ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pedang Mati


Siapun yang ada di sana, benar-benar terperanjat dengan kemunculan kedua iblis langit itu. Tak ada yang yang tau bagaimana dua makhluk sebesar itu bisa tidak terlihat sejak tadi.


Saa Arya berteriak, entah bagaimana cara munculnya, Rewanda dan Krama sudah berjalan dari belakang Ki Jabara dan pendekar yang bersamanya.


Seolah sudah mengerti apa yang akan mereka lakukan, Rewanda dan Krama langsung berdiri di sisi lain lingkaran yang di bentuk oleh pendekar-pendekar dari kekaisaran Yang. Sekarang, keadaan seolah langsung berbalik.


"Kek. Percayakan orang-orang ini pada kami" Arya kembali berkata pada Bai Fan, "Sebaiknya kakek menangkap Nurmageda itu, saja!"


Bahkan Bai Fan yang sudah malang melintang di dunia kependekaran dan sudah bertemu dengan banyak pendekar hebat saja, juga sangat terkejut saat melihat kemunculan Rewanda dan Krama.


Sehingga saat mendengar suara Arya yang tiba-tiba berbicara padanya itu, membuat Bai Fan sedikit terperanjat.


Kakek dari Bai Hua itu, segera mengendalikan dirinya. Pikirannya yang sempat kosong, berusaha mengingat apa yang barusaja dikatakan pemuda itu padanya.


"Oh. Iya! ... Iya. Sebaiknya begitu!" Jawab Bai Fan setelah melihat kemana arah Arya menatap.


Nurmageda dan pengikutnya tampak sudah berlari menjauh. Walikota itu memanfaatkan kekacauan yang di buat oleh Bai Fan tadi untuk melarikan diri.


Saat berlari, Nurmageda sama sekali tidak melihat kebelakang. Hingga sepertinya dia tidak tau kemunculan Rewanda dan Krama.


Bai Fan langsung berlari ke arah Nurmageda dan rombongannya. Namun, saat melewati Ki Jabara dan rombongannya, dia sempat berhenti.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu pemuda itu. Tapi, jika kalian tidak keberatan, kalian bisa membantuku menangkap Nurmageda dan anak buahnya!"


Setelah mengatakan itu, Bai Fan kembali melesat ke arah Nurmageda. Ki Jabara yang tersentak dari keterbengongannya, langsung memberikan perintah.


"Kalian dengar sendiri. Biarkan Tuan Arya yang mengurus yang di sini! Kita punya tugas lain!"


Kata-kata Ki Jabara langsung dimengerti oleh yang lainnya. Bersama, mereka langsung mengikuti laju Bai Fan dari belakang. Lagipula, mereka tidak siap melihat apa yang akan Arya lakukan pada pendekar-pendekar asing itu.


Terakhir kali mereka melihat Arya tadi, sorot mata pemuda itu sudah benar-benar berubah. Mati, mungkin jadi kata yang sangat sederhana bagi pendekar asing itu sekarang.


"I-ini ... Cu-curang!"


Salah satu pendekar asing tergugup saat mengatakan itu. Bagaimana bisa ada makhluk seperti itu di Daratan ini.


Mereka sudah banyak melihat Siluman baik di darat maupun di air. Tapi, dua makhluk yang mengepung mereka ini, bukan mahkluk yang pernah mereka kenal.


"Hmmm... Bukankah kalian bilang, bahwa aku tidak mengerti strategi?" Arya menjawab sinis.


Mendengar jawaban Arya itu, seketika pendekar itu terdiam. Dia menyesali apa yang telah dia ucapkan beberapa waktu yang lalu. Tapi, siapa yang menyangka bahwa semua itu akan berakhir dengan keadaan seperti ini.


Arya memperhatikan gerak-gerik dari semua pendekar asing itu. Meski dalam ketakutan, tak tampak sedikit pun niat dari mereka untuk menyerah. Benar-benar musuh yang merepotkan.


"Aku tau kalian tidak akan menyerah begitu saja. Aku juga penasaran kenapa kalian begitu memandang rendah kami, di Daratan ini"


"Yah! Ini sangat mengejutkan" pendekar di asing lainnya menjawab. "Tapi, kami sudah terbiasa menghadapi situasi sulit. Dan kau sudah memberi kami banyak waktu untuk berfikir."


Tidak lama setelah mengucapkan itu, tiba-tiba mereka membentuk sebuah kuda-kuda. Jelas bahwa mereka bersiap untuk menyerang.


"Badai Api!" Teriak mereka bersamaan.


Mereka langsung menembakkan gelombang api besar pada ketiganya. Kali, ini api itu terus menerus menerjang mereka.


Pendekar dari negeri asing itu membuat serangan dengan penuh perhitungan. Mereka hanya mengarahkan serangan kecil pada Arya.


Karena, mereka tahu Arya mampu menahan serangan mereka dengan prisai airnya. Namun, mereka yakin bahwa serangan mengejutkan itu mampu melukai Krama dan Rewanda.


Semburan api besar itu terus membakar kedua Iblis langit. Tidak tanggung-tanggung, untuk usahanya itu, pendekar dari kekaisaran Yang itu, menguras lebih dari setengah tenaga dalam mereka untuk menumbangkan keduanya.


"Hahahaha! Kau mungkin bisa menahan serangan kami. Tapi, kedua makhluk ini, tentu tidak,Bukan? ... Kau terlalu meremehkan kami!"


Teriak salah seorang pendekar yang kini merasa, taktik yang mereka gunakan sangat ampuh. Serangan mereka yang secara tiba-tiba itu, tidak sempat dihindari oleh dua makhluk yang kini terbakar itu.


