
Arya dan Citra Ayu berhasil menyusul yang lainnya. Namun, saat itu hari sudah lewat senja.
Saat tiba di sana, Arya langsung terpana. Rangkupala, bisa membuat Rumah tanah yang jauh lebih besar dari yang dibuat Citra Ayu. meski kecil, tapi bentuknya mirip istana.
Sebelumnya, Rangkupala pernah mengatakan bahwa dia sempat mengembara dengan Lindu Ara. Ternyata, teknik ini di kembangkan oleh ketua Sekte Lubuk Bebuai itu.
Rangkupala yang juga memiliki elemen tanah, mempelajarinya dan selalu menggunakannya saat dia berpetualang. Sebuah teknik yang sangat menguntungkan.
Menurut gadis-gadis yang ada di sana, tentu saja itu akan sangat menguntungkan mereka. Karena wanita tidak terlalu suka tidur di alam terbuka. Teknik inilah solusinya.
Tapi, seperti biasanya siapa saja akan sangat terkejut saat tiga gadis kembali dari perburuan dan membawa Siluman Badak bercula lima.
Siluman Badak bercula lima itu bernama Rhinus, dikenal di Daratan ini namun sangat langka. Bagi pemburu yang sudah berpengalaman saja, butuh berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk melacak jejaknya.
Belum lagi cara menaklukkannya. Karena begitu beringasnya siluman ini, perlu seorang pendekar ranah bumi untuk menaklukkan.
Namun, ketiganya yang berburu dengan seekor anjing saja, dapat menemukan keberadaan Siluman ini. Tidak hanya itu saja. Mereka membawa pulang dagingnya yang telah terpotong-potong.
Rangkupala pernah memakannya saat bersama Lindu Ara puluhan tahun yang lalu, tapi saat itu perlu puluhan pendekar suci yang membantu mereka.
Namun tidak Citra Ayu. Gadis itu tidak pernah melihat siluman ini, barang sekalipun.
"Citra Ayu. Apakah kau habis bertarung? Ada apa dengan bajumu?"
Tanya Luna, saat melihat gadis itu begitu bersemangat membantu Bai Hua mempersiapkan daging Rhinus dengan baju yang sudah sangat kotor.
Rangkupala yang tidak memperhatikan itu sebelumnya, langsung menoleh pada Arya. Pikirannya langsung menyimpulkan Citra Ayu menyinggung pemuda yang berbahaya ini dan langsung di hajar atau di lemparkan ke udara.
"Oh ini, aku tergelincir, saat Tuan Muda mengajarkan teknik bernafas untuk mempercepat langkah dari ilmu meringankan tubuhku." Jawab Citra Ayu sambil menunduk.
Gadis itu begitu malunya mengingat kejadian tersebut. Beruntung saat ini sudah gelap. Tidak ada yang melihatnya, kecuali Ciel.
Namun, gadis itu tidak terlalu peduli. Baginya, Arya memang tampan dan seorang gadis cantik seperti Citra Ayu, baru saja mempermalukan dirinya sendiri di depan Arya. Sebagai sesama wanita, tentu saja dia mengerti.
Di tangan Ciel, sekarang gadis itu memegang sebuah batu energi yang telah terpadatkan milik siluman Rhinus. Beberapa gagasan untuk senjata sudah terlintas di kepalanya.
Malam itu, mereka memutuskan untuk langsung beristirahat. Karena saat ini mereka sudah berada di perbatasan negeri Jampa. Dengan kecepatan yang sama, maka dalam dua hari, mereka akan tiba di Kota Pinang Merah.
"Arya, apakah kau tidak ingin membantu dua orang itu, menyerap energi Siluman yang baru saja mereka makan?"
Luna ingat saat pertama kali Arya membantu Bai Fan dan Bai Hua menyerap energi Siluman Tersius saat baru saja memulai pertualangan mereka, dari kota Arsa.
Saat ini, dia melihat dengan teknik milik Citra Ayu tidak bisa dengan maksimal menyerapnya. Padahal, itu akan sangat berguna untuk menambah tenaga dalamnya.
Dan mungkin saja, dengan bantuan satu pil buatan Arya dan Bai Hua, gadis itu akan menaikkan level kependekarannya dari pendekar suci tingkat empat menjadi tingkat lima.
"Aku tidak tau. Setiap aku berbicara dengannya, gadis itu seperti tidak mengerti apa yang aku ucapkan."
Kuna sedikit heran. padahal, Aryalah dia antara mereka berempat yang langsung menguasai tata bahasa Daratan ini.
"Baiklah, aku akan berbicara dengannya."
Arya hanya mengangguk saat Luna pergi ke ruangan yang di tempati oleh Citra Ayu. Entah kenapa, dua gadis lain mengikuti Luna kesana.
Melihat itu, Arya hanya menggelengkan kepala dan beranjak pergi ke tempat Rangkupala.
