ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Menerobos Lembah


Mendengar ada yang melakukan kekacauan di luar sana, Bai Fan merasa sedikit penasaran. Sebelumnya tidak ada yang berani menentang Nurmageda.


Jika saja Wu Guo tidak mengatakan bahwa dirinya telah meracuni Bai Hua, seharusnya ini adalah kesempatan bagi Bai Fan untuk melarikan diri dan menyelamatkan cucunya itu.


Bai Fan sangat tau apa yang di katakan Wu Guo bukanlah sebuah kebohongan. Karena, Wu Guo memang berasal dari sebuah Sekte yang mengembangkan racun sebagai senjata utama mereka.


Nurmageda menoleh pada Bai Fan yang terlihat sedang berfikir. Itu membuat Nurmageda semakin kesal. Menurutnya, mungkin saja Bai Fan sedang memikirkan cara melarikan diri seperti apa yang Wu Guo katakan sebelumnya.


"Bai Fan! Jika kau tidak menemukan benda itu segera, maka aku benar-benar akan mengirim orang untuk membunuh cucumu saat ini juga!" Nurmageda kembali memberi ancaman.


"Hmm ... " Bai Fan tampak mempertimbangkan sesuatu, tak lama dia pun mengangguk. "Aku sudah menemukannya"


"Hah?"


***


Arya dengan menunggangi Krama, sebenarnya sudah berhasil menyusul Ki Jabara dan rombongan pendekar beberapa menit yang lalu. Hanya saja, dia tidak langsung mendatangi Ki Jabara dan pendekar-pendekar itu.


Ki Jabara dan para pendekar itu berhasil dia temukan setelah Krama mengikuti jejak mereka. Dan saat ini Arya mengikuti mereka dengan sedikit menjaga berjarak.


Arya berpikir, mereka akan terkejut jika menyadari bahwa dia bisa menyusul secepat itu. Arya sedang tidak ingin menjelaskan apapun sekarang.


Ki Jabara keluar dari Desa Paganti dan terus berjalan menyelusuri hutan dengan beberapa pendekar saja. Namun, beberapa pendekar lainnya datang dan sepertinya sedang memberitahunya sesuatu.


Setelah itu, Ki Jabara terlihat berjalan ke arah dari mana pendekar-pendekar itu datang. Dan langkahnya semakin lama semakin cepat.


Hingga akhirnya Arya yakin Ki Jabara dan pendekar-pendekar itu kini berlari dengan menggunakan teknik meringankan tubuh, saat mereka mulai melompat ke atas pohon dan berlari melintasi dahan pohon satu ke dahan pohon lainnya.


Tak berselang beberapa lama, mereka sampai di sebuah lembah. Akan tetapi, sepertinya itu bukan lembah biasa atau lebih tepatnya, itu adalah sebuah lembah yang di baru saja di gali.


Lembah berbatu itu lumayan basar, Arya menebak dan yakin bahwa di sinilah Nurmageda berada. Menurut Arya Ki Jabara akan mengintai untuk mempelajari situasi tidak jauh dari sana.


Akan tetapi apa yang di lakukan oleh Ki Jabara, tidak seperti dugaan Arya. ternyata Ki Jabara langsung menerobos masuk ke lembah yang di jaga itu.


Ki Jabara dan pendekar yang mengikutinya, langsung menyerang semua pendekar dan prajurit yang berjaga di depan sebuah goa yang ada di lembah berbatu itu.


Pertempuran kecil pun terjadi. Arya melihat jumlah dan kekuatan Ki Jabara sepertinya jauh lebih unggul. Dalam sekejap mata, sudah beberapa dari prajurit dan pendekar yang menjadi lawannya mulai bertumbangan.


Merasa di atas angin karena bisa mengalahkan musuhnya dengan mudah, Ki Jabara berniat menerobos masuk langsung ke dalam goa untuk menemukan Nurmageda.


"Habisi mereka. Kita harus menemukan Nurmageda secepatnya!"


Hal itu dilakukan Ki Jabara bukan tanpa alasan. Pasalnya, sampai saat ini Ki Jabara tidak menemukan satu orang pun pekerja seperti isu yang telah di dengarnya.


Menurut tilik sandinya, memang benar bahwa banyak laki-laki dan pemuda baru menginjak usia remaja yang dibawa Nurmageda ke daerah ini.


Hal itu membuat Ki Jabara menyimpulkan bahwa hal ini jauh lebih mengerikan dari apa yang dia pikirkan sebelumnya. Bisa saja pekerja-pekerja itu sudah di lenyapkan Nurmageda untuk menutupi rahasianya.


