ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Akhir Perang Benteng


Sementara itu, di sebalik benteng di sisi lainnya. Di tepi hutan. Karpatandanu sedang berhadapan dengan prajurit-prajurit pasukan Nippokure.


Tepat seperti dugaannya. Mereka tidak menggunakan jalan-jalan rahasia itu, sebagai mana yang mereka duga sebelumnya.


"Pembalik ... Ombak! "


"Tebasan ... Gelombang!"


"Sial, cepat lakukan ... Sekarang!"


"Pembalik ... Ombak! "


"Tebasan ... Gelombang!"


Apapun yang akan mereka lakukan, semua gagal akibat serangan penuh amarah dari Sultan negeri Pasir Putih itu.


"Aku tidak akan membiarkan kalian melakukannya ... Bedebah! "


"Tebasan ... Gelombang!"


Karpatandanu sudah mengeluarkan tenaga dalamnya sudah sangat banyak. Sudah empat jalan Rahasia yang menuju langsung ke beberapa pintu di dalam benteng yang dia hancurkan.


Sesuatu yang yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk menjebak musuh, ternyata akan menjadi malapetaka jika dia terlambat menyadarinya.


Pasukan-pasukan Nippokure itu, berniat menggunakan jalan itu sebagai hulu ledak yang dapat menghancurkan bangunan-bangunan di dalam sana.


"Boooooommm ... !"


Sebuah ledakan di pintu masuk jalan rahasia lainnya, berhasil mengejutkan Karpatandanu.


Sultan Pasir Putih itu hendak bergerak ke sana untuk memastikan, namun suara dentuman sekali lagi menggelegar di pintu masuk lainnya.


"Boooooommm ... !"


Karpatandanu melirik pada prajurit-prajutit Nippokure. Saat itu, Karpatandanu merasa heran. Karena, mereka semua juga terlihat sama terkejutnya.


"Boooooommm ... !"


"Boooooommm ... !"


"Boooooommm ... !"


Tiga ledakan susulan yang Karpatandanu dengar, semakin membuatnya heran.


Seharusnya jika musuhnya yang melakukannya, itu akan sangat aneh. Karena, untuk menyerang benteng, mereka seharusnya meledakan pintu yang berada di ujung alih-alih di pinggir hutan.


"Pembalik ... Ombak! "


"Tebasan ... Gelombang!"


"Tebasan ... Gelombang!"


Memanfaatkan kelengahan lawan, beberapa kali lagi serangan kuat di lepaskan Karpatandanu yang berhasil menghancurkan musuh-musuh di depannya.


Setelah itu, Sultan pasir putih itu berlari ke arah di mana dia mendengar ledakan terakhir.


"Lariii ... "


"Majin ... !"


Karpatandanu memperlambat langkahnya. Sekali lagi di mengernyit heran. Saat ini, puluhan pasukan Nippokure, sedang berlari ke arahnya sambil berteriak-teriak ketakutan.


Saat itu, Dia merasa seolah Prajurit-prajurit itu lari seperti telah melihat hantu.


"Pembalik ... Ombak! "


"Tebasan ... Gelombang!"


Semua yang berlari ke arahnya, tewas saat Karpatandanu menyambut mereka dengan serangan yang sangat kuat.


Tidak peduli dengan mayat-mayat yang berserakan di depannya, Karpatandanu, bergumam. "Apa yang terjadi ... !"


Saat sekali lagi dia mencoba melangkah ke sana, tiba-tiba dia langsung menghentikan niatnya.


Saat hari semakin gelap, Karpatandanu melihat sesosok makhluk berselubung api tengah berlari ke pintu rahasia terakhir.


"Boooooommm ... !"


Di area peperangan, semua orang juga mendengar dentuman-dentuman tersebut.


"Hahahha ... Kalian telah kalah, benteng telah kami dapatkan."


"Sreeeet ... "


Satu lagi tebasan di terima Umbara. Saat mendengar tawa dari Daisuke itu.


"Sial ... Aku tak akan membiarkanmu hidup, untuk melihatnya."


"Kau sudah mengatakan akan membunuhku berkali-kali. Tapi satu seranganmu saja, tak bisa mengenaiku."


"Sreeeet ... "


Daisuke terus berbicara di arah berbeda dan memberikan serangan di tempat lainnya. "Bahkan, pasukanmu telah mundur."


"Sreeeet ... !"


Saat Daisuke mengatakan itu, memang Prajurit-prajurit Nippokure, terlihat sedang mengerjar pendekar-pendekar pembela negeri Jampa ke arah dinding benteng.


Saat itu, mereka telah merasa benteng akan Segera mereka kuasai. Karena, jelas racun pada pendekar-pendekar yang berlari di depan mereka tersebut, telah bekerja.


Tentu saja Membunuh mereka, tidak akan menyulitkan seperti sebelumnya.


Hampir semua pasukan itu tersenyum saat membayangkan kemenangan mereka yang ada di depan mata, sebelum beberapa orang pendekar yang telah dahulu sampai di benteng berteriak seolah memberi tanda.


"Anak-anak Muda ... Kami serahkan mereka pada kalian ... !!"


Saat itu juga mata Prajurit-prajurit pasukan Nippokure melebar. Dari atas benteng yang mengelilingi benteng, muncul ratusan pemanah.


"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"


"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"


"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"


"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"


"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"


"Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!" "Zup!"


