ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Perubahan Rencana


Darmuraji dan Rantoba memutih. Mereka tidak menyangka Arya akan tiba-tiba mengungkit sesuatu yang sangat tidak terduga seperti itu.


"Kalian semua! Tinggalkan kami bertiga!"


Perintah Rantoba pada seluruh orang di Aula istana itu. Dan tak perlu menunggu lama seluruh orang langsung mengosongkan ruangan tersebut. Sementara, Kelang sudah lebih dahulu menghilang.


Arya mengernyitkan dahinya. Seraya tersenyum lebar. Dia menatap keduanya bergantian. "Kenapa kalian terkejut seperti itu?"


"Master ... Kau tidak bercanda, kan?"


Arya menggeleng. Senyum yang tadi melekat diwajahnya menghilang. Matanya kini menatap mata Darmuraji, tajam.


"Tuan Darmuraji, mungkin kalian yang ada di istana ini merasa tidak nyaman karena aku tidak membungkuk untuk menghormatimu. Tapi, apa kau berfikir bahwa aku adalah orang yang akan mengakui memiliki sesuatu yang tidak ada padaku?"


"Tidak! ... Tentu saja tidak! ... Aku tak bermaksud seperti itu!" Darmuraji panik seketika. "Aku hanya terkejut. Itu saja!"


Sempat berfikir untuk menanyakan bagaimana cara Arya menemukan pedang tersebut, namun Rantoba langsung membuang fikiran itu jauh-jauh. Sekarang, sudah tidak penting lagi bagaimana benda itu bisa ditemukan.


"Master ... Jika memang benar kau memilikinya, lantas dimanakah pedang itu sekarang?"


Darmuraji mengangguk. Dia merasa pemuda di depannya ini benar-benar tidak bisa di tebak. Dengan segala ke anehan yang ditunjukkannya sejak kemunculannya, Sekarang, Darmuraji mulai meragukan siapa Arya yang sebenarnya.


Tidak menjawab pertanyaan Rantoba, Arya menunjukkan ekspresi wajah yang lain. "Menarik sekali, bukankah itu hanya sebuah pedang tua? Kenapa kalian sangat menginginkannya?"


Darmuraji menelan ludah sebelum berkata. "Pedang Tua? ... Master, bagaimana kau tidak mengetahui apa itu Bahuraksa. Sementara pedang itu ada bersamamu?"


"Kalian tidak menjawab pertanyaanku. Aku juga tidak akan menjawab pertanyaan kalian!"


"Master, apa maksudmu? Bukankah aku sudah menjawabnya?" Tanya Darmuraji heran.


"Kalian berdua hanya balik bertanya, tidak menjelaskan apapun!"


Darmuraji menatap Rantoba, mereka tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Terlihat jelas bahwa mereka sedikit keberatan untuk mengatakannya.


"Baiklah, jika kalian tidak ingin mengatakannya. Aku rasa, Pedang milik Arangga itu, biar tetap bersamaku saja!"


Mata keduanya terbelalak saat Arya menyebut nama Arangga. Namun, bukan itu saja. Saat ini mereka mendapati Arya sudah kembali berdiri dan terlihat hendak pergi.


"Master, sebentar... Aku akan menjelaskannya!" Darmuraji menahan Arya. Jelas kepanikan sedang melanda mereka berdua.


"Hmm... Aku tidak ingin mendengar sesuatu tentang Sembilan Senjata Pusaka Dunia. Soal itu aku sudah mengetahuinya."


"Tidak ... Ya! Eh, maksudku tidak seperti itu.!"


Rantoba merasakan kepanikan Darmuraji yang semakin menjadi-jadi, lagipula jika Bahuraksa memang bersama Arya, tidak ada cara lain, mereka memang harus mengalah untuk saat ini.


"Master ... Tolong dengarkan penjelasan Paduka Raja terlebih dahulu."


Arya kembali duduk. "Baiklah, mulailah menjelaskan padaku, Apa yang membuat seseorang yang telah menolak tahkta kerajaan Swarna ini, tertarik dengan pedang itu?"


Darmuraji menatap pada Rantoba sebentar lalu berbalik kembali menatap Arya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu melepaskannya. Kemudian, mulailah dia menjelaskan.


"Master, aku rasa kau pernah mendengar sembilan negara dengan pemimpin terkuat, bukan?"


Arya tidak mengangguk ataupun menggelengkan kepalanya, dia hanya menunggu Darmuraji melanjutkan penjelasannya. "Langsung saja!"


Darmuraji terkesiap. Barukali ini dia merasa terdesak saat berbicara dengan seseorang. Bahkan Maharaja Swarna sekalipun tidak bisa membuatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini.


"Ini tentang Sembilan Senjata Pusaka Dunia— "


Perkataannya terpotong karena sekali lagi Arya berdiri.


"Para penguasa negara-negara itu adalah pemegang Senjata Pusaka Dunia. Kerajaan Swarna harus menemukan Bahuraksa agar tidak lagi berada di bawah tekanan mereka!"


Arya kembali duduk. Penjelasan seperti inilah yang memang ingin dia dengar.


