ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tidak Ada Waktu Untuk Bermain


Mata mereka melebar, melihat sebuah senyum simpul, di bibir tipis gadis dengan mata besar yang tiba-tiba saja terlihat mengerikan itu.


Namun, saat itu juga empat anak panah sudah melesat pada empat pendekar yang tadi bisa dirasakan oleh Ciel, ingin menyerang.


Melihat kedatangan anak-anak panah tersebut, mereka tersenyum, lalu mencoba menepis tombak kecil dengan ujung berlapis logam runcing itu dengan pedang mereka.


"Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"


"Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"


"Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"


"Zrup!" "Zrup!" "Zrup!" "Zrup!"


Malangnya, upaya itu tidak cukup untuk mengehentikan jalur yang di lintasi empat anak panah tersebut.


Empat pendekar tadi, menunduk dan mendapati sebuah lobang kecil baru saja tercipta dari dada kiri bawah tembus hingga melewati punggung mereka.


Tidak hanya itu saja, anak panah yang gagal mereka antisipasi itu, terus melesat hingga menembus dua pendekar lain, dan berakhir pada satu orang setelahnya.


Tubuh mereka berubah menjadi dingin, karena merasa tidak ada lagi darah yang mengalir dari jantung yang sudah mulai berhenti berdetak tersebut.


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Teriakan dua belas orang yang baru saja menyadari bahwa sesuatu telah menusuk dan menembus tubuh mereka, menutupi suara ambruknya tubuh empat pendekar suci yang baru saja merenggang nyawa.


Satu lagi kejadian yang membuat pendekar-pendekar yang tersisa terkejut.   Namun, itu tidak lama. Setelah itu tatapan mata mereka berubah, tajam.


Melupakan tingkat kependekaran gadis ini, saat ini mereka menyadari bahwa meski sendiri, namun gadis ini sangat berbahaya.


Ciel langsung bisa menyadari hal tersebut. Untuk itulah, dia sekali lagi sudah bersiap dengan empat anak panah lainnya.


"Hoho ... Kalian sudah menyadarinya ... Tapi, sudah terlambat!"


Empat anak panah itu langsung melesat dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari yang sebelumnya. Ciel menanyakan tenaga dalam saat melepas anak-anak panah itu.


Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Ciel tau bahwa dia tidak mungkin bisa membunuh banyak dengan hanya delapan anak panah saja.


Itu karena, dia hanya bisa membidik empat di depan dengan tepat, lalu mencari sudut yang tepat, agar anak-anak panah itu berhasil melukai yang di belakang mereka.


Benar-benar hasil yang sama sekali tidak di harapkannya. Itulah kenapa, pendekar yang baru saja keluar dari tenda, saat ini melesat dengan sangat cepat, dan menghunuskan pedangnya langsung ke arah gadis yang bisa membunuh anggotanya dengan sangat mudah.


"Kau sangat berbahaya, Nona ... Tapi, sayang sekali saat ini aku yang menjadi lawanmu."


Ciel hanya melirik sekilas, dan bisa melihat aura tenaga dalam yang mendekat padanya. Namun, dia sama sekali tidak bergerak dari tempat di mana dia berdiri, untuk menghindar.


Sebaliknya, Ciel sedikit menunduk sebelum pendekar Tanah Bumi tingkat tiga itu benar-benar dekat.


"Matilah, kau ... !"


Tepat, sebelum dia berhasil menebas kepala gadis tersebut, dia tidak lagi melihat sasaran nya di tempat dimana seharusnya berada.


"Huh? ... Kemana, dia?"


Saat pendekar itu berhenti dan berbalik untuk memastikan keberadaan Ciel, seluruh pendekar yang melihat kejadian itu, berteriak padanya.


"Senior!! ... Di atas mu?"


Detik berikut, dari jarak kurang dari dua rentang tangan manusia dewasa, sebuah anak panah, baru saja di lepas dan mendarat tepat di kening pendekar tersebut.


Karena jarak yang sangat dekat, tidak hanya berhasil mengenainya saja. Namun, saat itu hantaman anak panah yang dilepas Ciel, membuat tengkorak bagian belakang pendekar tersebut meledak.


Ciel tau bahwa sekarang semua orang sedang memperhatikannya. Namun, tentu saja dia tidak akan menunggu semua pendekar itu menyerangnya.


Semua mata pendekar itu bisa melihat arah loncatannya. Namun, dia saat bersamaan, beberapa dari mereka merasakan dada bagian kiri bawah mereka, seperti baru saja di hantam sesuatu.


