ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Diam


"Apakah dia sudah keluar dari kamarnya?"


Ciel bertanya pada semua orang yang ada di lantai bawah penginapan Bulan Fajar.


Di sana, telah berkumpul semua orang yang memiliki peran penting dalam pergerakan beberapa hari ini. Namun Arya, sejak kepulangannya dari desa Paganti. Tidak berbicara pada siapapun.


Semua yang mendengar pertanyaan itu, menggeleng.


Sekar yang mencemaskan keadaan Arya, sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi di desa Paganti.


"Ki Jabara. Sebenarnya, apa yang terjadi di sana. Kenapa Tuan Arya menjadi seperti itu?"


"Kakek..."


Bai Hua juga meminta penjelasan pada kakeknya, Bai Fan. Namun, sama halnya dengan Ki Jabara, Bai Fan juga sangat enggan mengatakannya.


"Baiklah! Jika kalian tidak mau mengatakannya, aku akan bertanya langsung padanya!"


Ciel kembali berdiri dan hendak langsung berjalan menuju kamar Arya. Namun, Luna langsung menahan tangannya.


"Ciel, kami sama sepertimu. Tidak ada yang tidak mencemaskan Arya saat ini. Tapi, sebaiknya bisarkan dia sendiri dahulu. Setidaknya untuk saat ini."


Bai Fan dan Ki Jabara saling bertatapan. Mereka tampak mempertimbangkan sesuatu.


"Baiklah!" Ki Jabara Ahirnya membuka suaranya. "Aku akan menceritakan apa yang terjadi di sana!" saat mengatakan itu, Ki Jabara masih menatap Bai Fan, tatapan itu dibalas anggukan oleh Bai Fan tanda menyetujui keputusannya.


"Kalian mungkin tidak akan percaya apa yang sudah kami saksikan."


Ki Jabara memulai cerita.


"Siapa yang menyangka, lawan yang bisa menghentikan jurus terkuatku hanyandengan kedua jarinya, bisa mati berdiri saat Tuan Arya menvabut jantungnya hidup-hidup dan itu hanya dengan sekali pukulan saja"


Ki Jabara menatap orang-orang di sana. Hanya Bai Hua yang terlihat terkejut setelah dia mengatakan itu. Sedangkan Sekar, Luna, dan Ciel adiknya, sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Tentu saja hal Itu membuatnya heran.


"Kalian tidak percaya?!" Tuding Ki Janara pada ketiganya.


Sekar menghela nafas panjang. "Aku sudah beberapa kali berusaha memberitahumu. Tapi, selalu saja gagal. Lagipula, Tuan Arya bukan musuh." Jelas Sekar.


Ki Jabara mengedip-ngedipkan matanya yang melebar.


"Kau tidak berusaha lebih keras. Ini hal yang sangat penting. Hampir saja aku mati jika Tuan Arya tidak datang" Protes Ki Jabara.


"Sebentar!" Bai Hua seperti menyadari sesuatu. "Siapa yang dibunuh Senior dengan satu pukulan?"


"Wu Guo!"


Yakin hanya dirinyalah yang mengetahui siapa yang sudah dikalahkan Arya dengan satu pukulan, Bai Fan menjawab pertanyaan cucunya itu. Dan dia tidak akan terkejut lagi saat sebentar lagi melihat reaksi cucunya itu.


"Benarkah!" Mata Bai Hua melebar. Mulutnya yang terngaga tak kalah lebarnya itu, segera dia tutup dengan kedua telapak tangannya.


"Tak mungkin!"


Semua orang di sana, melihat reaksi Bai Hua yang histeris dan mengejutkan. Ekspresi yang di tunjukkan wajah Bai Hua, menegaskan seberapa kuatnya si Wu Guo itu.


"Ya! Siapa yang menyangka Wu Guo mati dengan cara seperti itu."


Bai Fan juga terlihat masih sulit untuk menerima kenyataan. Bahkan dirinya sendiripun, akan kesulitan untuk mengalahkan Wu Guo.


"Dia berada di level Raja"


"Hah?! ..."


Mereka semua saling berpandangan. Tentu saja itu sangat sulit dipercaya. Level Raja adalah level yang sangat sulit dicapai.


Dari sepuluh ribu orang, tidak sampai seratus orang yang bisa sampai di level itu. Apalagi di Daratan Timur Kerajaan Swarna ini. Hanya ketua-ketua sekte besar yang bisa sampai di level itu.


