ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Malam Penuh Penyesalan


Malam yang tenang tanpa angin. Langit terlihat tidak tertutupi awan sama sekali. Bintang-bintang bertaburan di angkasa.


Suara jangkrik bersautan di segala penjuru. Beberapa burung hantu juga sudah berkicau sesekali.


Pegunungan Singa Emas. Tempat lahirnya Sekte Tertua di Daratan timur. Bahkan di kerajaan Swarna itu sendiri.


Seperti biasanya, di sana sebelum awal sepertiga malam berakhir, pusat kota masih terlihat ramai. Banyaknya penerangan dan beberapa toko masih tetap buka menyambut pelanggan.


Suara orang berbincang dan bersenda gurau, terdengar hampir di segala tempat. Di jalan, masih banyak orang-orang berlalu lalang.


Penjaga kota berjalan dengan angkuhnya. Setiap penduduk tempatan tidak berani bertatapan langsung dengan mereka demi menghindari masalah.


Sangat berbeda saat Sekte Singa Emas berkuasa di sana. Saat itu, semua orang benar-benar merasa aman. Penjaga kota adalah pendekar-pendekar yang memiliki nilai luhur dan memang berniat melindungi setiap nyawa yang ada di sana.


Semua kegiatan dalam kehidupan sehari-hari terlewati tanpa tekanan. Tidak ada yang datang meminta upeti. Tidak ada yang menyita tanah bahkan harta benda sekalipun.


Tidur terasa nyenyak tanpa perlu was-was. karena takut jika tiba-tiba ada yang memaksa masuk ke dalam rumah, datang dan memperkosa istri, anak, atau ibu mereka.


Sekarang saja, sebagian besar sudah tak memiliki lagi harta benda. Mereka hanya bekerja dengan upah yang sangat sedikit dalam mengolah tanah yang dahulu adalah milik mereka yang sudah di wariskan turun temurun.


Bahkan saat ini, banyak anak gadis dan wanita muda bersuami yang telah di bawa dengan paksa, dan tak pernah lagi kembali ke rumah.


Kehidupan yang sekarang tampak berjalan normal, sebenarnya dilalui dengan ketakutan, Terlebih lagi bagi penduduk tempatan.


"Pak, kenapa menatap ujung bukit itu sejak tadi?"


Seorang pria yang sudah tua duduk di depan rumah. Menatap ke ujung lembah. Tempat yang dulunya menjadi tempat mengadu di kala susah, dan pasti mendapat pertolongan langsung oleh semua penghuninya.


Istana Singa Emas itu kini menjadi tempat yang paling di takuti oleh para penduduk. Karena di sana, sekarang bersarang makhluk-makhluk yang mengaku manusia, tapi tidak bersifat seperti manusia.


"Oh, iya buk. Aku merindukan Ki Darsapati dan seluruh pendekar Sekte ini. Kita telah berdosa padanya, buk."


Sepasang suami istri yang telah tua itu, adalah satu dari sekian banyaknya keluarga yang menjadi korban kekejaman Oldenbar.


Dengan tubuh yang renta itu, kini mereka harus kembali ke sawah dan ke ladang. Anak, menantu, serta cucu-cucu mereka, tidak di ketahui keberadaannya setelah Oldenbar membawa mereka. Entah masih hidup ataupun tidak.


"Iya, Pak. Mungkin ini balasan untuk kita dan semua orang yang tak percaya pada mereka. Padahal, selama hidupnya, tak pernah sekalipun menyakiti kita."


Sang istri duduk di sebelahnya lalu menunduk. Sama seperti suaminya, mereka menyesal mempercayai Oldenbar dan Kerajaan yang mengatakan Darsapati dan Sektenya telah membunuh seluruh anggita keluarga kerajaan.


Lalu saat terdesak, Darsapati membawa seluruh kekayaan Sekte Singa Emas bersamannya. Saat itu, seluruh penduduk yang dahulu di lindunginya memilih mempercayai itu dan berbalik mengutuknya.


Sekarang, mereka baru mengetahui kekejaman Oldenbar. Di tambah lagi pihak kerajaan juga tidak memperdulikan nasib mereka.


"Jika tidak karena ingin menunggu kesempatan untuk meminta maaf, mungkin aku sudah mengakhiri hidup ku, buk."


