
"Ki Kelang. Katakan, apakah kau terlibat dengan ini semua?!"
Kelang langsung menatap Darius heran. "Kau tidak perlu memujiku seperti itu. Aku belum punya kemampuan untuk menghilangkan kereta sebanyak itu tanpa di ketahui siapapun."
Darius mengangguk. Dia juga tidak bisa menuduh siapapun jika sudah seperti ini. Karena bagaimanapun, hal ini sangat sulit di percayainya.
"Tuan Darius, saat aku mengejar, aku sempat bertarung dengan dua orang pendekar. Aku bisa saja mengalahkan mereka. Namun, anehnya, ada seekor siluman srigala yang sangat besar langsung menyerangku seolah ingin menolong salah satu dari mereka."
Mata Darius melebar. "Itu kebetulan sekali. Di sini, tadi, juga seekor siluman kera yang sangat besar muncul dan menghancurkan pertahanan kami."
Keduanya saling bertatapan dan langsung mengangguk serentak. Menurut mereka, ini benar-benar tidak wajar. Kedua siluman itu tidak mungkin muncul begitu saja.
Apalagi saat ini, di depan mata kepala mereka lima puluh kereta bermuatan senjata telah menghilang dan ratusan pendekar mati dengan kepala hancur tanpa ada yang menyadarinya.
"Tuan Kelang, kita sama-sama memiliki keterikatan pada kerajaan. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?"
Saat Kelang hendak menjawab. Mereka tiba-tiba mendengar beberapa pendekar baru kembali dari dalam hutan.
"Kami, bertarung dengan Sekte Aliran Hitam!"
Darius dan Kelang langsung saling bertatapan. Tak lama mereka langsung menarik pedang dan saling mengacungkan.
"Apa mereka dari kelompokmu?"
"Tuan Darius, meski sesama sekte hitam, bisa saja mereka adalah orang yang sudah kau bayar!"
Tak lama mereka sama-sama mengerutkan kening. Tampak sama-sama berfikir dan mempertimbangkan sesuatu. Sebelum akhirnya serentak berseru.
"Oldenbar ... !!"
****
Berita tentang hilangnya lima puluh kereta yang bermuatan senjata-senjata sihir dalam satu malam itu, langsung menyebar keseluruh penjuru Daratan Timur bagian barat sampai tengah.
Bersamaan dengan itu, Darius dan Kelang kembali ke kota Basaka. Keduanya benar-benar kebingungan memikirkan alasan pada Arya dan pihak kerajaan atas kejadian tersebut.
Saat sampai di istana Basaka. Ki Kelang melaporkan langsung pada Darmuraji. Tentun saja Raja itu tidak bisa mempercayai apa yang diceritakan Kelang begitu saja.
"Ki Kelang. Tidak mungkin senjata-senjata itu bisa hilang begitu saja. Apa yang kau ceritakan tidak masuk akal sama sekali!"
Kelang menatap kesal. Pada Rantoba. "Ki Rantoba, aku bukan anak kecil yang akan mengarang cerita untuk mencari alasan. Sampai sekarang aku juga sulit mempercayainya."
Darmuraji tampak memikirkan sesuatu dan langsung bertanya. "Sebentar, bukankah kau bilang bahwa ada pendekar-pendekar dari Sekte lain yang juga datang kesana?"
"Ya. Tapi mereka sudah mengaku bahwa mereka di bayar Oldenbar untuk membantu pengiriman tersebut!"
Rantoba dan Darnuraji mengangguk. Mereka juga berfikir, jika memang mereka terlibat, tidak mungkin mereka tetap mendatangi tempat kejadian jika mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Jika Oldenbar, tidak terlibat, saat ini, mereka mengarahkan kecurigaan mereka pada sebuah Sekte.
"Ki Kelang, kau sudah berhadapan dengan Sekte Singa Emas beberapa kali selama beberapa tahun. Apa menurutmu Sekte Darsapati, memiliki kemampuan seperti itu?"
Kelang langsung menggeleng. "Jika dia memiliki kekuatan seperti itu, bukankah seharusnya mudah baginya mengalahkan sekte ku sejak lama. Atau, jika kalian melupakannya, kalian dan Oldenbar juga sudah pernah menghadapi sekte itu, bukan?"
Darmuraji dan Rantoba terdiam. Sekarang mereka tidak memiliki alasan untuk mencurigai Sekte Singa Emas.
"Lagipula, aku rasa Sekte singa Emas memang sudah ikut musnah karena meteor yang menghancurkan bukit tempat ditemukannya reruntuhan kuno di kota Gomba itu."
"Paduka Raja. Apakah kalian tidak mencurigai orang yang kalian panggil sebagai Master Alchemist, itu?"
Darmuraji dan Rantoba terdiam. Mereka tampak sedang mempertimbangkan, kecurigaan Kelang pada Arya.
"Aku rasa itu mungkin saja, tapi kenapa dia melakukan hal tersebut? Coba kalian fikirkan, Apa untungnya baginya?"
Rantoba mencona mencari jawaban dari pertanyaan Darmuraji itu, Namun, tidak menemukan jawabannya.
"Bisa saja dia ingin menyerang kerajaan ini dan membunuhmu!" Kata Kelang cepat. "Dia sengaja menyuruh serikat untuk mengadakan misi khusus dan merampok senjata yang ditawarkannya padamu, lalu saat kita berfikir senjata-senjata itu telah menghilang, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk melakukan pemberontakan." Tambahnya, yakin.
Namun, secepat Kelang mengatakan itu, secepat itu pula Rantoba dan Damuraji menggelengkan kepala mereka. Hal tersebut membuat Kelang merasa heran.
