ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur III


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom...!"


Serangan kejutan Tembakan elemen udara yang terpadatkan dari pasukan serikat Oldenbar langsung menghujani pasukan aliansi sekte aliran putih.


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Memang tidak bisa di antisipasi, pasalnya pasukan itu sudah masuk ke jarak serang senjata sihir milik pasukan yang di pimpin Kenneth tersebut.


Tak berapa lama, Kenneth kembali memberi instruksi yang sama.


"Tembak!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom...!"


Kali ini, senjata-senjata sihir mereka menembakkan elemen kayu yang sangat banyak.


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Pasukan aliansi yang terkena serangan dari elemen kayu tidak sebanyak yang pertama. Karena mereka telah melihat apa yang di gunakan musuh. Hingga mereka sudah bersiap untuk menghindar.


Namun, serangan berikutnya segera menyusul.


"Sekarang!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!"


"Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom!" "Bom...!"


Pasukan aliansi yang berada di jarak serang tersebut terkejut dengan elemen yang di tembakkan senjata sihir milik musuh kali ini.


Saat itu, mereka langsung berfikir kenapa serangan kedua seperti hanya melontarkan elemen kayu secara acak.


Ternyata inilah yang mereka rencanakan. Semburan elemen api dalam jumlah besar langsung menghantam area tempat di mana mereka berdiri.


Beberapa tetua sekte aliran putih dengan sigap berlari ke area tersebut. Sebagian langsung menggunakan pengendalian tanah. Dan membuat pagar penghalang.


Tapi, ternyata itu sudah sedikit terlambat dan tidak cukup kuat. Akibatnya, api masih mampu menembusnya.


Tak lama kobaran api mulai menyala. Ribuan pendekar aliansi, mulai terbakar. Beruntung saat itu, tetua sekte lainnya langsung mengeluarkan teknik pengendalian air.


"Keluar dari sini dan jauhi jarak serang senjata itu, cepat!"


Mendengar perintah tersebut, pasukan aliansi segera mundur dan mengambil jarak.


Rantoba, Daga, dan Moro cukup puas dengan apa yang di lakukan Kenneth. Dalam sekejap mata. Ratusan pendekar aliansi mendapatkan cedera yang cukup parah. Sebagian besar lainnya juga mendapatkan cedera meski tidak cukup parah. Tapi, untuk tetap berperang mungkin sudah tidak bisa lagi.


Ki Lentoro salah seorang ketua sekte dari aliansi melihat itu, dan langsung berniat menyerang pasukan Kenneth. Namun, langkahnya segera terhenti.


"Lentoro, aku lawanmu!"


Ki Rangkas menghadang Ki Lentoro, dengan senyuman meremehkan. Beberapa tahun yang lalu, mereka masih setara. Namun, saat itu bisa dikatakan ki Lentoro sedikit unggul dalam segi jurus dan tenaga dalam.


Saat ini, setelah mendapat sumber daya. Ki Rangkas berada satu tingkat dari Ki Lentoro. Bahkan, Rangkas cukup percaya diri bisa menghadapi Kaungsaji atau Darsapati dari Sekte Singa Emas.


"Rangkas. Percaya diri sekali kau. Baiklah, aku akan menyingkirkanmu saat ini, untuk selamanya."


"Hahahaha! Majulah!"


Keduanya langsung saling menyerang dengan kekuatan penuh. Sama dengan apa yang terjadi antara Sapujagad dan Marendra. Pertarungan keduanya tiba-tiba membahayakan pasukan mereka sendiri yang berada di sana.


Tidak jauh dari pertarungan itu, di antara ribuan pendekar yang saling serang. Ada dua orang wanita yang kini saling bersitatap. Yang satu tersenyum miring, sementara yang lainnya menatap benci.


"Hehehehe! Rapatni, kenapa kau memilih untuk menentangku."


Rapatni menggeleng. "Aku hanya mengikuti apa yang di ajarkan guruku. Dan sekarang, aku akan tetap memilih untuk mengikuti ajaran itu."