Ciel tersenyum puas karena kecepatannya saat ini bisa membuat pendekar-pendekar ranah bumi kehilangan fokus mereka.


Hingga tidak ada yang menyadari bahwa di saat bersamaan dia melemparkan beberapa suriken ke arah mereka.


Ciel berbalik melihat ke depan. Di sana, dua orang pendekar terlihat memasang kuda-kuda seolah sedang menanti kedatangannya.


Gadis itu langsung mengeluarkan sepasang pedang pendek dan langsung menerjang kearah keduanya.


"Ting ... Ting!!"


Suara dentingan mata pedang, berdenging, saat keduanya berhasil mengehentikan gadis tersebut.


"Matikau!"


Ciel bukan pendekar pedang sebaik Bai Hua. Bahkan teknik berpedang gadis itu terkesan sangat buruk. Berhadapan langsung dengan dua pendekar pedang ranah bumi, sebenarnya membuat dirinya kewalahan.


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


Dalam sekejap mata, terjadi pertukaran jurus dan jual beli serangan di sana.


Ciel sangat yakin bahwa lawan yang sedang dihadapinya saat ini, adalah dua ahli pedang. Karena gadis itu bisa melihat dari kuda-kuda serta gerakan mereka yang begitu selaras dengan senjata yang ada di tangan mereka.


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


"Ting ... Ting!!"  "Ting ... Ting!!"


Malang bagi keduanya, meski unggul dalam teknik, namun gadis yang mereka hadapi ini, juga sudah tidak memperdulikan hal tersebut, sejak beberapa waktu yang lalu.


"Arrrrrrggggggggghhhhhhhhhhh ... "


Suara teriakan itu, di dengar oleh semua pendekar yang ada di sana. Namun, mereka bisa memaklumi kenapa satu rekan mereka bisa berteriak seperti itu.


Saat ini, perutnya baru saja terkoyak sangat panjang, hingga isi di dalamnya terburai keluar.


Semetara satu yang lainnya langsung melompat mundur, berusaha berada sejauh mungkin dari gadis tersebut.


"Dia bukan manusia ... Aku bersumpah! Dia bukan manusia!"


Kata-kata satu orang yang sudah berhadapan langsung dengan gadis itu, membuat nyali yang lainnya sedikit menciut.


Mereka tidak menyangka keberadaan satu orang gadis secara tiba-tiba ini, sanggup membunuh lebih dua puluh pendekar ranah bumi, dan melukai beberapa yang lainnya.


"Bodoh!! ... Pakai otak kalian sedikit, dan hadapi dia bersama!"


Satu lagi suara muncul dari arah tenda, berteriak mengumpat pada seluruh anggotanya, yang terlihat takut, hanya menghadapi satu orang saja.


Ciel yang juga mendengarnya, langsung berhenti bergerak, dan menatap pendekar tersebut.


Dia bisa merakan kekuatan yang luar biasa, dari pendekar yang kini berjalan mendekat, dengan empat lain menyusul di belakangnya.


Dengan kekuatan matanya, Ciel tau bahwa lima orang itu, memiliki kekuatan yang jauh di atas yang lainnya.


Mungkin ini akan sangat menyulitkannya. Namun, di saat bersamaan dia tidak perlu mencemaskan kehadiran lima orang tersebut.


Karena saat ini, tidak jauh dari mereka semua. Tiga orang yang tadi dia tinggalkan di belakang, sudah berdiri sejak beberapa saat yang lalu, menyaksikan semuanya.


"Lihat gadis ini ... Senior! Sebaiknya, kita biarkan saja dia membereskan semua orang-orang ini. Bukankah, sepertinya dia mampu?!"


Senyum yang tadi terkembang, langsung menghilang di wajahnya. Ciel berbalik dan menatap langsung pada Bai Hua.


Akan tetapi, gadis dari benua timur itu, balik melihatnya, dan berkata menantang.


"Kenapa? ... Apa kau tak mampu? Katakan saja, maka aku akan membantu mu, bagaimana?"


Luma Hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala saat melihat keduanya.


Namun, dia berbalik dan menoleh pada Arya. "Arya ... Apa yang akan kita lakukan pada orang-orang ini?"


Arya langsung berjalan menuju panggung di mana Tungkeh Aram terpasung, sambil berkata.


"Cepat habis saja mereka! Kita sama sekali tidak punya waktu, untuk bermain-main ... "