
Adiaksa tetap tak bergeming. Kata-kata Yuto seolah hanya seperti angin lalu saja baginya. Namun yang pasti, Tidak ada keramahan dari wajah Raja istana Malka itu, pada perwakilan tertinggi pasukan Nippokure untuk Daratan Barat tersebut.
Tidak perduli dengan bagaimana cara Adiaksa menyambutnya. Yuto tetap berjalan mendekat padanya.
Saat keduanya hanya berjarak satu sengah langkah, dari mulutnya Yuto seperti mengatakan sebuah kalimat, namun tanpa suara.
Adiaksa menatap wajah Yuto datar. Tapi Yuto yakin apa yang sedang disampaikannya itu, bisa langsung di mengerti oleh putra kedua Maharaja kerjaan Swarna tersebut.
Yuto hanya tersenyum, seolah itu tak masalah. Saat ini dia berbalik dan menatap pada Banjanang yang terlihat sangat kesal padanya.
"Tuan Banjanang, bicara tentang posisi, aku rasa kau bahkan tidak layak berbicara denganku. Tapi, melihat bagaimana cara kerjamu hingga membuat Daratan ini menjadi sangat kacau, sepertinya aku menyukaimu. Hahahahaha ... "
Perubahan alur dalam berkata yang di sampaikan Yuto setelah sikap yang merendahkan semua orang di sana, tentu saja membuat Banjanang mengernyitkan dahinya.
Akan tetapi, saat itu juga Banjanang teringat akan sesuatu. Dia sangat penasaran tentang apa yang di sampaikan oleh Yuto pada Adiaksa.
"Yuto, seperti apa keadaan Daratan Utara saat ini, dan Pesan apa yang disampaikan oleh Bowler pada Adiaksa?"
Mendengar pertanyaan dari Banjanang itu, Yuto hanya menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
Akan tetapi, senyuman yang terlihat seperti meremehkan, masih terukir di Wajahnya.
"Seperti kataku, bicara soal posisi, kau tak layak berbicara denganku ... "
Banjanang sempat berfikir bahwa Yuto akan meneruskan kalimatnya, dengan kata-kata yang hampir sama dengan apa yang di ucapkan pemimpin pasukan Nippokure itu, sebelum dirinya bertanya.
Akan tetapi, lompatan pembahasan Yuto, berhasil membuat Banjanang terperangah.
"Banjanang, apa sebenarnya tujuanmu?"
Sempat tertegun, Banjanang langsung bereaksi. Menurutnya, Yuto sudah benar-benar melewati batasnya.
Mungkin, di kerajaan Swarna ini, Banjanang tidak memiliki kedudukan khusus. Akan tetapi, meski terdengar berbahaya, bukan rahasia lagi jika Adiaksa akan segera melakukan kudeta.
Dan sekua rencana itu, dirinyalah yang mengaturnya. Dalam hal ini, Banjanang merasa bahwa posisinya sangat penting.
"Yuto, kau mungkin bangga karena atasanmu memiliki kerja sama dengan Maharaja Swarna. Tapi ketahui lah, di sini, di Daratan Barat ini, kami sama sekali tidak memperdulikan hal itu."
Sekali lagi Yuto menggelengkan kepalanya. Menurutnya, Banjanang memang telah melangkah terlalu jauh, segingga tidak memperdulikan detil-detil kecil dari sebuah rencana yang besar.
Saat itu, senyuman yang tadi menghilang di wajahnya. Kini Yuto menatap Banjanang dengan tatapan yang serius. "Benarkah? ... Apa kau yakin dengan segala rencanamu ini? Orang tua, kau—"
Belum sempat Yuto menyelesaikan kata-katanya, sebuah suara langsung memotongnya.
Tentu saja saat itu Yuto langsung terdiam. Karena akhirnya Adiaksa buka suara.
"Yuto, sebaiknya jaga kata-katamu. Kau dan pasukanmu, tidak berarti apa-apa bagiku. Kecuali, jika saat ini kau merasa bisa mengalahkan aku dalam pertarungan satu melawan satu, maka kau aku bebaskan berbicara sesuka hatimu ... "
Saat Yuto berbalik, dia bisa melihat Adiaksa sudah berdiri. Dia tau bahwa dirinya sudah berlebihan. Namun, memang itulah yang ingin dilihatnya.
Pasukan Nippokure, tudak bergerak di bawah perintah seseorang yang hanya bisa beridiri di depan mereka hanya karena dirinya keturunan seorang maharaja.
Yuto langsung merapatkan kedua tangan di sisi kanan dan kiri tubuh, lalu membukuk, memberi hormat.
"Maaf, Tuan Adiaksa. Kau tau bagaimana cara Nippokure bergerak, bukan? ... Aku hanya ingin memastikan saja."
Adiaksa sedikit mengangkat dagu, sebelum akhirnya bertanya. "Lalu, bagaimana keputusanmu?"
