ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Di Bukit Tengkorak 4


Tungka dan Gayatri tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi jika harus menghadapi Bai Fan dengan pedang yang ada di tangannya.


Berdua, mereka hanya mampu menahan serangan Bai Fan. Namun, sekalipun tidak pernah berhasil memberikan pukulan berarti pada Kuktivator Kekaisaran Yang itu.


Sebaliknya, dalam pertukaran sekitar dua puluh jurus, Bai Fan berhasil memukul mereka dengan kuat. Luka-luka ditubuh mereka bukti bahwa tak lama lagi, mereka akan segera kalah.


Subu tidak bisa menghadapi Lamo. Senjata sihirnya sudah terlepas dan kini entah berada di mana. Lamo terus menyerangnya hingga Ketua Sekte bukit tengkorak itu benar-benar sudah terpojok.


Pertempuran itu, akan segera dimenangkan oleh mereka jika saja memang itu yang lawan mereka punya.


Tapi, rasa percaya diri lawannya menandakan bahwa itu belum semuanya.


Lamo baru saja melemparkan tubuh Subu sekitar dua puluh meter jauhnya. Saat Lamo merasa diatas angin, tiba-tiba dia merasa ada yang berubah dari tubuh Subu.


Lamo merasakan bahwa jumlah tenaga dalam lawannya itu kini sedang meningkat sangat cepat. Perasaan yang tadi penuh dengan percaya diri, berubah penuh tanda tanya. Tubuh Subu seketika mulai memerah.


"Hati-hati! Mereka sudah menelan Pil Zulu... "


Bai Fan berteriak pada Lamo, karena dua lawannya sudah lebih dahulu melakukan hal yang sama.


Dan tidak hanya sampai di situ saja. Hampir seluruh musuh mereka saat ini, menunjukkan perubahan yang sama.


"Haha ... Haha ... Hahaha... Hahahahhahahahaha!"


Subu tertawa lantang. Dia merasakan kekuatannya bertambah sangat kuat. Tenaga dalamnya yang bertambah dengan cepat, kini terasa memenuhi seluruh titik cakranya.


Ketua Sekte Bukit tengkorak itu, menatap  tajam pada lawannya.


" Ini adalah hari kematianmu, Lamo!"


Bak mimpi buruk. Lamo tidak menyangka efek dari menelan Pil Zulu akan sebesar ini. Subu yang beberapa saat yang lalu terasa sangat mudah untuk di kalahkan, Kini berbalik menjadi sangat kuat dan cepat.


Lamo langsung merasakan perbedaannya saat dia kembali mencoba menyerang Subu. Tubuh lawannya itu benar-benar bisa menahan pukulannya. Dan, tendangan Subu yang sangat kuat dan cepat langsung bersarang di perutnya dan melemparnya sangat jauh.


Satu tendangan itu saja, sudah langsung memberikan Lamo cedera yang cukup parah. Ketua Sekte Lembah Hantu itu merasakan sakit yang luar biasa.


Darah kental tersembur keluar dari mulutnya. Dadanya kini terasa sangat panas. Subu, membalas apa yang dilakukannya sebelumnya.


Kini, topeng yang menjadi ciri khas diri dan Sektenya itu telah terlepas, sesaat setelah Subu melayangkan tinju yang sangat keras tepat mengenai wajahnya.


Bai Fan sendiri kini berimbang melawan Gayatri dan Tungka. Karena, sedari awal keduanya memang memiliki level berbeda darinya. Namun, Tubuh keduanya kini terasa lebih kuat dari sebelumnya. Hingga serangan biasa dari Bai Fan, tidak memberikan luka seperti sebelumnya.


Tungka yang begitu puas dengan kekuatannya sekarang, sedikit menyesal. Karena terlambat menelan Pil tersebut.


"Jika tau seperti ini,  maka aku akan menelan Pil ini dari tadi!"


Bai Fan menggelengkan kepala meremehkan keduanya. "Kalian benar-benar bodoh. Bagaimana bisa seorang ketua sekte menelan sesuatu yang kalian sendiri tidak tau dampak. Kedepan oleh pil itu."


"Cih! Kata-katamu itu sepertinya sangat mengerti sekali tentang pil ini." Gayatri mencurigai Bai Fan. "Apakah kekuatanmu itu, juga didapat setelah menelan Pil ini?" Tuduhnya.


