ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Gelombang Terakhir


Jumlah tawanan Sekte Tanah Hitam sangat banyak. Darius dan hampir seratus pendekar serta petualang yang mendapatkan misi dari Arya untuk mengurus mereka sedikit kewalahan.


Beruntung Arya memberikan pil penyembuhan serta pengembalian tenaga dalam yang sangat banyak. Hingga mereka bisa menyelesaikan tugas mereka dengan sangat baik.


Hingga malam ini, mereka sudah sampai pada salah satu kota yang memang menjadi tujuan mereka selanjutnya.


Di sana, sesuai petunjuk Arya, mereka sudah ditunggu oleh beberapa pendekar dari Sekte Tujuh Mata Air.


Seluruh tawanan sudah mendapatkan tempat yang layak untuk sementara waktu ini. Sekarang, Darius berniat langsung kembali ke Basaka.


"Tuan Darius, bukankah, sebaiknya kita kembali besok saja. Aku dengar, dari beberapa pendekar itu, mereka juga akan menuju Basaka."


Darius menggeleng. Dengan semua informasi yang telah dia terima, sudah dipastikan akan ada pertempuran. Entah kenapa, dia sangat ingin terlibat di dalamnya. Sekali saja, dia ingin berjuang bersama Arya dan teman-temannya.


"Tidak Nick. Aku ingin secepatnya kembali ke Basaka. Aku tak ingin melewatkan apapun."


Nick yang sejak beberapa hari ini melihat perubahan besar dari diri Darius, tidak lagi bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya secara serius.


"Tuan Darius, kau benar-benar berubah beberapa hari ini. Aku perhatikan, sepertinya kau sangat senang. Jujur saja aku masih tidak habis pikir dengan siapa yang memberi misi ini, apakah benar seperti apa yang kau katakan itu?"


Darius tersenyum. "Nick, kau tau siapa nama Satria Adamatine itu?"


"Ah, lagi-lagi itu. Tentu saja aku tau, bahkan anak kecil yang menyukai cerita petualang di kampung halaman ku, semua mengetahuinya."


Darius mengelengkan kepala, seutas senyum yang menunjukkan seluruh deretan gigi terukir di wajahnya.


"Kalau begitu, pernahkah kau mendengar seseorang bernama, Arangga?"


Kening Nick langsung berkerut. Dia mencoba keras untuk mengingatnya. Namun, ini baru pertama kali dia mendengar nama bahkan kata Arangga sebelumnya.


Puas dengan reaksi yang ditunjukkan Nick itu, Darius melanjutkan.


"Arangga ...  Arangga Sarka ... Itu namanya."


****


Sementara itu, di istana Basaka, mata Darmuraji berbinar-binar melihat benda yang di bawa dan di serahkan oleh Rantoba padanya siang sore tadi.


Hingga malam ini, Raja Basaka itu, mengumpulkan seluruh pendekar yang sudah di datangkan Rantoba dari Daratan Barat. Tidak tanggung-tanggung, jumlah mereka lebih dari seratus orang.


Satu pendekar suci tingkat satu saja, akan sangat mudah membunuh tiga sampai empat pendekar Raja tingkat akhir. Dengan jumlah mereka di tambah prajurit kerajaan, Sekte aliran hitam, bukan lagi ancaman.


Bahkan, Darmuraji sekarang tidak menganggap keberadaan serikat Oldenbar. Menurutnya, kemanapun serikat itu berpihak saat ini, itu akan sama saja. Dia akan memenangkan perang ini, apapun keadaannya.


Rantoba dan seluruh pendekar suci yang ada di Aula itu, hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah pria tua itu. Meski sarung pedang itu sangat besar dan terlihat unik, tidak ada yang istimewa lainnya terkait benda itu.


Rantoba terpaksa harus kembali mengingatkan Darmuraji tentang kenapa semuanya berkumpul di sana malam ini.


"Paduka. Sebaiknya kita mulai saja."


Darmuraji tersentak, dan mencoba mengendalikan dirinya secepat mungkin. Dia jadi merasa sedikit canggung karena tatapan aneh yang dia dapat dari seluruh orang yang ada di ruangan tersebut.


"Ehem ... "


Darmuraji berusaha memulai berbicara dalam kecanggungan. Tapi sebenarnya apa yang akan di bicarakannya, sudah sangat jelas dan tidak akan bisa di tawar lagi.


"Besok, Kita akan meminta Kelang menyerahkan pemuda itu. Jika tidak, kita akan menghancurkannya. Kita menghindari perang, tapi bukan berarti kita takut. Bagaimanapun, Aku yakin bahwa pedang itu, berada di Daratan ini."


"Paduka. Bagaimana dengan penawaran itu? Jika kau menawarkan Daratan ini pada pemuda tersebut, bagaimana dengan kami?"


Pertanyaan salah satu pendekar suci itu, mewakili yang lainnya. Sebekumnya Darmuraji menawarkan oada mereka tanah yang cukup luas di Daratan Timjr jika mereka membantu serta sumber daya yang melimpah.


Pendekar-pendekar suci itu bisa mendirikan Sekte atau cabang sekte di sini yang berkemungkinan akan langsung menguasai Daratan ini.


Itulah harga yang di minta para pendekar suci dari pesisir Daratan Barat kerajaan swarna itu, jika Darmuraji meminta bantuan mereka.


