
Sejak dari pintu gerbang saja, tatapan-tatapan meremehkan sudah mulai menghujani Arya. Namun, seperti biasa pemuda itu tak memperdulikannya.
"Tuan Muda. Mata cerminan hati. Sebaiknya jaga diri saat memandang. Jika engka tersalah hadang, mundurlah sedikit kebelakang."
Citra Ayu mengingatkan Arya agar tak terlalu memperhatikan pendekar-pendekar yang kini melihatnya, agar tidaknada perselisihan di antara mereka. seandainya memang terjadi, Citra Ayu meminta Arya berdiri dibelakangnya.
Kedatangan satu pemuda dengan empat wanita, begitu menarik perhatian. Apalagi wanita-wanita itu adalah gadis asing yang masih sangat muda dan cantik.
Malam ini tentu saja akan sedikit aman. Kota itu memiliki sebutan kota pendekar bukan tanpa alasan. Pada malam hari, tidak akan ada yang bertarung. Menurut mereka, hanya pengecut saja yang menyerang lawan di saat gelap.
Jika hal itu terjadi, seluruh kota akan memberi hukuman. Karena hal itu mereka anggap sebagai perbuatan yang menjatuhkan harga diri seorang pendekar. Tidak ada yang cukup bodoh untuk mencobanya.
"Nona, aku mengerti. Tapi, tenang saja. Di sini, tidak ada yang bisa membahayakanku." Jawab Arya, tenang.
Citra Ayu tertegun. Dia mengingat kembali bagaimana kuatnya Bai Hua. Saat ini, dia menatap dua gadis asing lainnya, yang dia yakini dari benua barat yang berjalan di depan mereka.
"Hmm ... Mujur badan." Ucapnya.
Dari semua penginapan yang ada, ini sungguh sangat mengejutkan bagi Citra Ayu. mendapati sekarang mereka berdiri di dalam bangunan ini.
Penginapan Kebojalang. Tempat dimana pendekar-pendekar hebat menginap. Tidak ada aturan yang melarang siapa saja untuk masuk dan menginap di sini. Hanya saja, jika seseorang lemah dan terjadi pertengkaran, hanya satu hukum yang berlaku, Yang kuat yang benar.
Memang sangat jarang sekali perselisihan terjadi. Tapi dengan jumlah dan kekuatan mereka saat ini, menurut Citra Ayu tidak hanya bodoh, mereka seperti sekawanan itik yang masuk ke kandang singa.
"Nona, banyak tempat untuk terlelap. Bentuk tentu tak jadi masalah. Tapi, jika Nona berkenan, ini tempat tak biasa."
Citra Ayu mencoba menjelaskan soal tempat ini pada Ciel yang memiliki ide, untuk menginap di Kebojalang.
"Maaf Nona Citra Ayu. Kami memilih tempat terbaik bukan berarti kami akan menggunakan uangmu. Arya akan menanggung semuanya."
Saat Citra Ayu masih ingin mejelaskan lebih banyak, saat itu Arya sudah menaruh beberapa keping emas di meja penjaga penginapan.
"Aku bersama empat orang dan satu anjing juga kera. Apakah ini cukup?"
Jangankan mata penjaga penginapan itu, mata-mata para pendekar yang ada di lantai bawah penginapan Kebojalang juga melebar.
Dengan pantulan cahaya penerangan tempat tersebut. Sangat jelas terlihat bahwa Kantung yang di keluarkan Arya, menyimpan banyak emas.
"Tuan Muda. Tidak usah pikirkan apa yang tak perlu. Jika anjing dan kera Tuan Muda gatal, kami yang akan menggaruk."
Arya mengangguk."Terimakasih."
Saat itu, mereka di bawa oleh para pekerja penginapan itu, ke kamar mereka. Ada enam kamar yang di sewa Arya. Masing-masing dari mereka satu, sedangkan satunya lagi untuk Krama dan Rewanda.
Sementara itu di lantai bawah, banyak pendekar yang tidak sabar menunggu siang. Kedatangan Arya ke sana, memberi mereka ide untuk melakukan banyak hal.
Sebelum mereka masuk ke kamar masing-masing, Citra Ayu melihat Krama dan Rewanda tampak ikut masuk ke kamar Arya. Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.
"Nona Citra Ayu. Sebaiknya jaga sikapmu di depan Arya. Kami di sini hanya karena Arya tertarik dengan ceritamu. Selama kau berjalan dengan kami, Ikuti saja apa yang dilakukannya."
