
Di sebuah ngarai kecil tersembunyi di barat Daratan Timur, terdapat sebuah desa yang sepertinya baru saja didirikan tidak lebih dari lima tahun atau bahkan kurang.
Sehari setelah kejadian di reruntuhan kuno, kini Bai Fan dan kedua petinggi Sekte Singa Emas sedang duduk di depan sebuah rumah yang di bangun paling besar di bandingkan bangunan-bangunan yang lainnya di sana.
Desa yang sengaja di bangun di daerah yang tersembunyi itu, kini menjadi tempat tinggal Darsapati dan semua pengikutnya.
"Apa?! Raja Aditya ... Mati!?"
Bai Fan begitu terkejut saat Darsapati menyampaikan berita tersebut. Yang lebih mengejutkan lagi adalah Sekte Singa Emas di tuduh sebagai dalang yang menyebabkan matinya Putra Mahkota Kerajaan Swarna itu.
Meski tidak terbukti, hal tersebut menyebabkan sekte Singa Emas berada dalam posisi yang sangat sulit.
Bagaimana tidak, Sekte yang selalu di jadikan ujung tombak keamaanan kota Basaka itu, kini berubah menjadi sekte terlarang di sana.
Bukan karena desakan dari pihak kerajaan yang membuat sekte Singa Emas merasa terpojok. Tapi, hilangnya kepercayaan penduduk kota Basaka pada merekalah yang membuat Darsapati dan seluruh pengikutnya, berakhir di ngarai seperti saat sekarang ini.
Dimulai dari saat Sekte tersebut selalu terlibat konflik dan pertarungan dengan serikat-serikat yang ada di Basaka ataupun Sekte-sekte besar yang dahulu tidak berani berhadapan langsung dengan mereka.
Saat pertarungan terjadi, selalu ada penduduk yang menjadi korban. Pada akhirnya, semua kesalahan tersebut dilimpahkan pada Sekte Singa Emas.
Hingga mereka benar-benar kehilangan muka dan nyaris kehilangan hampir semua penduduk yang sudah puluhan generasi serta ribuan tahun di bawah perlindungan Sekte itu.
"Ya! Itulah yang terjadi. Sekarang, kami bahkan di curigai sebagai penculik anak dari Raja Aditya, yang menghilang entah sejak kapan, yang bahkan kami pun sama sekali tidak mengetahuinya."
"Lalu, bagaimana dengan Sekte ... Bukan! Maksudku, bukankah seharusnya kalian tetap berhak dengan tanah yang sudah kalian huni selama ribuan tahun?"
Darsapati menghela nafas panjang. Tampak sangat putus asa. Matanya menatap jauh entah kemana.
"Apa yang bisa kami lakukan jika dengan keberadaan kami di sana, penduduk-penduduk merasa terancam. Karena, Kota Basaka dan kota-kota besar lainnya, memutus kerjasama dengan semua orang yang memiliki hubungan dengan sekte Singa Emas. Oleh karena itu, Kami pendekar-pendekar dari Sekte dan seluruh keluarga memutuskan untuk meninggalkan pegunungan itu, semua ini demi ketenangan hidup mereka."
"Lalu, siapa yang menjamin keamanan mereka? Bukankah seluruh perdagangan dan keamanan penduduk sebuah Sekte terancam jika seluruh pendekar Sekte tersebut, pergi?"
"Ehem..." Kaungsaji yang sejak tadi hanya diam, kini buka suara. "Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa kami pernah bertempur dan dipojokkan oleh Serikat Oldenbar sebelumnya?"
Mendengar itu, mata Bai Fan melebar. Tentu saja dia tau kemana arah pembicaraan ini setelah nama serikat Oldenbar di sebut.
"Jadi... "
Keduanya mengangguk.
"Ya! Serikat itu mengambil alih seluruh gunung yang seharusnya menjadi tempat kami bernaung!" Ucap Kaungsaji.
Oldenbar sudah melebarkan sayapnya jauh lebih luas dari apa yang Bai Fan bisa bayangkan.
Menurut keterangan yang di sampaikan oleh Darsapati melalui tilik sandi yang dia tempatkan di Basaka dan beberapa kota-kota besar di Daratan Timur lainnya, Serikat Oldenbar bisa dikatakan sudah menguasai hampir seluruh perdagangan semua komoditi menyangkut sumber daya energi di Daratan tersebut.
Lambatnya berita yang sampai pada kota Arsa dan sekitarnya, itu karena letak wilayah tersebut sangat jauh. Namun, dengan bertemunya Bai Fan dan yang lainnya dengan serikat tersebut sebelumnya, menandakan bahwa wilayah tersebut sudah menjadi target dari Serikat Oldenbar selanjutnya.
"Darmuraji! Ya... Bagaimana dengan Tuan Darmuraji? Apakah dia juga menjadi korban dalam peristiwa tersebut?"
"Tidak, tuan Darmuraji, selamat. Namun, keluarganya ... "
Darsapati tidak meneruskan kata-katanya, karena dia yakin Bai Fan bisa menyimpulkan bagaimana seterusnya.
Bai Fan mengangguk mengerti. "Apakah, kalian sudah berusaha bertemu dengannya? Mungkin dia tau siapa pelaku sebenarnya. Tidak ada alasan bagi Sekte Singa Emas untuk membunuh Putra Mahkota, bukan?"
"Soal itu... "
Menurut mereka, alasan bahwa pihak kerajaan belum mengambil tindakan serius pada Sekte Singa Emas, mungkin karena andil dari penasehat tertinggi Maharaja Kerajaan Swarna tersebut.
