
Seminggu berlalu. Setelah melakukan persiapan, Arya dan yang lainnya mulai bergerak.
Dua Sultan kembali ke negerinya dan dan akan menyusul setelah mengumpulkan kekuatan.
Luna mengatakan, tidak perlu banyak pendekar. Hanya pendekar suci saja yang diperbolehkan untuk ikut.
Selama di sana, mereka sudah mengetahui betapa jauhnya perbedaan kekuatan antara Daratan Timur di mana Arya berasal dengan Daratan Barat. Di sini, setidaknya ada dua puluh bahkan seratus pendekar Suci di setiap sekte kecil hingga besar.
Kebijakan Arya untuk benar-benar memperkuat Daratan Timur, terasa sangat benar. Apalagi, Arya menutupi kekurangan lainnya. Raja Daratan Timur itu menitik beratkan perkembangan untuk menghapuskan kebodohan.
Arya ingin, penduduk Daratan Timur tidak hanya kuat, namun juga pintar. Dua kombinasi yang membuat mereka akan mampu mengalahkan musuh, meski musuh itu setingkat di atas mereka.
Di kelompok Arya, ada Rangkupala dan Citra Ayu. Namun, beberapa pendekar lepas juga ikut, untuk membantu.
Mereka semua berada di bawah komando Rangkupala. Jumlah pendekar-pendekar itu saat ini, setidaknya lima puluh orang dan semuanya pendekar Suci tingkat pertama dan yang tertinggi, adalah tingkat lima.
Untuk mengumpulkan informasi, Mereka semua di perintahkan Rangkupala untuk menyebar dan menyusup ke tiga kota besar di negeri Jampa.
Akan tetapi, Arya dan yang lainnya langsung menuju kota terdekat dari mereka saat ini, yaitu kota Pinang Merah.
Citra Ayu baru kali ini terasa begitu lemah. Mengikuti kecepatan yang lainnya, membuat level kependekarannya seolah tidak ada artinya.
Putri Karpatandanu itu, sudah mengerahkan tenaga dalamnya, namun masih jauh tertinggal jika Arya tidak mengimbanginya dari belakang.
Sebenarnya, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui bahwa yang melemparkan empat pendekar ranah bumi hingga jatuh ketanah, adalah Arya.
Mereka menganggap bahwa salah satu atau ketiga gadis yang berada di depanlah yang melakukannya. Sehingga, saat ini Citra Ayu sedikit heran saat Arya bisa mengimbanginya, meskipun mereka saat ini berada paling belakang.
"Ilmu yang kau pelajari, tidak sesuai dengan kondisi tubuhmu. Jadi, saat kau menggunakannya untuk berlari, itu akan terlalu membebani kakimu."
Citra Ayu yang merasa Arya tengah meremehkan Ilmu meringankan tubuh Sekte Lubuk Bebuai yang dipelajarinya dari Lindu Ara itu, memaksakan diri untuk mencoba meninggalkan pemuda yang sejak tadi berada di sampingnya, dan terus menceramahinya itu.
"Nona, Apakah kita tidak menunggu, mereka? Sepertinya Citra Ayu begitu kesusahan untuk mengejar."
"Tuan, Biarkan saja Arya yang menjaganya. Dia tau apa yang akan dilakukannya."
Rangkupala sedikit khawatir. Melihat tempramen Arya yang mampu menjatuhkannya dalam sekali pukulan, dia takut Citra Ayu berkata kasar yang akan membuat hidup gadis itu dalam bahaya.
Bagaimanapun, seorang pemuda yang tidak mengenal Cinta, sangat berbahaya bagi wanita. Bisa saja Arya membunuh gadis itu dan meninggalkannya di tengah hutan begitu saja.
Jika benar begitu, dia tidak tau apa yang akan dia katakan pada Guru Citra Ayu, Lindu Ara, saat mereka berjumpa.
Arya terus mensejajari Citra Ayu. Kali ini, mereka melompat dari pohon ke pohon, antara dahan satu ke dahan lainnya. Selama itu pula, Arya memperhatikan Citra Ayu lekat.
"Cobalah menarik nafas setiap lima lompatan, dan melepasnya di lima lompatan berikutnya, itu akan mengurangi beban di dadamu."
Dua lompatan berikutnya, tiba-tiba Citra Ayu berhenti dan menatap Arya tajam. Lompatan berikutnya, Arya pun berhenti dan berbalik, heran.
"Ada apa? Kenapa kau berhenti?."
"Tuan, kau sudah memiliki tiga wanita. Kenapa kau terus memperhatikan punyaku? Ukurannya memang sudah segini, tapi aku tidak pernah merasakan ini sebagai beban." Seru Citra Ayu, kesal.
