
Setelah berhasil membangunkan tubuh Citra Ayu, Arya dan yang lainnya langsung berangkat menuju Negeri Bukit Batu.
Meski seharusnya Citra Ayu harus menjalani satu kali lagi pengobatan, Namun apa yang di sampaikan oleh Tungkeh Aji sehari yang lalu, membuat semua arah pergerakan Arya berubah.
Saat itu, Tungke Aji sedikit terkejut saat Luna menanyakan hal tersebut. Namun, apa yang di katakan Luna memang benar adanya. Dia memang memilih diam sampai hatinya benar-benar yakin untuk mengatakannya pada Arya.
Beberapa waktu setelah peperangan berakhir, Kedatangan Harupanrama ke Benteng Nippokure, langsung mengubah pemikiran Tungkeh Aji pada Ayahnya.
Sebelumnya, dia berfikir bahwa Ayahnya adalah seorang Sultan yang penakut dan gagal pemimpin dan melindungi negerinya sendiri.
Beberapa kejadian yang telah.dia lewati beberapa waktu belakangan semenjak kemunculan Arya, serta berita dari Harupanrama itu.
Tungkeh Aji langsung bisa memastikan bahwa, saat ini Ayahnya lah yang paling benyak berkorban untuk beberapa tahun terakhir, demi menjaga keamanan Daratan Barat, meski namanya harus hancur dan harus bermusuhan dengan putranya sendiri.
Bahkan, Tungkeh Aji Baru menyadari bahwa Ayahnya sedang menjaganya agar tidak terlibat dalam kerumitan permasalahan ini.
Sekarang, dia merasa beruntung bahwa Arya dan yang lainnya langsung bisa memahami alasannya kenapa dia diam, dan kenapa Ayahnya berubah menjadi Sultan yang kejam.
Seperti kata Citra Ayu saat itu, "Tidak ada hilir, jika tidak berhulu."
Tepat seperti itulah kenyataannya. Jika Sungai Sembilan Adalah Ujung, maka Bukit Batu adalah pangkalnya.
"Arya, apakah kita memang harus ke negeri itu? Nukankah jika kita bisa menghentikan Raja itu, maka semua akan berakhir?"
Saat ini, mereka semua bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju Negeri Bukit Batu.
Menjawab apa yang ditanyakan Luna, Arya menggelengkan kepala.
"Sebelumnya, aku juga berfikir sama. Tapi, jika apa yang di katakan orang itu benar, maka semua akan sia-sia jika mereka berhasil membukanya."
Jelas kecepatan mereka saat ini, tidak akan mampu di imbangi oleh Tungkeh Aji. Alih-alih menyuruh putra Sultan negeri Bukit Batu itu menyusul mereka, Arya menyuruhnya untuk menunggu pasukan Harupanrama dan Karpatandanu, dan menyampaikan apa yang sedang terjadi.
Lagi pula meski itu negerinya, tidak banyak yang akan bisa dia lakukan saat mereka tiba di negeri tersebut.
"Senior, sebenarnya Apa yang di incar oleh raja itu?"
Pertanyaan Bai Hua tidak dapat di jawab Arya dengan pasti.
"Aku tidak yakin apa itu benar seperti yang aku pikirkan. Tapi, jika itu benar, maka kita akan memastikan hal itu terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi ke negeri dimana Inti tanah berada."
"Tuan Muda, Maafkan aku karena menjadi beban ... "
Di belakangnya, Citra Ayu berkata lirih. "Tidak masalah, beratmu tidak akan mengurangi kecepatanku. Lagipula, beberapa waktu ke depan, tenaga dalammu lah yang paling kita butuhkan."
Saat mendengar itu, Luna yang lainnya, sedikit memiliki gambaran apa yang saat ini Arya rencanakan.
Memang Citra Ayu sudah sadar, namun tubuhnya masih belum bisa menggunakan Tenaga Dalam. Arya langsung mengunci kekuatannya begitu dia terbangun.
Itulah kenapa saat ini, Arya terpaksa harus menggendongnya selama perjalanan ke Negeri Bukit Batu ini.
"Ciel, bukankah kau sudah jauh bertambah kuat. Kenapa kau jadi lamban sekali? ... "
Sejak tadi, Ciel memang berada jauh di belakang yang lainnya bersama Rewanda dan Krama.
Namun begitu, saat ini jarak pandangnya mungkin berkali-kali lipat jauh di depan melebihi yang lainnya.
