ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kekacauan Yang Tidak Direncanakan


" Aaaaa... ! "


" Aaaaaaaaaa... ! "


Sejak pekikan pertama dan kedua itu, kepanikan mulai melanda semua orang. Warga berhamburan berlarian ke sana kemari. Mereka sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini.


Luna langsung memutus tali yang mengikat ketujuh orang yang nyaris mati beberapa waktu yang lalu itu. Sementara prajurit yang lain dan beberapa pendekar yang ada di sana, secara naluri tidak berani mencegah. Setelah melihat apa yang dilakukan Luna beberapa saat yang lalu, Mereka tau, mendekati Luna sama saja dengan mengantar nyawa.


" Luna Smith! "


Diantara riuh suara warga kota itu yang sedang panik itu, seseorang memanggil Luna dengan lantang.


Luna menoleh pada orang yang memanggil nama lengkapnya itu. Dalam sekejap dia bisa mengenali siapa lelaki yang kini sudah menghunuskan pedang padanya itu. Sebuah senyum mengejek langsung terbentuk di wajahnya.


" Oh, ternyata kau juga menjadi keledai serikat ini, ... Votus? "


Lelaki yang dikenali Luna sebagi Votus itu tampak tak suka dengan sebutan keledai yang disematkan Luna padanya tersebut " Sombong, seperti biasanya. "


Sementara mereka berbicara, Sekar memberi anggukan pada beberapa pendekar di antara kerumunan yang sejak tadi terlihat mengunggu aba-aba darinya.


" Hahaha! Kau sudah memutuskan hari ini sebagai hari terkahirmu, di Dunia? Jika begitu, majulah " Tantang Luna.


Votus menyeringai. " Sebentar lagi kau akan menyesali ucapanmu " setelah mengatakan itu, Votus langsung mengangkat pedangnya dan melompat ke arah Luna.


Luna bersiap menerima tebasan Votus dengan percaya diri. Namun, sesaat sebelum benturan terjadi, Luna tau bahwa ada sesuatu yang salah.


" Tang...! "


Tebasan Votus itu ternyata sangat kuat hingga membuat Luna terpukul mundur beberapa meter.


" Kau?! " Luna tidak menyangka bahwa Votus menjadi sekuat ini dalam waktu singkat.


Melihat keterkejutan Luna, Votus tersenyum " Kau terkejut? Hahaha! ... Aku juga! " setelah mengatakan itu, Votus kembali menyerang Luna.


Pertarungan Luna Melawan Votus itu menyita perhatian semua orang. Banyak yang tidak menyangka bahwa Luna ternyata sangat kuat. Tapi, Votus yang menjadi lawannya ternyata memiliki kekuatan yang terlihat mengungguli Luna.


Para pendekar yang sudah mendapat persetujuan dari Sekar, memanfaatkan situasi untuk menyelamatkan tujuh orang yang berada di sana.


Mereka berniat membawa mereka keluar dari kekacauan itu. Tetapi tentu saja para prajurit penjaga kota dan pendekar dari Serikat dagang tidak membiarkan mereka melakukan itu begitu saja.


Dalam waktu singkat, terjadi pertempuran kecil di sana. Namun,  baik Luna ataupun pendekar dari pihak Sekar sepertinya tidak beruntung. Votus dan pendekar-pendekar dari serikat itu ternyata memiliki level kependekaran di atas mereka.


Saat seorang pendekar dari pihak  Sekar nyaris saja terpenggal, dia diselamatkan oleh sebuah anak panah yang sudah tertancap di kepala lawannya.


Anak-anak panah lainnya juga berhasil mengenai beberapa prajurit kota. Namun para pendekar serikat, tampak bisa menangkis serta menghindarinya.


Luna sendiri sepertinya sudah terdesak. Votus sudah beberapa kali mencoba mengalahkannya di lain kesempatan. Mereka memiliki sejarah yang panjang dan selalu berseteru sebelumnya.


Namun kali ini, Votus sepertinya memang terlihat ingin mengakhiri semua itu saat ini.