Ternyata, apa yang dikatakan Arya, salah dimengerti oleh Citra Ayu. Gadis itu merasa pemuda yang berada di depannya itu, memperhatikan kedua gunung miliknya.
Itu membuatnya kesal, meski dia merasa Arya tampan dan menawan, Tapi mengatakan hal seperti itu pada seorang gadis, sangat membuat citra Ayu kesal.
"Mereka bertiga, memiliki susunan Cakra yang berbeda. Saat ini, jika memang harus, mereka bisa terus menggunakan ilmu meringankan tubuh selama lima hari tanpa berhenti. Tapi, lihat dirimu. Dadamu sudah sesak, hanya tiga jam setelah menggunakannya. Itu karena cara bernafasmu, tidak sesuai dengan sususan cakramu dan tenaga dalammu membebani kaki dan nafasmu."
Penjelasan Arya itu, membuat Citra Ayu melongo. Dia melupakan bahwa Arya memiliki ilmu penyembuhan tingkat tinggi. Tentu saja pemuda itu bisa mengetahui hal-hal seperti ini dengan mudah.
Masalahnya, saat itu Arya memperhatikan bagian tubuhnya dengan sedikit, lekat. Jadi, gadis itu berfikir Arya hanyalah pemuda mata keranjang yang mencoba mengganggunya.
Mengingat apa yang baru saja dia sampaikan pada Arya, wajahnya langsung memerah. Bahkan, mungkin saja saat ini pemuda itu, tidak tertarik sama sekali dengannya. "Aish, apa yang kupikirkan?" Batinnya.
"Nona, percaya padaku. Bernafaslah setiap lima lompatan, aliran cakramu akan stabil dan akan memberikan tenaga dalam yang banyak pada tubuhmu itu, sehingga kau bisa bergerak lebih cepat, dalam jangka waktu yang lebih lama."
Setelah mengatakan itu, Arya berbalik dan mulai meninggalkannya. "Gadis ini sedikit, aneh." Batin Arya.
Citra Ayu sedikit terkejut saat Arya meninggalkannya. Bisa-bisa dia kehilangan jejak, lalu tersesat.
Gadis itu, mulai kembali melompat dengan teknik meringankan tubuhnya. Namun, saat itu dia berfikir untuk mencoba saran dari Arya.
"Tarik nafas setiap lima lompatan, dan lepaskan setiap lima lompatan." itulah yang dia ingat saat Arya menjelaskannya.
Tak berapa lama, Citra Ayu merasakan perbedaannya. Kini, tubuhnya terasa lebih ringan dan kakinya tidak terlalu terasa terbebani.
Hebatnya lagi, dia sekarang bisa melaju sedikit lebih cepat, padahal saat itu, di belum mengerahkan tenaga dalamnya seperti tadi.
Tak lama, dia melihat Arya dan segera mengejarnya. Saat itu, pikirannya segera berubah. Gadis itu merasa Arya begitu di hormati wanita-wanitanya, karena wawasannya.
"Sungguh Tak kusangka, tiga wanita setinggi awan, di bawah langit nan rupawan."
Saat dia berhasil mensejajari Arya, gadis itu sedikit merasa canggung. Namun, di tetap melesat dengan cepat.
"Sepertinya kau sangat pintar dan cepat belajar."
Mendengar kata-kata Arya yang seperti pujian itu, membuat hidung Citra Ayu sedikit mengembang.
"Tuan yang dermawan, Tuan sungguh berwawasan. Karena tidak berlaku sopan, pinta dan maaf aku ucapkan."
Arya hanya mengangguk. "Baiklah, aku rasa kita sudah jauh tertinggal. Gunakan tenaga dalammu, agar bisa lebih cepat lagi."
Citra Ayu mengangguk "Baiklah."
Baru beberapa lompatan, Arya kembali bertanya. "Sekarang, bagaimana dadamu? Pasti bebannya sudah tidak membuatmu sesak, bukan?"
"Hah?! ... Beban Dadaku?"
Saat itu juga Citra Ayu sedikit menoleh kebawah. Namun, karena pertanyaan Arya itu, dia jadi mengingat lagi apa yang dia katakan sebelumnya. tiba-tiba pikirannya sedikit buyar.
"Seeet ... "
"Braaakkkk ... "
Pada lompatan terakhir, Citra Ayu tergelincir dan kehilangan kendali atas tubuhnya.
Gadis itu terjatuh setelah sempat menabrak dan mematahkan ranting-ranting kecil, lalu terguling-guling di tanah sebelum akhirnya menghilang di semak-semak.
"Aku tidak apa-apa ... sungguh, aku tidak apa-apa!" Teriaknya dari sana.