ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Tenang Sebelum Badai


"Kakak, apakah kau pernah berfikir bahwa Arya sangat jenius?" Ciel menatap ke atas lalu kembali menatap Luna. "Maksudku bisakah manusia sejenius Arya?" sekarang dia. Menggelengkan kepalanya. " Tidak ... Tidak ... Tidak! Maksudku, bisakah sebuah kegilaan disebut jenius?"


Luna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adiknya itu. Sejak tadi Ciel seolah mencari kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana Arya.


Namun sampai saat ini, sepertinya adiknya itu belum bisa menemukan kata-kata yang cocok untuk sekedar menanyakan hal tersebut.


Mereka saat ini, sedang menyusun perlengkapan penempaan yang baru saja datang. Sebuah gedung dengan beberapa ruangan yang besar serta alat-alat penempaan yang bisa dikatakan cukup bagus, terletak di beberapa titik di sana.


Seperti kata Arya sebelumnya pada mereka. Tempat ini akan dijadikan tempat untuk memproduksi senjata dan perlengkapan pendekar.


Namun di sebalik itu, sebenarnya Arya ingin menjadikan gedung itu sebagai tempat bagi orang-orang Daratan Timur mempelajari teknik penempaan logam yang jauh lebih maju milik Ciel dan Luna.


Selain itu, Arya juga meminta Ciel dan Luna mulai mempraktekkan Ilmu yang ada di Kitab keluarga mereka di tempat itu juga.


Awalnya keduanya merasa keberatan. Karena menurut mereka ilmu yang di kitab keluarga mereka itu sangat rahasia. Namun, Arya mengatakan sesuatu yang membuat Ciel bersikap seperti sekarang ini.


"Meski Ilmu di kitab keluarga kalian itu sudah sangat maju, tapi aku rasa itu bukanlah yang paling hebat. Aku meminta kalian melewati apa yang bisa leluhur kalian lakukan. Bukan menirunya."


Saat itu keduanya langsung termenung. Mereka hanya berfikir telah mendapatkan sesuatu yang sangat hebat Sebelumnya. Namun saat Arya mengatakan bahwa apa yang ada di Kitab keluarga mereka itu bukanlah yang terhebat, mereka mulai berfikir ulang.


Saat ini, pusat penelitian senjata itu telah menerima setidaknya lima puluh pekerja. Meski belum tau akan dikemanakan senjata-senjata yang akan mereka produksi itu, namun satu hal yang pasti. Arya meminta Luna dan Ciel mengajarkan para pekerja itu teknik penempaan kualitas tinggi. Karena sejak awal semua orang itu adalah utusan dari sekte Besaryangbdi ketuai Lamo dan beberapa orang dari Sekte Singa emas.


Waktu berlalu lebih cepat. Bagi Arya dan yang lainnya, semua yang telah mereka rencanakan berjalan cukup lancar.


Setelah tiga bulan, Edward sudah meyelesaikan senjata yang di pesan Arya. Hanya tinggal seribu senjata pelontar yang kini sedang dalam perjalanan.


Di lain sisi, Darmuraji juga sudah mulai memesan Pil yang diproduksi oleh Arya.


Diantara Pil-pil itu ada Pil yang mampu meningkatkan kualitas otot, tulang, penyembuh luka, mulai dari luka ringan hingga luka berat. Dan beberapa jenis Pil yang mampu meningkatkan level kekuatan pendekar.


Dibalik itu, Arya tidak membuat Pil Yang kualitasnya sama dengan apa yang Bai Hua berikan pada Bai Han.


Selain bahan-bahannya masih sulit di temukan, hal lainnya karena Arya saat ini memang belum berniat memperkenalkan Pil-pil yang diberi nama sebagai Surga dan Neraka sesuai kualitasnya itu.


Walaupun begitu, kualitas Pil yang dibuat Arya tetap jauh lebih tinggi dari apa yang bisa didapatkan seorang pendekar di Kerajaan Swarna.


Arya sengaja memproduksi pil tersebut dalam jumlah tidak terlalu banyak agar peredarannya tidak sampai keluar Daratan timur.


Sebenarnya Ini guna memancing semua kekuatan pendekar-pendekar di segala penjuru Daratan Timur agar menunjukkan batang hidung mereka.


Seperti kata Bai Fan saat mereka merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Peningkatan kekuatan yang drastis dari pihak tertentu, akan memancing minat pihak lainnya.


Dalam Perkiraan mereka, dalam waktu tiga bulan kedepan. Prajurit-prajurit di kota Basaka akan semakin kuat. Ini akan memicu kesenjangan kekuatan antara serikat Oldenbar dan Kerajaan.