"Seperti yang aku katakan, hanya orang bodoh saja yang mau menelan Pil itu untuk mendapatkan kekuatan" Lagi-lagi Bai Fan menjawab dengan nada meremehkan.


"Aku seorang Kuktivator dari aliran putih. Di Negaraku, akan sangat memalukan bagi kami mendapatkan tenaga yang tidak stabil dan tidak jelas seperti itu"


"Nyai... Kita harus melenyapkan tua bangka sombong ini" ajak Tungka pada Gayatri dengan nada kesal.


Mendengar perkataan Tungka itu, kening Gayatri mengerut dan menoleh pada Tungka. "Kau?! Kenapa kau memanggilku, Nyai?"


Tungka mengernyit heran saat Gayatri menanggapi seruannya untuk bekerja sama mengalahkan Bai Fan, dengan pertanyaan yang aneh. Ketua Sekte Rawa Angker itu, tidak menyiapkan kata-kata untuk menjawabnya.


"Itu karena wajahmu yang memang sudah sangat jelek itu, bertambah semakin jelek karena langsung menjadi tua lima puluh tahun sejak menelan Pil itu."


Bai Fan menjawab pertanyaan Gayatri yang dia tunjukan pada Tungka. Tentu saja itu untuk membuat Gayatri tersulut emosi.


Dan benar saja. Usaha Bai Fan tidak sia-sia. Gayatri langsung memasang wajah bengis. Tatapannya kini seolah ingin memakan Patriark keluarga Bai itu.


"Tungka! Kau benar ... Kita memang harus membunuhnya untuk membungkam mulutnya yang kotor itu."


Bai Fan mengacungkan pedangnya pada kedua ketua sekte pengkhianat itu. "Majulah! Aku akan tunjukkan perbedaan kekuatan sesungguhnya pada kalian!" tantang Bai Fan pada keduanya.


"Sial! ... Kau benar-benar akan mati!"


Tungka langsung melompat dan menerjang ke arah Bai Fan. Di susul oleh Gayatri di belakangnya.


Pertarungan dua lawan satu yang sengit di antara mereka pun kini kembali terjadi.


Bai Fan sengaja memancing emosi keduanya, karena dia tau dengan begitu keduanya akan kehilangan fokus dan tidak akan bisa bekerja sama dengan baik. Bai Fan ingin memanfaatkan itu untuk mengalahkan keduanya.


Menyadari perubahan keadaan yang kini sudah tidak menguntungkan pihaknya tersebut, Krama langsung berlari mendekati Rewanda.


"Sebaiknya mereka kembali membuat Dinding pelindung seperti tadi. Kita masih bisa menahan yang lainnya. Tapi, jelas kali ini serangan mereka akan jauh berbeda dari sebelumnya"


Rewanda menurunkan Luna. "Luna!  Bantulah mereka untuk membangun dinding seperti tadi, kami akan melindungi kalian dari luar!"


Mengerti dengan apa yang di katakan oleh Rewanda dan Krama, Luna langsung berlari pada seluruh pendekar yang kembali kesukitan menghadapi musuhnya.


"Kalian! Kita akan membuat din—"


"BOOMMM...!"


"BOOMMM...!"


"BOOMMM...!"


"Arrrrrrrgggggghhhhhh....!"


Puluhan pendekar terpelanting setelah terkena ledakan tersebut. Sisanya, merasa terkejut dengan suara ledakan yang semakin kuat.


Kali ini ledakan itu membuat semua pendekar-pendekar itu merasa semakin terpojok. Di tambah lagi, saat mereka mencoba melawan musuh yang tidak menggunakan senjata sihir, tidak memberikan dampak berbeda. Malah, kekuatan musuh semakin kuat saja.


Salu yang.tadi sempat membantu Lamo untuk mengalahkan Subu, kini juga sudah tepukul mundur. Dilihat dari keadaan keduanya, Lamo dan Salu sudah mengalami luka yang sangat parah.


Bai Fan yang tadi masih memiliki kesempatan untuk menang, kini sudah kewalahan setelah Subu ikut membantu Tungka dan Gayatri untuk mengalahkannya.


"Buk!"


