
Saat mengatakan itu, gadis tersebut melepas aura pembunuh. Jelas bahwa kata-kata yang diucapkannya, bukanlah ancaman belaka.
Pedang yang menempel di lehernya sudah masuk beberapa mili. Darah sudah mulai mengalir dari luka itu.
Melihat bagaimana gadis tersebut bergerak, tentu saja semua orang yang ada di sana sudah menyadari bahwa ketiganya bukan pendekar sembarangan.
Pendekar asing yang tengah berlutut tersebut, yakin. Hanya perlu satu tarikan lagi bagi gadis itu sebelum memisahkan kepala dari tubuhnya.
Merasa nyawanya terancam, pendekar asing itu segera menunduk.
"Tuan Muda, maafkan atas kelancanganku. Mohon ampuni nyawaku dan juga teman-temanku!"
Mulut semua orang di sana terbuka sangat lebar saat melihat kejadian tersebut. Baru kali ini mereka menyaksikan pendekar asing berlutut ketakutan hanya kepada seorang pemuda lokal.
Tidak cukup sampai di sana. Jika di lihat lebih lekat, mereka kini menyadari bahwa pemuda tersebut bahkan tidak memiliki tenaga dalam.
"Siapa dia?!"
Pertanyaan tersebut mengisi kepala semua orang yang ada di sana. Namun, beberapa saat kemudian mereka juga menyadari bahwa pakaian yang di kenakan pemuda tersebut, bukanlah pakaian yang biasa di pakai oleh rakyat jelata.
Dengan tiga pendekar asing yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi yang mengakui bahwa dia adalah Tuan mereka, secepat kilat semuanya langsung menyimpulkan.
Pemuda ini pasti seorang putra dari bangsawan. Terlebih lagi, pasti bukan bangsawan biasa. Dengan mempekerjakan pendekar asing sebagai pengawalnya, Pemuda tersebut pasti berasal dari keluarga yang jauh lebih terhormat. Bangsawan kelas, Atas.
"Kalian, lepaskan mereka. Kita kesini hanya untuk makan dan mencari kamar untuk menginap.!"
Setelah mengatakan itu, pemuda tersebut mendekati penanggung jawab restoran.
"Tuan, aku membawa Kera dan Anjing. Tolong perlakukan mereka dengan baik!"
Penanggung jawab tersebut melihat sebuah kantong kulit di tangan pemuda itu yang kini sedang terjulur padanya.
Dalam keadaan antara sadar dan tidak, orang itu mengambil kantong yang diberikan pemuda itu. Saat dia memeriksa isi kantung kulit tersebut, matanya terbelalak.
"I-ini...!"
Tangannya gemetar saat mengetahui isi dalam kantung tersebut. Setidaknya, di dalam sana ada sekitar seratus siling emas.
Dan seratus siling emas yang sanggup ditukar dengan satu lantai restoran tersebut, hanya di peruntukkan bagi pelayanan khusus pada kedua peliharaannya. Jelas, pemuda ini bukan bangsawan sembarangan.
"Apakah itu, tidak cukup?"
Sadar dari keterkejutannya, orang tersebut langsung membungkuk, dalam.
"Oh! Maaf Tuan Muda, kami tidak tau siapa anda sebelumnya. Tentu saja, Ini lebih dari cukup!"
Setelah menunjukkan sikap hormatnya yang sangat tinggi itu, penanggung jawab tempat tersebut langsung memperkenalkan diri.
"Sekali lagi Maaf karena terlambat, perkenalkan. Namaku, Angus. Penanggung jawab penginapan dan restoran ini!"
"Baiklah tuan Angus. Apakah kami sudah bisa naik, sekarang?"
"Ya! Tentu saja. Tidak usah kelantai dua. Aku akan mengantar kalian langsung, Kita akan ke lantai tiga! Silahkan, ikuti aku. " Ucapnya dengan suara sedikit gemetar.
"Baiklah, terimakasih!"
"Buk!"
Pendekar asing yang berlutut itu, tersungkur saat gagang pedang gadis tersebut menghantam lehernya.
"Singkirkan, Bedebah busuk ini, dan pergi dari sini!"
Setelah mengatakan itu, dia mengikuti yang lainnya naik ke atas. Lantai Tiga, Restoran itu.
Saat semuanya menghilang saat menaiki tangga menuju lantai atas, barulah mereka bisa kembali bernafas dengan Normal. Namun, seluasana di lantai bawah yang penuh tersebut, langsung menjadi sangat heboh.
Mereka mulai mempertanyakan siapa dan darimana juga apa latar belakang keempatnya.