Yuto kembali tersenyum. Kini dia mengembangkan kedua tangannya, lalu berseru.
"Dalam pertempuran ini, aku dan pasukanku berada di bawah perintahmu."
Mereka tidak pernah melihat seorang pemimpin berpangkat tinggi dari pasukan Nippokure, menundukkan tubuh mereka, selain pada panglima tertinggi atau Sang penguasa mutlak negeri mereka saja.
"Bagus, senang mendengarnya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Adiaksa berbalik dan kembali duduk lalu memejamkan matanya.
Sempat berfikir tidak akan ada kata-kata lagi yang akan terucap dari mulut Adiaksa, Yuto berniat berbalik meninggalkan tenda.
Akan tetapi, baru satu langkah saja dia bergerak, titah pertama dari Raja Malka itu, langsung menghentikannya.
"Sungai Sembilan dan Lubuk Bebuai bukanlah musuh yang mudah. Kau bisa membahas taktik serta rencana dengan Banjanang dan yang lainnya. Aku ingin paling lama dua hari dari sekarang, kita sudah bergerak dan langsung menggempur pertahanan mereka."
Yuto langsung menganggukkan kepalanya, tanpa membantah sedikitpun.
Dia menoleh pada Banjanang dan semua orang di sana lalu menggeleng sekali seraya mengangkat tangannya pasrah.
"Yah, sepertinya aku memang harus membahasnya dengan mereka."
Banjanang memiliki raut wajah yang seperti tidak terima. Tapi, dia juga tidak tau alasannya kenapa. Hanya saja, menurutnya Adiaksa tiba-tiba menjadi bijak, dalam bertindak.
Namun, keraguannya langsung hilang saat Adiaksa kembali berbicara.
"Guru, apa kau merasa bahwa Yuto lebih baik membahas rencana denganku? Bukankah di antara kita, kau jauh lebih baik daripada diri ku memahami segala sesuatu tentang hal-hal seperti itu?"
Mendengar itu, Banjanang segera tersadar. Tentu saja apa yamg di ucapkan oleh Adiaksa benar adanya.
Baginya, jika Adiaksa tidak akan memikirkan hal-hal lain selain bertatung saja. Taktik dan rencana, sama sekali tidak ada dalam agenda muridnya tersebut.
Saat itu juga, Banjanang mengangguk mengerti. Dia sempat berfikir yang tidak semestinya dia cemaskan.
"Tidak, bukan itu ... Hanya saja, aku merasa bahwa saat ini kau sudah terlihat begitu mirip dengan seorang Maharaja. Hahahahahahha ... "
Yuto dan yang lainnya, hanya menggelengkan kepala mereka melihat Banjanang yang seperti itu. Tak lama mereka semua duduk mengelilingi sebuah meja.
Melihat Banjanang akan mulai bicara, Yuto langsung mendahuluinya. "Tuan Banjanang. Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kau membahas yang lainnya."
"Katakan, tentang apa itu?"
"Apapun itu, Aku dan pasukanku hanya menerima perintah langsung dari Adiaksa."
Meski saat itu kata-kata Yuto penuh dengan penegasan, namun Banjanang tidak terlalu memperdulikannya.
Karena bagi dirinya, itu sama sekali bukan masalah. Jika dia ingin Yuto dan pasukannya melakukan sesuatu, Banjanang hanya perlu meminta Adiaksa melalukannya.
"Terserah ... tapi saat ini kau harus mendengarkanku. Kami telah mengumpulkan banyak informasi di negeri itu. Akan tetapi, perlu kalian ingat. Pertempuran ini, bukan soal menang ataupun kalah."
Saat itu, mata semua orang melebar. Jika pertempuran bukan soal menang ataupun kalah, berarti semuanya tidak sesederhana yang mereka pikirkan sebelumnya.
Penasaran, salah satu kultivator dari Benua Timur di sana, bertanya. "Tuan Banjanang, apa maksud soal itu?"
Banjanang menganggukkan kepalanya sekali untuk meyakinkan mereka.
"Ya, ini bukan tentang menang ataupun kalah ... Tapi kita tidak bisa setengah-setengah. Karena dalam Pertempuran ini, tujuan kita sebenarnya adalah memaksa Lindu Ara ketua Sekte Lubuk Bebuai, membuka Segel Inti Tanah yang kini, berada di tangan mereka."
Semua orang yang mendengar kata-kata Banjanang, melebarkan matanya. Namun tidak bagi Yuto.
Dia benar-benar faham bahwa tidak mungkin pertempuran seperti ini terjadi, jika Adiaksa tidak menginginkan sesuatu.
Lagipula, jauh sebelum Banjanang mengatakan hal itu, Toshi Mamura, panglima tertinggi armada perang pasukan Nippokure, telah menjelaskan segala situasi di daratan ini, padanya.