ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Iblis Dari Neraka


Saat Arya pergi dari hadapan mereka, Patih negeri Ambang dan Pangeran Ketiga kerajaan Swarna, Rangkupala langsung membuat rencana.


Saat Rentangjala mencari informasi tentang Citra Ayu, dia mendapatkan informasi yang sangat mengejutkannya.


Inti Tanah hilang sekte Lubuk Bebuai lah yang mencurinya. Berita itu sungguh sangat terlambat untuk diketahui. Sebagai patih dari salah satu Negeri di Daratan Barat, tentu saja dia mengetahui tentang inti Tanah.


Pusaka itu dipercaya memiliki kekuatan yang bisa membuat siapapun yang mampu menguasainya, memiliki kekuatan yang berpotensi menciptakan gempa.


Masalahnya setelah ribuan tahun, tidak ada satupun orang yang mampu mengurai dan mencari tahu bagaimana cara menguasainya.


Dipercaya bahwa Inti Tanah sudah tersegel oleh segel yang tak biasa. Dari banyaknya ilmu yang ada di dunia, Alchemist lah yang mungkin bisa.


Lubuk Bebuai, bukan Sekte biasa. Meski hanya di isi oleh wanita, Sekte itu bisa dikatakan yang terkuat di Daratan Barat ini. Itu terkait dengan bagaimana kemapuan tingkat tinggi mereka menguasai elemen tanah.


Hampir semua orang percaya bahwa Inti Tanah sangat terkait dengan Sekte tersebut. Itu kenapa saat inti Tanah hilang dari istana Malka, sekte itulah yang paling di curigai.


Hanya saja setelah sekian lama, kenapa Sekte itu baru melakukannya sekarang. itu adalah tanda tanya besarnya.


Rangkupala berfikir sangat keras dalam merangkai banyak kejadian, yang baru saja dia terima.


Berbicara tentang segel, pemuda yang tidak memilki tenaga dalam itu, jelas sangat menguasainya. Mengingat bahwa Citra Ayu sekarang bersamanya, ada kemungkinan Sekte Lubuk Bebuai sengaja mengutus Citra Ayu untuk menjemputnya.


Hanya saja, Rangkupala sampai saat ini tidak pernah mengetahui bahwa di kerajaan Swarna, ada Sekte atau seseorang yang sangat hebat dalam Ilmu Alchemist.


Akan tetapi, saat ini mereka tidak mau berandai-andai. Kehadiran prajurit dan pendekar dari kota Barus saat ini, juga membuat tanda tanya baru. Kenapa bukan istana Malka yang berusaha memburu Citra Ayu, melainkan istana Barus.


"Rentangjala, persiapkan orang-orangmu. Aku akan memastikan Citra Ayu. Terlebih dahulu."


Baru saja Rentangjala hendak menerima perintah itu, Citra Ayu sudah berdiri di sana.


"Tidak perlu. Aku di sini!"


"Citra Ayu. Apa yang kau dan sektemu, rencanakan?"


Citra Ayu memberi Hormat pada Rangkupala, dia benar-benar terkejut saat Arya memberitahunya identitas sebenarnya penjaga penginapan Kebojalang ini.


Namun, dia mengikuti kata Arya bahwa selama mereka pergi, Citra Ayu harus berlindung pada pendekar yang melegenda itu dan menceritakan semua yang terjadi tanpa dikurang atau ditambah sedikitpun.


Sekarang, saat matahari baru saja terbit, di tengah kota, terjadi kehebohan. Tentu saja itu menarik perhatian semua orang. Apalagi saat ini mereka melihat sekitar dua puluh pendekar suci tingkat empat dan dua tingkat sembilan sedang bertarung melawan pendekar yang kini mereka ketahui sebagai Jemba si Kebojalang.


Tidak sulit baginya untuk menemukan orang-orang ini. Karena, mereka sama sekali tidak mencoba menutupi diri mereka.


Sebagai seorang pendekar, dia tentu merasa bahwa pergerakan apapun yang dilakukan oleh utusan dari Barus ini, bukanlah pergerakan sederhana.


Rentangjala hendak membantu, tapi Rangkupala melarangnya. Mengingat pendekar-pendekar yang kini dia hadapi utusan Barus, bisa saja hal tersebut akan berdampak pada Negeri Ambang di masa depan.


Akan tetapi, dia adalah Rangkupala, Barus bahkan Maharaja sekalipun tidak akan membuatnya gentar. Hanya saja, dia tidak yakin bahwa ini adalah pergerakan dari kakaknya.


"Kalian, tentu sudah tau siapa aku sebenarnya. Tapi, melihat bagaimana kalian tetap berani menyerangku, sudah bisa aku pastikan bahwa Barus tidak lagi sama."


"Tuanku Rangkupala, siapa pendekar di Daratan Utara yang tak mengenal Tuan. Tapi, Tuanku telah melepas beban. Tidak berhak mengambil peran." Jawab salah satu pendekar suci tingkat sembilan itu, meremehkan.