Rangkupala sedikit terkejut. Dia memang sudah lama tidak menyerap energi Siluman yang besar. Apalagi saat ini energinya terasa sangat besar.
Itu karena Bai Hua menambahkan rempah dari tanaman langka yang biasa di gunakannya untuk membuat Pil saat memasaknya.
Hasilnya, energi yang besar kini memenuhi lambung Rangkupala.
"Tuan Muda, bagaimana kau mengetahuinya?"
Aku sedikit mengerti tentang ilmu ini. jadi, biarkan aku membantumu. Lagipula, kau memiliki tenaga yang cukup di cakramu untuk menahannya.
Saat itu, Rangkupala memang tengah duduk bersila. Jadi Arya meletakkan telapak tangan di punggungnya, melepas Berkah Air dan membuka jalur Cakra Rangkupala.
Saat itu juga Rangkupala merasa energi di lambungnya itu terserap dengan cara yang sempurna. Namun, ada sedikit perbedaan dari apa yang sering dia rasakan sebelumnya.
Tidak merasa menambah tenaga dalamnya, namun Rangkupala merasa ada yang berubah di titik-titik Cakranya.
Setengah jam kemudian, penyerapan itu selesai. Dan Rangkupala tidak bisa menahan diri, untuk tak bertanya.
"Tuan Muda. Ini sangat berbeda. Aku tak merasa tenaga dalam ku bertambah, tapi aku merasakan titik-titik cakraku berubah. Bagaimana bisa?"
Arya hanya mengangguk. "Cara menyerap Energi yang kau miliki, memiliki kemiripan dengan teknik kultivasi dari kekaisaran Yang di Benua Timur milik dua orang yang kukenal. Tapi, teknik mereka lebih maju namun tetap tidak sempurna."
"Hah?! ... Tidak sempurna?!"
Tentu saja Rangkupala pernah mendengar Kultivator dari Benua Timur. Sebanyak buku sejarah yang dia baca, pendekar-pendekar dari Benua itu memang mengembangkan teknik yang paling maju dalam penyerapan energi di Dunia.
Sebuah teknik yang di sebut kultivasi yang menyebabkan para praktisi nya di kenal dengan sebutan kultivator.
Rangkupala sendiri pernah berniat menyeberang negara dan mencari guru yang bisa mengajarkannya teknik itu padanya. Namun, baru saja dia mendengar pemuda di depannya ini mengatakan bahwa teknik itu tidaklah sempurna.
"Ya, aku sudah mempelajarinya dan membandingkan dengan beberapa teknik lainnya. Akan tetapi, struktur tubuh manusia tidaklah sama. Bagaimana bisa satu teknik di gunakan pada sesuatu yang berbeda-beda. Tentu saja Itu tidak akan bekerja dengan sempurna."
Sebenarnya, Arya bisa menjelaskan dengan panjang lebar. Tapi, dia yakin tidak semua orang akan mengerti.
Arya mempelajari catatan Obskura yang sudah berumur ribuan tahun dan ditambah dia sudah mempelajari banyak jenis tubuh dari kitab Al-khimiya milik kerajaan Arbaran. Jadi, dia sangat mengetahui rahasia-rahasia tubuh manusia dan bagaimana cara tenaga dalam cakra serta prana bekerja dengan detil yang belum pernah diketahui manusia manapun di dunia.
Itu juga alasan, kenapa dia menghentikan kultivasi Bai Fan dan Bai Hua, dan memberikan Bai Fan catatan untuk dipelajari di negerinya sebelum keberangkatannya.
"Jadi, apa yang terjadi dengan titik-titik cakraku?" Tanya Rangkupala masih dengan rasa penasaran.
"Titik-titik cakra itu sekarang menjadi lebih kuat. Tuan Rangku bisa menyerap tenaga dalam lebih banyak, dan bisa mempertahankannya jauh lebih lama. Di pertarungan yang sesungguhnya, bukankah hal itu yang lebih penting, dari pada hanya sekedar level kependekaran?"
Mata Rangkupala melebar. Sekarang, itu sedikit menjawab bagaimana tiga gadis itu bisa begitu kuatnya.
Dan saat ini, di depannya adalah pemuda yang terlihat sangat lemah, namun mampu membuatnya kehilangan kesadaran, hanya sekali pukul saja.
Rasa penasaran Rangkupala semakin tergelitik. dia menyadari bahwa ilmu pengetahuan Arya benar-benar luas. Sangat tidak wajar untuk ukuran pemuda sebayanya.
"Tuan Muda, berapa Umurmu sebe—"
Saat Rangkupala masih ingin bertanya, tiba-tiba Bai Hua menyela mereka. Gadis itu berseru sedikit panik.
"Senior, sepertinya aku memasukkan ramuan terlalu banyak dan tubuh Citra Ayu tidak sanggup menahannya. Sekarang, tubuh gadis itu memanas dan ... "