ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Bahagia


Arya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi. Tapi dia langsung tau bahwa dirinya gagal menyelamatkan wajah Citra Ayu.


Arya menelan ludah, sebelum ingin mengatakan sesuatu. Akan tetapi, dia tidak menemukan kata-kata yang tepat.


Secara Naluri, Arya mendekat pada Citra Ayu yang terlihat berdiri mematung dengan wajah yang merah padam.


"Citra Ayu ... Maksudku, aku ... Kau, begini ... Bukan, maksudku—"


Tawa ketiganya masih mengudara. Karena, mereka melihat Citra Ayu sudah berdiri di depan Arya dan menutup mulut pemuda itu, agar tidak melanjutkan kata-katanya.


Akan tetapi beberapa saat kemudian, tawa ketiganya hilang.


Mata Luna, Ciel dan Bai Hua terbelalak sedangkan mulut mereka terbuka lebar. Karena saat ini, ketiganya melihat Citra Ayu memeluk Arya, dan membenamkan wajahnya di dada pemuda itu.


"Tuan Muda ... Aku, tau ... "


Itulah kata yang di ucapkan Citra Ayu saat itu pada Arya saat wajahnya yang cantik tersebut, bersembunyi di sana.


Meski apa yang dilakukan Arya membuatnya bertambah malu, tapi Citra Ayu yakin bahwa niat Arya sebenarnya adalah ingin menolongnya.


Sambil mengusap rambut Citra Ayu, Arya masih berusaha menjelaskan. "Maksudku, aku—"


Citra Ayu memotongnya. "Biarkan aku begini sebentar saja ... "


Arya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil terus mengusap rambut gadis itu.


Kejadian itu tidak begitu lama. Tapi selama berada di pelukannya, Tubuh Arya terasa begitu hangat dan nyaman.


Terlebih saat ini, Citra Ayu merasakan bahwa dengan begitu dia tidak hanya berhasil keluar dari kejadian memalukan ini saja. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, dia yakin bahwa dirinya berhasil membalas ketiga gadis lainnya saat itu juga.


Tanpa sadar, Ciel bergumam sambil mengumpat kesal. "Sial ... Gadis ini, ternyata sangat licik."


Bai Hua menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Seharusnya, aku menaruh racun saja di makanannya."


"Bukankah, kita sudah kuat ... Bisakah kita menghabisi pemuda bodoh ini, jika kita bertiga menggabungkan tenaga?"


Kata-kata Luna, sontak membuat Ciel dan Bai Hua saling bertatapan, lalu keduanya berbalik menatap Luna yang juga sedang melihat pada mereka.


Tak lama, ketiganya menggelengkan kepala.


Ciel mendesah sambil berkata dengan putus asa. "Bahkan, jika orang seperti kita ada seratus bahkan seribu sekalipun, dengan semua itu, kita tidak akan pernah mampu memberikan satu luka pun padanya ... "


Bai Hua ikut mendesah sama putus asanya. "Ya, kau benar ... Elemenku yang menurut semua orang sangat mengerikan, bahkan bukan apa-apa baginya."


"Hmm ... Sebaiknya lupakan saja. Meski akku sudah sangat kuat, tapi itu tidak ada artinya. Bahkan, Kulkan sang malapetaka yang menjadi mimpi buruk seluruh umat manusia bahkan dewa saja, bersemayam ditubuhnya, dan dia menganggap hal itu bukan apa-apa."


Saat mereka bertiga masih berkomunikasi dalam keadaan sadar atau tidak, tiba-tiba saja sebuah suara membuyarkan segalanya.


"Ciel, Luna, Bai Hua ... Kita akan pergi untuk memastikan sesuatu ... "


Ketiga mendapati Arya sudah berdiri di dekat mereka.


"Hah, apa katamu?"


Arya menatap Luna lalu mengulangi apa yang dikatakannya. "Selama Citra Ayu menyerap Energi Bayam Tiga jari, kita berempat akan pergi untuk memastikan tempat itu."


Ketiganya saling berhadapan, lalu serentak menoleh pada Citra Ayu yang entah sejak kapan telah duduk bersila dan memejamkan matanya.


"Senior, apa maksudmu? ... Bukankah tadi kau bilang bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan saat hari telah gelap?"


"Ya, aku mengatakannya. Akan tetapi, saat ini kita bisa memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat dan mencari tau apa yamg terjadi di negeri Bukit Batu ini."


