ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Mata-mata Oldenbar


"Hahahaha!"


Suara tawa terdengar mendekat dari kegelapan. Tak lama, muncul sekitar sepuluh orang yang menggunakan jubah Sekte Lembah Hantu. Namun kali ini, semuanya menggunakan topeng berwarna merah.


Ciel juga menyadari, itu belum semuanya. Masih ada pendekar-pendekar lainnya yang berada di pohon di atas mereka.


"Tidak kusangka, orang sepertimu bisa menyadari kehadiran kami!"


Arya memperhatikan pendekar-pendekar yang berdiri di depannya. "Hmm ... Jadi belum semuanya." Gumamnya.


Gumaman Arya itu, terdengar oleh Ciel dan Bai Hua.


"Arya, Sejak kapan kau menyadarinya?!" Ciel merasa Arya memang sengaja memancing mereka semua kesini.


"Nanti akan kujelaskan. Tapi, Menurut Rewanda dan Krama, mereka berjumlah lima puluh orang."


Keduanya segera mengerti. Itu kenapa beberapa hari ini, mereka tidak melihat Rewanda dan Krama. Ternyata Arya sudah memberi keduanya tugas untuk ini.


Bai Hua yang sudah bersiap untuk menerima serangan, menoleh pada Arya. "Senior! Jadi, Apa rencanamu?!"


"Aku sudah mengatakan ini pada Bai Fan dan Luna  sebelumnya. Ikuti saja apa yang mereka inginkan." Jawab Arya.


Merasa menang jumlah, para pendekar itu menjadi percaya diri bahwa misi yang diberikan pada mereka, akan sukses.


"Jika kalian ikut dengan kami tanpa perlawanan, maka kalian akan tetap hidup." Ucap pendekar yang pertama kali muncul. "Ya. Aku tidak menjamin untuk berapa lama. Tapi, Kalian bisa memilihnya! Hahahaha!"


Arya menarik nafas panjang, lalu melepaskannya. "Yah, kami tidak menyangka bahwa Oldenbar sudah lebih dahulu menaruh mata-matanya dalam Sekte Lembah Hantu!"


Pendekar itu mengangguk "Tentu saja. Kalian sepertinya sudah tau cara kerjanya. Karena itu, orang yang membayar kami ingin kalian ikut. Tapi, jika kalian melawan, maka kami terpaksa melenyapkan kalian disini"


"Kami akan ikut denganmu!" Ucap Ciel tiba-tiba.


Tentu saja awalnya mereka semua terkejut dengan itu. Tapi itu tak lama, mereka menyimpulkan bahwa gadis asing itu takut dengan jumlah mereka. Apalagi, hanya dia dan gadis asing lainnya saja yang memiliki tenaga dalam.


"Hahahha! Pilihan bagus. Kau cukup pintar, Nona"


"Kemana kau akan membawa kami?" Tanya Bai Hua.


"Ck! Ck! Ck! Ck!" Topeng merah menggelengkan kepala tak percaya. " Aku tak menyangka kau masih mempertanyakan itu. Sepertinya, kau tak sepintar temanmu!"


Setelah mengatakan itu, topeng merah memberi kode pada beberapa anggotanya. Mereka langsung mengikat tangan dan menutup mata Arya dan dan kedua gadis itu dengan kain hitam.


Melihat ketiganya tidak memberikan perlawanan sama sekali, Topeng merah itu merasa cukup puas.


"Bagus. Sepertinya ini memang akan mudah. Kalian akan tau saat kalian sudah di sana. hahahaha!"


Dengan tangan terikat kebelakang dan mata tertutup, sekarang ketiganya digiring berjalan kesebuah tempat.


Sementara itu, di perkemahan tempat berkumpulnya empat ketua Sekte, mereka memulai persiapan untuk melakukan pergerakan.


Bai Fan dan Luna kini kembali ke tenda untuk bersiap-siap. Di dalam, mereka telah ditunggu oleh Krama.


"Raja dan yang lainnya dibawa kepersembunyian Serikat Oldenbar." Ucap Krama pada keduanya. "Aku dan Rewanda akan bersama kalian. Jika kalian membutuhkan kami, Raja sudah memberi tahu pada kalian bagaimana caranya."


Mereka mengangguk mengerti. Bai Fan dan Luna sudah diberitahu Arya soal ini sebelumnya. Jadi, sekarang mereka memiliki rencana sendiri.


Setelah mengatakan itu, Krama pergi meninggalkan mereka. Kedua Iblis itu akan terus mengawasi keselamatan mereka, selama Arya tidak di sana.


"Ketua Bai, apakah kau sudah mengetahui siapa orangnya?" Luna mencoba memastikan.


Bai Fan mengelus jenggot putihnya, "Sangat mudah untuk mengetahuinya. Mereka yang terlihat sangat tenang, biasanya menyimpan banyak rahasia, bukankah begitu?"


"Ya, aku juga mencurigai orang yang sama. Mereka sama sekali belum terbiasa dengan hal ini. " Luna mengintip sebentar keluar tenda untuk memastikan. "Itulah kenapa, penduduk Daratan Timur dianggap penduduk paling tertinggal di Dunia."


Keduanya sangat menyayangkan apa yang terjadi pada sekte-sekte itu. Bahkan mereka tidak mengetahui bahwa musuh telah meletakkan satu kakinya dalam Sekte mereka. Hanya satu langkah lagi, sebelum akhirnya mereka benar-benar ditaklukkan.