"Raja. Apa kita akan kita ikut bertarung dan membantu mereka?" Krama merasa bahwa Ki Jabara menghadapi lawan yang terlalu mudah.


"Kita harus menunggu sebentar." Jawab Arya." Jika apa yang dikatakan Bai Hua benar, maka orang-orang kuat itu mungkin berada di dalam goa."


Arya sedang mempertimbangkan, apakah dia akan memerintahkan Rewanda dan Krama ikut membantu atau tidak, setelah memastikan apa yang dikatakan oleh Bai Hua benar adanya.


"Siapa kalian?! Kenapa kalian tiba-tiba menyerang kami?"


Ki Jabara melihat pendekar itu dengan wajah tak ramah. "Melihat caramu bertanya, sudah jelas kau bukan orang yang berasal dari daerah ini"


Ki Jabara bisa memastikan itu. Setidaknya, jika prajurit itu berasal dari daerah sana, maka pasti prajurit itu bisa mengenali dirinya atau salah satu pendekar yang datang bersamanya.


"Ya. Aku memang bukan dari daerah ini."


Jawab prajurit itu semakin membuat Ki Jabara geram. "Kami tidak pernah meminta bantuan apapun pada kerajaan dan kalian tidak pernah membantu kami apapun. Kini kalian datang untuk menyengsarakan kami di sini. Kalian semua pantas mati! "


Setelah mengatakan itu, dia langsung memerintahkan seluruh pendekar untuk menyerang dan menghabisi mereka semua.


Menurut Ki Jabara, itu adalah alasan kenapa tidak ada rasa persaudaraan dari para prajurit itu pada para penduduk di daerah itu. Maka, pantas saja para prajurit itu mau melakukan apa saja yang diperintahkan Nurmageda pada mereka.


Pertempuran pun kembali terjadi. Namun, dalam pertempuran ini Ki Jabara kembali meragukan penilaian tilik sandinya tentang kekuatan tempur Nurmageda.


Beberapa hari yang lalu, saat menghadapi anak buah Nurmageda di kota Arsa, Ki Jabara merasa lawan-lawannya sangatlah lemah.


Saat ini, Ki Jabara juga merasakan hal yang sama. Tidak ada perlawanan berarti selain ada beberapa pendekar yang cukup menyulitkan namun karena jumlah, mereka segera bisa di atasi.


Bahkan, Ki Jabara sendiri tidak perlu banyak membantu. Hanya tinggal beberapa prajurit dan pendekar lagi yang kini berkumpul di depan mulut goa yang harus mereka singkirkan.


"Di mana kalian menaruh para pekerja itu?!" Tanya Ki Jabara yang kini berdiri paling depan.


Ki Jabara menatap tajam pada para prajurit dan pendekar yang berada di depan mulut goa saling berpandangan. Ki Jabara yakin, mereka mengetahui apa yang sedang ditanyakannya.


"Arght!"


"Arrggh!"


"Minggir! Kalian menghalangi jalanku!"


Seketika semua orang di sana terkejut dengan teriakan dari belakang prajurit yang ada di depan mulut goa. Sepertinya seseorang telah menyerang mereka dari belakang.


Tidak terkecuali Ki Jabara dan pendekar-pendekar yang bersamanya. Suara itu terdengar sangat jelas.


Mereka sadar bahwa di belakang sana ada seseorang yang sedang memaksa untuk memberikannya jalan dengan cara menyerang teman mereka sendiri. Itu hal yang sama sekali tidak mereka duga.


Tak lama semua prajurit dan pendekar yang berdiri di depan goa itu pun menyingkir.


Ki Jabara melihat beberapa orang asing berjalan ke arahnya. Wajah orang asing itu tampak sangat tidak bersahabat baik pada dirinya, ataupun orang-orang yang ki Jabara yakin merupakan bagian dari mereka juga.


Wu Guo berjalan keluar bersama beberapa orang. Dia memandang remeh prajurit dan pendekar yang dilewatinya. "Kalian semua benar-benar sangat lemah dan juga ... Bodoh!"


Tidak ada satupun dari mereka yang bereaksi saat Wu Guo mengatakan itu. Mereka sudah tau seberapa berbahayanya Wu Guo dan pengikutnya.


Para pendekar dan prajurit bawahan Nurmageda hanya tertunduk menahan kesal. Wu Guo telah mempermalukan mereka di depan musuh mereka sendiri.


Saat sudah berada di depan, Wu Guo menatap puluhan orang yang kini berdiri di depannya. Melipat kedua tangan di dadanya, Wu Guo tak memberi kesan takut pada Ki Jabara dan para pendekar yang bersamanya.


"Heh! Kumpulan orang bodoh menjijikkan, lainnya!" Ejek Wu Guo.