ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Awasi Punggungmu


Kenneth dan seluruh ketua sekte itu kini bisa memaklumi kenapa Kelang menjadi sedikit lebih lama dari waktu yang sudah di sepakati. Apalagi kenneth menjelaskan bahwa Arya memiliki pemikiran yang rumit.


Sudah menjadi rahasia umum saat Dray membocorkan rahasia prihal Arya menyembuhkan Edward. Keterangan dari Kenneth ini bisa meyakinkan semua ketua itu agar menunda penyerangan hingga Kelang tiba.


"Jadi, tuan Kenneth. Dari yang ku dengar, pemuda yang kalian panggil Master Alchemist ini, punya kemampuan untuk memberikan perbedaan pada kekuatan sebuah Negara. Lalu, kenapa dia berada di sini? Bukankah sebaiknya dia di kota Barus dan menemui Maharaja kerajaan ini. Dengan begitu, Maharaja pasti tidak akan berfikir panjang untuk memenuhi segala permintaanya. Bukankah ini cukup aneh?"


Pertanyaan beruntun pada Kenneth itu, mewakili seluruh ketua yang lainnya. Namun, Daga dan Kenneth hanya tersenyum menanggapinya.


"Nyai Anjaran. Setiap orang punya ambisinya sendiri-sendiri. Master ini, sepertinya sudah tau perkembangan dunia. Pakaiannya, tidak seperti penduduk Daratan ini. Itu lebih mirip dengan pakaian bangsawan dari Benua kami. Jika negosiasi mereka berjalan lancar, aku rasa Tuan Kelang sekarang sudah tau apa yang di inginkan pemuda tersebut."


Kata-kata Kenneth sontak merubah wajah seluruh orang yang ada di dalam tenda itu. Masalahnya, mereka mengetahui tabiat Kelang.


"Daga, kenapa tidak kau saja yang mengurus urusan penting seperti ini? Kau tau sendiri, bagaimana Ketua mu itu."


"Ki Sapu Jagad. Aku mengerti apa yang membuat kalian berfikir seperti itu. Tapi, bertemu dengan serikat Oldenbar tak kalah pentingnya. Lagipula, aku tidak yakin Darmuraji tidak mengetahui pergerakan kita. Ingat ... Dia adalah kakak Maharaja kerajaan ini, tidak mungkin sekali dia akan diam saja setelah mengetahuinya. Sekarang saja, aku rasa sudah banyak pendekar yang di undangnya di Basaka. Itu kenapa kami meminta kalian bergabung dalam gerakan ini."


Kenneth menyetujui pendapat Daga. Hanya orang bodoh yang berani meremehkan pihak kerajaan apalagi yang saat ini akan mereka hadapi adalah Darmuraji. Lagipula Rantoba yang selalu bersamanya juga tidak bisa diremehkan. Itulah kenapa, saat ini bukan Edward yang berada di sini.


"Benar kata Tuan Daga. Sepertinya kalian tidak perlu cemas. Master Arya tidak akan bertindak gegabah. Meski masih muda, dia sangat berwawasan. Aku rasa semua tidak akan menjadi buruk, kecuali Sekte Tanah Hitam memang berniat buruk padanya atau, Kelang memiliki urusan lain di masa lalu dengannya hingga dia tidak membuka pintu untuk bernegosiasi ... "


Penjelasan Kenneth kali ini sangat meyakinkan. Meski Kelang sangat ceroboh tidak mungkin pernah berurusan dengan pemuda itu. Apalagi saat ini dia masih sangat muda.


Akhirnya mereka memutuskan untuk memilih menunggu sedikit lebih lama.


Sementara itu, di Basaka, Edward juga baru saja tiba. Pemimpin tertinggi serikat Oldenbar itu tidak ke markas besar melainkan langsung menuju pusat kota. Tempat dimana kediaman Arya dan para pengawalnya.


Kedatangannya di sambut Luna dan kedua gadis lainnya. Edward sempat mengedarkan pandangannya untuk memastikan sesuatu. Namun, Luna yang mengerti maksudnya, langsung menyela.


"Ya. Tuan Muda di bawa Kelang. Kau pasti sudah mendengarnya, bukan?"


Saat ini, mereka sedang berada di lantai tiga restoran keluarga Bai milik Bai Hua.


Edward mengernyit keheranan karena melihat Luna, mengatakan itu seolah hal biasa. "Nona Luna, sepertinya kalian tidak mencemaskan Tuan Muda kalian sama sekali, apakah kalian memiliki rencana?"


Ketiga gadis yang ada di depannya hanya tersenyum seolah meremehkan pertanyaannya.


"Tuan Edward. Tuan Muda bukan di culik, Kelang membawa nya dengan cara baik-baik. Tidak ada alasan bagi kami untuk mencemaskannya."


"Ya. Lagipula, tidak ada yang harus kami cemaskan. Kelang dan Sekte nya tidak akan bisa membahayakan Tuan Muda." Tambah Bai Hua.


Tenang dan penuh misteri seperti biasanya. Tapi Edward tetap tidak bisa terbiasa menghadapi mereka.


"Maksud kalian, Sekte Tanah Hitam tak bisa mengancam Master Arya? Begitu?"


Ketiganya mengangguk serentak. Hal itu semakin membuat Edward penasaran.