Ratusan anak panah yang seperti hujan Itu, langsung terarah pada mereka.


Tidak sekali, pemuda-pemuda yang dulu mereka latih untuk dimanfaatkan tenaganya sebagai prajurit garis depan itu, terus menghujani mereka dengan anak-anak panah.


Tidak ada tempat yang aman untuk berlari. Karena, saat mereka hendak berbalik, ada ribuan pendekar suci dibelakang mereka yang sedang menyaksikan mereka bermandikan anak-anak panah tersebut.


Akan tetapi, kejadiannya sedikit sudah terlambat. Hari sudah semakin gelap. Anak-anak muda yang memegang panah itu, menjadi ragu untuk terus menembak.


Mereka takut panah mereka salah sasaran karena belum begitu terlatih saat mengarahkannya.


"Sial ... !"


Daisuke mengumpat melihat kejadian itu. Karena semua tidak sesuai rencananya.


Sebagai komandan pasukan, dia benar-benar mengetahui kekuatan pendekar-pendekar negeri ini. Tidak ada satupun laporan yang mengatakan bahwa, negeri Jampa memiliki pasukan pemanah. Jadi, semua tidak ada dalam perhitungannya.


"Hahaha ... "


Meski terluka parah, Umbara tertawa lantang "Aku rasa, apapun rencanamu, semua telah gagal, Daisuke ... Hahahaha."


"Sreeeeet ... !"


Daisuke sudah memakai jurus ini cukup lama, dia sudah memberi puluhan luka pada Umbara.


"Kalian terlalu cepat memutuskan ... Saat gelap, kalian tidak akan bisa berbuat banyak lagi."


Umbara juga mengerti hal itu, dan dia langsung diam dan berfokus untuk melawan dan mengalahkan Daisuke, sesuai Sumpah nya.


"Sekarang ... Matilah kau ... !"


Akhirnya, Daisuke melancarkan serangan Terakhirnya.


Selalu memakai jurus yang sama dengan pola acak namun terus berulang, membuat Umbara mengerti bagaimana cara kerjanya.


Daisuke hanya bicara saat berhenti sejenak lalu melompat mundur kemudian memutar dan melompat ke sisi berlawanan dari arah balik Umbara.


Namun, dengan pola serangan seperti itu, Umbara tidak bisa langsung menyerangnya. Dia sudah mencoba beberapa kali dan berakhir meninju udara.


Dan saat inilah yang di tunggunya. Satu kesempatan, saat Komandan Nippokure itu sudah benar-benar berniat membunuhnya.


Hari sudah benar-benar gelap. Jadi Umbara menutup matanya. Agar tak ada keraguan di hatinya.


"Hiyyyaaaaaaa ... "


Suara Daisuke dia dengar di belakangnya, namun saat itu dia hanya tersenyum.


"Sruuppp ... !"


Sebuah tusukan lurus, menusuk perut Umbara tembus hingga ke pinggang belakangnya.


"Kau yang mati ... !"


Sejak sudah mempelajari bagaimana teknik Daisuke, Umbara hanya memfokus tenaga dalamnya pada kepalan tinju tangan kanannya. Putra Jakasona itu, mempertaruhkan segalanya, pada satu serangan terakhir ini.


Daisuke merasa berhasil menusuk Umbara dengan telak dari belakang, ternyata mendapati bahwa lawannya tidak berbalik sama sekali.


Meski jelas sudah menusuknya, itu dia lakukan dari depan. Dan tentu saja, itu sangat berakibat fatal.


"Kau ... !"


Daisuke tidak sempat melompat mundur, karena momentum lompatnya, masih mendorongnya ke depan.


"Booom ... "


Malang sekali, momentum itu di manfaatkan Umbara sebagai penambah daya bentur pukulannya.


Pukulan yang sangat keras dari Umbara itu, membuat hidung pesek Daisuke jadi mancung kedalam dan Daya kejut dari pukulan itu, juga menghancurkan wajah komandan Nippokure tersebut.


Karena sudah gelap, tidak ada yang melihatnya. Namun, tiba-tiba saja, entah bagaimana semua kembali sedikit terang.


Kesempatan itu, di manfaatkan Umbara menarik pedang yang ada di perutnya, dan langsung menebaskannya pada Leher Daisuke saat itu juga.


Komandan Nippokure mati terpenggal, membawa Sumpah Umbara.


Akan tetapi, sejak beberapa saat yang lalu, Tanpa Daisuke dan Umbara sadari, hanya mereka saja yang sebelumnya masih bertarung.


Karena saat ini, semua mata orang yang ada di medan tempur sedang menengadah sedikit ke atas, ke arah benteng.


Di atap sebuah bangunan, di atas dinding yang mengelilingi benteng, di sanalah cahaya itu berasal.


Seluruh pasukan Nippokure ataupun pendekar pembela negeri Jampa, berdiri mematung menyaksikan apa yang kini berdiri di sana.


Sesosok mahluk yang memiliki mata dan rambut berkobar dengan api merah menyala, menyandang sebuah godam yang juga menyala tak kalah terangnya. .


Kemunculan Makhluk itu, langsung memastikan berakhirnya perang pembebasan negeri Jampa.


Karena Di atas sana, tengah berdiri makhluk dengan kekuatan yang hanya ada di Mitos Ranah Legenda.


Sang Singa Neraka, Luna.