ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Akhirnya


Kota munda, ibukota negeri Bukit Batu yang menjadi tujuan Arya dan yang lainnya itu berjarak cukup jauh.


Namun, dengan kecepatan mereka saat ini, jarak bukan lagi penghalang. Hanya saja, begitu arah ditunjuk oleh Arya, Ciel dan Bai Hua melesat terlebih dahulu, begitu mereka sudah berada di luar rumah tanah, yang dibuat oleh Citra Ayu sebelumnya.


"Arya, aku sempat mendengar bahwa Sultan negeri ini memiliki sedikit kepribadian yang sedikit menjengkelkan. Setidaknya, itu yang dikatakan Tuan Harupanrama."


Sambil melintasi perbukitan dengan tanah berbatu, keduanya berbicara. Tidak banyak batang pohon besar di sini, sehingga mereka hanya berlari dengan kecepatan tinggi, sementara dua gadis lainnya sudah berada jauh di depan sana.


"Luna, aku tidak begitu mengerti kepribadian seseorang. Tapi, jika apa yang dikatakan anaknya benar, bukankah dia memiliki alasan untuk bersikap seperti itu?"


Memang, Luna juga sudah memikirkan sampai ke sana. Hanya saja, jika Harupanrama yang memiliki kesetaraan dengan Sultan itu saja begitu sulit untuk mengajaknya bicara, maka bukan tidak mungkin bagi mereka akan mengalami hal yang sama bahkan jauh lebih sulit.


Namun, seperti apa yang dikatakan Arya. Tungkeh Aram sepertinya benar-benar memiliki alasan, kenapa dia bersikap seperti itu.


"Aku rasa kau benar, dan ... Setidaknya kita ke sana tidak hanya sekedar ingin berbicara, bukan?"


Sambil melesat dengan kecepatan tinggi, Meski Luna tidak memperhatikan, Arya menganggukkan kepalanya.


"Ya, lagipula seharusnya kita tidak berfokus untuk memikirkan Sultan itu. Tapi, kita harus memastikan apa yang fi jaganya, masih utuh dan tetap seperti sebagaimana mestinya."


Begitu kalimat itu Arya ucapkan, Luna langsung menoleh padanya. Hal ini sudah ingin dia tanyakan saat Tungke Aji mengatakan keadaan serta situasi yang di alami negeri ini dan ayahnya, sebelum mereka memutuskan untuk ke sini.


"Arya, sepertinya kau mengetahui apa yang coba dia lindungi dan apakah itu ada hubungannya dengan Inti Tanah yang kini berada di Sekte di mana Citra Ayu berasal?"


"Ya, ini sepertinya memang ada hubungannya. Tapi, bukan dengan Inti Tanah ... "


Saat mendengar Arya mengatakan itu, Luna kembali menoleh dan mendapati Arya tampak sedang berpikir. Jika bukan dengan Inti Tanah, Luna tidak bisa memikirkan dengan apa benda itu berhubhngan.


"Jika bukan dengan Inti Tanah, lalu apa hubungannya benda tersebut dengan semua yang sekarang sedang terjadi?"


Tentu saja Luna tidak bisa memikirkan hal lainnya. Sampai saat ini, semua orang tau bahwa Inti Tanah merupakan penyebab semua orang di negeri ini mengambil sikap dan bereaksi.


Hanya saja dia masih tidak habis fikir, entah bagaimana Arya sepertinya bisa mengetahui lebih banyak dari yang lainnya.


Pertanyaan Luna hanya Arya tanggapi dengan menggelengkan kepalanya. Namun, setelah itu dia berlari sedikit mendekat dan mensejajari gadis itu, lalu kembali bersuara.


"Itu kenapa aku meminta Citra Ayu menyerap Serbuk Bayam Tiga Jari saat ini. Karena, ini berhubungan dengan dirinya ... "


Memang, Arya pernah mengatakan bahwa mereka akan membutuhkan tenaga dalam Citra Ayu saat di sini. Akan tetapi, Arya tidak mengatakan tepatnya seperti apa tenaga dalam Citra Ayu.tersebut akan digunakanan.


Luna hanya bisa tersenyum sedikit kecut, saat mendapati Arya lagi-lagi mengetahui sesuatu yang belum tentu banyak orang yang kini terlibat dalam kekacauan di Daratan Barat ini, mengetahuinya.


Luna dan Arya tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka, karena keduanya secara serentak menambah kecepatan untuk mengejar dua gadis lain di depan sana.


"Ciel, kenapa matamu terlihat sedikit berbeda?"


Berbeda dengan Luna yang dirasakan Bai Hua memiliki energi yang sangat besar, Ciel tidak menunjukkan perubahan apapun. Hanya saja, bagi orang yang telah bertarung bersamanya untuk beberapa lama, si gadis petir tentu menyadari bahwa ada yang berubah di mata gadis itu.


Pertanyaan ini, sudah ditunggu-tunggu Ciel di lontarkan oleh Bai Hua. Sekarang, sebuah senyum tersungging di bibirnya dan wajahnya berubah sedikit angkuh.


"Gadis Gila, kau mungkin bisa bergerak sangat cepat. Tapi, kecepatanmu itu tidak akan berarti apa-apa di depan mataku."