"Teruskan saja. Aku hanya ingin memastikan sesuatu ... "
Saat itu, Arya bisa menyadari bahwa Ciel sedang berusaha merasakan Fokus pusat elemen udaranya.
Arya belum bisa mengajarinya mengendalikan elemen tersebut seperti apa yang pernah dia pelajari di catatan Obskura, karena waktu sangat sempit.
Sementara itu, Arya hanya memintanya merasakan aliran udara yang bisa dia rasakan saat dia berlari menggunakan tenaga dalamnya.
Namun begitu, seperti yang lainnya, Arya juga merasakan bahwa Gadis itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Luna, tolong ceritakan kembali, rencana Tung Rangku dan yang lainnya. Sekarang, waktu adalah segalanya."
Mendengar itu, Arya mengangguk menyetujui kesimpulan Luna. "Ya, aku rasa kau benar. Mereka tidak mungkin tidak mengetahui apa yang sudah kita lakukan bersama yang lainnya."
Saat itu, Bai Hua juga menyadari sesuatu. "Luna, bagaimana menurutmu tentang Pasukan Nippokure? Mereka bisa saja bertemu dalam perjalanan, bukan?"
Meski pertanyaan Bai Hua menimbulkan kerutan di dahinya, Luna menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku rasa mereka tidak akan berusaha mendatangi negeri Jampa untuk membalas kita."
"Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?"
"Sama seperti kita yang mengetahui bahwa pasukan mereka di Jampa akan mendatangi Benteng yang sudah kita taklukkan, sebagai komandan tertinggi di daratan ini, tentu dia sudah menyadari bahwa gerakan kita tidak mungkin hanya untuk mengambil alih benteng kecil itu."
Kelebihan Luna dari yang lainnya, adalah ini. Dia dan adiknya Ciel memiliki semacam intuisi dan tingkat pemikiran yang mampu menalar pergerakan musuh, seperti sudah sangat terlatih.
Hal itu di sebabkan keduanya lahir di negara yang sedang kacau di landa peperangan saudara. Apalagi, setelah itu keduanya harus menghabiskan lebih separuh hidup mereka menjadi pelarian.
Bijak membaca situasi dan cepat memutuskan. Memiliki Luna dan Ciel bersama mereka, seperti sedang berbicara dengan pemimpin musuh yang sedang memikirkan rencana dan apa keputusan paling tepat yang akan mungkin akan di ambil mereka.
"kita tidak pernah mengetahui berita dari dua negeri lainnya. Apa mereka tak menceritakan apapun soal keduanya?"
Saat itu ditanyakan Arya, mata Luna melebar seketika. Dia baru saja mengingat hal tersebut. Bahkan hal itu terdengar saat penting saat itu.
"Ya, mereka mengatakan sesuatu tentang itu. Tepatnya, Tuan Salendra yang mengatakannya padaku. Sepertinya memang sedang banyak terjadi Daratan ini, dalam sekali waktu. Jadi, Tuan Salendra menceritakan padaku tentang isi surat dari salah satu sultan sepertinya sangat memerlukan bantuan kita ... "
Mulailah luna menceritakan betapa tertekannya Sultan Gonggo dari Litapa karena Adiaksa membiarkan Nippokure melakukan hal yang kejam jauh melebihi apa yang terjadi di negeri Jampa.
Namun, dia saat Luna sedang menjelaskan, tiba-tiba dari belakang Ciel berteriak.
"Awas ... !!"
Arya secara naluri juga langsung bisa merasakan apa yang membuat Ciel berteriak memberi peringatan.
"Luna, Bai Hua ... Beralih kebelakangku ... !"
Keduanya langsung mengerti dan melakukan sesuai apa yang di perintahkan Arya.
Beberapa deti berikutnya, Mereka semua bisa melihat Bola-bola api dalam jumlah besar, dengan konsentrasi energi yang sangat kuat melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
"Matra ... "
"Omi ... Obi!"
Tepat sebelum bola-bola api itu sampai pada mereka, sebuah dinding Air raksasa muncul menghadang, menahan semuanya.
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"
Saat itu terjadi, Ciel sudah berada di dekat semua orang, dan memegang busur dengan empat anak panah sudah ditarik dan siap ditembakkan.
Arya menyadari posisi Ciel yang sudah siap menyerang, langsung menurunkan dindin air tersebut.
Namun, sebelum melepas tembakan, Ciel mengingatkan mereka. "Tiga ribu kaki di depan sana, ada Seratus Pendekar ... Ranah Bumi ... "
"Zeeeeuuup ... "