"Dia memiliki sesuatu yang bahkan lebih berharga dari Daratan ini!"
Mata Kelang melebar, dia baru saja mengingat kejadian beberapa saat sebelum dia meninggalkan istana. "Maksud kalian, dia benar-benar memiliki Bahuraksa?"
Keduanya menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan kasar.
"Itulah yang dia katakan, bahkan dia mengetahui rahasia Bahuraksa, lebih dari diriku." Jawab Darmuraji.
Darmuraji dan Rantoba langsung tertegun. Mereka memang mempercayai Arya begitu saja. Lagipula, mereka tidak melihat bahwa Arya seperti berbohong sebelumnya.
"Tidak kusangka, kalian bisa seperti itu!" Kelang berkata dengan kecewa. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan jika sudah begini. Bukankah sebaiknya kita memastikan bahwa dia memilikinya atau tidak?"
Saat mereka sesang berbicara, Bai Fan datang. Sebelum Kelang melapor, Darmuraji memang sudah meminta orang untuk memanggilnya.
Melihat kedatangan Bai Fan itu, Seketika Rantoba dan Darmuraji langsung menyadari sesuatu.
"Yang Mulia. Anda memanggilku?" Tanya Bai Fan setelah menunduk menunjukkan sikap hormatnya.
"Oh, ya. Tetua Bai. Aku memang memanggilmu."
Bai Fan mengangguk. "Baik jika begitu. Ada sesuatu yang ingin mulia tanyakan atau katakan padaku?"
"Ya. Tetua Bai, duduklah dahulu."
Bai Fan pun duduk di antara ketiganya. Kakek Bai Hua itu, heran saat ketiganya melihat dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tentang apa ini?"
"Tuan Bai. Kedatanganmu kesini adalah untuk menemukan tubuh Spasial dan Pedang Bahuraksa. Tapi, kau sepertinya tidak melaporkan apapun padaku. Apakah ada yang kau sembunyikan?"
Bai Fan sedikit memundurkan kepalanya. Mendengar tuduhan dari Darmuraji dan tatapan penuh selidik dari Rantoba dan Kelang, membuatnya langsung mengerti.
"Ya. Aku tidak menemukan tubuh itu."
"Lalu, bagaimana dengan Bahuraksa, apakah kau menemukannya?" Pancing Rantoba.
"Ya. Aku menemukannya. Hanya saja sekarang pedang itu tidak ada bersamaku."
Mata ketiganya terbelalak. Mereka berfikir Bai Fan akan mencari-cari alasan dan menyembunyikan fakta bahwa dia telah menemukan Bahuraksa.
"Dimana pedang itu?!"
Bai Fan menarik nafasdan menggelengkan kepalanya. "Bukankah Master Arya sudah mengatakan pada kalian bahwa dia memegang pedang itu?"
"Tetua Bai, kenapa kau tidak langsung melaporkannya begitu kau sampai disini. Apakah kau memiliki agenda lain?!"
Rantoba langsung meradang. Jelas menurutnya Bai Fan telah menyembunyikan hal yang sangat penting ini begitu lama dan baru mengatakannya sekarang.
"Tuan Rantoba, aku tidak menyembunyikan apapun, aku berniat melaporkannya begitu sampai disini, namun Yang Mulia tidak bisa aku temui beberapa waktu."
"Tapi, akhirnya kita berbicara namun, kau tetap tidak mengatakannya."
Bai Fan langsung menoleh pada Darmuraji dan langsung mengangguk. "Ya, saat itu aku ingin memberitahu, tapi Yang mulia lebih dahulu memberitahuku bahwa Nurmageda adalah pengkhianat. Dan beberapa saat sebelumnya, aku juga baru mengetahui ada sosok Tuan Rantoba yang bersembunyi di belakang Yang Mulia. Jadi, aku merasa saat itu bukan waktu yang tepat untuk aku mengatakannya."
Melihat ketengangan Bai Fan dan mengingat apa yang dikatakannya, Rantoba dan Darmuraji tidak dapat membantah.
"Lagipula, kalian tidak memberiku bantuan sama sekali selama aku di sana. Waktu itu, aku meragukan keselamatanku jika aku mengatakan prihal Bahuraksa pada Yang Mulia." Bai Fan menambahkan.
Mereka mengangguk. "Ketua Bai, aku sudah meminta maaf soal itu. Bahkan aku menjanjikan akan memberimu hadiah yang layak dan meminta maaf secara resmi pada Kaisar Liu saat kau kembali."
"Ya. Anda mengatakannya. Itu kenapa aku tidak lagi mempermasalahkannya."
"Tapi, ketua Bai. kenapa Bahuraksa ada padanya?"
"Yang Mulia, apakah anda berfikir aku bisa mengangkat Bahuraksa?"
"Apa maksud—" kata-kata Rantoba terpotong.
Darmuraji mengangkat tangan, tanda meminta Rantoba berhenti bicara.
"Ketua Bai, aku mengerti maksudmu.!"
Bai Fan bernafas lega. "Baguslah, aku rasa aku tidak perlu lagi menjelaskannya."
Rantoba dan Kelang mengernyitkan kening mereka. Keduanya tidak mengerti maksud pertanyaan Bai Fan, namun mereka lebih tidak mengerti lagi apa yang dikatakan Darmuraji.
"Rantoba, kau sudah mendengar Syarat yang di katakan Master Arya. Kita akan melakukan persiapan dalam waktu dekat."
"Maksud Paduka?!"
"Ya. Kita akan meninggalkan Daratan Timur ini, Segera!"