Luna menghentikan apapun yang dikerjakannya, lalu menoleh pada Bai Fan. "Kita harus memaklumi itu, siapapun yang belum mengenal Arya, pasti akan berfikiran sama dengan mereka. Bukankah kau dan aku juga pernah seperti mereka?" Ingat Luna pada Kultivator dari keluarga Bai itu.


"Hahahaha" Bai Fan kembali mengingat bagaimana Arya bisa membunuh Wu Guo dengan mudah. "Aku sekarang mengasihani orang-orang yang sebentar lagi akan bertemu dengan malaikat maut mereka"


Mendengar Bai Fan berkata seperti itu, Luna juga ikut tersenyum. "Aku ragu, jika ada musuh yang pernah berhadapan dengan Arya, masih hidup untuk menceritakan bagaimana mengerikannya pemuda itu"


Bai Fan mengangguk "Benar katamu, sekarang saja, aku sama sekali tidak mencemaskan keselamatan Bai Hua. Padahal, mereka sedang dibawa kesarang musuh. Musuh sebenarnya!"


"Ciel dan Bai Hua akan aman jika Arya bersama mereka. Sekarang, kita harus menyelesasikan yang di sini" pungkas Luna.


Setelah persiapan mereka selesai. Pagi harinya, mereka bersama empat ketua sekte dan rombongannya, berangkat menuju Bukit Tengkorak.


"Ketua Bai. Aku tidak melihat pemuda itu dan dua gadis lainnya. Kemana mereka?" Lamo menyadari bahwa hanya Bai Fan dan Luna saja yang ikut kebukit tengkorak.


"Oh, soal itu. Bai Hua masih dalam masa penyembuhan. Sedangkan Ciel, kau bisa menanyakan sendiri pada kakaknya" Jawab Bai Fan sambil menatap Luna.


Luna mengerti maksud Bai Fan, akan sangat mencurigakan sekali jika Bai Fan tau alasan kenapa Ciel tidak ikut. "Adikku itu, masih kesulitan menahan emosinya. Mungkin dia masih memikirkan hal sebelumnya"


Lamo mengangguk mengerti. "Ya, sebaiknya mereka tidak ikut. Akan sangat berbahaya jika nanti mereka menghadapi musuh dengan kondisi seperti itu."


"Lagipula, Pemuda dari Sekte Awan Senja itu sangat lemah, dia tidak akan bisa membantu. Malah, kurasa dia akan menjadi beban jika ikut. Sebaiknya memang ketiganya menunggu di sini saja" Timpal Ketua Sekte Telaga Keramat, Salu.


Bai Fan dan Luna mengangguk dan tersenyum miring. Ingin sekali rasanya mereka menghancurkan mulut pria paruh baya itu.


***


Hanya sekali beristirahat dalam satu hari lebih dan terus berjalan dengan mata tertutup, Arya dan dua gadis yang digiring bersamanya, akhirnya sampai pada sebuah bukit.


Meski tangan mereka masih terikat, kain yang menutup mata mereka kini dibuka. Saat mata mereka mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya, mereka sudah mendengar banyak suara kegaduhan.


"Diam kalian semua!" Teriak seseorang.


Suara itu tak berhenti dan terus menggema. Arya, Ciel dan Bai Hua dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depan mata mereka. Ternyata suara yang sangat gaduh itu datang dari ini.


Tidak kurang dari seribu orang kini terlihat dikurung di dalam puluhan kandang yang terbuat dari besi.


Mereka berteriak memohon untuk dilepaskan. Sebagian terdengar meminta makan. Ada juga suara isak sampai raungan tangis meronta-ronta.


Terakhir, bahkan terdengar ada suara tawa hambar di beberapa tempat. Mereka pasti sudah kehilangan kesadaran karena merasa tertekan hingga menjadi gila.


Saat malam mereka pertama kali bertemu dengan Lamo, Arya sudah mencurigai gerak-gerik berapa orang. Saat ada kesempatan, Arya memerintahkan Krama dan Rewanda mengawasi orang-orang itu.


Benar saja, orang-orang yang dicurigai Arya itu pergi saat rekan-rekan mereka tak menyadarinya. Namun, Rewanda dan Krama mengikuti mereka sampai di sini.


Seperti apa yang dikatakan Krama dan Rewanda saat mengetahui tempat ini sebelumnya, tempat ini menjadi tempat persembunyian Serikat Oldenbar yang sesungguhnya.


Arya sudah menyiapkan diri untuk ini. Meski awalnya tetap terkejut, kini Arya menatap pada sebuah bangunan besar di atas bukit.


Menurut Rewanda dan Krama, di sanalah Petinggi Serikat Oldenbar berada. Dan inilah tujuan Arya kenapa dia membiarkan para pengkhianat ini membawa mereka sampai kesini.


"Ciel! Bai Hua!" Arya memanggil keduanya pelan. Namun, cukup untuk membuat keduanya tersadar dari keterkejutan mereka.


"Kalian mengerti sekarang?!" Tanya Arya pada keduanya.


Bai Hua dan Ciel mengangguk.


"Ya!"


Jawab keduanya serempak.


"Tidak ada satupun yang boleh lolos saat ini selesai!" Ucap Arya, Geram.