ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pengangkut


" Tuan Muda. Sepertinya nasib baik berpihak pada anda "


Bajra menyambut kedatangan Arya bersama Hattala dan beberapa orang yang dikirim Bajra sebelumnya di kediamannya.


" Maksud paman, Aku sudah bisa memasuki tempat itu? "


Bajra menggelengkan kepalanya namun senyum tetap tersungging di wajahnya " Duduk dulu. Saya akan akan memberi tahu anda detilnya seperti apa "


Arya mengikuti tawaran Bajra dan langsung duduk. Hattala juga ikut duduk bersama mereka.


" Aku sudah mendengar dari mereka kejadian tidak lama ini " Bajra menunjuk prajurit yang masih berdiri di belakang Arya.  " Mungkin telah terjadi kesalahfahaman antara kalian. Perkenalkan. Ini, Tuan Muda Hattala " Bajra menunjukk pada Hattala.


" Ya. Aku rasa itu hanya karena kita belum saling mengenal " sambut Hattala.


Arya hanya melirik pada Hattala sebentar lalu kembali menatap pada Bajra " Paman, jelaskan tentang nasib baik yang paman maksud! "


" Begini. " Bajra mencoba memberi penjelasan "  Saat saya sedang mencari beberapa informasi agar bisa membuat anda masuk ke lokasi ledakan, akhirnya saya bertemu dengan Tuan Muda Hattala ini. Dia akan membantu kita untuk memuluskan rencana ini. "


" Oh begitu? Baiklah! " kali ini Arya menoleh pada Hattala " Bisa kau jelaskan bagaimana aku bisa masuk kesana tanpa membuat keributan? "


Hattala sedikit kurang senang mendengar bagaimana Arya berbicara padanya. Baru kali ini ada orang selain keluarganya memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan Muda. Namun dia menyembunyikan ekspresi tidak senangnya itu. " Tentu saja. Di kota ini hanya aku yang bisa membantu rencana kalian " tak langsung mejawab, Hattala malah terlihat sedang menjnggikan dirinya.


Melihat tidak ada ekspresi keterkejutan dari Arya membuat Hattala sedikit canggung. " Ehem ... " Hattala berdeham sebelum mulai bersuara kembali.


" Tuan Muda. Aku tidak tau siapa dirimu. Tapi jika kau ingin memasuki gedung itu, memang tidak ada cara lain bagimu selain izin dari Walikota " 


Saat Arya hendak mengatakan sesuatu, Hattala mengangkat tangannya tanda ingin melanjutkan.


" Sebentar! Aku tau apa yang ingin kau katakan. Jadi biarkan aku menyelesaikan penjelasan ku " kata Hattala lalu menurunkan kembali tangannya " Ada sebab kenapa Ki Bajra mengatakan Nasib baik berpihak padamu. "


Melihat penjelasan Hattala yang bertele-tele, Arya langsung menaruh dua siling emas di atas meja. " Langsung saja jelaskan padaku! "


Tidak seperti Prajurit dan Bajra saat melihat siling itu untuk pertama kalinya, Hattala berhasil menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa " hahaha! Seperti kata Ki Bajra, kau memang mudah mengerti situasi " kata Bajra sambil mengambil siling itu.


" Tak usah menggigitnya! "


Hattala tercenung saat mendengar Arya mengatakan hal itu. Niatnya untuk memastikan keaslian emas itu terhenti, lalu menoleh pada Arya " Maafkan aku. Sudah kebiasaan. Haha ... Haha ... Haha "


Menyadari tak ada satupun yang ikut tertawa setelah mendengar tawa canggungnya itu, Hattala langsung memasang wajah datar.


" Baiklah, aku tidak akan berbasa basi lagi " wajah Hattala berubah serius " Saat di balai kota, aku mendengar pamanku sedang berbicara dengan seseorang di ruangannya. Sepertinya dia akan meninggalkan kota ini dalam beberapa hari kedepan ... "


Mulailah Hattala menjelaskan jika di kota ini tidak ada Walikota, bisa di katakan semua orang akan mengikuti kata-katanya. Jadi akan mudah baginya untuk memasukkan Arya ke lokasi ledakan. Namun, selama itu Arya harus menunggu sedikit lebih lama.


Hattala juga menjelaskan, di dalam tempat itu terlalu banyak rahasia yang bahkan dia sendiripun tidak mengerti tentang apa yang dikerjakan oleh orang-orang asing itu di dalam sana.