Dan kini mereka mengetahui bahwa Arya bisa dengan mudah mengalahkan pendekar dengan kekuatan seperti itu. Mereka benar-benar semakin kesulitan untuk menebak sekuat apa Arya sebenarnya.


"Ehmm..." Sekar tidak terlalu mengerti dengan level kependekaran itu. Yang dia tau hanyalah, Arya adalah orang terkuat yang pernah dia temui. "Ya! Apapun itu, aku tidak pernah meragukan Tuan Arya."


"Yahh! Memang, Itu salah kita karena telah meragukan Arya." Sahut Luna. "Tapi, saat ini yang harus kita ketahui apa yang membuat Arya berdiam diri setelah dari sana!"


Luna mengingatkan semua orang tentang awal pembicaraan ini.


Semua orang mengangguk mengetujui perkataan Luna, saat ini yang terpenting adalah mengetahui apa penyebab Arya diam.


"Baiklah! Aku akan meneruskan ceritanya." Sahut Ki Jabara, "Saat itu, kami semua di kejutkan lagi dengan cara pengendalian elemen air oleh Tuan Arya, lalu... "


Mulailah Ki Jabara meneceritakan, bagaimana Arya mengedalikan elemen air. Lalu, saat Bai Fan mengamuk dan yang paling mengejutkan tentu saja kemunculan Rewanda dan Krama.


Semua di ceritakan oleh Ki Jabara dengan suara yang menggebu-gebu. Betapa leganya mereka menyadari bahwa Arya bukan musuh mereka. Karena, untuk pertama kalinya Ki Jabara merasa iba dengan musuh yang sangat malang yang harus menerima kenyataan berhadapan dengan Arya.


Cerita Ki Jabara berlanjut. Setelah menangkap Nurmageda dan Anak buahnya, mereka kembali ke lembah. Semua pendekar dari Kekaisaran Yang, sudah di lumpuhkan Arya.


Hal yang mengejutkan lainnya, saat mereka tiba pendekar-pendekar itu sudah kehilangan keinginan untuk hidup. bukan, mereka benar-benar tidak ingin hidup lagi.


Mereka memohon agar Ki Jabara dan Bai Fan membunuh mereka.


Semua orang penasaran tentang apa yang telah dilakukan Arya dan kedua makhluk itu, hingga membuat pendekar-pendekar asing menjadi seperti itu.


Akan tetapi, saat mereka tiba disana, Arya sudah tidak ada. Bai Fan saat itu menduga Arya sudah menemukan di mana para pekerja berada. Mereka mencoba menyusul dan mencarinya ke sana.


Dan benar saja. Ternyata, Arya memang sudah berada di sana. Namun, pemandangan di sana, sangat mengerikan.


Semua pekerja, dikurung di dalam puluhan kerangkeng besi di tengah hutan.


Di setiap kerangkeng, sudah ada beberapa orang yang telah mati dan telah menjadi bangkai. Bahkan, ada yang sedang berusaha bunuh diri.


Hal mengerikan lainnya adalah, Karna Nurmageda tidak memberi mereka makan, maka untuk bertahan hidup, mereka terpaksa memakan bangkai teman mereka sendiri.


Saat Ki Jabara, Bai Fan dan yang lainnya tiba disana, Arya sudah berdiri mematung. Matanya menatap nanar pada ribuan orang itu. Sejak saat itu, Arya tidak berbicara pada siapapun lagi.


Setelah Ki Jabara menyelasaikan ceritanya, semua orang yang ada di sana ikut terdiam.


Meski kepulangan mereka beberapa hari yang lalu membawa kabar kemenangan. Apalagi Nurmageda dan seluruh orang yang berpihak padanya sudah berhasil di amankan.


Namun, sekarang mereka mengerti kenapa Arya menjadi seperti itu. Kemenangan ini memang akan mengubah nasib banyak orang.


Akan tetapi, trauma dari luka dan penderitaan semua orang yang mengalami semua ini, tentu saja tidak akan semudah itu untuk diobati atau dilupakan. Mereka akan menhabjskan sisa hidup mereka dengan mengingat kejadian yang telah menimpa mereka.


Semua orang yang duduk di sana, terdiam seribu bahasa. Berbagai macam bayangan berenang-renang di keola mereka masing-masing. Mereka sedang memikirkan nasib semua korban kejahatan Nurmageda.


"Kenapa kalian Semua diam?"