Satu pukulan telak dari Subu, berhasil membuat tubuh Bai Fan mundur beberapa langkah.


"Katua Bai... Kau tidak apa-apa?!"


Luna kini tampak mencemaskan kakek Bai Hua itu. Sementara di sisi lain, Rewanda dan Krama berusaha melindungi para pendekar yang sudah mulai putus asa.


"Aku baik-baik saja!"


Keadaan benar-benar telah berbeda. Musuh kini sudah mengepung dan semakin mendekat. Mereka semua terdesak. Dan berkumpul di tengah.


"Bom!"


Bai Fan dengan cepat berhasil menyelamatkan Lamo dan Salu dari tembakan Serikat Oldenbar dan membawa keduanya ketengah.


"Hahahha! Ini akan menjadi akhir kalian semua!"


Subu kembali tertawa dengan pongahnya. Melihat keadaan yang memang sudah bisa di katakan menguntungkan pihaknya, kini mereka terus memberi tekanan pada lawan di depannya.


Gayatri dan Tungka juga sudah kembali memegang senjata sihir mereka. Ketiganya bersama anggota Oldenbar juga ratusan pendekar dari tiga sekte, mendekat dengan senjata sihir siap menembakkan elemen penghancur kapan saja.


"Ini Bahaya!"


Luna menyadari bahwa jika mereka berkumpul seperti ini, maka saat lawan menyerang di saat bersamaan maka, ini akan benar-benar segera berakhir.


Kecemasan Luna itu hanya sebentar saja. Karena, seseorang dari Oldenbar langsung menjadikannya nyata.


"Semuanya! dengar aba-abaku! Kita serang langsung bersama-sama!"


Setelah kata-kata yang di ucapkan oleh orang dari serikat Oldenbar itu, sesaat keadaan terasa hening. Waktu berjalan sangat lambat. Luna dan Bai Fan dapat melihat dari ujung laras senjata sihir lawan-lawanmereka, sebentar lagi akan menghancurkan mereka.


Beberapa detik kemudian, tembakan dari ratusan senjata sihir pun langsung menghantam mereka dengan dahsyat.


"BOOOOOMMMMMMM..."


"BOOOOOMMMMMMM..."


"BOOOOOMMMMMMM..."


"BOOOOOMMMMMMM..."


"BOOOOOMMMMMMM..."


Gempuran ledakan yang memekakkan telinga itu, terjadi lima kali berturut-turut.


Mereka yang berada didalam sana bisa dipastikan mati. Hanya beberapa dari mereka saja yang akan bertahan. Tapi, tentu saja dengan luka yang cukup parah.


Setidaknya begitulah yang ada dipikiran semua orang di sana, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa sesuatu telah muncul dan menyeruak dari bawah tanah sesaat sebelum tembakan pertama terjadi.


Semua orang tercengang saat melihat apa yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Apa itu?!"


Sebuah dinding Air yang memiliki tebal setidaknya lima meter dan memiliki tinggi lebih dari tiga kali lipatnya. Mengelilingi Luna dan seluruh orang yang ada di sana.


"Raja Kami Telah Datang!"


*****


Hello,


MOONMARVEL di sini.


Terimakasih sudah terus mengikuti cerita ini, Ya!


Dan terimakasih juga untuk kalian yangbsudah memberikan Like dan Vote pada ceritaku ini. itu sangat berarti buatku.


Rate dengan memberikan Bintang Lima pada kiri tampilan awal Cerita, tidak di pungut Biaya lho. jika kalian berkenan, aku sangat menghargai jika kalian mau meluangkan sedikit waktu memberikannya memberi cerita ini Rate dengan 5 bintang.



Begitu juga dengan Vote. mungkin baginkalian itu bukan hal yang besar. tapi, bagi penulis sepertiku ini, itu sangat berarti dan memberikanku semangat untuk terus menulis.



LIKE dan Komentar, kritik dan sarannya juga akan membantuku terus mengembangkan cerita ini agar kedepan akan semakin lebih baik lagi.


TAPI, APAPUN ITU, TERIMAKASIH ATAS SEGALA BENTUK DUKUNGANNYA.


IKUTI TERUS CERITANYA.


TUNGGU UPDATE SELANJUTNYA, YA!


M.M