"Tuan Edward. Menurutmu, kenapa Tuan Muda mau ikut begitu saja. Apakah karena takut?" Tanya Luna.


"Apakah kau merasa Kelang dan Sektenya, lebih menakutkan dari mu juga serikat Oldenbar, atau Darmuraji dengan statusnya sebagai Raja Daratan ini, sehingga Tuan Muda ikut dengan terpaksa?"


Mata Edward melebar. Tentu saja menurutnya Arya tidak akan terintimidasi dengan Kelang. Pasti ada sesuatu yang membuat pemuda itu mau ikut begitu saja saat Kelang membawanya.


"Tidak! ... Aku tidak berfikir demikian. Hanya saja, Kelang adalah tipe manusia yang ceroboh dan tidak tau apa yang dilakukannya. Itu membuatku sedikit cemas bahwa karena kebodohannya itu, dia dengan konyolnya mencelakai Master Arya."


Ketiganya tertawa serentak. Seolah apa yang dikatakan Edward pada mereka adalah lelucon yang sangat lucu hingga bisa membuat mereka tertawa dengan lepasnya seperti itu.


"Tuan Edward. Jika memang benar begitu, aku rasa sekarang Sekte Tanah Hitam sudah punah!"


"Hahahahah ... !"


Kata-kata Luna membuat keduanya kembali tertawa. Dan Edward, tentu saja terperangah. Menurutnya ini tidak lucu lagi.


"Nona-nona sekalian. Aku kesini tidak untuk di tertawakan seperti ini. Tapi sepertinya kalian sudah melewati batas." Ingat Edward pada mereka.


"Maaf Tuan Edaward. Tapi ini benar-benar lucu sekali." Jawab Ciel tanoa memperdulikan raut wajah Edward yang memerah.


"Ya. Maafkan kelancangan kami. Tapi, sepertinya kau melupakan sesuatu."


Tak lama setelah Luna mengatakan itu, tawa mereka mereda. Namun, tetap saja itu tak membuat Edward merasa lebih baik.


Daga memang licin dan Darmuraji sangat licik. Tapi, ketiga gadis ini, luar biasa sulitnya untuk di hadapi. Edward terpaksa menahan amarahnya menunggu ketiganya menjelaskan.


"Tuan Edward. Silahkan kau pikirkan kembali kata-katamu tadi. Apakah Tuan Muda kami akan diam saja dengan seluruh pergerakan yang kini kalian lakukan. Sementara kami menyadari bahwa semua ini bermula dari kemunculan Tuan Muda. Bukankah itu sedikit Naif?"


Tentu saja Edward tidak menyederhanakan pemikiran Arya. Karena sejak awal dialah orang paling di waspadai Edward pergerakannya.


Akan tetapi, sebanyak orang yang telah dikirim Edward untuk memata-matai mereka, sebanyak itu pula Edward mendapatkan laporan yang tidak berguna.


Bahkan, Edward tidak memiliki informasi bagaimana cara Arya berkomunikasi dengan pihak lainnya, jika memang ada kelompok kuat yang ada di belakangnya.


Laporan yang dia terima terkait Arya, hanyalah tentang pemuda itu hanya bermain-main dengan dua peliharaanya di waktu senggangnya sambil membaca banyak buku.


"Aku tidak akan bertele-tele lagi. Sebenarnya apa tujuan kalian ke Basaka?"


Ketiganya langsung terdiam dan memasang wajah serius. Luna langsung berdiri dan menatap tajam pada Edward.


"Tuan Edward. Kau tentu sudah mendengar bahwa Tuan Muda menginginkan Daratan ini. Jadi, kau kesini tidak hanya ingin tau apa pergerakan kami bukan? Masalahnya, kau terlalu sibuk memikirkan. Kami, Sekte aliran Hitam, dan pihak Kerajaan. Hingga kau melupakan hal yang sangat penting bagimu."


Belum sempat Edward menjawab. Ciel langsung menyela. "Tuan Edward. Kau terlalu banyak melihat ke depan. Tapi, tidak. Mengawasi punggungmu sendiri."


Perasaan Edward berubah tidak enak. Dia tau gadis-gadis ini tidak akan berbicara seperti ini jika tidak mengetahui sesuai terkait dirinya ataupun serikat Oldenbar.


"Apa maksud kalian? Dan kenapa aku harus mengawasi punggung ku?"


Entah mengapa saat menanyakan hal tersebut, Edward menjadi sangat cemas.


"Yah, selagi kau di sini, dan seluruh pasukanmu berada di lembah itu dan sebagiannya lagi baru saja tiba. Berapa orang sekarang yang tersisa di pegunungan Singa Emas? Seratus? Dua Ratus?"


Mata Edward terbelalak. Dengan seluruh kejadian yang tengah berlangsung, dia melupakan hal yang penting. Secara tidak sadar, hampir seluruh kekuatan Oldenbar telah meninggalkan pegunungan Singa Emas. Sekarang, tempat itu sangat rentan untuk di serang.


"Kalian?! ... " Edward kehilangan kata-kata. Saat ini, salah bicara akan berakibat fatal.


"Kau mengira Darsapati akan diam saja saat gunung tempat dimana leluhur mereka memulai semuanya di ambil begitu saja?"