ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pedang Di Tengah Aula Besar


Sementara itu, beberapa saat setekah Arya menghilangbdati lingkaran sebelumnya, sudah banya orang yang berkumpul di sana.


Darsapati menoleh pada orang yang pertama kali berteriak mempertanyakan apa yang barusaja terjadi. Menyadari siapa orangbitu, senyum miring langsung terukir di wajahnya.


"Gurat! Kebetulan sekali kau dan pengikutmu di sini. Apakah kalian sudah menemukan sesuatu di dalam sana?" Sambil menyindir, Darsapati bertanya.


Gurat adalah salah satu pemimpin kelompok yang bekerja sama dengan Serikat petualang. "Darsapati! Apa sebenarnya yang kau rencanakan?"


"Oh! Soal itu? Hmm... Beri aku alasan, kenapa aku harus menjawabmu?"


Melihat cara Darsapati menjawab, membuat Gurat sedikit menggeram. Meski tidak terlalu mengenal Darsapati. Tapi, sepak terjang pemimpin tertinggi Sekte Singa Emas itu sudah sangat terkenal.


Bahkan, meski kini Sekte Singa Emas sedang bermasalah dengan pihak kerajaan, buktinya sampai saat ini belum ada tanda-tanda dari kerajaan untuk menangani langsung Sekte yang dipimpin oleh pendekar suci tingkat dua tersebut.


"Apakah benar, bahwa kau ingin menghancurkan tempat ini dan mengubur semua orang yang ada disini?"


Darsapati menggelengkan kepalanya, "Kukatakan sekali lagi, beri aku alasan, kenapa aku harus menjawabmu?"


Gurat terdiam. Tidak ada aturan yang melarang untuk mereka saling serang atau melakukan apapun untuk menemukan benda berharga yang ada di sana.


Namun, saat melihat sebuah pedang besar yang kini terbenam dan hanya menyisakan gagangnya saja di tengah Aula besar itu, membuat baik Gurat ataupun semua orang yang berada di sana, yakin bahwa Darsapati sudah beberapa langkah lebih maju dan mengetahui lebih banyak dari yang lainnya tentang bangunan kuno tersebut.


Bai Fan dan yang lainnya hanya memperhatikan saat keduanya berbicara. Dari gelagatnya, Sepertinya Gurat tidak sempat melihat Arya sebelum dia akhirnya menghilang.


Mereka juga menyadari bahwa Darsapati sedang memancing reaksi orang-orang di sana, untuk mengetahui apakah ada salah satu orang dari luar Sekte Singa Emas yang melihat Arya sebelumnya.


"Pria tua yang sangat pintar!" Gumam Ciel.


Perubahan rencana mereka tidak disertai persiapan yang matang, sehingga saat ini seolah mereka akan menghadapi seluruh kelompok yang ada di sana. Salah bersikap sedikit saja, maka pertempuran tidak seimbang akan segera terjadi.


Akan tetapi, akan selalu ada seorang yang bodoh atau bahkan lebih jika ribuan orang sudah berkumpul seperti ini. Hal tersebut langsung terbukti saat seseorang dari lain kelompok ikut bersuara.


"Hahahaha! Sepertinya pertempuran memang tidak bisa dihindari."


Semua mata yang ada di sana, kini tertuju pada orang tersebut. Suara itu berasal dari salah satu kelompok besar lainnya. Meski bukan pendekar suci, tampaknya orang itu cukup percaya diri drngan jumlah kelompoknya.


"Huh! Aku tak percaya, orang sepertimu berani berbicara soal pertempuran. Sepertinya kau cukup percaya diri."


Ketua dari kelompok ketiga, seorang pendekar level suci tingkat pertama mendengus kesal saat seorang pendekar Raja yang memiliki kekuatan jauh dibawahnya itu, seolah menantang semua secara terang-terangan.


Kaungsaji menghampiri Bai Fan dan yang lainnya. "Saudara Bai! Sepertinya, orang-orang bodoh ini akan memulainya. Saat itu terjadi, Kami akan membuka jalan agar kalian bisa keluar dari sini!"


Ini tidak seperti pertempuran di bukit tengkorak. Dimana hanya ada ribuan pendekar level dasar hingga mahir, puluhan pendekar Ahli, dan beberapa pendekar raja. Ini jauh berbeda.


Ada sebelas pendekar Suci di sini. Meski Darsapati adalah yang terkuat, namun jumlah benar-benar berpengaruh besar saat ini. Namun, kabur dan meninggalkan mereka untuk bertempur, jiwa seorang kultivator Bai Fan menolak itu.


