
Belum sempat Wisanggeni Bereaksi karena tubuh Arya yang menyala. Sekarang, tiba-tiba tubuhnya terasa di aliri sebuah energi. Tak lama, tubuhnya menghangat dan beberapa detik berikutnya menjadi panas.
Namun, dia tidak merasa itu membahayakannya. Malah dengan tubuhnya yang sudah tua renta itu, kini dia seolah menjadi sangat kuat.
Tangan Wisanggeni berpendar. Saat di memperhatikan, ada beberapa titik di telapak tangannya menyala terang.
Saat Arya melepas bahunya, tangannya tetap bercahaya merah.
"Paduka ... Tanganku ... !"
"Kakek, lihatlah simbol itu, sekarang seharusnya kau mengerti kenapa tanganmu menyala."
Wisanggeni melihat gambar singa yang mungkin sudah ribuan kali dia lihat. Namun, saat ini gambar itu terasa sedikit berbeda.
Seperti titik-titik di tangannya, tepat di wajah Singa tersebut ada hal serupa. Tanpa aba-aba, Wisanggeni mendekat lalu menempelkan telapak tangannya di sana.
"Bufff ... "
Tiba-tiba hembusan udara keluar dari selah-selah dinding bersamaan dengan menyalanya garis yang membentuk simbol tersebut.
Batu-batu di dinding di depannya itu mulai bergerak. Hingga akhirnya sebuah lorong dengan anak tangga menuju kebawah terbuka di depan mereka.
Arya kembali menyimpan Bahuraksa, dan cahaya ditubuhnya oun padam. Begitu juga yang ada di telapak tangan Wisanggeni.
Arya tersenyum. "Seperti dugaan ku."
Wisanggeni masih dalam keadaan kebingungan. Sekali dia melihat tangannya lalu lorong itu, kemudian kembali ke tangan dan ke lorong itu lagi. Hal tersebut dia lakukan setidaknya lima kali. Namun, tetap tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
"Paduka, lorong apa ini?!"
"Aku juga belum tau, tapi sebaiknya kita masuk saja untuk memastikan."
Keduanya melangkah masuk dan menuruni anak-anak tangga tersebut. Baru beberapa langkah, batu di belakang mereka bergerak, dan kembali menutup lorong.
Sekarang, tangan wisanggeni kembali menyala. Malah tubuhnya seperti berpendar. Lorong yang tiba-tiba gelap itu, kini kembali terang. Karena cahaya ditubuh Keturunan Manggala itu.
"Kakek, sebaiknya kita teruskan."
"Ya, Ya. Aku mengerti."
Keduanya masuk turun kebawah dan masuk semakin dalam.
****
Sementara itu, di pusat kota. Luna dan Ciel di buat kesal oleh ulah Bai Hua.
Pasalnya, gadis itu terus-terusan memamerkan pedang yang dia dapat di saat perang.
"Bagaimana kalian bisa mengetahui pedang ini bisa melakukannya?"
Luna dan Ciel baru mengetahui bahwa pedang yang di dapat cucu Bai Fan dari Moro itu, mampu menyerap energi dan menyimpannya.
Mungkin karena itulah Moro bisa melepas tenaga dalam yang mampu membuat nyali-nyali pendekar suci dan seluruh pasukan aliansi menciut.
Masalahnya, saat pedang itu di tangan Bai Hua, pedang itu bisa bekerja lebih baik lagi. Pedang itu mamou menyerap, menyimpan dan melepaskan energi dari elemen petir milik Bai Hua.
Apalagi, Bai Hua memiliki Prana yang cukup besar. Sementara dia berlatih, Bai Hua bisa menyimpan energinya ke dalam pedang itu.
Terlebih sampai saat ini, belum terlihat sampai dimana pedang itu mampu terus menampungnya. Padahal, ini sudah seminggu sejak pertama kali Bai Hua menyalurkan tenaga pada pedang itu setiap harinya.
Dengan kata lain, Bai Hua bisa menggunakan pedang itu untuk menyimpan energi petir dan Prananya, dan secara tidak langsung, dengan kekuatan Bai Hua, setidaknya pedang itu telah naik level ketingkat Pusaka Langit.
Benar-benar jodoh yang tidak terduga. Saat ini Bai Hua dan pedang tersebut menjadi sangat mengerikan.
"Dasar Gadis gila menyebalkan!" Gerutu Ciel.
Sebenarnya, dengan adanya pedang ini, Luna dan Ciel mengetahui bahwa senjata bisa menyimpan energi. Hal itu telah memberi mereka sebuah gagasan.