Sebuah anak panah meluncur ke Arah Votus. Tapi dengan mudah Votus menghindarinya. Sepertinya selain kekuatan, kecepatan Votus juga sudah jauh meningkat.


" Hahaha!  Setelah aku membunuhmu, aku juga akan menghancurkan kepala adikmu yang menyebalkan itu " kata Votus sambil menatap arah darimana Anak panah itu berasal. Votus tau siapa yang menembakkan anak panah itu padanya.


Ciel tau panahnya tidak akan mengenai Votus. Itu hanya upayanya untuk merusak konsentrasi Votus. Tapi, gagal memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan Ciel padanya itu. Luna masih terkejut dengan kekuatan Votus yang bisa meningkat tiba-tiba.


" Baiklah! " Luna tiba-tiba mengubah mimik wajahnya. " Cukup bermain-mainnya "


Votus tetap tersenyum " Seperti yang kuharapkan "


Keduanya kembali bertukar serangan. Namun, kali ini keduanya terlihat imbang.


Beruntung para pendekar telah berhasil mengamankan tujuh orang itu menjauh dari sana.


Sekar melihat sebagian pendekar dari pihaknya, masih bertarung. Disaat yang sama, Sekar juga melihat kedatangan banyak prajurit dari arah Balaikota menuju lokasi mereka. Belum lagi pendekar dari serikat juga semakin bertambah.


" Tuan Arya, sebaiknya ... "


Sekar tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ternyata Arya sudah tidak berada di sebelahnya lagi. " Kemana dia? " kemanapun Sekar melihat, Arya tetap tidak bisa di temukannya.


" Nona! "


Pendekar yang sudah berhasil menjauh memanggil Sekar.


" Bawa mereka kebukit! " perintah Sekar pada pendekar-pendekar itu. Sementara dirinya masih mencoba menemukan Arya.


" Arrrgghhh! "


" Arrrrrrrgggggghhhhhh! "


Beberpa pendekar dari serikat yang hendak mendekat terkapar di tanah. Mereka salah karena telah meremehkan pemuda yang menghadang jalannya. Buktinya, dalam waktu singkat sepuluh orang dari Mereka sudah tak bernyawa.


" Siapa kau?! "


Arya tak menjawab pertanyaan pendekar itu dan terus menyerang. Pertanyaan itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum Arya menghancurkannya lehernya.


Pendekar-pendekar yang berada di pihak Sekar mencoba menghadang prajurit-prajurit dari Balaikota.


Mereka beruntung. Saat menghadapi prajurit-prajurit itu, Ciel membantu mereka dari kejauhan sehingga membuat prajurit-prajurit itu kewalahan dan terpukul mundur dengan mudah.


Hanya butuh waktu singkat bagi Arya membabat hampir semua pendekar dari serikat yang ada di sana.


" Kau cukup lumayan. " Kata salah satu pendekar yang kini berdiri tidak jauh di depan Arya.


Langkah nya terhenti saat melihat tiga orang pendekar  berdiri dengan tersenyum meremehkannya.


Tubuh pendekar-pendekar itu terlihat sangat tinggi dan kekar. Mereka memperhatikan Arya dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu saling berhadapan dan mengangguk bersamaan.


Salah satu pendekar yang memiliki tubuh sedikit lebih tinggi dari yang lainnya maju. " Walaupun tidak memiliki tenaga dalam, tapi fisikmu sangat kuat. Ayo bermain sebentar denganku! "


Setelah mengatakan itu, pendekar itu membuka bajunya. Mempertontonkan otot-otot tubuhnya dengan bangga. Terlihat bahwa tubuhnya sudah mengalami latihan yang sangat keras.


Pendekar itu langsung mengambil kuda-kuda saat Arya mendekat padanya.


" Jurus Harimau Me— "


" Plak! "


Tamparan Arya langsung menghancurkan tengkoraknya, bahkan saat pendekar itu belum selesai mengucapkan nama jurusnya.