Banyak keluarga bangsawan yang sudah mereka temui. Namun, tidak pernah melihat yang seperti pemuda tadi.
Dengan cara mereka memandang rendah anggota Serikat Oldenbar dan bagaimana penanggung-jawab tempat itu sekarang memperlakukan keempatnya dengan penuh Hormat, Semua orang di sana langsung menyimpulkan bahwa pemuda tersebut memiliki kedudukan yang tinggi. Bahkan mungkin sangat tinggi.
Yang jelas, berurusan dan membuat masalah dengannya, adalah sebuah kebodohan yang nyata.
Sampai di lantai tiga restoran tersebut. Ternyata di sana sangat sepi. Hanya ada beberapa meja saja.
"Tuan dan Nona-nona sekalian. Silahkan duduk dimana saja kalian mau, sebentar lagi, juru masak dan pelayan-pelayan kami akan datang untuk mencatat langsung pesanan, kalian!"
"Tidak perlu! Bawakan saja kami makanan terbaik kalian, dan juga makanan dan buah yang banyak untuk keduanya!"
Angus menoleh pada kera dan anjing yang sejak tadi setia mengikuti pemuda tersebut di sisi kanan dan kirinya.
"Baiklah, Tuan Muda. Aku mengerti. Permisi!"
Setelah pamit, Angus langsung turun. Meninggalkan keempatnya di atas. Di hatinya, di berfikir bahwa tempatnya sedang kedatang orang yang sangat penting.
Sampai di bawah, dia langsung memanggil seseorang.
"Cepat kabarkan pada tuan Kenneth di Vila atas tentang kedatangan orang-orang ini. Ingat! Katakan padanya bahwa mereka berempat sangat penting. Jangan sampai salah mengabari!."
"Baik Tuan. Aku mengerti" Orang itupun langsung pergi.
Butuh beberapa waktu untuk menjelaskan pada Darsapati dan Kaungsaji prihal rencana yang akan dilakukan Arya dan yang lainnya terkait penaklukan Serikat Oldenbar yang Kini sudah mengambil Alih pegunungan Sekte Singa Emas.
Tentu saja dengan jumlah pendekar yang mereka miliki sekarang ini, mustahil untuk menyerang langsung Pusat Serikat Oldenbar.
Selain kalah jumlah, penduduk di sini sebenarnya adalah penduduk yang dahulunya di bawah tanggung jawab Sekte Singa Emas.
Meskipun memiliki kekuatan yang memadai, menyerang langsung tentu saja bukan pilihan. Akan banyak korban yang berjatuhan dari kalangan penduduk hanya untuk mengambil alih pegunungan ini.
Arya dan yang lainnya memiliki rencana lain. Mereka berniat mendekati Oldenbar dan menghancurkannya dari dalam.
Selain lebih efektif, cara ini juga akan memperkecil resiko jatuhnya banyak korban.
Sekarang ini, sebenarnya juga salah satu dari rencana mereka. Hanya saja semuanya terjadi lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
Sebelumnya, mereka memang berencana untuk menarik perhatian orang-orang Oldenbar. Tentu saja itu tidak mudah. Serikat Oldenbar pasti tidak mau berurusan dengan orang yang mereka anggap tidak terlalu penting.
Akan tetapi, dengan cara bagaimana mereka menunjukkan kedatangan mereka tadi, tidak lama lagi Serikat Oldenbar pasti akan mendatangi mereka. Setidaknya Oldenbar akan mencari informasi tentang keempatnya.
"Senior! Aku masih tidak mengerti, Bagaimana senior bisa memiliki pakaian yang seperti, itu?!"
"Sudah Aku katakan, Guruku memberikannya padaku. Katanya ini sangat cocok untukku. Tapi, aku tidak terlalu menyukainya!"
Ketiganya terkejut dengan pengakuan Arya sebelumnya. Mereka tentu saja penasaran dengan identitas guru Arya. Akan tetapi, Arya seperti tidak ingin membahasnya.
"Apakah, Gurumu pernah ke Benua Barat?"
Mereka masih tidak mengerti bagaimana gurunya memiliki pakaian bangsawan dari Benua Barat, dan memberikannya pada Arya.
Arya mengangguk. "Ya. Aku rasa guruku, sudah mengelilingi dunia, sebelumnya!"
Meski jawaban Arya sedikit ambigu. Tapi, dengan ilmu pengetahuan dan banyak bukti yang ada padanya. Tentu saja mereka memilih percaya saja.
Hanya saja saat memakai pakaian tersebut, pemuda yang sejak mereka kenal memang memiliki wajah yang sangat tampan itu, kini terlihat lebih, mempesona.