"Pemuda itu tidak hanya memiliki pedang ini, tapi juga memiliki ilmu yang sangat bermanfaat untuk perkembangan sekte kalian bahkan kerajaan ini. Jika dia memilih untuk menguasai Basaka, bahkan Daratan Timur ini sekalipun, seharusnya kalian membiarkannya saja. Itu hanya dari segi pengelolaan sebuah wilayah. Toh, jika dari segi kekuatan, kalian semua jauh lebih unggul. Di masa depan, sekte kalian bisa saling menguntungkan. Bukankah itu sangat bagus?"


Namun, tidak semua dari mereka langsung menyetujui kata-katanya itu. Terlihat beberapa orang tidak terlalu senang dengan Jawaban Darmuraji itu.


"Bagaimana jika dia menolak? Apa yang harus kami lakukan?"


Pertanyaan itu, hanya di sikapi dengan sebuah senyuman miring oleh Darmuraji.


"Jika pedang itu sudahbdi serahkannya padaku, dan jika setelah itu dia menolak untuk bekerja sama, Master Alchemist bisa kita temukan di suatu tempat. Di dunia ini. Kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan padanya. Tidak ada bedanya, bukan?"


Kali ini, tanggapan Darmuraji di setujui oleh semuanya. Mereka telah mengukur kekuatan. Tidak sulit bagi mereka menghancurkan Kelang dan seluruh sekte yang bergabung dengannya.


Apalahi niat mereka memang akan mendirikan cabangbsekte mereka di sini, suatu saat gesekkan akan terjadi dan pertempuran antara mereka juga tudak akan terhindarkan.


Sejatinya, setiap sekte ingin menjadi yang terkuat dan menguasai wilayah yang besar bahkan kalau memungkinkan, mereka memang ingin menguasai seluruh Daratan Timur ini.


Seluruh pendekar Daratan Barat, mengetahui fakta bahwa Daratan Timur tidak memiliki pendekar yang kuat. Namjn, karena dahulu daerah ini cukup tertinggal, tidak banyak dari mereka yang berniat untuk memguasainya.


Akan tetapi, beberapa tahun ini, Daratan ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Beberapa sekte besar di daratan Barat sudah mulai melirik ke sini.


Jika tepat dengan apa yang di janjikan Darmuraji jika semua nya berhasil sesuai rencana, tidak hanya menguasai saja. Bahkan, pihak kerajaan akan secara resmi mengakui keberadaan Sekte mereka di Daratan ini.


Sehingga mereka tidak perlu mencemaskan untuk di cap sebagai penjahat terlebih Sekte aliran hitam lagi.


"Jadi, kapan kita akan melakukannya?"


Darmuraji menarik nafas panjang, dan melepasnya perlahan.


"Kelang bukan jenis manusia yang bisa di ajak bicara baik-baik. Kita harus menunjukkan kekuatan penuh, agar otak bebalnya itu, bisa langsung bekerja dengan baik dan mengerti situasinya."


"Berarti, besok adalah waktunya?!"


Darmuraji mengangguk. "Ya. Bersiaplah malam ini. Besar ataupun kecil, besok tunjukkan pada para orang-orang bodoh itu, pertempuran yang sebenarnya."


Setelah itu, tak lama merekapun membubarkan diri. Tepat seperti apa kata Darmuraji. Besok, benar-benar akan terjadi pertempuran yang akan mengubah takdir dan masa depan, seluruh Daratan Timur ini.


****


Hello,  MOONMARVEL di sini.


Tak terasa ternyata dengan di rilisnya chapter ini, Arya Mahesa sudah mencapai 200 chapter.


Aku benar-benar berterima kasih untuk kalian yang mengikuti cerita ini dari awal sampai ke Chapter ini.


Semua dukungan yang kalian berikan, sangat berpengaruh besar agar aku bjsa tetap konsisten menulis.


Maaf, di hari sebelumnya aku berniat menambah beberapa chapter dan tidak bisa menepatinya. Ini ada hubungannya dengan rilisnya Chapter ke 200 ini.


Dengan rilisnya chapter ini, Arya Mahesa resmi memasuki Final Arch pertamanya. Ini juga menegaskan bahwa Arya Mahesa adalah cerita yang aku rencanakan berjalan sangat panjang.


Tentu saja, itu akan sulit. Tapi, aku berusaha tetap konsisten dan terus melanjutkan cerita ini sampai akhir.


Semoga saja seluruh cerita Arya Mahesa bisa berakhir di Platform ini.


Mungkin, beberapa sudah menyadari bahwa Arya Mahesa memiliki cerita yang sedikit, Sadistis.


Tapi, inilah menurutku Dunia Kependekaran yang sesungguhnya. Sedikit rumit, karena penuh dengan trik dan intrik. Seorang pejuang seharusnya punya banyak hal selain kekuatan dan keberuntungan, untuk menaklukkan dunianya.


Seiring dengan perkembangan tokoh-tokohnya, ke depan, cerita ini juga akan berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan karakter masing-masing tokoh yang terlibat di dalamnya. Jadi, jangan kaget dengan konflik atau topik yang mungkin tidak kalian temui di cerita lainnya.


Karena sejak awal, aku ingin mengajak kalian berpetualang di dunia yang sepenuhnya berbeda. Dunia Arya Mahesa.


Dan Apapun itu, sekali lagi aku ucapkan banyak-banyak terimakasih atas semua dukungannya selama ini.


Terus Ikuti ceritanya sampai akhir ya.!


M.M