ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pergerakan Sekte Aliran Hitam


Saat tawa mereka mereda, tatapan semua orang beralih pada Arya. Mata mereka sedikit melebar saat menyadari bahwa tidak ada sedikitpun tenaga dalam yang bisa mereka rasakan dari tubuh pemuda itu.


"Ki Kelang... Siapa pemuda yang bersamamu itu?"


Pertanyaan salah satu dari pendekar yang ada di meja tersebut, mewakili semuanya. Bagaimana bisa pemuda ini terlihat begitu percaya diri saat berada di dekat seseorang yang akan dinobatkan sebagai ketua sekte terbesar sepanjang sejarah Daratan Timur ini.


"Oh ini? ... Darmuraji dan Rantoba memanggilnya Master Alchemist. Aku juga tidak terlalu mengerti. Tapi, sepertinya itu ada hubungannya dengan Pil-pil yang mereka berikan pada ku beberapa bulan belakangan ini."


Mata mereka semua melebar. Pil-pil yang Kelang katakan tersebut, adalah salah satu alasan kuat yang membuat Sekte mereka memutuskan untuk memilih bergabung dengan Sektenya.


"Jadi, maksudmu ... Pemuda ini?"


"Ya. Melihat bagaimana mereka memperlakukannya, sepertinya memang begitu."


"Hahahahaha!" Salah satu dari dua wanita yang ada di maja tersebut tertawa. "Sebelumnya, Aku berfikir jika kau akan menghadiahkannya padaku."


"Nyai Ruka, sepertinya kau belum kehilangan kebiasaan burukmu. Apakah kau masih memangsa para pemuda hanya untuk mempertahankan bentuk tubuhmu itu?"


Wanita yang dipanggil sebagai Nyai Ruka itu langsung menoleh pada orang yang tadi menyela tawanya. "Kau Sobek, memanggilku, Nyai? Dengan wajah burukmu itu, kau baru saja memanggilku Nyai?" Tanya-nya dengan nada tak terima.


"Apa yang salah dengan wajahku. Bahkan aku bjsa meniduri banyak wanita dengan wajah seperti ini!" Protesnya.


"Kenapa kalian tidak tidur bersama saja. Sepertinya kalian sama-sama memiliki kebiasaan yang sama buruknya." Celetuk yang lainnya tiba-tiba.


Keduanya langsung menoleh dan menatap buruk padanya. "Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya. Mungkin saja dengan begitu kekuatan kalian akan semakin meningkat. Hahahahaha!"


"Atau bisa saja sebaliknya!" tambah yang lainnya.


"Hahahahaha ... !"


"Hahahahhaa ... !"


Hampir Seisi ruangan itu tertawa mendengar mereka. Namun, tidak memperdulikannya. Karena, sejujurnya, Arya tidak terlalu mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Sudah. Hentikan ... !"


Ketawa mereka langsung mereda sesaat setelah Kelang berteriak. Memang akan sulit baginya mengendalikan orang-orang sesat, yang ada di depannya ini.


"Kehadirannya sekarang, lebih dari itu. Dia memiliki sesuatu yang bahkan jauh lebih berharga dari Daratan ini.!"


Kata-kata Kelang langsung menarik perhatian mereka. Hampir seumur hidup masing-masing dari mereka berusaha dengan cara apapun untuk bisa menjadikan Diri dan Sekte mereka yang terkuat, agar pada akhirnya mampu menguasai Daratan ini.


Dan Kelang baru saja mengatakan bahwa pemuda yang datang bersamanya itu, memiliki sesuatu  yang bahkan lebih berharga dari Daratan ini. Tentu saja itu sangat menarik.


"Ki Kelang, apa yang lebih berharga dari Daratan ini?"


Nyai Ruka bertanya penuh minat sambil memperhatikan wajah dan tubuh Arya dengan penuh hasrat. Seandainya sekarang mereka sedang berada di Sektenya, bisa saja dia sudah menerkam Arya.


"Ah. Itu bisa dijelaskan nanti. Aku juga sebenarnya belum terlalu mengerti. Tapi, ada yang harus kita bicarakan saat ini. Dan itu tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


Semuanya langsung faham dengan apa yang di maksud Kelang. Mereka langsung kembali duduk. Bersamaan dengan itu, Kelang juga ikut duduk.


"Kau, sebaiknya berdiri saja atau duduk di sana." Tunjuk kelang pada sebuah batu yangbada di goa itu "Meskipun Darmuraji si Raja Bodoh itu begitu menghormatimu. Tapi di sini, jangan berharap kau akan mendapatkan perlakuan yang sama. Di tempat ini, hanya yang terkuat saja yang bisa mendapatkan kehormatan. Hahahahahaha."


Siapa yang menduga bahwa keputusannya untuk ikut bersama kelang ke sini akan bertepatan dengan pembicaraan yang akan mereka adakan.