"Baiklah, lanjutkan...!"


Damuraji melepas nafasnya lega.


Darmuraji terus menjelaskan apa yang terjadi di dunia saat ini pada Arya. Negara atau kekaisaran yang di pimpin oleh pemegang Senjata Pusaka Dunia, berubah menjadi negara adikuasa. Setiap waktu kekuatan mereka terus bertambah.


Sembilan negara itu sudah menguasai negara-negara di sekitar mereka, dan mulai melebarkan pergerakannya. Sekarang, seperti serikat Oldenbar contohnya. Itu adalah salah satu cara mereka menguasai negara tersebut.


Arya mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut Darmuraji dengan seksama. Menurutnya, Penjelasan Darnuraji sangat masuk akal.


Sembilan negara itu memiliki kekuatan yang hampir sama dari sisi manapun. Sejak dua ribu tahun yang lalu, mereka sudah membentuk sebuah Liga dan memiliki perjanjian untuk saling tidak mengusik.


Dampaknya, negara lain lah yang menjadi sasaran mereka. Akan tetapi, sepertinya itu tidak akan bertahan lebih lama lagi, kekuatan mereka mulai tidak seimbang.


Hanya tinggal menunggu waktu sebelum perang yang melibatkan seluruh dunia terjadi.


Itulah kenapa kerajaan Swarna harus menemukan Bahuraksa. Dengan begitu, sebagai pemilik senjata yang lebih kuat dari Sembilan Senjata Pusaka Dunia, mereka pasti akan berfikir panjang untuk mengganggu kedaulatan kerajaan Swarna ini.


Begitulah Darmuraji mengakhiri penjelasannya. Saat itu Arya sempat termenung sebentar. Lalu dia mengangguk.


"Jadi, begitu? Aku rasa, aku telah menemukan sesuatu yang sangat hebat!"


Darmuraji dan Rantoba sudah menduga bahwa Arya tidak akan mungkin dengan mudah untuk menyerahkan Bahuraksa begitu saja pada mereka.


Akan tetapi, melihat bagaimana reaksi Arya setelah mendengar penjelasannya, kakak dari Maharaja kerajaan Swarna itu, membuat fikirannya melayang entah kemana.


"Master ... Apa maksudmu dengan itu?"


"Jika, apa yang kalian katakan benar, Berarti Bahuraksa harus diserahkan pada Sang Maharaja Kerajaan ini, Bukan?"


Tanpa fikir panjang, Keduanya langsung mengangguk cepat.


"Ya. Seperti itulah seharusnya!"


Arya memajukan tubuhnya dan menatap keduanya bergantian.


"Dengar, aku akan memberikan Bahuraksa. Tapi, apa yang akan aku dapatkan sebagai gantinya?"


Tiba-tiba kepala keduanya menjadi kosong. Benar-benar tidak ada satupun kata yang tepat yang bisa mereka temukan untuk menjawab pertanyaan Arya itu.


Bukan karena apa yang akan diminta Arya, tapi dengan jelas pemuda ini barusaja mengatakan bahwa dia bersedia menyerahkan Bahuraksa padahal sudah mengetahui seberapa besar dampak kemunculan pedang itu pada kekuatan Dunia.


"Master ... Katakan, apa yang kau inginkan. Kami akan memberikan apapun jika kau bersedia menukarnya dengan Pedang Bahuraksa!"


Mendengar kata-kata Darnuraji itu, Arya tersenyum kecut. Tapi, sepertinya keduanya tidak terlalu memperdulikan ekspresi Arya tersebut.


"Baiklah, berikan Daratan ini untukku. Maka aku akan memberikan Pedang Bahuraksa pada Kalian, Bagaimana?!"


****


Setelah pembicaraannya dengan Darmuraji selesai, Arya kembali ketempatnya.


Di sana, dia sudah ditunggu oleh Luna, Ciel dan Bai Hua. sepertinya ketiganya sudah bersiap dengan rencana mereka.


"Senior! Apakah kita berangkat sekarang?"


Tidak menjawab Bai Hua, Arya langsung menarik Bahuraksa dari Lingkar ruangnya dan membiarkan pedang Berjiwa Kosha yang kini terbangun itu, melayang di udara.


Mereka semua menjadi heran melihat raut wajah Arya dan apa yang sedang di mereka lihat di depan mata kepala mereka saat ini.


"Kerajaan busuk ini, sejak awal benar-benar tidak pernah perduli dengan orang-orang di Tanah leluhurku. Mereka bersedia menukar Daratan ini, hanya demi sebuah pedang!"


Sekarang, Arya menatap ketiganya. Mereka belum pernah melihat Arya bersikap seperti ini sebelumnya. Tapi, yang mereka tau, setelah ini sesuatu yang sangat mengerikan pasti akan segera terjadi.


"Kalian, bersiaplah! ... Rencana kita berubah!"


Arya segera berbalik meninggalkan mereka dengan Bahuraksa masih melayang di udara.


"Rewanda! ... Krama! ... Mulai saat ini, Aku mengizinkan kalian untuk membunuh, Manusia!"