Dalam beberapa waktu setelahnya, Sebuah pergeseran dan gesekan antara banyak pihak akan terjadi. saat itulah mereka akam melihat mana musuh sebenarnya Daratan Timur ini


"Tuan Wisanggeni. Kau adalah mantan walikota Basaka. Sebaiknya kau menemui Master Arya."


Angus yang memiliki kedekan dengan Wisanggeni, walikota sebelumnya mendesak agar pria itu menemui Arya.


Bukan tanpa alasan, kedekatannya dengan Darsapati seharusnya sudah cukup agar pria yang sudah mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun pada Basaka itu, agar mendapat tempat tersendiri di kubu Arya.


"Tuan Angus. Aku mempercayaimu. Tapi, aku tidak mau mendekatkan diri pada orang yang bekerja sama dengan Oldenbar ataupun Kerajaan. Walaupun dia seorang Master sekalipun. Aku tak sudi!"


Wisanggeni adalah contoh nyata yang bisa mewakili apa yang di rasakan sebagian besar penduduk Daratan Timur.


Besar harapannya saat menyambut Putra Mahkota kerajaan Swarna, Pangeran Aditya beberapa tahun yang lalu untuk bisa melihat perkembangan Daratan Timur di masa depan.


Namun, kekecewaanlah yang dia serta penduduk dapatkan. Memang, Daratan Timur berkembang sangat pesat. Akan tetapi, itu hanya bisa di nikmati oleh Kerajaan, serikat Oldenbar dan para pendatang.


Sedangkan penduduk tempatan mendapati diri mereka hanya sebagai tempat pijakan pembangunan itu. menyedihkan.


Tanah mereka yang sudah dikelola secara turun temurun tiba-tiba saja sudah di klaim sebagai milik kerajaan. Pajak yang besar setiap tahunnya membuat mereka benar-benar kesulitan.


Pekerjaan yang dijanjikan kerajaan di ambil alih oleh serikat Oldenbar. Hingga mereka hanya mendapatkan upah yang sangat kecil bahkan untuk bertahan hidup saja, di rasa tidak cukup.


Sekali. Hanya sekali saja Wisanggeni menyampaikan keluhan penduduk Daratan ini pada kerajaan. Dan itu menjadi hari terakhir dia menjabat sebagai walikota dan di depak keluar dari rumahnya.


Terlebih lagi, Darsapati dan Sekte Singa Emas yang selalu melindungi kota dan penduduknya. Berubah menjadi Kelompok yang haus kekuasaan dan selalu melakukan oemberontakan setelah membunuh Putra Mahkota.


Wisanggeni dan penduduk Daratan Timur, benar-benar kehilangan kepercayaan pada pihak manapun. Sekarang, Baginya semuanya pihak sama saja. Mereka hanya akan mencari keuntungan sebesar-besarnya di Daratan Timur tanpa memikirkan Nasib manusianya.


Wisanggeni masih mempercayai Angus, karena dari sudut pandangnya, Angus menderita nasib yang sama dengan yang lainnya. Semua miliknya di sita hingga Angus sendiri harus bekerja pada penginapan yang seharusnya adalah miliknya sendiri.


Angus menyayangkan sikap yang diambil oleh Wisanggeni dan penduduk Daratan Timur. Tapi, dia juga tidak bisa menyalahkan mereka. Karena tidak ada yang bisa mereka lakukan saat tiba-tiba saja semua berjalan jauh dari apa yang mereka harapkan.


"Jadi, apakah kalian akan tetap seperti ini?" Tanya Angus, sekali Lagi.


"Tuan Angus, apa yang bisa kami lakukan? Setiap hari penduduk sudah kesulitan hanya untuk bertahan hidup. Kami tidak ada tenaga untuk menghadapi serikat Oldenbar terlebih Kerajaan. Mereka menganggap tanah leluhur kami ini, adalah milik mereka. Sekarang ... Muncul satu lagi pihak yang mengambil alih pusat kota untuk kepentingannya ... dan kau memintaku untuk mendekatinya?"


Angus terdiam. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan pada mantan walikota yang sangat dipercayai penduduk Basaka ini. Dalam beberapa tahun saja, terlihat pria di depannya ini sudah bertambah tua lebih dari seharusnya.


"Orang yang kau panggil Master itu, telah memancing beberapa Sekte aliran hitam keluar dari sarang mereka. Mau berapa lama lagi orang-orang seperti itu memperebutkan kekuatan serta kekuasaan dan semakin membuat orang-orang Daratan ini menderita?"


Mata Angus melebar. "Sekte Aliran Hitam?"


"Ya. beberapa Anggota Mereka sudah menunjukkan dirinya di beberapa desa di wilayah ini, sejak beberapa waktu yang lalu."


Satu lagi masalah yang harus di hadapi penduduk Daratan Timur.