Suara pria tua itu bergetar saat mengatakannya. Namun, wanita yang telah menemaninya puluhan tahun itu mengangguk menyetujuinya.


"Ya, Pak. Kita tidak boleh mati sebelum meminta maaf pada mereka."


Keduanya menangis di depan gubuk reyot tempat tinggal mereka saat ini. Meski tampa penerangan, siluet keduanya terlihat jelas saling berpelukan, dalam pilu dan menangis penuh penyesalan.


Sementara itu, di gerbang serikat Oldenbar ada sekitar dua puluh penjaga. Mereka tampak sedang memanggang sesuatu untuk mengisi perut.


Sebagian berkumpul di dekat api sibuk membolak-balik beberapa ekor kelinci yang kini terlihat hampir matang,  dan yang lainnya berdiri tidak jauh dari sana, berjaga-jaga.


"Huh! Aku tak bisa terus bekerja sebagai penjaga." Keluh salah satu dari mereka.


"Kenapa? Apakah kau ingin ikut berperang?!"


Saat ditanya seperti itu, dia langsung terdiam. Dan tampak berfikir.


"Ah tidak. Aku tarik kembali ucapan ku, Lebih baik berjaga seperti ini. Hahahahaha!"


Teman-temannya mengangguk setuju dan ikut tertawa. Lagipula menurut mereka bekerja sebagai penjaga jauh lebih mudah.


Kata-kata temannya itu tentang anak gadis, begitu menarik bagi mereka.


"Ah, beberapa kali lewat di sana, dan tek melihat satu pun." Yang tadi mengeluh kini tak mempercayai kata-kata temannya itu.


"Sebentar! Aku juga pernah melihat mereka. Tapi, sepertinya mereka masih terlalu muda."


"Aish. Bukankah sama saja? ... Di mana masalahnya?"


Setelah temannya mengatakan itu, mereka semua terdiam dan tamlak menimbang-nimbang. Dan tak berapa lama, senyum bejat muncul di wajah mereka.


"Kau benar. Kalau begitu, setelah ini kita akan kesana! Hahahahha... !"


Mereka pun tertawa, akal bulus sudah berenang renang di kepala mereka.


"Kenapa tiba-tiba udara menjadi dingin?"


Tawa mereka segera mereda. Karna yang lain juga merasakan hal yang sama.


"Ya. Aku merasakan juga"


Suasana tiba-tiba menjadi hening. Serentak mereka merasakan perubahan suasana. Tidak tau apa yang membuatnya seperti itu, sekarang perasaan mereka langsung tidak enak.


"Ngiii...ng!"


Salah satu dari mereka seolah mendengar sesuatu.


"Kau mendengarnya?!"


"Apa? ... "


Saat dia melirik ke temannya, matanya lansung terbelalak. Karena mendapati satu bagian tubuh terpentingnya, menghilang begitu saja.


"Di mana kepa— " Serunya terpotong.


"Sreet!" "Sreet!" "Sreet!" "Sreet!" "Sreet!"


"Sreet!" "Sreet!" "Sreet!" "Sreet!" "Sreet!"


"Sreet!" "Sreet!" "Sreet!" "Sreet!" "Sreet!"


"Bruu...k!"


"Bruu...k"


Kejadian itu begitu cepat hingga tak semlat dilihat mata sebelum kepalanya terjatuh, dan tubuhnya mendapat tebasan pedang yang sangat banyak.


Yang lain langsung mundur, karena teman mereka yang baru saja ikut bicara, juga tiba-tiba kehilangan kepala dengan tubuhnya ambruk terpisah.


Mereka langsung berbalik panik hendak berteriak pada kumpulan sabagian yang tadi sibuk memanggang. Namun, saat itu mereka juga sudah mendapati tubuh teman-teman mereka itu sudah terbelah-belah.


"Ada apa—"


"A— "


"To—"


Tidak ada yang sempat menyelesaikan kalimat mereka, karena Detik kemudian, satu persatu padangan mereka menggelap dan kesadaran mereka menghilang.


Semua orang di sana, mati terbunuh dengan tubuh terpisah-pisah tanpa sempat menyadari bahkan untuk sekedar bereaksi saja.


"Kalian benar-benar bukan Manusia!"


Geram Arya saat memastikan tidak ada lagi satupun tubuh yang berserakan di sana, utuh.