Arya cukup puas dengan penjelasan Hattala. Setidaknya Hattala menambahkan beberapa informasi penting di dalam penjelasan.


Setelah menolak ajakan Bajra dan Hattala untuk makan malam bersama, Arya meninggalkan kediaman Bajra dan memilih kembali ke penginapan Bulan Fajar.


Sesampainya di depan penginapan, Arya melihat beberapa orang asing terlihat seperti sedang menunggu. Arya mengabaikan itu sampai seseorang berteriak memanggilnya.


" Hei, Kau! "


" Ya, Kau! ... Kemarilah " Panggil orang asing itu sedikit tidak sopan.


Arya hanya terdiam heran. Dia belum pernah berurusan dengan orang-orang ini sebelumnya. Tentu saja Arya tidak tau apapun tentang keperluan mereka dengannya.


" Cepatlah, kemari. Kami tidak punya banyak waktu lagi! "


Arya merasa sedikit penasaran dengan maksud mereka, berjalan mendekat. Saat sudah sedikit lebih dekat, beberapa tas dan perlengkapan dilemparkan tepat di depannya.


" Bawa barang-barang itu! Kami kekurangan pengangkut malam ini!


Penjaga pintu penginapan yang sebelumnya hanya memperhatikan saja karena mengira Arya mengenal mereka, kini berlari mendekat sedikit panik . " Tuan-tuan! Sepertinya kalian salah faham. Orang ini— "


" Ah sudahlah! Aku tau dia lemah! Tapi kami perlu pengangkut malam ini! Aku tetap akan membayar! " kata pria yang berbadan tegap dan memiliki tinggi hampir dua meter memotong perkataan penjaga.


" Kami akan membayar lebih jika dia mau menjadikan kera dan anjingnya ini sebagai umpan. Kami akan memburu Benggala malam ini. Hahahahaha! " timpa pria lainnya.


Tawa itu di ikuti seluruh orang yang ada di sana, kecuali beberapa orang yang tengah menyandang banyak barang di tubuh mereka.


" Sudah! Bergabunglah dengan teman-temanmu. Kita berangkat " lelaki berbadan tegap itu menyuruh Arya bergabung dengan para pengangkut lainnya dan mengikuti mereka.


" Tuan Muda. Sebentar! aku akan memanggil Nona Sekar " kata penjaga itu segera berbalik namun Arya menahannya.


" Tidak apa-apa. Lagipula malam ini aku juga ingin masuk ke hutan " jawab Arya dengan tenang.


" Tapi ... "


Penjaga pintu itu tidak melanjutkan perkataannya karena Arya sudah berjalan  mendekati beberapa pengangkut lainnya.


" Aku tetap harus mengatakan hal ini pada Nona Sekar! " putus penjaga itu dan segera berlari memasuki penginapan.


Meskipun sedikit tersinggung dengan ucapan orang-orang asing itu, Arya lebih penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan di dalam hutan.


Arya sedikit tersenyum saat mengingat Ciel pernah menyangka dia adalah seorang pengangkut. Dan sekarang dia benar-benar menjadi seorang pengangkut.


" Anak muda! Ini pekerjaan berbahaya. Meskipun kau perlu uang, seharusnya kau menolaknya saja tadi! " berkata seorang pria paruh baya yang berjalan di sebelahnya.


" Kami melihat kau sama sekali tidak memiliki tenaga dalam. Bagaimana kau bisa berlari atau menyelamatkan diri saat keadaan menjadi berbahaya nanti? " Orang lainnya menambahkan.


" Hoii! Cepatlah orang-orang bodoh. Kalian membuat kami sangat terlambat! " Teriak pria berbadan kekar pada mereka.


"Jika kami tak mendapatkan apapun malam ini. Maka, kami tidak akan membayar kalian! " tambah yang lainnya.


Mendengar itu para pengangkut itu mempercepat langkah mereka. Dengan beban yang berat yang mereka bawa, seharusnya sangat sulit sekali bagi mereka mengikuti langkah para pemburu yang bisa dikatakan tidak membawa apapun itu.


" Cepatlah jangan sampai tertinggal. Aku dengar kelompok ini. Sedikit lebih kejam dari yang lainnya "


Arya mengikuti langkah para pengangkut itu dari belakang. Meskipun beban yang di bawanya sama sekali tidak terasa berat bagi Arya. Namun, melihat para pengangkut di depannya itu membuat hati Arya sedikit tidak tega.


" Ada apa dengan dunia ini? " gumamnya sambil terus berjalan mengikuti yang lainnya.