ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Senjata Sihir


Sekitar enam puluh lebih pendekar Asing keluar dari bangunan tersebut. Mereka terus menyerang Arya tanpa henti.


"Lakukan hingga dia tidak mampu lagi berdiri!"


"Langsung Bunuh!"


Teriakan bersauhutan di antara pendekar-pendekar tersebut. Meski dalam posisi menang. Namun, wajah mereka menunjukkan bahwa keberadaan Arya masih mengancam mereka.


Serangan bertubi-tubi menghujani Arya tanpa henti. Tembakan elemen Api, Air, Tanah, dan Angin, bahkan kayu, terlihat menghantam Arya yang kini terlihat terpojok.


"Jangan biarkan dia lolos. Akan berbahaya jika dia mampu kembali bergerak seperti tadi!"


"Siap!"


"Ya!"


"Lebih Cepat!"


"Bom!"


Arya kembali terpental. Namun,  sebekum sampai ke tanah, elemen kayu sudah kembali menghantamnya dari segala Arah.


Pendekar-pendekar asing itu benar-benar tidak memberi Arya kesempatan untuk bergerak walau hanya sedetikpun.


Mereka sudah menyadari betapa berbahayanya orang yang sedang mereka hadapi saat ini.


Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan seperti beberapa waktu yang lalu. Saat pemuda itu masuk, mereka terlalu meremehkannya. Hingga puluhan pendekar dari pihak mereka mati dengan cara menggenaskan.


Mata Ciel melebar menyaksikan itu. "Tidak mungkin! ... "


Bai Hua juga menyaksikan apa yang Ciel lihat. "Ciel? Kau tau apa itu?"


"Senjata Sihir... " Gumam Ciel.


"Apa— "


Belum sempat Bai Hua menanyakan lebih jauh, Ciel langsung berteriak.


"Arya! ... Cepat mundur! Jauhi jarak Serangnya!"


Bai Hua melihat, serangan itu sangat menyulitkan Arya. Bahkan berdiri saja dia sekarang sangat kesulitan.


"Bom!"


Elemen angin yang terpadatkan dan di tambah dengan tembakan Api meledak sebelum menghantam tubuh Arya.


"Bom!"


Arya menyadari kehadiran keduanya. "Hah ...  Sepertinya, Aku harus menundanya" Batinnya


Serangan demi serangan selalu menghujaninya. Arya berusaha agar dirinya tidak mendekat pada kedua gadis yang baru saja datang tersebut.


"Kalian! Berlindunglah!" Teriaknya.


Bai Hua yang mendengar kata-kata Arya itu langsung menggeleng. Dia bergera hendak menyelamatkan Arya. Namun, tangan Ciel segera menahannnya.


"Bai Hua! ... Jangan!" Ciel menyadari sesuatu.


"Tapi,  jika kita tidak segera menolongnya, maka Senior akan dalam bahaya!" Bai Hua mencoba melepaskan diri.


Ciel menarik Bai Hua untuk mundur dengan sedikit memaksa. "Kita harus segera berlindung!" Ucapnya.


"Ciel!?... Kenapa kau ingin kita meninggalkan Senior?"


Bai Hua tidak mengerti apa yang yang di pikirkan oleh Ciel, hingga menuruti kata-kata Arya.


Saat sampai di sebuah batu besar dan bersembunyi di sebalik batu itu, Ciel langsung menatapnya. "Bai Hua, mereka tidak akan bisa mengalahkan Arya hanya dengan itu!"


"Apa maksudmu?! Kau lihat sendiri bahwa Senior dihujani serangan seperti itu!" Protesnya pada Ciel .


"Ya! Aku melihatnya" Jawab Ciel "Tapi ... Aku melihat lebih dari apa yang kau lihat!" Tegasnya.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi, yakinlah. Arya tidak akan kalah semudah itu!"


Awalnya Ciel juga sangat cemas. Beruntung dia memiliki kekuatan mata yang unik. Hingga saat dia memperhatikan tubuh Arya dengan seksama. Tidak ada luka berarti di tubuh pemuda itu.


Ciel awalnya melihat sebuah luka bakar di dada Arya, namun beberapa detik kemudian, luka itu telah menghilang. Begitu juga luka-luka kecil lainnya.


Hal lain lagi yang di lihat Ciel adalah, Gadis itu sangat yakin tadi melihat Arya seolah sedang berfikir sebelum melakukan sesuatu.


"Ciel, dengan kondisi seperti sekarang ini, kita masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya!"


Bai Hua juga tau bahwa menyelamatkan Arya sekarang cukup beresiko. Tapi, itu masih mungkin di lakukan jika mereka berdua.


Ciel menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui apa yang dikatakan Bai Hua.


"Tidak. Aku tidak berfikir seperti itu." Gadis itu kembali menatap Bai Hua "Arya berbeda! Dia tidak seperti kita atau pendekar-pendekar lainnya."


