangga-bangga kan itu, akan ikut mati bersamamu! " Andaru merasa di atas Angin.


Efek pil yang dia telan itu, ternyata memiliki pengaruh pada tubuh dan tenaga dalamnya jauh di atas dari apa yang dia harapkan. Kali ini di benar-benar sudah merasa sangat kuat.


Hal itu terbukti. saat ini, Andaru bisa mengimbangi kecepatan Ki Jabara. Keduanya bertukar serangan dengan sangat cepat.


" Kau terlalu percaya diri, Andaru! "


Ki Jabara terus memberikan serangan yang cepat namun, secepat itu pula Andaru bisa menghindar bahkan menangkisnya.


" Hahahaha! ini benar-benar hebat! " Andaru semakin bersemangat.


" Kalian! Cepat bawa Nona Sekar menjauh dari sana! "


Ciel melihat Sekar masih terduduk memegang perut. Pukulan Andaru tadi ternyata memberinya luka yang cukup dalam.


Enam orang yang kini sedang menyerang Luna, juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Andaru. Luna yang tadi terlihat menakutkan bagi mereka, kini kewalahan.


Tidak ada serangan yang berarti yang di berikan oleh Luna pada ke enam pendekar mahir itu. Luna hanya berusaha menghindar dari serangan demi serangan yang mereka lancarkan padanya.


Beruntung Ciel datang membantu. Kini, keduanya berlindung dengan cara saling memunggungi.


" Ciel. Kau tau apa yang harus di lakukan, bukan? "


Ciel mengangguk " Ya! Pikiranku sama denganmu " Jawabnya.


Pertarungan enam prajurit melawan dua gadis itu juga berlangsung sengit.


Belasan meter dari sana, para pendekar dari kelompok pemberontak tampak bersiaga. Melihat pertarungan yang berimbang antara Ki Jabara dan Andaru itu, bisa saja berakhir tiba-tiba karena salah satu pihak lengah lalu terkena serangan lawan yang sangat kuat.


Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. Karena jika mereka ikut bertarung, Mereka tidak akan bisa membantu banyak. Bisa saja mereka akan mengganggu Ki Jabara atau kedua gadis itu.


Berberapa waktu berlalu. Namun sepertinya tidak ada dari mereka yang akan menang ataupun kalah. Semuanya terlihat larut dalam pertarungan itu. Sebelum akhirnya seseorang di antara mereka bersuara.


" Huh! Ini kenapa kalian belum pantas berhadapan dengan kami meskipun kalian jadi kuat! "


Seperti yang di katakan oleh Ciel itu, pola pertarungan seketika berubah. Ciel dan Luna kini melakukan semacam serangan Gabungan. Jika yang satu menyerang yang satu lagi akan melindunginya.


Seseorang mungkin saja kuat. Tapi pendekar yang tiba-tiba memiliki kekuatan tanpa disertai kesiapan mental. Tidak akan bisa melawan orang yang telah melewati banyak pertarungan sebelumnya.


Inilah kenapa banyak orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling hebat.


" Arrgh! "


" Boom! "


Baik pedang Ciel atau pun Godam Luna, kembali menjadi benda yang mereka takuti. Kini pedang dan Godam itu seolah-olah menjadi kunci yang akan membuka pintu kematian untuk mereka.


Dari sini, hasil sisa pertarungan sudah bisa di tebak. kedua gadis itu sudah berbalik jauh mengguli lawannya.


Andaru juga merasa ada sedikit keganjilan dari pertarungannya melawan Ki Jabara saat ini. Seberapa kuat dan cepat pun serangan yang dia lakukan, Ki Jabara berhasil menghindarinya.


" Ku akui kau kuat dan cepat! Hehe ... Tapi, ada alasan jelas kenapa kau seharusnya lebih menghormati orang yang lebih tua ini. " Ki Jabara mengatakan itu seolah mengetahui keheranan Andaru.


Berbeda dengan cara yang di gunakan oleh Luna dan Ciel, Si Pembelah Batu sengaja mengulur waktu untuk tidak memberikan serangan pamungkasnya. Sebaliknya, Ki Jabara mencari saat yang tepat untuk melakukannya.


Sesuai dengan perkiraan Ki Jabara, meski Andaru kuat dan Cepat. Pola serangan Andaru akhirnya bisa dia baca. Itu karena, Andaru tidak memiliki banyak jurus untuk mengalahkannya. Dan cenderung mengulang-ulang beberapa pola serangan yang sama.


Akhirnya, Saat yang di nanti-nantikan Ki Jabara pun tiba. Selah untuk melancarkan serangan terkuatnya pun sudah terlihat.


Saat Andaru mengayunkan pedang dengan jurus yang setidaknya sudah lima kali dia hindari sebelumnya, Ki Jabara kini memusatkan tenaga dalamnya pada tangannya.


" Jurus Pembelah Batu! "


Pola serangan terakhir Andaru benar-benar terbaca. Ki Jabara bahkan tidak perlu melihat kemana pedangnya akan berakhir. Karena, tentu saja itu akan tepat mengenai puncak kepala lelaki sombong itu.


" Krak! "


Andaru dengan kecepatannya, sempat menangkis pedang Ki Jabara. Namun, itu hanya cukup untuk membuat kepalanya tidak terbelah.


Dengan tenaga dalam yang dikerahkan olah Ki Jabara dalam serangan terakhirnya itu, pedangnya kini tertancap pada kepala Andaru dari atas hingga keningnya.


Ki Jabara tidak memberikan serangan terakhir untuk menghabisinya. Karena, dia tau siapa yang lebih pantas mendapatkan kesempatan itu.


" Sekar! ... Berdirilah! ... Sekarang giliranmu! "


Saat Ki Jabara menyebut namanya, Sekar seolah mendapatkan tenaganya kembali. Apalagi saat melihat orang yang paling dibencinya di dunia itu, Seolah rasa sakitnya menghilang seketika.


Tanpa pikir panjang lagi, Sekar langsung berlari ke arah Andaru yang kini berdiri seperti orang linglung dengan pedang Ki Jabara masih menempel di atas kepalanya.


Hunusan pedang Sekar disertai dengan bayang senyum seluruh anggota keluarganya.


" Hiyaaaaa.... ! "


Teriakan Sekar merasuk hingga kejantung siapapun yang mendengarnya. Bukan karena besar suaranya. Tapi, Rasa sedih dan kerinduan yang menyertainya.


" Ini ... Untuk Keluargaku! "


Pedang Sekar tepat menembus dada dan mengoyak jantung Andaru. Tusukan itu tentu saja akan mematikan Andaru. Tapi, Sekar tidak berhenti sampai disitu.


" Ini untuk seluruh murid Padepokan Bulan Fajar! "


Setelah mengatakan itu, Sekar menebas Andaru bertubi-tubi. Mengoyak hampir seluruh anggota tubuhnya.


Andaru masih berdiri dengan darah sudah mengalir di sekujur tubuhnya. Terlihat Kesadaran Andaru sudah mulai menghilang.


Sekar memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Setelah itu Sekar kembali membukanya.


" Sreeet! "


" Dan itu ... untuk,Ku!. "


Kata-kata terakhir Sekar itu tepat saat kepala Andaru terpisah dari tubuhnya lalu jatuh ke tanah.


" Bruk! "


Tumbangnya tubuh Andaru Itu juga sebagai tanda, bahwa semua pertarungan di sana telah berakhir.