Baginya, Rangkupala hanyalah pangeran hilang. Zaman sudah berganti dan tidak ada alasan bagi mereka untuk begitu menghormati Rangkupala lagi.


"Tuanku, serahkan Citra Ayu. Maka kami akan pergi."


Rangkupala menggeleng. "Jika kalian mampu, maka bawalah."


"Jangan salahkan kami, jika Tuanku mati dan Kota ini hancur hari ini."


Di lihat darimanapun, mereka tak akan bisa memenangkan pertarungan dengan Rangkupala. Tapi, kepercayaan diri mereka begitu tinggi.


"Jadi, begitu. Air menyala air sudah terjerang. Kalian tentu tak sedikit, karena berniat untuk menyerang."


Setelah mengatakan itu, Rangkupala mencabut pedangnya. Aura yang kuat langsung menyeruak dan menekan semua orang di sana. Tak menunggu lama, pendekar itu langsung menyerang.


Pendekar suci dari barus segera siaga. Namun sayang sekali, legenda bukanlah isapan jempol belaka. Kebojalang sudah berdiri di depan dua pendekar suci tingkat sembilan itu.


"Jika engkau hendak menyerang, hendaklah dulu mengukur bayang. Ilmu rendah akalpun lemah, baiknya engkau tidur dirumah."


"Booom ... !"


"Booom ... !"


Rangkupala bahkan hanya menghempas kan sisi pedangnya pada kedua orang itu. Namun, dengan tenaga dalam yang dimilikinya, kedua tubuh pendekar itu pecah.


Pendekar suci lainnya yang melihat, langsung menelan ludah. Ini terlalu cepat dari apa yang mereka rencanakan. bahkan pasukan yang sedang mereka tunggu, belum datang tapi dua pemimpin mereka sudah mati.


Rangkupla tidak bertanya, saat dia melihat sisa pendekar suci lainnya mencuri-curi pandang ke satu arah, dia langsung mengetahui dari mana pasukan itu akan datang.


"Rentangjala, tolong kau selesaikan sisanya.!"


Setelah mengatakan itu, Rangkupala langsung melesat pergi ke tempat yang dia duga di mana sisa pendekar-pendekar yang dia yakini akan menyerang kotanya.


"Surma! Durma! Dan kalian semua, ini bukan masalah biasa. Selesaikan yang di sini setelah itu ikuti kemana kami pergi."


Rentangjala juga sudah tau kenapa Rangkupala langsung pergi begitu saja. Melihat bagaimana begitu percaya dirinya orang-orang ini, Pasti di sana ada pasukan yang menantinya.


Surma dan Durma melupakan pertikaian mereka, dan langsung mematuhi perintah gurunya itu. Keduanya melesat pada pendekar suci tersebut.


Ini pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, kembar siam itu, bertarung bersama.


Pendekar lain tak mau ketinggalan. Beberapa anak sultan ikut membantu. Termasuk Sri Ratna Sari, gadis itu menggunakan kesempatan ini, untuk menguji kehebatan pedang barunya.


Alhasil, pertarungan menjadi sangat mudah. Para pendekar-pendekar itu, menjadi bulan-bulanan para penerus Sultan.


***


Di balik bukit di sebelah kota Palas, terjadi pemandangan yang begitu mengerikan. Tiga ratus pendekar suci dari Barus seolah sedang menghadapi tiga pendekar aneh, yang entah dari mana datangnya.


"Buat posisi bertahan, mereka bukan manusia! ... "


"Melingkar ... !"


"Argh ... !"


"Argh ... !"


Pedang mereka menebas setiap pendekar yang mereka lalui. saat mereka mencoba mengelak, sebuah godam menghantam tanah dan membuat kuda-kuda mereka goyah.


Pedang lainnya datang dengan kecepatan yang sangat gila. sama sekali tidak ada pertahanan, musuh mereka ini benar-benar hanya berniat menyerang.


Mereka panik karena bagaimanapun mereka menyerangnya, tiga orang itu selalu balas menyerang. Tak terhitung luka sabetan pedang yang sudah mereka layangkan, tapi musuh tak juga tumbang.


Saat hari semakin terang, Mereka semakin ketakutan saat menyadari tiga orang yang sejak tadi mengacak-acak pasukan mereka itu hanyalah tiga orang wanita.


Tiga melawan Tiga Ratus. Satu pendekar ahli dan dua pendekar Raja. saat ini, Tiga ratus pendekar suci itu, meragukan level kependekaran mereka sendiri.


Serangan berhenti. Tiga wanita itu berdiri di hadapan mereka dengan luka sudah memenuhi tubuh yang sudah bersimbah darah.


Akan tetapi, tatapan itu bukan tatapan menyerah. ketiganya menatap tajam, seolah tiga ratus pendekar suci itu, hanyalah mangsa yang lemah.


Seringai dari ketiganya, membuat Tiga ratus pendekar suci itu berfikir bahwa lawan mereka saat ini, benar-benar bukan manusia. Saking menyeramkannya, mereka merasa yang sekarang mereka hadapi adalah, tiga iblis wanita dari neraka.