Jawaban Ciel, membuat Bai Hua sedikit mendengus kesal. "Cih ... Sudah kuduga, matamu itu benar-benar mengerikan ... "


Saat mengatakan hal itu, Bai Hua tiba-tiba mengingat sesuatu. Dia sengaja tidak menggunakan tenaga dalamnya hanya agar bisa sejajar dengan kecepatan Ciel dan kembali bersuara.


"Jika begitu, kau pasti bisa mengikuti kecepatan senior, dan mengetahui apa yang dilakukannya pada pendekar-pendekar sebelumnya, bukan?"


Benar, Ciel bisa melihatnya. Atau, tidak. Bahkan sampai saat ini saja dia tidak yakin apa yang terjadi, saat Arya tiba-tiba bergerak dengan sangat cepat.


"Hei, aku bertanya ... Apa kau tidak mendengarnya?"


Tanpa sadar, Ciel sedikit melamun. Tentu saja dia mendengar pertanyaan Bai Hua. Namun rasa bangga yang tadi terukir di wajahnya, menghilang seketika.


Dia yakin bisa mengikuti keceoatan Bai Hua. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan teknik yang di gunakan Arya, sepertinya kekuatannya tidak akan berguna.


"Ya, aku mendengarmu. Tapi, apa yang dilakukan Arya berbeda. Sepertinya Teknik yang dia gunakan, bukan soal kecepatan saja. Atau ... "


Ciel tudak bisa melanjutkan kata-katanya, karena dia sendiri juga tidak tau akan menjawab seperti apa.


"Atau apa? ... Bukankah kau bisa mengikuti kecepatanku, lalu kenapa kau jadi ragu begitu?"


Ciel menggelengkan kepalanya lalu menoleh pada Bai Hua. Dengan wajah dongkol, dia berkata.


"Hei gadis gila ... Kita berbicara tentang kekuatan pemuda mengerikan itu. Apa kau mengharapkan aku bisa menjelaskan teknik serta kekuatannya seolah aku benar-benar mengetahuinya?"


Meski terdengar kesal, namun kata-kata Ciel terdengar masuk akal bagi Bai Hua. Seperti biasanya, jika berbicara tentang Arya, mereka akan selalu berhadapan dengan Kesimpulan bahwa, apapun itu, hanya Arya yang bisa melakukannya, tanpa perlu penjelasannya.


"Yah, aku rasa sehebat dan sekuat apapun kita. Senior akan selalu berada jauh di atas kita ... "


Ciel mengangguk lalu menggelengkan kepalanya. "Kau benar, atau mungkin tidak ... "


"Apa maksudmu?"


"Kau juga sudah melihatnya, bukan? ... Arya tidak pernah berada di atas kita. Tapi, kekuatannya berada di tempat yang bahkan orang-orang seperti kita tidak akan pernah mengetahuinya, jika Makhluk itu, tidak mengatakannya ... "


Mata Bai Hua seketika melebar. Dia melupakan hal paling luar biasa yang pernah dia lihat seumur hidupnya.


Siapa yang menyangka bahwa dia dan yang lainnya, akan mengalami hal tersebut. Dia baru saja mengingat bahwa di dalam tubuh pemuda yang mereka bicarakan, bersemayam makhluk legenda yang namanya saja sanggup menggetarkan jiwa seseorang.


Baru saja Bai Hua hendak kembali berkata. Tiba-tiba Luna dan Arya yang entah sejak kapan sudah berada di dekatnya, bersuara.


"Aku bisa merasakan banyak tenaga dalam di depan sana ... Ciel, periksalah ... "


Sebenarnya, tanpa diberi tahu Luna, Ciel suda bisa melihat gelombang tenaga dalam tersebut. Namun, kehadiran Arya dan Luna secara tiba-tiba itu, sukses mengejutkannya.


"Sial, kenapa kekuatanku tidak bekerja pada dua orang ini?" Umpatnya kesal.


Tanpa dia sadari, Ciel mengeluarkan suara saat mengatakan itu dan bisa di dengar Luna.


Wajah Luna berubah, dan melihat adiknya itu dengan tatapan mengancam.


"Hei gadis kecil, apa kau baru saja mengumpat padaku?"


Bagi Ciel, Luna selalu mengerikan. Akan tetapi, saat ini, Luna sudah jauh lebih mengerikan lagi. Ciel bisa melihat percikan api menyelubungi tubuh kakaknya tersebut.


Takut, Ciel langsung menjawab cepat.


"Tidak, tidak ... Aku mengatakan bahwa aku akan memeriksanya ... "


Tak menunggu tanggapan kakaknya itu, karena takut, Ciel tanpa sengaja mengeluarkan tenaga dalamnya cukup besar dan bertumpu di kakinya.


Hasilnya, satu lompatan saja membuat gadis itu langsung melesat sangat cepat dan tinggi ke udara dan menjauhi ketiganya.


Luna dan Bai Hua membelalakkan mata mereka karena terkejut. Namun, hal mengejutkan lainnya akan mereka dengar beberapa saat lagi. Karena Arya yang kini berada di antara mereka, berkata.


"Akhirnya dia menggunakannya ... Luna, Ciel memiliki kekuatan untuk mengendalikan, Elemen Udara ... "