Saat Bai Fan mencoba menyatakan keberatannya, Luna langsung berbicara.


"Tuan! Maaf sebelumnya karna mempertanyakan ini di waktu yang sangat tidak tepat. Tapi, apa arti Arya bagi kalian?"


Mendengar Pertanyaan Luna tersebut, Kaungsaji sedikit tergugup. "Eee... Soal itu... Aku—"


Darsapati memotong Kaungsaji. Dia tau bahwa mengatakan segala sesuatu tentang Arya haruslah sangat hati-hati. Namun, kedatangan Arya yang tidak terduga dengan orang-orang ini, membuat dia merasa mengatakan itu pada mereka bukan masalah yang besar.


Mendengar jawaban Darsapati, mata Luna dan yang lainnya melebar. Mereka berempat langsung tersenyum puas.


"Baiklah kalau begitu, jika pertempuran tidak bisa di hindari, maka, biarlah itu terjadi. Kita akan menghadapinya bersama!"


Kata-kata Luna tersebut, membuat mata seluruh anggota Sekte Singa Emas melebar. Tidak terkecuali Darsapati ataupun Kaungsaji.


Mereka sangat senang bahwa Arya di dampingi oleh orang-orang seperti Luna dan yang lainnya ini. Seketika, semangat juang mereka berkobar.


"Jika, kalian sudah mengatakan hal tersebut, sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan!" Kata-kata itu meluncur dari mulut Darsapati.


"Ya! Jika harus mati hari ini, maka kami akan mati dengan sebuah kebanggaan, karena bisa berjuang dengan orang-orang seperti, kalian!" Sambung Kaungsaji, dengat semangat membara.


"Mati?!" Ciel menyela keduanya. "Apa maksud kalian dengan kalian akan mati?" Tanya-nya heran.


"Nona, aku tau kau dan yang lainnya memiliki kekuatan yang unik. Apalagi aku melihat Saudara Bai, dan gadis itu juga memiliki level kependekaran yang cukup tinggi. Namun, lihatlah jumlah mereka"


Darsapati meminta Ciel melihat keadaan sekelilingnya, agar gadis itu mengerti bahwa keluar hidup-hidup saat ini kemungkinannya sangat kecil.


Disaat mereka berbicara, memang sudah mulai terjadi pergesekan di antara kelompok-kelompok besar itu. Perang mulut sudahntudak bisa di hindari.


Sepertinya, tidak lama lagi pertarungan akan benar-benar dimulai. Hanya menunggu waktu saja sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi.


"Soal itu, tidak perlu khawatir" Jawab ciel dengan percaya diri. "Aku sudah menghitung kekuatan dari setiap kelompok mereka. Meski kekuatan kita tidak sebanyak mereka, tapi dengan taktik dari Tuan Bai, aku rasa kita bisa memperbesar kemungkinan untuk bertahan!" Lanjutnya.


Darsapati dan Kaungsaji terpana dengan kata-kata Ciel, apalagi mereka melihat ekspresi percaya diri dari tiga lainnya saat mendengar gadis itu mengatakan semuanya.


Mungkin saja dengan taktik mereka bisa melakukan perlawanan. Akan tetapi, bertahan hingga berapa lama tidak akan memberi perbedaan banyak.


Sebelumnya, jika keempatnya tidak mengatakan ingin berjuang bersama, dan seandainya keadaan sangat mendesak, mereka berfikir untuk benar-benar menghancurkan bangunan kuno ini setelah mengeluarkan orang sebanyak mungkin.


Sementara itu, pembicaraan mereka terputus saat seseorang telah melangkah kedalam lingkaran yang berada di tengah-tengah Aula besar tersebut.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!"


Kaungsaji berteriak lantang pada pendekar yang mendekati Bahuraksa yang sedang tertancap di lantai tersebut.


Saat pendekar suci tingkat pertama dari Sekte Singa Emas tersebut ingin menghambur untuk menghentikannya, Bai Fan segera menahannya.


"Tuan, biarkan saja dia mencobanya!" Ucap Bai Fan.


Semua mata kini mengarah pada pendekar Raja yang berada di dekat Bahuraksa. Dari gelagatnya, jelas dia mencoba mencabut pedang tersebut.


"Tapi—"


Belum sempat Kaungsaji meneruskan kalimatnya, Bai Fan memotongnya.


"Bahuraksa, telah terbangun. Jika catatan keluargaku tentang pedang itu benar, maka sekarang, hanya pemiliknya sajalah yang mampu mengangkatnya!"