Mata Nyai Anjaran melebar. Keningnya langsung berkerut, heran. "Jika kau lupa, akulah gurumu. Kau fikir, siapa yang membuatmu sekuat itu?"


"Guruku telah mati saat dia memilih untuk meninggalkan sekte. Kau yang tiba-tiba muncul dan mengajak sebagian anggota bergabung dengan sekte aliran hitam, bukan guruku."


Nyai Anjaran tudak terima dengan apa yang dikatakan Rapatni. Dialah yang membuat muridnya itu menjadi sangat kuat. Saking cepatnya perkembangan Rapatni, Nyai Anjaran tidak menyangka bahwa muridnya bisa melampaui kekuatannya.


Muncul rasa iri di hatinya. Dan memilih pergi untuk lebih memperkuat diri. Namun, siapa sangka dia akan bertemu dengan serikat Oldenbar dan serikat itu memberikan sumber daya yang membuatnya sangat kuat.


Akan tetapi, semua itu ada harga untuk di bayar. Nyai Anjaran berubah dari sosok guru yang begitu di kagumi Rapatni menjadi pendekar wanita sesat yang membantai banyak manusia demi memperkuat dirinya sendiri.


Sulit baginya untuk menerima itu. Tapi, di sinilah mereka sekarang. Guru dan murid yang kini berseberangan jalan dan berniat saling menyerang.


"Kau murid durhaka yang tak tau berterimakasih. Hari ini, aku akan memberi pelajaran terakhir untuk mu.!"


"Aku tidak durhaka pada siapapun. Guruku adalah Anjaran Rasupa. Aku akan menghormatinya seumur hidupku. Tapi kau, ... " Mulut Rapatni bergetar saat mengatakan nama lengkap gurunya itu. "Kau, adalah makhluk terkutuk yang akan mati hari ini!"


"Sialan kau! ... Kau yang membuatku menjadi seperti ini, dan sekarang kau tidak mengakui ku? Akan ku ambil kembali apa yang telah aku berikan padamu!""


Nyai Anjaran langsung murka saat Rapatni tidak lagi mengakuinya. Saat ini, dia benar-benar ingin membunuh muridnya itu.


"Majulah ... Kita lihat siapa yang akan mati hari ini. Kau, atau aku!"


Benar-benar dengan seluruh kekuatan penuh. Keduanya terkenal dengan pendekar wanita terkuat Daratan Timur. Tak ada yang meragukannya.


Bahkan, jika keduanya tetap dalam satu sekte, kemungkinan besar Sekte Pedang Teratai yang dulu ke pimpin oleh Anjaran bisa menjadi nomor dua di Daratan Timur setelah Sekte Singa Emas.


Namun, siapa sangka Anjaran terjerumus dalam kedengkian dan mengambil jalan gelap hingga berbalik arah dan bertentangan dengan jalan kependekaran yang dia tanamkan pada Rapatni, sejak muridnya itu masih kecil.


"Kalian, menyingkir dari kedua orang itu. Atau kalian bisa mati!"


Saat keduanya bertempur, setiap benturan pedang mereka memiliki daya kejut yang kuat. Kombinasi teknik mereka yang serupa dengan jurus-jurus yang memerlukan banyak langkah seperti tarian, membuat area yang di perlukan untuk pertarungan keduanya sangat luas.


Moro, dan Daga sedikit kagum saat melihat keduanya bertarung. Meski meremehkan daratan ini, keduanya tidak menyangka bahwa akan melihat dua orang pendekar wanita yang memiliki kekuatan yang hampir setara dengan penguasaan teknik dan jurus yang hampir serupa pula.


"Aku tidak menyangka, Daratan ini memiliki dua pendekar wanita hebat."


Sangat jarang sekali adiknya memuji seseorang. Sementara kali ini, dia memuji dua orang sekaligus. "Ya. Jika yang lebih muda itu terus berkembang, bukan tidak mungkin di umur yang sama. Dia bjsa mengimbangimu. Bahkan, mungkin saja diriku."