Ciel mengingatkan Citra Ayu sekali lagi. Gadis itu benar-benar tidak suka bagaimana cara Citra Ayu memandang Arya.
Setelah itu, keduanya masuk ke kamar mereka masing-masing.
Di dalam kamar, Citra Ayu tampak gelisah. Dia menyesal membawa keempatnya ke kota ini.
Sebelumnya dia berfikir bahwa mereka akan mengikuti petunjuknya. Mencari tempat menginap yang tidak begitu ramai agar tidak terlalu menarik perhatian.
Akan tetapi, siapa yang menyangkan bahwa Arya dengan bodohnya menarik perhatian banyak pendekar. Tidak itu saja, Arya menarik perhatian pendekar-pendekar di penginapan Kebojalang.
Citra Ayu tidak bisa membayangkan masalah apa yang akan mereka hadapi esok hari. Mungkin, dua gadis lainnya juga sangat kuat. Tapi, di kota Palas adalah tempat dimana berkumpulnya pendekar-pendekar kuat.
Rencananya untuk membawa Bai Hua ke sektenya, bisa saja hancur bahkan sebelum dua hari, setelah mereka berjalan. Putri Sultan Karpatandanu itu, benar-benar cemas.
Kecemasan Citra Ayu memang tepat. Saat ini saja, beberapa pendekar telah bersiap-siap untuk menjalankan rencana mereka.
Tentu saja di kota ini, tidak bisa hanya menunggu. Siapa yang cepat dia yang dapat. Arya dan gadis-gadis yang bersamanya sudah menjadi target perburuan begitu mereka masuk ke penginapan.
Lewat Tengah malam, penginapan Kebojalang di datangi satu tamu lagi. Dia adalah Patih Rentangjala dari negeri Ambang.
Karena telah terbiasa menerima tamu-tamu hebat, penjaga penginapan tampak tak begitu peduli. Dia menghormati Rentangjala bukan karena gelarnya. Akan tetapi, sebagai pendekar, Rentangjala memang sangat pantas di hormati.
Rentangjala sampai disini karena mendapat beberapa informasi. Setelah satu minggu lamanya mencari, segala sesuatu yang dia dapat bermuara ke tempat ini.
Patih Negeri Ambang ini, juga sudah tau bahwa kedua putra Sultan yang juga merupakan murid-muridnya itu, sekarang berada di kota ini.
Namun, keberadaannya di sini bukan untuk menemui Surma ataupun Durma. Seseorang mengaku melihat seorang gadis yang menutupi wajahnya, berjalan memasuki hutan yang mengarah ke kota ini.
Jika benar, saat ini Rentangjala yakin bahwa Citra Ayu berada di kota ini. Dia harus menemukannya sebelum perang, benar-benar terjadi.
"Gajah hilang di ilalang. Bukan tak tampak tapi tak di sebut." Kata Rentangjala pada penjaga penginapan kebojalang itu.
Penjaga itupun mengangguk. "Pesan sampai dan aku mengerti."
Rentangjala mengatakan bahwa apapun yang dia lalukan di sini, tidak ada urusannya dengan negeri Ambang. Hanya saja, dia tidak bisa mengatakan urusan apa yang membuat seorang patih, bisa berada di kota ini.
Hal itu sama sekali bukan masalah. Tapi adanya Rentangjala di sini, tentu saja akan menimbulkan banyak pertanyaan.
Sebelum itu terjadi, Patih itu menjelaskan semuanya. Agar tidak ada salah faham dan semua kegiatan apapun di kota ini, bisa berjalan sebagai mana mestinya.
Rentangjala sengaja tidak mendatangi kediaman walikota. Dia tau persis siapa yang terkuat di kota Palas.
Orang itu, tentu saja orang yang baru saja dia ajak bicara. Kebojalang sebenarnya bukan hanya nama penginapan. Itu adalah gelar kependekaran seseorang.
Tapi, waktu terus berlalu sehingga orang melupakan asal usul nama penginapan tersebut.
Rentangjala tentu saja tau, hanya orang yang sangat kuat sajalah, yang mampu mendirikan sebuah kota, tanpa mau mematuhi hukum yang ada di negeri dimana kota itu berdiri.
Dua sultan yang memimpin di dua negeri dimana kota palas berdiri tepat di perbatasannya itu, akan berfikir seribu kali untuk bermasalah dengan orang ini.
Jemba si Kebojalang. Pendekar yang sudah malang melintang di dunia kependekaran Daratan Barat. Belum pernah terdengar sekalipun bahwa Jemba mengalami kekalahan dalam pertarungan.