" Aku tidak sedang ingin bermain " Kata Arya dingin sambil melewati pendekar yang sudah terjatuh ke tanah itu.


Kedua temannya dibelakang terkejut melihat apa yang barusaja terjadi. Seketika tubuh mereka terasa lemas. Apalagi saat ini Mata orang yang bisa menghabisi teman mereka dengan sangat mudah itu, sedang mengarah pada mereka. Nyawa mereka saat ini terasa hanya tersisa setengah.


Luna dan Votus bertarung begitu sengit. Tidak tampak dari salah satunya yang yang akan kalah, setelah melakukan banyak pertukaran jurus yang mereka lancarkan.


Suara denting pedang dan terjangan di antara keduanya terjadi sangat cepat. Mereka benar-benar berada di level berbeda dengan para pendekar lainnya yang ada di sana.


Seharusnya, pertarungan mereka menjadi perhatian utama bagi siapapun yang ada di sana. Tapi, pembantaian yang sadis tengah terjadi tanpa mereka saadari saat mereka melakukan itu semua.


" Hehe ... Hehe " Votus menatap tajam Luna dengan nafas terengah-engah. " Sebagai wanita, kau sangat kuat. Namun, setelah ini kau tidak akan bisa menahan seranganku lagi. "


Luna juga sama dengan Votus, menghadapi lawan yang kuat cukup menguras stamina dan tenaga dalam. Tapi, dia masih sangat yakin bisa bertahan dan akhirnya mengalahkan Votus. Namun, seketika matanya melebar.


Votus tampak barusaja menelan sesuatu. Belum sempat Luna memikirkan apa itu, pertanyaannya langsung terjawab.


Seketika Luna bisa merasakan Tenaga Dalam Votus bertambah dengan sangat cepat. Bahkan tubuh Votus kini tampak memerah.


" Hahahaha! Luna Smith ... Kau akan mati hari ini! " Teriak Votus bangga.


Luna tidak ingin memberi kesempatan pada Votus untuk melakukan apapun, dan langsung menerjangnya. Namun tepat setelah itu, Luna terpukul mundur beberapa langkah kebelakang.


Dia merasa barusaja menendang sebuah karang. Kini kakinya itu sedikit bergetar menahan sakit. Tubuh Votus sekarang benar-benar menjadi sangat kuat.


" Hahahaha! Kau sangat sial sekali karena berhadapan denganku sekarang. Dulu saat kau memiliki kesempatan, seharusnya kau menghabisiku. Itu, kesalahanmu. Hahahahahaha! " Ejek Votus.


Luna meringis berlutut menahan rasa sakit di kakinya. Dia mencoba mengalirkan tenaga dalam ke titik di mana dia merasa tulang kakinya yang terasa retak.


" Tenang saja. Aku akan mengakhiri rasa sakitmu dengan cepat. " Ucap Votus saat mengetahui Luna sudah cedera akibat menendangnya terakhir kali.


Luna menyadari tidak mungkin untuk mengalahkan Votus saat ini. Karena tujuan awalnya hanya menghentikan hukuman pada tujuh orang yang sudah berhasil diselamatkan oleh pendekar yang dia sendiri pun tidak tau siapa mereka, Luna berpikir, ini saat yang tepat untuk melarikan diri.


Votus mengetahui apa yang di pikirkan oleh Luna. " Kau boleh mencoba kabur " Kata Votus mengejek karena yakin bahwa dengan keadaannya, Luna tidak akan mampu bergerak cepat untuk kabur darinya.


" Tapi, kau juga tau bahwa itu, Musta— "


" Brup! "


Kata-kata Votus terputus saat tiba-tiba sebuah tangan muncul dari dalam dadanya. Tangan itu sedang menggenggam benda yang dia yakin itu adalah sebuah jantung.


Kejadian itu hanya sebentar sebelum tangan itu seolah kembali masuk ke dadanya. Dan pandangannya pun langsung gelap.


Votus mati seketika tanpa dia sadari apa yang terjadi padanya.