Ciel menatap Citra Ayu kesal. Karena dia bisa melihat aliran tenaga dalam Citra Ayu saat ini sangat tenang. Sesuatu yang pernah dia rasakan sebelumnya. Saat dimana dia memeluk Arya, dimana saat itu Ciel merasakan bahwa segalanya akan aman jika dia tetap bersama pemuda itu.


"Rewanda dan Krama akan di sini untuk berjaga. Tapi, aku ingin melihat seperti apa kekuatan kalian bertiga saat ini ... "


Saat Arya mengatakan itu, pikiran mereka bertiga tentang apa yang dilakukan Citra Ayu sebelumnya, terlupakan begitu saja.


Tentu saja Mereka memang sangat ingin mencoba kekuatan mereka saat ini. Mendengar bahwa Arya mengatakan bahwa pemuda itu ingin melihatnya, tentu saja ketiga gadis itu langsung memikirkan hal yang sama.


"Arya ... Apa kau juga memikirkannya?"


Seperti dugaan Arya, Luna juga sudah pasti terlebih dahulu menyadarinya. Dan itulah kelebihan Luna daripada yang lainnya. Gadis itu benar-benar memiliki intuisi yang sangat tajam.


"Ya, aku juga menyadarinya ... Sepertinya terlalu banyak pihak yang terlibat saat ini. Dan jika apa yamg dikatakan putra dari Sultan negeri ini benar, maka sebaiknya kita memeriksanya saat ini juga."


Ciel dan Bai Hua langsung mengangguk setuju. Karena dengan kecepatan mereka berempat saat ini, mereka bisa sampai pada kota Munda, kota dimana Istana sultan negeri ini berada, dengan cepat.


"Arya, apa kau tau arah di mana kota itu berada? ... "


Tentu saja Itu yang menjadi lertanyaannya. Ciel, tentu tidak yakin bahwa Arya tau arah dimana kota itu berada.


"Citra Ayu mengatakan padaku agar terus menuju ke arah Selatan, setelah melewati bukit yang ada di depan sana."


Saat itu itu juga ketiga gadis itu langsung mengerti. Hanya saja, saat itu juga hal ini terasa aneh.


"Aku rasa kita baru saja melewatkan banyak hal ... "


Saat Luna mengatakan hal itu, Ciel dan Bai Hua mengangguk setuju. Akan tetapi, lagi-lagi Arya membuyarkan ketiganya.


"Kenapa kalian jadi kompak melamun secara tiba-tiba?"


Beru saja ketiga berfikir bahwa beberapa saat yang lalu bahwa mereka sudah melamun dalam waktu yang jauh lebih kama dari apa yang mereka pikirkan, sekaran mereka mendapati Arya baru saja membuyarkan ketiganya karena kembali melamun, tanpa mereka sadari.


"Ah ... Tidak penting. Sebaiknya, kita langsung bergerak saat ini juga."


Setelah mengatakan itu, Ciel langsung berjalan melintasi Arya, dan di ikuti Bai Hua di belakangnya.


Namun, saat Luna ingin menyusul keduanya, Arya menghentikannya. "Luna, ada apa?"


Luna hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Arya masih bertanya padanya. Namun begitu, dari pada kedua gadis yang ada didepannya itu, Luna memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa.


"Arya, kami wanita ... Ada beberapa hal, yang kalian para pria harus pelajari, tentang banyak hal yang ada pada kami."


Kata-kata Luna, langsung mendapatkan anggukan setuju dari Arya. "Ya ... aku rasa, kadang aku sama sekali tidak mengerti pada kalian ... Aku akan mempelajari mulai saat ini."


Mendengar itu, sebuah senyuman terkembang di wajah Luna. "Bagus, sebaiknya kau mulai memikirkan tentang rasa yang ada di sini ... "


Saat itu, Arya mendapati Luna kembali meletakkan tangannya di dada Arya, persis seperti yang dilakukannya saat mereka akan memasuki benteng Nippokure, beberapa waktu yang lalu.


"Apa kalian merasakan sakit?"


Luna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ... Kami semua sangat bahagia."


Arya mengernyitkan dahinya heran. Karena hal terakhir yang mereka bahas saat itu, adalah tentang rasa sakit. Namun, sekarang luna mengatakan sebaliknya.


"Bahagia? ... Bagaimana bisa?"


Tidak langsung menjawabnya, Luna sudah berjalan melewati dan menyusul gadis lainnya.


Sambil terus berjalan, Luna berseru padanya. "Bukankah kau bilang akan mempelajarinya? Kalau begitu, mulailah dari sana ... "