Seperti memiliki pikiran yang sama, mereka yakin jika kedua makhluk itu tumbang, maka mengalahkan Arya masih sangat mungkin.


Meski tenaga dalam mereka sudah terkuras setengah, tapi jumlah mereka masih sangat banyak. Mereka merasa unggul jika hanya melawan satu orang saja.


"Aku tidak meremehkan kalian. Cuma, kalian sepertinya terlalu memangdang tinggi diri sendiri dan tempat asal kalian!"


Arya melepas perisai airnya. Membiarkan tubuhnya di lahap api yang di arahkan padanya.


"Suatu saat. Aku akan menginjakkan kaki di tempat yang kalian banggakan itu." Ucap Arya saat tubuhnya sudah diselubungi api sepenuhnya.


Semua pendekar dari negeri asing itu menghentikan serangan mereka, saat melihat ketiganya sudah terbakar.


Arya tidak melanjutkan kata-kata. "Ah! Untuk apa juga aku mengatakan itu pada kalian. "


"Buuuussstt"


Seketika api yang menyelubunginya padam. Tubuh Arya terlihat mengeluarkan uap.


Mata mereka melebar. Kini mereka bisa melihat bahwa selama ini, sesuatu selalu menyelubungi tubuh pemuda itu. Dari uap yang dikeluarkan tubuh Arya, Jelas bahwa Elemen air sudah melindunginya. Hingga, api yang kecil itu, tidak akan bisa melukainya.


"Karena, tentu saja saat itu kalian sudah tidak berada di dunia ini!" Pungkas Arya.


Bersamaan dengan kata-katanya. Para pendekar dari negeri asing itu, menyadari bahwa api mereka juga tidak bekerja pada Krama dan Rewanda.


Karena sejatinya, Rewanda adalah Iblis Kera dengan elemen api, sementara Krama adalah Iblis Anjing dengan elemen logam.


"I-ini ... Ti-tidak ... Adil!" Ucap salah satu dari mereka gugup, tidak bisa menerima kenyataan.


Tak menghiraukan ucapan putus asa pendekar itu, Arya menatap mereka tajam.


"Sekarang ... Giliran kami!"


Nurmageda tidak menyangka akan menjadi seburuk ini. Awalnya dia senang karena mendapatkan senjata pusaka yang kini berada ditangannya itu.


Ini menandakan, apa yang telah dia kerjakan selama ini sudah berhasil. Tidak menunggu waktu lebih lama lagi agar dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, dari orang yang memberinya tugas ini.


Akan tetapi, keadaannya sekarang sama sekali tidak menyenangkan. Dia sudah melihat sendiri bagaimana mengerikannya Bai Fan. Dan orang dari negeri asing itu, kini sedang mengejarnya di belakang.


Setiap beberapa saat, terdengar salah satu dari pengikutnya bertumbangan di belakang. Sepertinya, hanya menunggu waktu saja saat Bai Fan benar-benar berhasil menangkap nya.


"Bajingan! Wu Guo itu sama sekali tidak berguna!" Umpatnya.


"Mau sampai kapan kau ingin berlari?"


Tiba-tiba sebuah suara di samping, mengejutkannya. Saat menoleh, mata Nurmageda terbelalak. Dia tidak mengetahui, entah sejak kapan Bai Fan sudah mensejajarinya.


"Kau?!"


Sadar bahwa dia hanya akan membuang-buang tenaga, Nurmageda memperlambat larinya. Hingga akhirnya dia berhenti.


Bai Fan juga melakukan hal yang sama. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Kini, keduanya berdiri berhadap-hadapan.


"Jika aku tidak memikirkan mereka, maka aku sudah akan mengakhiri hidupmu, sekarang" Bai Fan melirik pada Ki Jabara dan beberapa orang pendekar dibelakangnya.


"Bai Fan! Jika kau melukaiku, maka cucumu Bai Hua, Akan mati!" Ancam Nurmageda.


"Buk!"


Nurmageda langsung muntah darah. Saat dia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja Bai Fan sudah berada sangat dekat dengan tinju sudah mendarat di perutnya.


"Kau harus memperhatikan cara bicaramu!"


Ucap Bai Fan geram, lalu mengambil sebuah peti kayu yang tadi berada di tangan Nurmageda.


Nurmageda berusaha berdiri sambil memegang perutnya. Dengan rasa sakit yang kini dia rasakan, Nurmageda sadar bahwa Bai Fan bukan orang yang mampu dia kalahkan.


"Jika aku mati, maka kau akan di anggap sebagai penjahat karena telah mencuri senjata pusaka dari nergeri ini!"


Bai Fan tersenyum miring. "Sepertinya ini memang takdir." pria tua itu, melihat kotak kayu yang kini berada di tangannya "Aku sudah memikirkannya saat mengejarmu!"


Nurmageda tidak mengerti apa maksud dari ucapan Bai Fan itu. "Takdir? ... Takdir apa?"


Bai Fan menatap ke langit lalu menatap kembali kebawah memperhatikan kotak itu.


"Kraaak!"


Bai Fan memecah kotak itu dan langsung mengeluarkan sebilah pedang yang tadi berada di dalam kotak kayu yang sudah sangat lapuk tersebut.


Bai Fan mengangkat pedang tersebut dan mengacungkan tinggi ke udara.


"Wussh!"


Dia melibaskan pedang tersebut cepat. " Seperti dugaanku ... " Bai Fan membolak balik pedang itu mencoba kembali memastikannya.


"Bahuraksa ini ... Memang telah, Mati!" Ucapnya.