"Jadi, aku langsung saja. Setelah ini, kita akan langsung bergerak. Dengan keberadaan kalian Di sini, Aku menyimpulkan bahwa semuanya sudah  sesuai rencana, bukan?"


Mereka semua saling berpandangan dan mengangguk serentak.


"Bagus. Sepertinya ketua-ketua kalian sudah membaca pesan yang kukirimkan."


"Ya. Tentu saja. Jika tidak, kami tidak akan berada di sini, sekarang ini."


"Ki Kelang, kau telah meminta sebuah pergerakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Apakah kau benar-benar telah mempersiapkan semuanya dengan matang seperti yang kau katakan di pesanmu itu?"


"Ya. Meski semua tidak begitu berjalan lancar, tapi aku yakin. Kali ini Basaka serta Daratan ini, pasti akan kita taklukan. Setelah Sekte Singa Emas tumbang. Kurasa memang inilah saatnya ... "


Akhirnya mereka membahas apa yang selama ini terjadi. Dan tanpa mereka sadari, satu orang yang ada di sana, seharusnya adalah orang terakhir yang mengetahui rencana mereka, jika mereka ingin berhasil.


Sayangnya, mereka tidak memperdulikan kemungkinan itu. Karena merasa pemuda tanpa tenaga dalam, tidak bisa di sebut sebagai sebuah ancaman.


Saat mereka larut dengan itu, Arya menyimak dengan seksama. Meski sempat menduga bahwa mereka terlibat, Akhirnya Arya mengetahui bahwa, sekte-sekte ini sama sekali tidak ikut andil dalam pembunuhan Raja Aditya.


Dan tampaknya mereka tidak begitu peduli dengan siapa yang memegang kekuasaan di Basaka. Hanya saja saat setelah Raja Aditya mati. Darmuraji melalui Rantoba berusaha menjalin kerja sama dengan Sekte Tanah Hitam.


Sementara itu, di belakang mereka, Kelang mencoba menarik sebanyak mungkin pengikut dengan sumber daya yang dia dapat dari kerajaan.


Hingga akhirnya saat Arya muncul dengan Pil-pil yang jauh lebih bekualitas, Sekte Tanah Hitam berubah menjadi sangat kuat. Beberapa bulan saja membuat mereka sudah melakukan banyak penaklukan dan pada sekte-sekte aliran putih.


Hal itu membuat sekte-sekte  mulai dari yang terkecil, menengah, hingga akhirnya sampai lima sekte aliran hitam terbesar lainnya, memutuskan untuk bergabung dengan Kelang.


Dengan sumber daya dan kekuatan Sekte Tanah Hitam yang setiap waktu semakin besar. Tidak ada pilihan lagi bagi mereka. Karena bisa saja Kelang dan Sektenya tumbuh semakin besar dan akhirnya menakhlukkan semuanya seorang diri.


Mereka lebih memilih ikut sejak awal dan menikmati masa-masa penaklukkan itu bersama. Apalagi, beberapa waktu yang lalu, kelang secara terbuka mengajak mereka semua untuk kerja sama dan berbagi wilayah serta sumber daya lainnya.


Agenda mereka adalah menawan Darmuraji. Dengan begitu, Basaka sudah dipastikan dibawah mereka. Baru setelah itu, mereka akan mulai bergerak ke segala penjuru Daratan Timur.


Menurut perhitungan mereka, dengan tidak adanya Sekte Singa Emas, tidak akan membutuhkan waktu lama bagi mereka semua untuk menyerang sekte-sekte aliran putih secara besar-besaran dan akhirnya menaklukkan seluruh Daratan Timur.


Satu hal yang sangat mengejutkan Arya. Sekte-sekte aliran hitam dari segala penjuru Daratan Timur itu, saat ini telah bergerak ke sebuahbdaerah yang tidak jauh dari kota Basaka.


Hanya saja, Arya tidak mengerti kenapa Kelang malah kembali kesini dan mengadakan pertemuan seperti ini.


"Bagimana dengan Drey? Benarkah dia mati ditangan pemimpinnya sendiri?"


Kelang menggelengkan kepala. "Aku tidak melihat langsung. Tapi, kita tidak butuh dia lagi. Sekarang, saat kita berbicara, di pusat Oldrnbar, Daga sedang berbicara dengan Kenneth."


"Jadi, kita dan Oldenbar akan langsung mengambil alih Basaka?"


"Ya. Jika mereka menolaknya. Maka kita akan meratakan Oldenbar terbih dahulu. Tapi, aku rasa mereka cukup licik. Dengannkekuatan kita sekarang, tidak mungkin Edward, pemimpinnya akan menolaknya."


"Ki Kelang, aku rasa, beberapa tahun ini, tidak hanya semakin kuat. Tapi, aku melihatmu juga semakin licik saja. Hahahaha!"