"Bom!"


"Bom!"


"Ciel—"


Bai Hua masih ingin protes tapi langsung dipotong oleh Ciel. "Jangan pernah meragukannya. Sebentar lagi, kau akan mengerti apa yang kumaksud!" Tegas Ciel sekali lagi.


Bai Hua terdiam, dan berbalik menatap bangungan tempat di mana Arya sedang bertarung dengan petinggi-petinggi Oldenbar.


"Aku kehabisan Batu energi! ... Berikan aku beberapa!"


"Aku juga sudah hampir kehabisan!"


Teriakan beberapa orang mulai terdengar dari dari atas sana. Bai Hua mulai mengerti apa yang di maksud oleh Ciel.


"Jangan-jangan ... "


Ciel tersenyum dan mengangguk. "Ya! Sebentar tamatlah riwayat mereka! "


Selama menerima serang itu, Arya mempelajari cara kerja benda yang digunakan para pendekar Oldenbar untuk menyerangnya.


Arya menyadari bahwa benda yang menggunakan batu energi sebagai sumber kekuatan itu, sangat berbahaya. Beruntung tubuhnya memiliki kemampuan beregenerasi sangat cepat.


Arya yakin kekuatan yang dilepaskan oleh musuhnya itu, tidak akan bisa membunuhnya.


"Jika disana, orang-orang ini menggunakan benda yang sama, Mereka bisa saja dalam bahaya" Gumamnya.


"Cih! Tubuhmu, benar-benar payah!" ucap sebuah suara yang sejak tadi berusaha mengajak Arya berbicara di kepalanya.


"Tidak usah mencemaskan tubuhku, ini belum seberapa!" Jawab Arya sambil melihat bekas luka bakar segera menghilang di lengannya.


Kulkan sedikit kesal dengan cara Arya menjawab. "Bocah! ... Kau membuatku cemas! Aku fikir kau tidak bisa lagi, menjawabku. Hahahaha!"


"Bom!"


Arya kembali terpental ke udara dan terdorong beberapa meter kebelakang hingga kembali jatuh ke tanah.


"Kau mengganggu konsentrasiku!"


"Hahahha! Kau pantas mendapatkannya!"


"Jika kau hanya ingin menggangu, sebaiknya diam dan kembali tidur saja!"


Keduanya terus berdebat di kepala Arya. Bersamaan dengan itu, serangan demi serangan terus diterimanya.


"Hahaha! Aku tau yang kau fikirkan. Ingat! Aku berada di alam sadarmu!"


"Lantas, kenapa kau masih protes?!"


Ketika salah satu dari pendekar Oldenbar menerima batu Energi dari yang lainnya, secara tak sengaja dia memperhatikan Arya. Saat itu,  dia berusaha memastikan apa yang sedang di lihatnya. Matanya langsung melebar seketika.


"Tidak mungkin!" Gumam Pendekar itu.


"Ada apa?!" tanya teman yang berada di dekatnya.


"Dia ... Sama sekali tidak terluka!" jawabnya sambil menunjuk pada Arya.


"Hah?!" Temannnya menoleh pada Arya. "Bagaimana bisa?"


Arya menyadari saat dua pendekar Oldenbar itu melihat ke arahnya sambil menunjuk. "Ah, sial! Mereka menyadarinya!"


"Hahaha! Kau tidak bisa mengukur kekuatan tubuhmu hanya dengan serangan lemah seperti ini."


"Ini tidak berbahaya untukku. Tapi, Kakek Bai dan Luna mungkin akan mengalami kesulitan!"


"Kera dan Anjing itu bisa melindungi mereka!"


"Ya! ... Tapi, aku meminta mereka melindungi tuan Lamo dan yang lainnya juga!"


"Cih! ... Kau mulai terlihat seperti Arangga!" Ejek Kulkan.


"Kau?!" Arya terdiam sejenak. Baru menyadari, kenapa dia tidak menanyakan tentang Arangga pada Kulkan. Padahal, makluk itu yang pertama kali menyebut nama Arangga.


"Bom!"


"Bom!"


Serangan kali ini kembali meledak tepat mengenai tubuh Arya. Namun, kali ini tubuhnya tidak bergerak seinci pun.


"Hahahah! Aku akan menceritakannya. Sekarang selesaikan pertarungan bodoh ini. Atau,... kau mau aku yang menyelesaikannya?"


"Tudak akan kubiarkan! ... Kau akan menyebabkan semua orang di seluruh bukit ini, terbunuh!"


"Jangan salahkan aku Soal itu. karena, bangsa kalian saja yang sangat lemah! Tapi,  ... Sebentar " Kulkan juga baru menyadari sesuatu. " Ini sangat aneh! Kau?!... Bagaimana, kau bisa mengendalikan kekuatanku?"


"Hahaha! Bukankah kau ada di alam sadarku? Kenapa kau baru menyadarinya?" Arya balas mengejek.