Itu kenapa keduanya selalu meminta Bai Hua mengisi tenaga dalam pada pedang itu, agar mereka terus bisa meneliti bagaimana cara kerjanya. Hasilnya, Kedua kakak adik itu memiliki sebuah gagasan dan trobosan baru tentang senjata.
"Sebentar! ... Bukankah pedang ini seharusnya memiliki nama?"
Setelah Bai Hua menanyakan hal tersebut, ketiganya langsung masuk ke pembahasan serius.
Mereka terjebak diskusi panjang dan perdebatan hebat hanya untuk memberikan pedang Bai Hua itu, sebuah nama. Entah kenapa, bagi ketiganya nama sebuah benda begitu berartinya.
Di sisi kota lainnya, tepatnya di gedung serikat petualang, Darius dan Nick terlibat dalam diskusi panjang.
"Tuan Darius, apakah memang sudah begitu keputusan mu?"
"Ya, nick. Bagiku, kata-kata nya adalah perintah. Dan perintah darinya adalah sebuah misi. Sebagai petualang, sekarang inilah misi ku."
Saat pertempuran terjadi, Arya melihat kedatang Darius dan seluruh petualang memberikan dampak yang sangat besar.
Mereka hanya seratus orang lebih, namun dengan taktik yang tepat. Darius bisa langsung menembus pertahanan musuh dengan mudahnya.
Beberapa waktu yang lalu, Arya meminta Darius menjadi ahli strategi sekaligus panglima tertinggi pasukan Daratan Timur. Sebuah jabatan setara dengan penasehat Raja.
Meski itu posisi yang sangat tinggi, Namun, bukan itu yang membuat Darius langsung menyetujuinya. Itu jelas karena Arya yang memintanya.
Bagi Darius sendiri, sebagai petualang, tidak ada keraguan baginya bahwa Arya benar-benar keturunan langsung tokoh yang menginspirasinya menjadi petualang.
Apalagi, dia dengan mata kepalanya sendiri telah menyaksikan langsung dahsyatnya kekuatan Arya. Benar-benar jauh melampaui harapannya.
Sekarang, Arya memintanya menjadi panglima. Tentu saja tidak ada alasan Darius menolaknya. Bahkan jika Arya meminta dia menjadi kacungnya, Darius tetap akan mengikutinya.
"Lalu, bagaimana dengan Serikat ini. Kau tidak bermaksud membubarkannya bukan?"
Tanpa diduga oleh Nick, Darius mengangguk. "Ya, aku akan membubarkannya."
"Hah?! ... Tidak mung—"
Belum sempat Nick menyelesaikan kata-katanya, Darius memotongnya.
"Nick dengar. Aku membubarkan serikat ini, untuk memutus hubungan dengan serikat pusat. Kita akan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih besar."
"Maksudmu?"
"Nick, kau sudah melihat sendiri semangat juang pendekar-pendekar di sini, bukan?"
"Ya. Mereka sangat hebat. Tapi, masih kurang pengalaman."
"Nah, itu maksudku."
Nick menggaruk kepalanya. Meski dia dan seluruh petualang juga sama menghormati Arya sebagaimana Darius menghormatinya. Tapi, Darius sendiri saat ini, sudah sangat jauh berubah.
"Nick, dengan persetujuannya, kita akan membuat pendekar-pendekar berpotensi di Daratan ini, menjadi prajurit-prajurit hebat."
"Tuan Darius, jelaskan maksudmu."
"Sebuah Akademi militer. Ya, kita akan mengubah serikat ini, menjadi tempat dimana pendekar-pendekar di Daratan ini, memiliki dukungan kemampuan tempur."
Setelah menerima permintaan Arya yang dianggapnya sebuah misi besar itu, Darius benar-benar memaksa kinerja otaknya agar bisa memenuhi harapan Arya.
Lalu, sebuah gagasan tentang Akademi militer terlintas di kepalanya. Sebuah tempat yang akan melatih para prajurit untuk memiliki kemampuan tempur berkelompok, mata-mata, dan tentu saja kemampuan daya jelajah tinggi seperti para petualang.
Darius benar-benar berniat mendirikan pangkalan militer kuat di setiap kota dan pelabuhan yang ada di Daratan Timur ini.
Agar ke depan, tidak ada lagi yang bisa masuk untuk mengacaukan Daratan Timur, yang sejak saat ini sudah mereka anggap sebagai, Rumah dan kampung halaman, mereka sendiri.