Pasalnya, jika memang Darmuraji mencurigai bahwa Sekte Singa Emas pelakunya, maka tidak sukit bagi kakak Maharaja itu untuk mengumpulkan pendekar-pendekar hebat dan seluruh prajurit di Daratan Timur ini, untuk membumi hanguskan Sekte Singa Emas saat itu juga.
Namun, hingga saat ini, hal tersebut tidak pernah terjadi. Tentu saja mereka berusaha bertemu dengan Darmuraji sebelumnya. Akan tetapi, situasi yang semakin memburuk pada Sekte Singa Emas membuat mereka semakin kesulitan melakukan kontak langsung dengan pihak kerajaan.
Segala akses Sekte Singa Emas pada anggota kerjaan diputus. Menemui Darmuraji menjadi perkara yang sangat mustahil jika di lakukan tanpa membuat keributan.
Bai Fan langsung terdiam saat mendengar penjelasan Kaungsaji tersebut. Menurutnya, Sekte Singa Emas memang sudah berada di situasi yang sangat rumit.
Keberadaan mereka saat ini untuk bertahan, pasti hanya karena menjaga bangunan Kuno yang ditemukan tersebut. Jika tidak, sudah bisa dipastikan bahwa Sekte Singa Emas, benar-benar sudah tinggal nama.
Sekte terbesar di Daratan Timur, yang setidaknya memiliki dua puluh ribu pendekar itu, kini hanya tersisa sekitar seratus pendekat saja yang setia kepada mereka.
Selebihnya, sudah bisa di tebak kemana pendekar-pendekar itu pergi. Dengan kekuatan ekonomi yang di miliki Oldenbar, tentu saja pendekar-pendekar tersebut tergiur dengan jaminan pasokan sumber daya energi untuk meningkatkan level kependekaran mereka.
Di lihat dari keadaan ini saja, sudah jelas bahwa sejak awal serikat Oldenbar memang sengaja menempatkan Sekte Singa Emas sebagai target mereka.
Tidak harus menjadi sangat pintar untuk mengerti bahwa. Bisa saja kematian Raja Aditya sebenarnya adalah kesempatan bagi Serikat OldenBar untuk memuluskan rencananya.
Atau, semua itu bisa lebih buruk lagi. Serikat Oldenbar sengaja membunuh Putra Mahkota hanya untuk menyingkirkan Sekte Singa Emas dari Daratan Timur ini, selamanya.
"Saudara Bai. Karena kau akan ke Basaka, mungkin kau bisa membantu mempertemukan atau mewakili kami untuk berbicara dengan Tuan Darmuraji. Karena, seperti katamu. Bukankah dia yang mengutusmu, sebelumnya?"
"Ya! Aku akan mencari cara untuk berbicara berdua saja dengannya. Tapi, ..."
Keduanya mengernyit heran dengan keraguan Bai Fan itu. "Tapi, apa? Apakah kau meragukan kata-kata kami?!" Tanya Kaungsaji.
"Bukan! Bukan seperti itu" Bai Fan langsung menghentikan pemikiran keduanya.
"Aku harus membawa Bahuraksa bersamaku, saat menemuinya!" jelas Bai Fan.
Sementara itu, di sebuah kamar yang ada di dalam bangunan besar tersebut, Luna dan Ciel tampak sedang tenggelam dalam buku yang berisi banyak catatan salinan dan terjemahan dari Kitab keluarga mereka.
"Ciel! Jika kita memang ingin mengikuti Arya, tidak ada cara lain selain mengembangkan dan memperkuat diri kita."
"Ya, aku berfikir sama denganmu. Kita tidak bisa terus menjadi beban dalam perjalanan panjang ini. Dan sepertinya, kita berdua memang bisa jauh berkembang dengan Rahasia-rahasia yang terkandung dalam kitab keluarga ini!"
Keduanya menyadari saat Arya terakhir kali menyelematkan semua orang. Di sana, mereka melihat perbedaan kekuatan yang sangat jauh antara mereka dan Arya. Hal tersebut tentu saja menjadi beban tersendiri bagi keduanya.
Karena, mereka sudah lebih dahulu melakukan perjalanan melintasi benua. Jadi, kedua kakak adik itu benar-benar tau bahwa, semakin kuat seseorang, maka semakin besar juga masalah yang akan di hadapinya.
Beruntung saat terakhir kali, Arya berhasil menyelamatkan keduanya. Jika tidak, mereka pasti benar-benar hanya tinggal nama saja.
Bai Hua dan kedua Iblis langit yang berada di kamar tepat di sebelah kamar mereka, selalu menemani Arya yang belum membuka mata hingga saat ini.
Meski terlihat sudah jauh membaik, Namun karena tidak ada satupun yang mengerti cara membantu Arya, Gadis itu tetap menunggu di sana. Takut, jika tiba-tiba Arya sadar, dan membutuhkan bantuannya.
"Tuan Rewanda dan Tuan Krama, Apakah Senior pernah mengalami hal seperti ini, sebelumnya?"
"Huh, ini belum seberapa. Raja sudah hampir mati ribuan kali sejak pertama kali kami berdua bertemu dengannya."
"Ya, setiap dia terbangun dari keadaan seperti ini, maka, kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat. Jadi, sebaiknya siapkan saja makanan saat menunggunya, dia membutuhkan itu saat terbangun, Nanti!" Tambah Krama.